
...Happy reading ♡...
...*****...
Tama dan Allia ke luar dari pekarangan rumah Allia. Tama mengendarai dengan kecepatan yang standar.
"Kak Tama, kita akan belanja ke mana?" tanya Allia.
"Kita akan jalan-jalan sebentar, aku ingin menghabiskan waktu denganmu sebelum pulang. Setelah itu kita ke mall untuk belanja, bagaimana?" Tama berujar dengan pandangan tetap fokus pada jalanan.
Allia tentu saja senang mendengarnya.
"Al mau!" seru Allia membuat Tama tersenyum dibalik helmnya.
"Kau mau kita ke mana, Al?"
"Terserah," jawab Allia.
"Jawablah yang benar. Aku tidak tahu harus ke mana tujuanku dengan kata 'terserah' itu." Ucapan Tama membuat Allia tertawa.
"Kita mau ke mana?" ulang Tama.
Allia menghentikan tawanya. Dia berpikir sejenak memikirkan tempat tujuan mereka sekarang.
"Apa kau merasa lapar?" tanya Tama karena Allia tidak kunjung bicara.
Allia menganggukkan kepalanya. Tama dapat melihatnya dari kaca spion yang menampakkan keadaan yang terjadi di belakangnya.
"Ya, sudah. Kita makan dulu," ucap Tama.
"Al mau ice-cream," ungkap Allia.
Tama tersenyum mendengarnya. Apa lagi saat Allia mengucapkan kata "ice-cream" ingin sekali Tama mencubit pipinya.
"Iya, nanti kita akan membeli ice-cream."
Senyum Allia langsung terbit. "Makasih Kak Tama!"
Tama menganggukkan kepalanya tanpa menjawabnya.
Allia mempererat pelukannya pada Tama. Tama menambah kecepatan motornya agar cepat sampai.
...*****...
Motor mereka terparkir di salah satu tempat makan yang terletak di pinggir jalan. Kedai yang bernuansa alam menyesuaikan dengan letak tempatnya yang dikelilingi oleh pepohonan.
"Yang ini?" tanya Tama melepas helmnya.
"Iya. Ayo turun," ajak Allia yang diangguki Tama.
Mereka turun dari motor dan memasuki kedai yang tidak terlalu besar itu. Banyak orang yang berkunjung ke kedai itu setiap harinya. Dan merupakan salah satu tempat makan kesukaan couple Al juga. Selain tempatnya yang menarik, menu makanan yang mereka sediakan juga bermacam-macam dan tentu saja soal rasa tidak bisa diragukan lagi.
Tama dan Allia memilih tempat duduk untuk mereka.
"Mau pesan apa?" tanya Tama membuka menu.
Allia melihat menunya sebentar kemudian mengucapkan makanan yang dia inginkan kepada Tama. Tama memesankan makanannya dan Allia. Tidak harus menunggu dengan waktu yang lama, pelayanan di sana sangat cepat sehingga pesanan mereka berdua datang. Mereka berdua langsung menyantap makanannya.
__ADS_1
"Makannya pelan-pelan saja, aku tidak akan mengambil makananmu, Al." Tama melihat Allia makan dengan lahapnya.
"Al makan sedikit saat di rumah kakek," ucap Allia dengan mulut penuh makanan.
Tama terkekeh, dia membiarkan Allia melanjutkan makannya sebelum dirinya mengingat sesuatu yang ingin ditanyakan sejak lama.
"Al," panggil Tama.
"Hm ...." gumam Allia untuk menjawab Tama karena mulutnya sibuk mengunyah makanan.
"Apa pendapatmu tentang Geo dan Clara?"
Allia melirik Tama.
"Maksud Kak Tama? Memangnya mereka kenapa?"
"Maksudku, mereka berdua, kan, akan tinggal bersamamu dan Alvino. Apa kau tidak keberatan soal itu? Sedangkan mereka bukan siapa-siapa bagi kalian," jelas Tama.
Mendengar itu Allia menghentikan makannya. Dia menatap Tama yang menunggu jawabannya.
"Al tidak merasa keberatan, kok, jika mereka tinggal di rumah Al. Al juga bisa punya teman di rumah kalau kak Al sedang pergi. Kan, ada Clara," ucap Allia.
"Kalau Geo bagaimana?"
