Couple AL

Couple AL
Sweet AL


__ADS_3

...Happy reading ♡...


...*****...


Pada saat pembelajaran berlangsung Allia tiba-tiba kebelet ingin buang air kecil yang mengharuskannya segera pergi ke toilet sendirian. Alvino sempat menawarkan dirinya agar ikut menemani Allia tapi Allia menolaknya.


Allia berjalan di lorong kelas sendirian menuju ke toilet. Dirinya tidak memiliki teman. Bukannya tidak ada yang mau berteman dengan Allia, tapi Allia yang selalu menjauh jika ada yang mengajaknya berbicara. Di sekolah, selain pada jam pembelajaran dia hanya akan berbicara dengan kakaknya saja, Alvino.


Sesampainya di toilet, Allia melihat keadaan toiletnya kosong, tidak ada satu orang pun. Allia masuk ke dalam salah satu bilik toilet untuk buang air kecil. Dari dalam bilik toilet, Allia bisa mendengar ada suara keran air yang mengalir. Allia berfikir mungkin ada orang lain selain dirinya yang berada toilet.


Selesai buang air kecil, Allia merapikan dirinya terlebih dahulu dan segera keluar dari bilik toilet. Di luar toilet, Allia tidak menemukan siapapun. Allia jadi berfikir, mungkin kerannya sudah rusak. Allia adalah orang yang mudah penasaran apabila ada sesuatu yang mencurigakan di sekitarnya. Allia memeriksa keran air tersebut dan ternyata benar, keran airnya rusak. Allia bernafas dengan lega. Allia keluar dari toilet kemudian pergi ke kelasnya.


...*****...


Saat sudah sampai di kelas, Alvino langsung melontarkan beberapa pertanyaan kepada Allia. Kelas agak sepi karena sudah waktunya istirahat, beberapa murid keluar dari kelas dan memilih untuk mengisi perutnya di kantin sekolah.


"Kenapa baru pulang? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Alvino sambil melihat keaadan Allia.


"Al baik-baik saja," jawab Allia.


"Kenapa hanya buang air kecil saja kau lama sekali, aku mengkhawatirkan dirimu, Al."


Allia tersenyum melihat kakaknya yang khawatir karenanya.


"Lain kali aku akan mengantarmu jika kau ingin pergi ke toilet."


Allia melotot mendengar ucapan kakaknya kemudian berkata, "Keran air di toilet sebelah sempat menyala dengan sendirinya."


"Toilet sekolah ini memang ada penghuninya. Untung kau baik-baik saja, Al," ucap Alvino.


Allia langsung mencubit Kakaknya yang berbicara dengan sembarang. "Kerannya rusak. Aku sudah memeriksanya tadi."


"Aku kira hantu yang melakukannya," ujar Alvino.


"Kakak!"


"Hahaha ...." Alvino tertawa kemudian merangkul adiknya itu.


"Pacaran terus," ucap salah satu teman sekelas yang menghampiri mereka, Rifki.


"Siapa yang pacaran?" tanya Allia.


"Tentu saja kalian berdua," jawab Rifki.


"Kami tidak pacaran," sahut Allia.


"Lalu apa jika bukan pacaran? Aku merasa aneh pada kalian berdua."


"Aneh kenapa?" sahut Alvino.


"Kenapa kalian selalu nempel? Kemana-mana pasti berdua. Kalian, kan, adik kakak. Dan apakah kalian tahu? Bukannya terlihat seperti adik kakak, kalian malah terlihat seperti sepasang kekasih."


"Malas sekali meladeni ucapanmu yang selalu berbicara seperti itu. Aku sudah capek menjawabnya." Alvino mendelik.

__ADS_1


Rifki tertawa mendengarnya. Dia memang sering sekali berkata seperti itu pada mereka berdua.


"Pergilah dari sini," usir Alvino pada Rifki.


"Aku sampai lupa, tujuanku ke sini adalah untuk mengajakmu latihan basket di lapangan," ucap Rifki.


"Tidak, aku harus mencatat pelajaran."


"Bilang saja tidak mau," sanggah Rifki.


"Kenapa harus bertanya jika sudah tahu jawabannya?" sarkas Alvino.


"Aku hanya bertanya saja, memangnya tidak boleh?" tanya Rifki.


"Tidak," jawab Alvino cepat.


"Kau adalah ketua tim basket sekolah ini, Al. Kita harus sering berlatih agar selalu mengalahkan tim lawan dan mengharumkan nama sekolah kita, sekolah pasti bangga pada tim kita, Al," jelas Rifki panjang lebar.


"Aku sudah terlatih."


"Kau jangan sombong, kapten."


"Aku hanya berbicara tentang kenyataan."


"Tapi itu sombong namanya," kekeh Rifki.


"Jangan bertengkar di hadapanku," potong Allia yang sedari tadi diam melihat Kakak dan temannya bertengkar.


