
...Happy reading ♡...
...*****...
Matahari telah terbit, waktunya kembali bersekolah. Setiap hari Alvino terus berlatih dengan keras agar memaksimalkan kerja sama timnya. Allia selalu ada di setiap saat sang kakak berlatih di lapangan, ditemani oleh Clara. Walaupun mereka tidak satu kelas, mereka selalu bersama jika jam pelajaran sudah selesai ataupun saat istirahat.
Dari kebersamaan Clara dan Allia juga, perlahan Clara dan Alvino terbilang cukup dekat. Dan Geo semakin sering mengganggu Allia setiap harinya di manapun itu tanpa melihat tempat dan situasi. Entah itu di rumah, berangkat sekolah, pulang sekolah, dan saat di kelas pun lelaki itu masih saja sempat mengganggu Allia.
Sheila semakin gencar mendekati Alvino ditemani oleh Mona, temannya yang lambat berpikir. Dia semakin tidak tahu malu, atau mungkin rasa malunya sudah hilang. Alvino tidak berubah sama sekali, dia tetap dingin dan bodo amat dengan semua kelakuan Sheila selama tidak menyangkut Allia dan membahayakan orang sekitarnya seperti membuli atau berperilaku kurang baik.
...*****...
Pagi ini, di koridor sekolah Allia berjalan sendirian ke ruang guru untuk mengumpulkan tugasnya karena kemarin bukunya tertinggal di rumah. Dia membekap bukunya dengan kedua tangannya seolah takut ada yang merebut buku itu darinya. Keadaan sekitarnya sangat sepi, hanya ada beberapa murid yang sudah datang ke sekolah.
Tiba-tiba Allia merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya. Terdengar jelas suara derap langkah kaki tepat di belakangnya setiap dia melangkah. Dengan cepat Allia menoleh, dan dia tidak menemukan keberadaan siapapun di belakangnya. Allia mengerutkan keningnya, merasa sedikit aneh. Dia melihat sekeliling, tidak ada siapapun. Allia menggeleng, tidak mau sampai berpikir negatif. Mungkin tadi dia hanya salah dengar, pikirnya.
Saat Allia membalikkan kembali badannya ke depan, dia sangat terkejut karena sudah ada Devan yang berdiri di depannya. Allia sampai mundur satu langkah saking terkejutnya melihat Devan yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Melihat Allia hampir terjatuh karena terkejut melihatnya, Devan refleks memegang tangan wanita itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Devan.
Allia mengangguk sambil membuang napasnya dia berkata, "Ya."
Kemudian Allia menatap lengan Devan yang masih memegang tangannya. Devan yang sadar akan hal itu langsung melepaskan pegangannya dari Allia. Dia sedikit tersenyum.
"Maaf," ucapnya.
"Sedang apa kau di sini sendirian? Dan kenapa kau melihat ke arah sana?" lanjut Devan bertanya sambil menunjuk belakang Allia dengan lirikan matanya.
Allia menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, lupakan saja. Aku ingin mengumpulkan buku catatan ke ruang guru," ujarnya.
Devan melirik sekilas buku yang Allia pegang dan berkata, "Boleh aku mengantarmu?" tanya Devan.
Allia kembali menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak usah. Kau baru saja datang ke sekolah, lebih baik kau simpan saja tasmu ke kelas."
"Tidak, aku akan tetap mengantarmu ke ruang guru." Devan berdiri di sebelah Allia.
Allia terdiam sebentar. "Baiklah," ucapnya membuat Devan sedikit tersenyum.
Kemudian mereka mulai berjalan beriringan menuju ke ruang guru. Tidak ada percakapan diantara keduanya, mereka saling diam satu sama lain.
__ADS_1
...*****...
Sesampainya di ruang guru, mereka berdua berhenti di depan pintu. Suasana sangat sunyi, maklum saja masih sangat pagi.
Allia menoleh ke arah Devan.
"Kau tunggu saja di sini, aku akan masuk sendirian," ucap Allia.
Devan mengangguk patuh. Allia masuk sendirian ke dalam ruang guru untuk menyimpan buku catatannya.
