
...Happy reading ♡...
...*****...
Setelah Tama selesai bersiap, Tama segera keluar dari kamarnya. Tama menghampiri couple Al yang berada di bawah, ruang tamu. Tama melihat mereka sedang berfoto ria.
"Tolong pegang ponselku dan ambilkan fotoku dengan Allia," suruh Alvino saat melihat Tama sudah sampai di hadapan mereka.
"Aku juga ingin ikut berfoto bersama kalian," ucap Tama.
"Nanti, sekarang ambil fotoku dengan Allia dulu."
Tama mengambil ponsel Alvino dan segera mengambil foto mereka dengan sebaik mungkin. Foto pertama yang Tama ambil saat Alvino merangkul Allia dengan sangat romantis kemudian saling menatap satu sama lain. Foto kedua, Alvino memegang kedua pipi Allia yang berada di hadapannya, Alvino tersenyum dan Allia memajukan bibirnya seperti orang yang ingin mencium. Foto ketiga, Alvino menggendong Allia dan Keduanya sama-sama tertawa seperti mereka sedang sangat bahagia.
"Sudah, lihatlah, aku mengambil fotonya seperti seorang fotografer yang profesional," ucap Tama menyombongkan hasil fotonya menyodorkan ponsel yang ada di tangannya kepada Alvino.
"Foto ini terlihat bagus karena orang yang kau ambil fotonya itu cantik dan tampan. Coba saja jika aku mengambil fotomu, aku yakin hasilnya tidak akan sebagus ini."
Tama membulatkan mata tidak terima. "Mari kita buktikan, cepat kau ambil fotoku dengan Allia."
Tama dan Allia bergaya dengan sebaik mungkin. Dari sekian lamanya Alvino hanya mengambil satu foto, itu juga saat mereka tidak fokus dengan kamera, blur. Sisanya dia foto dirinya sendiri dengan kamera depan.
"Sudah," ucap Alvino.
"Berikan, aku ingin melihat hasil fotonya."
"Nanti saja, sekarang kita berangkat."
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar, sini berikan!" Tama merebut ponsel Alvino.
Tama membulatkan matanya saat melihat hanya ada foto Alvino dan satu foto mereka yang sedang tidak fokus.
"Sialan kau, Alvino!" Tama mengejar Alvino yang tertawa.
Mereka saling mengejar mengelilingi kursi ruang tamu. Prof. Glen yang baru datang melihat Tama sedang mengejar Alvino langsung bertanya kepada Allia.
"Ada apa ini? Kenapa mereka saling mengejar?"
Allia menceritakannya semua kejadian tadi dari Tama ingin mengajaknya pergi bersama Alvino sampai Alvino membohongi Tama yang mengambil fotonya sendiri kepada prof. Glen, prof. Glen yang mendengarkannya juga ikut tertawa.
"Tama, sudah. Jangan mengejar Alvino, Kakek pusing melihat kalian berlari berputar-putar di sini."
"Alvino membohongiku, Kek," ucap Tama tanpa berhenti mengejar Alvino.
"Baiklah, aku minta maaf. Berhenti mengejarku!" teriak Alvino yang sudah merasa capek berlari sambil tertawa.
"Tidak! Sini kau, Al!" Tama semakin mengejar Alvino.
"Kak Tama, hari hampir menjelang siang, kita berangkat sekarang. Berhenti mengejar Kak Al, kasihan dia sudah terlihat capek." Ucapan Allia berhasil menghentikan langkah Tama untuk mengejar Alvino.
__ADS_1
Allia tersenyum, akhirnya Tama berhenti mengejar kakaknya. Alvino terlihat sedang mengatur nafasnya.
"Awas kau, Alvino!"
"Sudahlah, lain kali aku akan mengambil fotomu lagi," ucap Alvino kembali tertawa.
Prof. Glen menggelengkan kepalanya.
"Cepat kalian berangkat sekarang, udara luar sangat segar pagi ini," kata prof. Glen yang diangguki mereka bertiga.
...*****...
Alvino yang sedang mengendarai mobil merasa terganggu dengan nyanyian Tama. Alvino mengakui suara Tama memang sangat bagus, apalagi jika berduet dengan Allia. Tapi, Alvino tidak suka jika yang bernyanyi itu Tama.
"Berhenti bernyanyi, aku jadi tidak fokus."
Mereka tidak mendengarnya dan terus bernyanyi menghiraukan Alvino yang merasa terganggu.
"Berhenti bernyanyi!" ucap Alvino dengan suara yang sedikit keras agar mereka mendengarnya.
Mereka tetap bernyanyi tanpa menghiraukan Alvino.
