Couple AL

Couple AL
Jangan Marah, Sayang


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Motor Alvino terparkir di halaman rumahnya. Clara turun dari motor Alvino. Dia dan Alvino dengan cepat masuk untuk melihat apakah Geo ada di dalam rumah atau tidak. Setelah mencarinya ke mana-mana, mereka tetap tidak menemukan keberadaan Geo.


"Bagaimana?" tanya Alvino.


Clara menggeleng. "Dia juga tidak ada di kamarnya."


Alvino berpikir sejenak. Jika Geo tidak ada di rumah, apa mungkin dia masih berada di sekolah? Mengingat sekolah, Alvino jadi teringat Allia. Sedang apa Allia sekarang? Bersama siapa? Dia pasti kelelahan.


Raut wajah Alvino berubah. Clara hanya diam memperhatikannya, Alvino menekan nomor Allia mencoba menghubunginya. Tidak diangkat, nomor Allia tidak aktif. Perasaan menyesal mulai menghampirinya karena dia sudah meninggalkan Allia di sekolah.


"Ada apa denganmu?" tanya Clara melihat perubahan sikap Alvino.


"Allia tidak mengangkat ponselnya," jawab Alvino.


"Mungkin ponselnya mati," alibi Clara mencoba untuk menenangkan Alvino. Dia sendiri khawatir pada Allia.


"Aku akan kembali ke sekolah untuk mencari Allia." Alvino mengambil langkahnya untuk kembali ke sekolah.


"Tunggu," cegah Clara membuat Alvino berhenti melangkah.


"Allia bilang padaku jika kau harus pergi bekerja dan kau tidak usah merasa khawatir karena dia akan segera pulang," lanjutnya tanpa menatap Alvino.


Alvino mengingat ucapan Allia tadi, Allia memang berkata jika dia harus berangkat bekerja.


"Aku akan pergi ke kamarku." Setelah mengatakan itu Alvino pergi dari hadapan Clara dan melangkah ke kamarnya.


Clara menatap punggung Alvino yang mulai menjauh, kemudian memikirkan ucapannya barusan.


"Dia bekerja?" gumam Clara pelan.


Clara menggeleng, dia tidak boleh mencampuri urusan orang lain. Clara memutuskan untuk pergi ke kamarnya, setelah itu dia akan mencari tahu ke mana kakaknya itu.


...*****...


Selesai mandi dan bersiap-siap, Alvino mengambil kunci motornya yang tergeletak di meja. Di depan kaca dia merenung, memikirkan Clara yang sendirian di rumah. Geo belum pulang, begitu juga dengan Allia.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Saat ingin mengangkatnya, ternyata dari nomor yang tidak dikenal. Tidak banyak yang mengetahui nomornya. Hanya keluarga, Allia dan beberapa dari tim basketnya. Alvino menekan tombol hijaunya, menyambungkan saluran teleponnya.


"Kak Al?" panggil seseorang di sebrang telpon.


Alvino langsung mengenali suara lawan bicaranya.


"Allia, kau sudah selesai? Aku akan menjemputmu sekarang," ujar Alvino.


"Tidak-tidak. Kak Al tidak perlu menjemputku, sebentar lagi Al akan pulang. Kak Al sudah berangkat?"


Allia menolak dijemput oleh Alvino, kenapa? Tidak biasanya Allia menolaknya. Pikir Alvino.


"Belum. Kau akan pulang dengan siapa?" tanya Alvino.


"Emm ... Geo." Suara Allia sangat pelan saat menyebutkan nama Geo.


"Geo bersamamu?" Alvino sedikit terkejut.


"I-iya Kak."


"Baiklah. Cepat pulang, aku akan berangkat sekarang, hati-hati." Alvino akan menginterogasi Allia nanti setelah pulang kerja.


"Clara sendirian?" tanya Allia.

__ADS_1


"Iya."


"Kak Al ajak Clara bersama Kakak, ya. Tidak mungkin dia sendirian di rumah."


"Clara?" sahut Alvino.


"Iya. Baiklah Kak, Al tutup dulu."


Allia mematikan teleponnya secara sepihak. Alvino belum selesai bicara sedikit kesal. Kenapa Allia menyuruh Clara ikut bersamanya? Dia bukan ingin bermain-main sehingga harus mengajak Clara. Alvino akan bekerja, bagaimana dia bisa fokus jika Clara bersamanya?


