
...Happy reading ♡...
...*****...
"Sudah?" Pertanyaan itu muncul dari mulut Alvino saat melihat Allia baru kembali dari ruang guru.
Allia mengangguk mengiyakan.
"Ya, sudah. Sekarang kau duduk, sebelum guru datang untuk memulai pelajaran," ucap Alvino sembari menepuk kursi di sebelahnya tempat biasanya Allia duduk.
Pelajaran pertama hari ini adalah Matematika yang dipegang oleh Pak Tio. Alvino takut mereka dihukum lagi mengingat kejadian waktu itu.
"Sebentar, Kak."
Allia yang berjalan ke meja belakang di mana ada Geo yang sedang menelungkupkan kepalanya diantara kedua tangannya. Karena jumlah semua siswa di kelas ganjil, dia duduk sendirian di pojok paling belakang.
Alvino mengernyitkan dahinya melihat Allia seperti ingin menghampiri meja Geo. Dan, benar. Allia berhenti tepat di hadapan Geo. Dia terus memperhatikan apa yang ingin adiknya lakukan di sana dengan Geo.
Allia menyentuh tangan Geo membuat sang empu yang asalnya menunduk langsung mendongkak. Dia kira guru yang membangunnya, ternyata Allia. Geo menatap Allia, untuk pertama kalinya wanita itu menghampirinya ke meja.
"Bu Nadiya memanggilmu ke mejanya setelah jam istirahat," ucap Allia.
"Bu Nadiya? Untuk apa?" tanya Geo.
"Kau tanya saja sendiri," sahut Allia malas menanggapi.
"Sepertinya dia rindu padaku," gumam Geo sengaja ingin melihat reaksi Allia.
Allia yang muak mendengarnya mengambil buku di hadapannya, tidak peduli buku itu punya siapa. Dia memukul kepala Geo dengan buku itu lumayan keras.
Awalnya Geo meringis karena pukulan Allia yang cukup keras. Tapi setelah itu dia tertawa, dugaannya benar. Allia akan marah.
"Kenapa kau memukulku? Apa kau cemburu dengan Bu Nadiya?" Geo sedikit tersenyum meledek.
Mata Allia membulat. "Dasar tidak waras!" Spontan Allia memukul kepala Geo lagi.
__ADS_1
Duk! (Suara buku yang Allia pukul pada kepala Geo).
Bertepatan dengan itu, seorang guru masuk ke dalam kelas melihat kejadian itu. Pak Tio, guru itu adalah Pak Tio.
Geo memegang kepalanya seperti orang yang kesakitan, di detik selanjutnya dia terjatuh pingsan. Mulut Allia terbuka tidak percaya. Para murid mulai heboh melihat Geo pingsan karena ulah Allia. Alvino segera berlari menghampiri meja Geo. Dia berdiri di samping Allia yang masih mematung melihat Geo yang tergeletak di lantai. Meja Geo mulai dikerubungi oleh banyak orang teman sekelasnya.
Pak Tio menajamkan penglihatannya. Perlahan dia menghampiri meja paling pojok di mana dia melihat seorang siswi berbuat kasar (Memukul) kepada siswa sampai siswa itu jatuh pingsan. Perbuatan yang tidak pantas dilakukan, pikir Pak Tio.
"Ada apa ini?" Suara tegas Pak Tio membuat Allia semakin tegang dan ketakutan.
Sebelah tangan Allia memegang erat tangan Alvino. Alvino tidak tahu harus berbuat apa karena dirinya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya tadi antara Allia dan Geo sampai Allia memukul Geo. Tapi Alvino yakin, pasti Geo yang memulai semua ini.
"Siapa yang sudah membuatnya seperti ini?" tanya Pak Tio dengan suara beratnya.
Semua orang melihat ke arah Allia. Allia semakin meremas tangan Alvino saat Pak Tio melihat ke arahnya.
"Allia? Apa kau yang bertanggung jawab atas semua ini?"
Allia menundukkan kepalanya takut.
"Tidak," ucap Alvino membuat semua orang menatapnya termasuk Allia yang mendongakkan kepalanya melihat kakaknya yang membelanya.
Alvino menggeleng. "Saya bukan ingin membela Allia. Tapi saya tahu, Geo pasti mengatakan sesuatu yang membuat Allia kesal dan memukulnya."