Alvino membuang nafasnya, mengambil earphone dan memasangkan pada telinganya. Kemudian dia mencoba kembali fokus pada jalanan tanpa mendengarkan Tama dan Allia yang masih bernyanyi di belakangnya.
...*****...
"Apakah kalian akan terus bernyanyi? Kita sudah sampai di mall." Alvino kesal dengan mereka yang tidak sadar jika mereka sudah sampai.
Allia melepas earphone pada ponselnya. "Benarkah?"
Alvino tidak menjawab. Allia melihat ke luar dan ternyata mereka sudah sampai.
"Kak Tama, kita sudah sampai. Berhentilah bernyanyi," ucap Allia sambil melepaskan earphone yang terpasang di telinga Tama.
"Sudah sampai, ya? Aku sampai tidak menyadarinya, musiknya sangat enak terdengar di telingaku sampai aku tidak mau berhenti bernyanyi." Tama terkekeh.
Tama melihat Alvino hanya diam dari tadi. Dia bertanya kepada Allia kenapa Kakaknya hanya diam. Allia menjawabnya dengan menggidikkan kedua bahunya pertanda dia tidak mengetahui kenapa Alvino begitu.
Alvino turun dari mobil. "Turun!"
Tama dan Allia menurutinya. Mereka takut jika Alvino tiba-tiba seperti ini. Diam dengan wajah yang datar. Mereka memasuki mall bersama, Alvino berjalan mendahului mereka.
"Kita makan dulu, ya. Aku merasa lapar belum makan dari pagi, kalian juga pasti lapar. Setelah makan kita belanja."
Allia mengangguk. Sedangkan Alvino masih dengan diamnya.
Mereka memasuki salah satu tempat makan yang tersedia di dalam mall. Mereka memilih kursi yang paling ujung dekat jendela agar bisa melihat pemandangan kota dari atas.
Mereka memesan makanannya masing-masing. Mereka makan dengan keheningan karena Alvino masih belum berbicara sepatah kata pun. Saat makan, perut Allia tiba-tiba kebelet, padahal dia baru makan sedikit makanannya.
__ADS_1
"Kak Al, Kak Tama, Al akan ke toilet sebentar. Perut Al tidak bisa menahannya lagi," ucap Allia.
Alvino menghentikan makannya dan berkata, "Aku akan menemanimu."
"Tidak, Kak Al lanjutkan saja makannya. Ini hanya sebentar, paling lama sepuluh menitan aku akan segera kembali," tolak Allia.
"Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?" tanya Tama.
"Sesuatu akan terjadi sebentar lagi jika aku tidak segera pergi ke toilet sekarang juga, kalian mengerti maksudku, kan?" tanya Allia dengan kedua tangannya yang memegang perutnya.
Mereka mengangguk.
"Aku akan mencari toilet sekarang, kalian tidak perlu khawatir." Allia berdiri dari duduknya untuk mencari di mana toilet terdekat di tempat makan ini.
"Hati-hati!" teriak Tama dari belakang.
Alvino melanjutkan makannya dengan cepat. Dia akan segera menyusul Allia memastikan Allia baik-baik saja. Dia takut Allia tersesat di mall yang begitu besarnya dan diculik oleh orang yang tidak dikenal.
"Kenapa kau makan dengan terburu-buru?" tanya Tama melihat betapa cepatnya Alvino makan.
Alvino tidak menjawab dan tetap melanjutkan makannya.
"Apa kau tuli? Aku bertanya kepadamu kenapa kau makan terburu-buru? Bukannya Allia sudah bilang akan segera kembali, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Bukan urusanmu."
"Apa kau marah kepadaku?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Bukan urusanmu."
Lagi-lagi Alvino menjawabnya seperti itu. Tama ingin sekali memukul Alvino, jika tidak mengingat dirinya sedang di tempat umum. Tama memutuskan untuk diam saja dan menghabiskan makanannya.
Sepuluh menit berlalu, Alvino dan Tama sudah menghabiskan makanannya, tapi Allia belum juga kembali. Alvino mencoba menghubungi Allia tapi ternyata Alia tidak membawa ponselnya.
"Mungkin Allia sakit perut," ucap Tama agar Alvino tidak tegang.
"Tidak mungkin selama ini," sahut Alvino.
"Kau jangan khawatir, sekarang kita cari saja. Aku yakin Allia tidak jauh dari sini."
Alvino mengangguk. Mereka segera membayar semua makanan yang sudah mereka pesan dan segera mencari Allia di sekitar tempat makan yang mereka kunjungi.
...•••...
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...
__ADS_1