Alvino ke luar dari kamarnya, dia berjalan ke kamar Clara. Dia mengetuk pintu, pintu kamar Clara terbuka.


"Aku akan berangkat bekerja," ucap Alvino.


Clara mengangguk. Dia akan menjaga rumah besar couple Al sendirian karena tidak ada orang lain di rumah ini selain dirinya setelah Alvino pergi.


Alvino terdiam tak kunjung pergi dari depan kamar Clara. Clara yang melihat itu jadi bingung, apakah Alvino mau mengatakan sesuatu lagi padanya?


"Kenapa?" tanya Clara.


"Kau ikut bersamaku," ucap Alvino cepat.


"Apa?!" Mata Clara membulat mendengarnya.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di rumah," ujar Alvino.


"Aku di sini saja menunggu Allia dan Kakakku, kau pergi saja," kata Clara menolak ikut bersamanya.


"Allia dan Geo sedang di luar, karena itu Allia memintaku untuk mengajakmu ikut bersamaku." Alvino melirik jam tangannya, sebentar lagi dia harus sampai di cafe. Sedangkan Clara tidak mau berhenti bicara.


"Kenapa mereka bisa—" ucap Clara terpotong.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti. Sekarang cepat bersiap, aku tunggu di luar." Alvino pergi dari hadapan Clara.


"Aku sedang bertanya padanya dan dia malah pergi. Dasar pria aneh!"


"Maaf kalau aku lama," ucap Clara.


"Cepat naik, atau aku akan terlambat."


Clara menganggukkan kepalanya dan naik ke motor Alvino. Dia bingung harus berpegangan pada Alvino atau tidak. Tapi dia takut terjatuh mengingat motor alvino sangat tinggi. Alvino melirik Clara dari kaca spionnya.


"Pegang pundakku," ucap Alvino agar Clara tidak kebingungan lagi.


"Baiklah." Clara mengangkat kedua tangannya dan berpegangan pada pundak Alvino agar tidak terjatuh.


...*****...


Keringat bercucuran di sekitar wajah Allia. Dadanya naik turun karena napasnya tidak teratur. Matanya bergerak gelisah, tangannya menggenggam erat tangan Geo.


Ada sedikit kesalahan yang mereka lakukan. Saat hendak masuk ke dalam, mereka salah masuk. Saat film baru tayang beberapa detik, Allia langsung menjerit dan memejamkan matanya saat melihat layar besar yang menunjukkan seorang wanita yang bercucuran darah di sekujur tubuhnya dan juga wajahnya.


Geo sendiri tidak mengerti kenapa ini semua bisa terjadi. Allia meminta pada Geo agar mereka ke luar dari ruangan itu tapi ditahan petugas karena mengganggu penonton lain. Allia menyembunyikan wajahnya di tangan Geo selama film berlangsung. Geo merasa kasihan sekaligus ingin tertawa melihat Allia. Dia mengusap-usap kepala Allia dengan sebelah tangannya karena tangan yang satunya dipegang erat oleh Allia.


"Minum," ujar Geo menyodorkan sebotol air minum pada Allia.


Geo membantu Allia minum karena sepertinya wanita itu masih ketakutan terlihat dari tangannya yang bergetar ketika memegang air minum. Geo ikut duduk di sebelah Allia.


"Apa kau masih takut?" tanya Geo menatap Allia.


Allia diam sejenak, merasa sudah baik Allia menoleh dan menjawab, "Kenapa kau mengajakku menonton film seperti itu?"


"Maafkan aku. Tapi aku juga benar-benar tidak mengerti. Ini bukanlah kesalahanku."

__ADS_1


"Aku tahu kau sengaja melakukannya," kata Allia mulai merasa marah.


"Aku sudah bilang tadi, aku juga tidak tahu apa-apa kenapa filmnya jadi horor," ucap Geo membela diri.


"Kau bohong! Aku tahu semua ini adalah rencanamu! Mulai dari kau pura-pura pingsan dan aku membawamu ke UKS, kau membuatku dihukum oleh Pak Tio, dan sekarang kau membuatku takut dengan menonton film horor. Apa sekarang kau sudah merasa senang?!" Allia mengeluarkan semua kekesalannya hari ini pada Geo, karena penyebab kekesalannya memang datang dari Geo.


Geo melihat sekitar, banyak yang melihat dan memperhatikan mereka. Dia harus menenangkan Allia, tapi keadaannya tidak tepat. Baiklah, sepertinya dia harus melakukan sesuatu.