"Perbuatan Allia tidak pantas dicontoh, dan tidak seharusnya kau memberi pembelaan untuknya karena dia adalah adikmu." Pak Tio berujar sembari menatap Allia.
"Pak, sudah bilang tadi. Saya tidak membela Allia sebagai adik saya. Tapi, saya tahu Geo yang memulai semua ini menjadi seperti ini." Alvino meninggikan nada suaranya karena terbawa emosi.
"Baiklah. Kalau begitu, bisa kau ceritakan apa yang terjadi sampai Geo pingsan seperti ini, Alvino?" tanya Pak Tio membuat Alvino bungkam tidak bisa menjawab apa-apa lagi.
"Kenapa kau diam?" kata Pak Tio membuat suasana menjadi lebih menegangkan.
"Cepat jawab!"
Saat Alvino hendak menjawab ucapannya, Allia menahan tangan Alvino agar Kakaknya berhenti bicara.
__ADS_1
"Maafkan saya, Pak," lirih Allia membuat Pak Tio beserta yang lainnya menoleh.
"Jadi, kau mengakui ini kesalahanmu, Allia?" tanya Pak Tio.
Allia menganggukkan kepalanya pelan.
"Al, apa yang kau lakukan?" tanya Alvino yang dihiraukan oleh Allia.
"Setidaknya kau sendiri mengakui kesalahanmu," ucap Pak Tio sambil melirik Alvino.
"Sekarang kau bawa Geo ke ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah). Rawat dia sampai sadar dan pulih kembali. Setelah itu kau bersihkan seluruh halaman sekolah sepulang sekolah. Itu adalah hukuman atas perbuatanmu, Allia," lanjut Pak Tio membuat semua orang terkejut sekaligus kasihan pada wanita cantik yang berdiri di samping Alvino itu.
Allia yang mendengar keputusan dari Pak Tio hanya bisa mengangguk pasrah dan harus melakukan semua yang Pak Tio ucapkan barusan.
Pak Tio tidak pernah pandangan bulu jika sedang menghukum muridnya. Mau itu pria ataupun wanita, semua sama saja di matanya. Itu dia lakukan agar semua muridnya disiplin dan tidak ceroboh dalam melakukan sesuatu. Seperti yang Allia lakukan. Pak Tio awalnya tidak ingin menghukum Allia dengan sangat berat seperti itu karena Allia murid yang pintar dan berprestasi di bidang mata pelajaran yang dia pegang, matematika. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus tetap adil dalam mengambil keputusan.
"Yang lain kembali ke tempatnya masing-masing sekarang juga, sebelum saya ikut menghukum kalian semua."
Para murid yang awalnya masih berkumpul di meja Geo langsung berlari ke mejanya masing-masing dan duduk dengan tenang walaupun beberapa diantaranya masih ada yang menengok ke arah belakang.
"Allia, sekarang kau bawa Geo ke ruang UKS. Sendirian." Pak Tio berujar sembari menekan kata terakhirnya.
Alvino mengerti maksud perkataan Pak Tio barusan itu agar dia tidak boleh membantu Allia. Alvino masih berdiri di samping Allia.
Perlahan Allia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Geo. Dia mendudukkan Geo yang masih tidak sadarkan diri. Allia mengambil sebelah tangan Geo dan dia rangkulkan kepada lehernya. Sebelah tangannya lagi Allia pegang agar Geo tidak terjatuh. Allia melakukan semua itu dengan kekuatan penuh karena Geo sangat berat menurutnya. Tinggi badannya membuat Allia harus menyenderkan kepala Geo pada kepalanya, dan itu sangat membebaninya.
Allia memapah Geo ke luar kelas. Saat melewati Alvino, Allia hanya bisa mengangguk pelan meyakinkan kakaknya bahwa dirinya baik-baik saja.
...*****...
Allia membawa Geo dengan sangat berhati-hati karena takut terjatuh. Saat melewati kelas lain, samar Allia melihat banyak siswa dari kelas lain yang melihatnya membawa Geo lewat jendela sambil bergosip.
Allia tidak menanggapinya sama sekali. Ruang UKS yang letaknya lumayan jauh membuatnya tersiksa. Allia melirik Geo sekilas.
"Menyusahkan!"
__ADS_1
...•••...
...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...