
...Happy reading ♡...
...*****...
Seseorang sedang terduduk manis di kursi sambil memainkan ponselnya. Dia sedang menunggu kakaknya, sudah cukup lama ia menunggu tapi kakaknya belum ke luar juga dari kamarnya sampai sekarang. Dia memegang perutnya yang mulai keroncongan ingin segera di isi.
Karena terlalu lama dan mulai merasa bosan, dia berdiri dan berjalan ke arah kamar kakaknya. Tidak biasanya kakaknya bersiap-siap dengan sangat lama. Saat sudah di depan pintu dan tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, dia terlonjak kaget karena pintu kamar terbuka.
"Kak Geo!" pekik Clara.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Geo heran, pasalnya Clara tadi bilang akan menunggunya di luar.
"Kau lama sekali, karena itu aku ke sini!"
Geo hanya menunjukkan giginya. Sebenarnya yang lama adalah setelah Clara ke luar dari kamarnya, dia tertidur lagi dan baru terbangun lima menit yang lalu. Dia berlari ke kamar mandi dan bersiap-siap dengan cepat. Saat membuka pintu, Clara ada di depannya.
"Aku ketiduran," ucap Geo sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf."
Pantas saja lama sekali, hampir satu jam dia menunggu Geo. Yang ditunggu ternyata kembali tidur. Clara menggelengkan kepalanya.
"Ayo, aku sangat lapar." Clara berujar sembari menarik Geo ke luar dari rumah.
"Mau makan di mana?" tanya Geo agar dia tahu tujuan mereka ke mana.
Clara menggumam lama sambil berpikir. "Nanti aku akan menunjukkan tempatnya."
"Baiklah, cepat naik."
Dengan cepat Clara naik ke atas motor dan motor Geo ke luar dari halaman rumah.
...*****...
Di sepanjang jalan Clara berpikir, dia tidak ingin makan-makanan berat masuk ke tubuhnya. Clara menginginkan yang manis-manis. Sepertinya sandwich dengan susu hangat cukup untuknya, mengingat hari di mana dia makan sandwich di tempat Alvino bekerja. Tunggu, lebih tepatnya Alvino hanya duduk dan membaca berkas-berkas yang tidak dimengerti oleh Clara. Clara duduk di kursi lainnya sambil melihat ruangan di sana. Clara dapat menyimpulkan bahwa Alvino adalah pemilik dari tempat itu, atau jika tidak dia adalah orang penting di sana. Di meja Alvino dia bisa melihat ada sebuah foto seorang wanita yang tidak lain adalah Allia. Dia bisa melihat betapa Alvino sangat menyayangi adiknya.
"Sebenarnya kita akan ke mana, Cla?" tanya Geo sedikit keras karena sedari tadi Clara tidak bicara dan saat dia panggil pun tidak juga dijawab.
Lamunan Clara tersadar. Dia berpikir lagi apakah sebaiknya dia ke sana saja? Tapi makanan di sana sangat enak membuatnya ingin mencobanya lagi.
"Di perempatan jalan sana belok kanan, tempatnya tidak jauh dari sana," ucap Clara.
"Baiklah." Geo mengikuti perintah Clara sebagai petunjuk jalan. Dia tidak tahu Clara tahu tempat ini dari mana. Entah, mungkin temannya atau Allia yang sudah lama tinggal di sini.
...*****...
Akhirnya mereka berdua sudah sampai dan segera turun dari motor. Jika tidak salah lihat, dari kejauhan Geo dapat melihat seseorang yang dikenalnya. Sudut bibirnya terangkat, dia melihat Allia bersama seorang laki-laki yang sama. Matanya tertuju pada baju Allia, ternyata Allia dan laki-laki itu habis berolahraga.
Geo pernah melihat laki-laki itu bersama Allia saat di depan kelas. Dan dia tahu namanya adalah Devan. Dia pernah bertanya kepada Sheila. Devan adalah siswa yang dingin dan tidak mau berurusan dengan wanita. Tapi hari ini dia melihat Devan terang-terangan menatap Allia yang sedang sibuk dengan ponselnya sehingga tidak menyadari jika di hadapannya Devan sedang memperhatikannya tanpa kedip. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka berdua, karena Allia bukan tipikal orang gampangan yang mau diajak begitu saja.