"Sayang tolong jangan marah, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku janji tidak akan membuatmu marah lagi." Geo meraih kedua tangan Allia yang langsung ditepis oleh Allia.


"Jangan sentuh aku!"


"Permisi," ucap seseorang di belakang Allia.


Allia yang sedang marah berbalik badan dan melihat siapa yang mengganggunya. Ternyata sepasang suami istri yang sudah berumur. Allia menatap mereka canggung dan melihat sekitarnya banyak orang yang memperhatikannya. Allia merasa malu, Geo menarik Allia dan memegang tangannya posesif. Allia mencoba melepaskan diri tapi tenaga Geo lebih kuat darinya.


"Apa kalian sedang ada masalah?" tanya seorang wanita paruh baya tadi sambil tersenyum.


"Iya, belakangan ini istri saya sangat sensitif. Mungkin ini karena efek hamil muda," sahut Geo dengan senyumnya.


Mata Allia membulat mendengar pernyataan Geo barusan. Beraninya Geo mengakuinya sebagai istrinya yang sedang hamil muda. Rasanya ingin sekali dia menenggelamkan Geo ke samudera Atlantik.


"Jaga ucapanmu, dasar tidak waras!" umpat Allia.


Geo menutup mulut Allia dengan tangannya. "Sayang jangan bicara kasar, ada orang tua di sini."


"Maafkan ucapan istri saya ya." Geo bersikap seolah tidak enak pada dua orang di hadapannya dan itu membuat Allia muak ingin menampar pipi Geo dengan keras.


"Tidak apa. Dulu saat kami masih muda istriku juga seperti itu saat mengandung. Marahnya seperti seperti seekor singa," ucap sang suami lalu tertawa melihat Allia dan Geo mengingatkan dirinya dan saat masih muda.


Mereka ikut tertawa mendengarnya, kecuali Allia. Dia hanya diam.


Kemudian istrinya maju satu langkah dan memegang dagu Allia. Dia tersenyum memperhatikan wajah Allia yang begitu cantik.


"Istrimu sangat cantik," pujinya tidak berhenti tersenyum. "Siapa namamu?"


"Allia," ucap Allia sedikit menunduk karena malu.


"Nama yang cantik, seperti orangnya." Wanita itu menoleh pada Geo. "Jaga istrimu baik-baik. Dia sangat terlihat muda di usianya ini untuk mengandung. Jangan buat dia kesal ataupun marah. Ingat, dia sedang hamil muda dan kau harus sabar menghadapinya."


Geo mengangguk dan menarik Allia ke dalam pelukannya dan berbisik. "Jangan marah, sayang."


Keduanya tersenyum melihat Allia dan Geo berpelukan, kembali baikkan. Allia hanya terdiam, tidak mungkin dia memberontak lagi karena di hadapannya masih ada mereka.


"Mereka sangat cocok," bisik sang istri pelan pada suaminya yang dibalas dengan senyuman. "Kau tidak salah memilih seorang istri. Lihat, istrimu sangat cantik."


Geo tersenyum mendengarnya, dia melepas pelukannya dan menjawab, "Tentu saja Nyonya, istriku memang cantik maka dari itu aku menikahinya, benar bukan istriku sayang?"


Allia membuang muka dan tidak menjawabnya membuat pasangan berumur itu di hadapannya gemas dengannya juga Geo yang selalu menggodanya.


"Oh, ya. Siapa namamu, Nak?"


"Geo."


"Baiklah. Nak Geo, Nak Allia, kami pergi dulu. Ingat, jangan bertengkar di tempat umum, selesaikan dengan baik-baik."


Geo mengangguk. "Terimakasih, berkat kalian istri saya sudah sedikit tenang." Geo melirik Allia yang masih menghindari tatapannya.


Mereka tersenyum kemudian pergi dari hadapan Allia dan Geo.


Setelah suami-istri itu pergi, Allia menepis tangan Geo dan pergi begitu saja meninggalkan Geo yang tidak bisa lagi menahan tawanya. Berpura-pura menjadi suami Allia tidaklah mudah, tapi dia menikmatinya karena membuat Allia marah adalah hal yang disukainya. Entah, dia benar-benar sangat menyukai hal itu!


"Sayang!"

__ADS_1


...•••...


...Jangan lupa tekan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author ✨...


__ADS_2