
...Happy reading ♡...
...*****...
Hari semakin gelap, langit sore tergantikan dengan gelapnya malam, yang artinya Tama akan pulang dari rumah couple Al ke rumah prof. Glen malam ini.
Sedari tadi Allia tidak mau lepas dengan Tama. Begitu juga sebaliknya. Alvino menyarankan Tama untuk menginap, melihat Allia seperti tidak mau ditinggalkan oleh Tama. Tama sendiri sebenarnya ingin sekali menginap, tapi mamanya menyuruhnya untuk pulang malam ini. Mengingat dalam waktu dekat dia akan segera kembali ke Harvard, papanya juga melarang Tama untuk tidak menginap dan langsung pulang saja. Tama kesal, tapi dia tidak bisa marah dengan kedua orangtuanya.
Allia melepas pelukannya dari Tama. Sudah lama sekali mereka berpelukan. Tama mengusap kepala Allia.
"Jangan nangis, sepupuku yang cantik, kok, jadi cengeng seperti ini?" bujuk Tama menghapus air mata Allia.
Allia menggeleng. "Jangan pulang ...,"
"Nanti kita call, di Harvard aku pasti akan sangat merindukan Alliaku yang cantik," bujuk Tama menghibur Allia.
Tama menunjukkan pergelangan tangannya. "Lihat, aku memakai jam pemberianmu. Jamnya cocok untukku, menambah kesan ketampananku."
Dan berhasil, Allia menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil.
"Nah, kalau senyum, kan, kelihatan cantik sekali." Tama menarik kedua sisi bibir Allia.
Allia terkekeh pelan dan memukul pelan lengan Tama. "Ih, Kak Tama!"
"Sudah, Al. Biarkan dia pulang, sebelum malam semakin gelap," ujar Alvino.
"Iya, Kak Tama hati-hati ya, awas jangan ngebut, atau nanti Al kasih tahu bibi Liza dan paman Bram." Allia mengancam dengan lucunya.
Tama langsung hormat layaknya sedang upacara. "Siap, laksanakan!"
Tama dan Alvino berpelukan ala laki-laki. "Jaga Allia, awas saja jika sampai terjadi sesuatu pada Allia, aku akan menghabisimu."
"Dasar tidak waras. Aku kakaknya Allia, kau pikir aku akan membiarkan sesuatu terjadi pada adikku?" Alvino mendelik.
Tama tersenyum mendengar jawaban Alvino. "Bagus."
Tama melihat ke arah Geo dan Clara yang sedari tadi diam melihat mereka.
"Semoga kalian nyaman tinggal di sini."
Geo dan Clara mengangguk.
"Jika kalian membutuhkan sesuatu bilang saja pada Alvino, nanti dia akan membantu kalian," lanjut Tama.
Alvino menatap Tama tajam.
"Tentu saja," ucap Geo membuat Tama tertawa.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pulang sekarang."
Tama masuk ke dalam mobil. Dia menghidupkan mobilnya dan membuka jendelanya untuk melihat Allia yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Tama tersenyum dan membalas melambaikan tangannya pada Allia yang sedang dirangkul oleh Alvino. Setelah itu, Tama segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
...*****...
Setelah melihat Tama pulang, tinggallah couple Al, Geo dan Clara. Mereka berempat masuk ke dalam rumah. Geo dan Clara memilih langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing karena rasa kantuk menyerang mereka ingin segera tidur di kasurnya.
Berbeda dengan Allia dan Alvino. Couple Al itu tidak langsung tidur, mereka berdua sedang berada di dapur untuk memasak mie. Alvino duduk memperhatikan Allia yang sedang membuatkan mie instan untuknya. Allia sudah cukup pandai dalam memasak makanan rumahan, membuat kue, puding, dan masih banyak lagi. Dengan keadaan mereka yang hanya tinggal berdua karena kedua orang tuanya sudah tidak ada. Alvino sangat bangga dengan keahlian adiknya itu, mereka jadi tidak perlu ke luar untuk makan.
Alvino menghirup udara yang tercium. "Hmm ..., rasanya pasti enak. Dari baunya saja sudah tercium enak sekali."
Allia yang sedang menghidangkan mie tertawa pelan.
"Kak Al tunggu di ruang tengah saja, kita makan di sana."
"Baiklah," ucap Alvino pergi duluan ke ruang tengah menuruti perintah Allia.