Saat memasuki tempat makan, mereka disambut dengan ramah. Salah satu pekerja tersenyum pada Clara karena dia pernah melihat Alvino datang bersama Clara ke sana. Jadi dia menghormati Clara sebagaimana dia menghormati Alvino atasannya. Clara membalas senyumannya dengan tulus.
"Kau mengenalnya?" tanya Geo.
Clara mengangguk. "Iya."
"Temanmu?"
"Bukan."
__ADS_1
"Lalu?"
"Nanti Cla cerita."
Saat Clara ingin duduk, Geo mencegahnya dan menarik tangannya menuju kursi lain. Keningnya berkerut saat mengetahui Geo membawanya ke meja orang lain. Dia lebih tidak mengerti saat ternyata orang itu adalah teman sekelasnya, Devan. Tapi dengan siapa Devan? Setahunya Devan sangat menjauhi wanita.
Saat sudah lebih dekat, betapa terkejutnya Clara saat mengetahui wanita itu adalah Allia. Clara menggigit bibir bawahnya saat mereka berhenti tepat di meja itu.
"Boleh bergabung?" ~ Part Sebelumnya ~
Pertanyaan Geo membuat kedua orang itu menoleh. Allia melihat mereka terkejut dan langsung bangkit dari duduknya sedangkan Devan hanya menatap mereka tanpa ekspresi.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Allia.
Satu alis Geo terangkat. "Memangnya kenapa? Apa masalahmu?"
Diamnya Allia membuat Geo tersenyum. "Lagi pula ini adalah tempat umum. Jadi semua orang bebas datang ke sini." Geo duduk di kursi yang tersedia. "Duduk Cla. Kita akan makan di sini."
Clara melirik Allia yang menatap Geo marah, kemudian matanya tertuju pada Devan yang sedari tadi diam. Sepertinya dia harus membujuk Geo agar segera pindah meja karena tatapan Devan sangat tidak bisa dijabarkan.
"Kak Geo, sebaiknya kita di tempat lain saja," ucap Clara.
"Tidak." Geo menarik pergelangan tangan Clara membuat duduk di sebelahnya karena kebetulan di sana tersedia empat kursi untuk satu meja.
"Kau bilang tadi sangat lapar, kita di sini saja. Mereka juga tidak akan keberatan, kan?" Geo melirik Allia dan Devan secara bergantian.
"Ya." Devan akhirnya bersuara setelah membungkam beberapa saat.
"Kau Dev murid yang katanya dingin itu, kan?" tanya Geo tanpa tahu malu.
Kening Devan berkerut namun tak kunjung menjawab membuat Geo terkekeh. "Baiklah, aku hanya becanda. Namaku Geo."
Geo menoleh pada Allia yang masih berdiri sambil menatapnya. "Apa kakimu tidak lelah? Aku tahu aku sangat tampan makanya kau tidak bisa berhenti menatapku. Lebih baik kau duduk dulu, setelah itu kau boleh melanjutkannya sampai kau merasa puas. Aku tidak akan melarangmu," ucap Geo lagi.
Allia mendudukkan bokongnya dengan keras sehingga dapat terdengar suara dari benda itu. Allia memalingkan wajahnya dari Geo yang berada tepat di sebelahnya.
Salah satu pekerja sana menghampiri meja mereka untuk mengantarkan pesanan Devan dan Allia sebelumnya. Geo segera memesan makanannya, begitu juga Clara yang segera memesan sandwichnya. Tidak lama makanan datang dan mereka mulai makan bersama dengan tenang.
"Makan Al, sebelum makanannya dingin."
Clara sangat terkejut mendengarnya. Devan sangat perhatian dengan Allia. Sedangkan saat di kelas, laki-laki itu sangat menjauhi wanita. Posisinya sebagai ketua murid di kelas tetap tidak membuatnya dekat dengan wanita. Jika ada tugas yang harus berkomunikasi dengan wanita, Devan selalu menyuruh Arka untuk menggantikannya. Tidak sedikit yang menganggap Devan memiliki kelainan yaitu suka pada sejenis. Anehnya Devan tetap terlihat biasa saja tanpa merasa marah ataupun kesal. Walaupun begitu, tetap saja banyak yang menyukainya karena wajahnya yang tampan dapat memikat hati para wanita.