Alvino menatapnya tajam.


"Kak Al, jangan begitu," tegur Allia.


"Iya ...."


Rifki tersenyum lebar. "Aku akan bermain basket dulu. Bye, couple Al," pamit Rifki dan ke luar dari kelas.


...*****...


Allia duduk di taman sekolah, sambil melihat pemandangan bunga-bunga yang indah dirinya melamun memikirkan apa yang dikatakan Rifki ternyata ada benarnya juga. Allia tidak sadar sedari tadi Alvino memperhatikan dirinya yang tidak bergerak layaknya patung.


"Al," panggil Alvino pada Allia.


Tidak ada jawaban dari Allia. Alvino menyentuh bahu Allia.


Allia spontan menoleh. "Eh, iya, Kak. Kenapa?" Allia sedikit terkaget.


"Nih, minum." Alvino memberikan sebotol minuman yang langsung diterima oleh Allia.


Allia membuka minuman tersebut kemudian meminumnya sedikit.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Alvino.


"Tidak ada," ucap Allia setelah selesai minum dan menutup kembali minumannya.

__ADS_1


"Apa kau memikirkan ucapan Rifki tadi?" tanya Alvino yang membuat Allia terdiam.


"Sudahlah, Al, tidak usah dipikirkan."


"Tapi ucapannya benar, Al sudah banyak menyusahkan dirimu, Kak Al." Allia merasa tidak enak pada kakaknya, selama ini dirinya hanya menjadi beban untuk Kakaknya.


"Jangan berbicara seperti itu, Al." Alvino tidak suka jika Allia berbicara seperti itu.


"Sampai saat ini Kak Al tidak memiliki seorang wanita, itu pasti karena Al. Dan kau juga jarang bermain bersama teman-temanmu, itu juga pasti karena diriku." Allia menunduk dan memainkan minuman yang berada di tangannya.


"Dengar, akan aku jelaskan." Alvino melihat ke lapangan sekilas dimana banyak yang bermain basket, kemudian menatap Allia dengan tatapan teduhnya. "Lihat Kakakmu ini, Al."


Alvino menatap Allia dengan serius, Allia juga membalas tatapannya.


"Apakah aku salah menjaga dan menyayangi adikku sendiri?" tanya Alvino pada Allia yang dijawab gelengan kepala dari Allia.


Alvino tersenyum. "Apakah aku salah menjaga dan menyayangi satu-satunya keluarga yang aku punya?"


Allia menggelengkan kepalanya lagi.


"Aku sangat menyayangimu, Al. Kau adalah satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang. Mama-Papa sudah tidak ada, dan sekarang tinggal tersisa dirimu saja yang aku punya. Aku mohon jangan berbicara seperti itu lagi. Jika kau menginginkan sesuatu katakanlah kepadaku, aku pasti akan memenuhinya jika aku bisa."


Allia memeluk Alvino dengan erat. Beruntung sekali dia memiliki Alvino. Alvino yang selalu pengertian kepadanya dan selalu mengerti apa yang Allia inginkan. Alvino yang sudah menggantikan posisi kedua orang tuanya. Allia tidak ikhlas jika harus berpisah dengan Alvino apalagi harus kehilangan Alvino di hidupnya. Allia jadi ingat dimana dirinya memberitahu pada Alvino bahwa dirinya tidak mau berteman dengan siapapun. Pada saat itu Allia menduduki kelas delapan dan Alvino kelas sembilan. Alvino langsung meminta kepada guru agar menaikkan kelas Allia menjadi sekelas dengannya. Dan beruntungnya para guru tidak keberatan dengan permintaan Alvino karena Allia pintar. Jadi Allia tidak susah untuk mengerti pelajaran kelas sembilan.


"Jangan tinggalin Al, Kak," ucap Allia.


Alvino mengusap-usap kepala Allia dengan sangat lembut. "Tidak akan, Al."


Allia melepas pelukan pada kakaknya dan mengacungkan jari kelingkingnya. "Berjanjilah padaku."


"Lucu sekali adikku ini." Alvino mencubit pipi Allia.


"Ish, Kakak, sakit!" Allia mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe ... Maafkan aku," Alvino terkekeh.


Allia kembali mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji dulu!"


"Adik Kak Al kenapa, sih. Kau bertingkah sangat lucu hari ini. Aku jadi ingin mencubit pipimu lagi," ucap Alvino.


"Cepat berjanji!" tutur Allia.


Alvino semakin gemas kepada adiknya sendiri. Dia memberikan jari kelingkingnya dan menautkannya kepada jari kelingking Allia. Allia tersenyum.


"Pulang sekolah ke rumah kakek, ya. Al sangat merindukan kakek," ucap Allia.


Alvino menganggukkan kepalanya. "Iya, pulang sekolah kita ke rumah kakek."


"Yeay!" teriak Allia kegirangan.


...•••...


...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...

__ADS_1


__ADS_2