Mendengar nama Geo disebutkan, muka Allia langsung berubah menjadi muram.
"Dia orang yang sangat menyebalkan. Kak Tama tenang saja, jika dia melakukan sesuatu padaku, aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang di rumahku."
Tama bergidik mendengar ucapan Allia. Jika sepupunya sudah mengucapkan seperti itu, biasanya dia akan melakukan hal-hal aneh untuk mengerjai orangnya.
"Lanjutkan makanmu, Al."
Allia menggeleng. "Al sudah kenyang."
Tama mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Kak Tama, mana ponselmu?" tanya Allia.
Tama merongoh sakunya mengambilkan ponselnya untuk Allia. Dia memberikan ponselnya tanpa bertanya apapun pada Allia.
Allia mengambil ponsel Tama. Dia melihat-lihat isi ponselnya. Allia yang bosan membuka kamera dan memotret Tama yang sedang makan. Kemudian Allia mengarahkan kameranya kepada mereka berdua dan bergaya dengan konyol.
Selesai makan, Tama membayar makanan mereka dan mengajak Allia pergi dari sana.
"Sekarang kita ke mana?" tanya Tama.
"Mall," jawab Allia.
"Ya, sudah. Ayo."
Mereka berdua naik motornya menuju ke mall.
...*****...
Sesampainya di mall, mereka belanja kebutuhan untuk dapur rumah Allia. Dari sayuran, buah-buahan, minuman, berbagai camilan dan segala yang mereka butuhkan mereka membelinya banyak agar ada stok banyak untuk dapur Allia.
"Ice-cream!" seru Allia berlari menuju ke arah tempat ice-cream berada.
__ADS_1
Tama hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti Allia dengan mendorong semua belanjaan yang sudah mereka beli.
Allia mengambil banyak ice-cream untuk dirinya, tidak lupa untuk orang di rumahnya juga karena sekarang yang tinggal di rumahnya bukan hanya dirinya dan kakaknya saja, tetapi ada Clara dan Geo juga.
"Banyak sekali ice-creamnya, Al?" Tama melihat Allia mengambil banyak sekali ice-cream.
"Al bingung harus membeli yang mana, semuanya kelihatan enak. Al juga membelikan ice-cream untuk orang di rumah," terang Allia.
Tama hanya mengangguk dan memasukan ice-cream yang Allia ambil ke dalam belanjaan mereka.
"Sudah cukup?"
Allia mengangguk. "Iya."
"Baiklah, aku akan membayarnya sekarang. Kasirnya ngantri, kau tunggu saja duduk di depan sana, Al."
Allia mengangguk dan duduk di kursi yang tidak jauh dari kasir menunggu Tama yang sedang membayar belanjaan mereka.
"Al?" panggil seseorang pada Allia.
Allia menengok ke sumber suara yang memanggilnya. Allia sedikit terkejut. Untuk kedua kalinya dia bertemu dengan Devan di mall yang sama. Hanya saja kali ini Devan bersama temannya, Arka.
"Kau?"
Devan sedikit tersenyum. "Iya, kita bertemu lagi di sini."
Allia tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangannya pada Tama yang masih menunggu antrian untuk membayar belanjaan mereka.
"Kalian sering bertemu?" tanya Arka.
"Tidak! Hanya kebetulan saja," ucap Allia agar Arka tidak salah paham.
Arka mengangguk-anggukkan kepalanya.
Allia menatap Devan yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa kau selalu ada di sini?" tanya Allia.
"Memangnya kenapa? Apa mall ini milikmu?" ucap Devan membuat Allia menatapnya tajam.
Devan menahan senyumnya, sepertinya Allia mulai kesal kepadanya. Dia melirik Arka.
"Ayo kita pergi," ucap Devan lalu berjalan meninggalkan Arka dengan Allia.
Arka melihat Allia yang menatap punggung Devan dengan tatapan tidak suka.
"Aku akan menyusul Dev." Arka buru-buru menyusul Devan yang meninggalkannya tanpa menunggu jawaban Allia.
"Al kau kenapa?" Tama yang baru datang terheran karena Allia menatap ke arah dua orang yang baru saja pergi.
Allia menggeleng.
"Kita pulang sekarang," ujar Allia mengambil keresek besar dari tangan Tama yang isinya barang belanjaannya.
...•••...
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...
__ADS_1