Allia menghembuskan bernapas beratnya. "Baiklah."
Geo memperhatikan Allia yang sedang makan kemudian tangannya gatal ingin menjahili Allia. "Kelihatannya itu enak," ujar Geo mencomot makanan Allia.
Allia memukul tangan Geo. "Hei!"
Geo tertawa karena dia berhasil mengambil makanan Allia. Pemandangan itu sangat menganggu penglihatan Devan. Devan menghentikan makannya karena tidak bernafsu.
"Kak Geo sudah," tegur Clara.
"Baiklah-baiklah." Geo berhenti menjahili Allia dan fokus pada makanannya.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Allia melihat Devan tidak melanjutkan makannya, padahal dia melihat makanan Devan masih banyak.
"Sudah kenyang."
__ADS_1
Allia mengangguk dan melanjutkan makannya.
Geo dapat melihat tatapan tidak bersahabat dari Devan. Walaupun wajahnya datar tidak menunjukkan apapun, tapi dia tahu Devan tidak menyukainya.
Saat sudah menyelesaikan makannya, ponsel Allia berdering. Allia melihat tertera nama Alvino di sana.
"Iya Kak Al?"
"Al baik-baik saja kok."
"Al baru saja selesai makan."
"Yah!" Wajah Allia terlihat cemberut dan tidak lama kemudian kembali ceria. "Benarkah? Baiklah, Al akan pulang sekarang. Kak Al hati-hati, ya!"
Semua orang yang ada di meja hanya memperhatikan Allia yang sedang berbicara dengan ponselnya. Mereka tahu, Allia bicara dengan kakaknya Alvino yang tumben sekali tidak bersamanya.
Clara melihat sekitarnya. Jika Alvino tidak bersama Allia, lalu di mana dia sekarang? Clara menggeleng, itu bukan urusannya.
"Aku akan pulang," ujar Allia sembari bangkit ingin membayar makanannya.
"Tunggu," ucap Devan membuat Allia menengok.
"Aku akan mengantarmu."
Allia melirik Geo sekilas kemudian mengangguk mengiyakan. Mereka pergi dari sana meninggalkan Geo dan Clara.
...*****...
Entah bagaimana ceritanya Devan bisa mengantarnya menggunakan mobil. Sebelum ke luar dari tempat itu, Devan meminta kunci pada salah satu pekerja di sana. Dan pekerja itu memberinya kunci mobil. Allia sangat tidak mengerti apa hubungannya Devan dengan tempat itu. Tadi juga mereka tidak membayar makannya dan tidak ada yang berani menagihnya. Saat Allia ingin membayar makanannya, Devan langsung menahannya.
"Kafe itu milik Kakakku," ucap Devan tiba-tiba seakan tahu apa yang Allia pikirkan.
Sebenarnya untuk disebut "Kafe" kurang cocok untuk tempat itu karena tempatnya sangatlah besar dan juga bagus.
"Lebih tepatnya Kakakku dan temannya. Dia menanam saham di tempat Kakakku saat usahanya sempat turun," jelas Devan.
Allia yang mendengarkan hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Sekarang dia mengerti semuanya.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Allia melihat mereka berhenti di depan mini market.
"Beli ice-cream," jawab Devan.
Mendengar makanan yang sangat disukainya disebut, mata Allia langsung berbinar. Mereka turun dan memasuki mini market. Devan membeli banyak ice-cream, dia tidak tahu harus mengambil yang mana karena itu Devan mengambil banyak. Mulut Allia ternganga melihatnya tapi dia sangat merasa senang melihat ice-cream sebanyak itu.
"Apa ini cukup?" tanya Devan setelah mereka duduk di mobil.
"Untukku?" tanya Allia.
Devan mengangguk. "Makan ice-cream jika kau sudah makan. Kau mengerti?"
Allia mengangguk. Sekarang dia mengerti kenapa Devan mengajaknya makan, hanya untuk membelikannya ice-cream? Yang benar saja, kenapa tidak langsung bicara sedari tadi. "Terimakasih!"
Kedua sudut bibir Devan terangkat melihat betapa bahagianya Allia ketika diberi ice-cream. Devan suka melihat Allia tersenyum.
...•••...
...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...
__ADS_1