Tidak lama menunggu, Allia datang dengan membawa piring menghampiri Alvino yang sedang menonton televisi.
"Mienya sangat cantik," puji Alvino melihat tampilan piring yang Allia hias.
Allia tersenyum. "Kak Al, cepat rasakan mienya."
"Baiklah, aku akan mencobanya sekarang."
"Bagaimana?" tanya Allia.
Alvino tersenyum. "Enak sekali!"
Allia ikut tersenyum senang karena masakannya enak.
Allia membuka mulutnya. "Aaa ...,"
Alvino yang mengerti langsung menyuapi adiknya itu. "Enak, kan?"
Allia mengangguk.
Mereka melanjutkan makannya. Rutinitas malam mereka memang seperti itu. Makan sebelum tidur, dengan satu piring berdua. Saling menyuapi satu sama lain sambil bercanda.
Sejak kepergian kedua orang tua mereka, mereka semakin dekat untuk saling menguatkan satu sama lain. Mereka tidak pernah menyusahkan orang lain. Bahkan kepada keluarga, mereka tidak pernah meminta ini-itu. Alvino sebenarnya sudah bekerja untuk membiayai kebutuhan hidupnya dengan Allia tanpa sepengetahuan prof. Glen. Hanya saja prof. Glen yang selalu membantu mereka tanpa diminta. Alvino bekerja dua kali dalam satu Minggu. Allia sebenarnya ingin memberitahu kakeknya soal ini, tapi Alvino memaksanya untuk berjanji agar tidak memberitahu prof. Glen tentang pekerjaannya.
Allia menguap. "Al mengantuk," ucapnya.
"Sana tidur," suruh Alvino.
"Kak Al?"
__ADS_1
"Aku akan menonton sebentar, belum mengantuk juga," kata Alvino yang diangguki Allia.
"Al simpan piringnya dulu." Allia pergi ke dapur untuk mencuci piring bekas makannya bersama Alvino dan segera kembali menghampiri Alvino.
"Al mau tidur sekarang, Kak Al jangan tidur terlalu malam, ya."
Alvino mengangguk. "Iya Al, sana cepat tidur."
Allia pergi ke kamarnya meninggalkan Alvino yang menonton televisi. Alvino sangat fokus melihat tayangannya sampai tidak menyadari kedatangan Geo yang sudah duduk di sebelahnya ikut menonton. Mereka sama-sama fokus pada televisi yang menayangkan sepak bola. Akhirnya salah satu tim ada yang memasukan bola ke dalam gawang.
"Gol!! Yeah, kau memang tim jagoanku!" teriak Geo spontan karena senang tim kesukaannya menang.
Alvino terkejut mendengar Geo berteriak. Dia tidak mengetahui sejak kapan Geo datang dan ikut menonton bersamanya tanpa bicara.
"Kau sejak kapan ada di sini?" tanya Alvino.
"Beberapa menit yang lalu mungkin. Aku baru ingat timku main malam ini, karena itu aku bangun dan ternyata ada kau yang kebetulan sedang menonton," terang Geo.
Alvino tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangannya pada televisi.
"Kau memilih tim yang mana?" tanya Geo.
"Aku tidak memilih tim manapun."
"Kau tidak suka sepak bola?" tanya Geo.
"Hm ...," gumam Alvino sebagai jawaban.
Geo mengerutkan keningnya. "Lalu, kenapa kau menontonnya?"
"Apa masalahnya itu untukmu? Tidak ada, kan?" sarkas Alvino karena Geo banyak bertanya.
"Ya, ya, ya, kau benar." Geo menimpali.
Alvino mengambil remote untuk mematikan televisi. Melihat itu Geo langsung mengambil remote yang tersimpan di atas meja terlebih dahulu sebelum digapai oleh tangan Alvino.
"Kalau kau mau tidur, tidur saja. Aku masih ingin menontonnya."
Alvino menatap tajam Geo kemudian pergi ke kamarnya.
"Tunggu, Al." Suara Geo yang memanggil namanya menghentikan langkah Alvino.
"Besok motorku akan sampai di sini, kakek menyuruhku untuk berangkat dan pulang sekolah selalu bersama-sama dengan kalian."
Alvino melirik sinis dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar tanpa menjawab apapun. Sedangkan Geo kembali menonton tayangan kesukaannya yang menayangkan kemenangan timnya.
...•••...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...