Devan memajukan kepalanya ke depan dan celingukan. Para guru kebanyakan yang belum datang ke sekolah. Dia melihat hanya ada satu guru di ruangan itu, sedang mengerjakan tugasnya. Allia menghampiri guru tersebut dengan senyum ramahnya.
"Permisi, Bu," sapa Allia.
Guru tersebut menoleh dan tersenyum. "Iya, ada perlu apa?"
Guru perempuan masih terbilang muda, aura kecantikannya sangat terlihat di wajahnya. Sering di panggil "Bu Nadiya" oleh para guru maupun murid-murid. Terkadang dia sering digoda oleh murid laki-laki jika sedang mengajar, Bu Nadiya hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan para muridnya. Bu Nadiya belum memiliki ikatan pernikahan, itu sebabnya beberapa guru pun suka bercanda dengannnya.
"Saya ingin mengumpulkan tugas saya yang kemarin," ucap Allia.
Masih dengan senyumnya, Bu Nadiya mengangguk.
Allia menyodorkan bukunya, Bu Nadiya langsung menerima buku tersebut dari tangan Allia.
Allia menundukkan kepalanya dan segera berbalik untuk ke luar dari ruangan itu. Panggilan dari Bu Nadiya menghentikan langkahnya membuat Allia kembali membalikkan badannya.
"Tunggu sebentar, Allia," ucap Bu Nadiya.
"Tolong katakan pada teman sekelas kamu yang bernama Geo untuk menemui saya sesudah saat istirahat nanti," lanjutnya.
Kening Allia berkerut mendengar nama "Geo" disebut. Lalu dia mengangguk, tidak mungkin dia harus menolak permintaan Bu Nadiya hanya karena dia malas dengan Geo.
"Nanti saya sampaikan pada Geo," ucap Allia.
"Terimakasih." Bu Nadiya tersenyum.
Allia mengangguk dan segera pergi ke luar. Di sana masih ada Devan yang masih menunggunya. Lelaki itu berdiri bersandar pada dinding dengan satu kakinya yang diangkat ke belakang.
Allia menghampiri Devan. Devan menoleh dan membenarkan posisi berdirinya.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Devan.
Allia mengangguk.
"Kembali ke kelas?"
Allia mengangguk lagi.
Mereka berjalan beriringan untuk kembali ke kelasnya masing-masing yang tempatnya berbeda. Beberapa siswa sudah terlihat banyak yang mulai berdatangan. Beberapa dari mereka menatap kebersamaan Allia dan Devan aneh. Anehnya karena sosok Devan yang dekat dengan perempuan dan orang itu adalah Allia.
Mereka berhenti di depan kelas Allia karena Devan dengan keras kepala ingin mengantar Allia sampai depan kelas. Geo datang dari arah lain masuk ke dalam kelas, dia melihat Allia bersama seorang lelaki langsung tersenyum miring. Geo melewati mereka berdua tanpa mengatakan apapun. Hanya saja tatapannya tidak lepas dari Allia.
"Siapa dia?" tanya Devan saat Geo sudah pergi ke dalam kelasnya.
"Geo, Kakaknya Clara," jawab Allia.
Devan merasa tidak asing dengan nama Clara. Devan berusaha mengingat dan ingatannya tertuju pada murid baru yang satu kelas dengannya.
"Clara, murid baru di kelasku?"
"Iya."
Devan mengangguk-anggukkan kecil kepalanya.
"Istirahat nanti kau bisa menemaniku ke perpustakaan?" tanyanya.
Allia menggeleng. "Aku minta maaf, sepertinya tidak bisa. Aku harus menemani Kakakku latihan."
"Basket?"
Allia mengangguk.
Devan sedikit kecewa. "Ya, sudah. Tidak masalah. Aku akan pergi ke kelasku sekarang. Nanti kita bertemu lagi, ya."
"Terimakasih sudah mengantarkan aku sampai ke kelas. Mungkin lain kali aku bisa menemanimu," kata Allia membuat Devan kembali tersenyum.
"Baiklah."
Devan berpamitan pada Allia untuk kembali ke kelasnya. Allia juga segera memasuki kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi saat dirinya masih berbicara dengan Devan. Allia menghampiri Kakaknya, Alvino yang sudah menunggunya dari tadi.
__ADS_1
...•••...
...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...