
...Happy reading ♡...
...*****...
Geo menekuk dagunya kesal. Dua wanita yang masih bersamanya sedari tadi tidak mau pergi dari hadapannya dan tidak membiarkan Geo pergi dari meja kantin.
Awalnya Geo hanya iseng saja ingin menggoda mereka karena kebiasaannya. Tapi, setelah mengetahui akhirnya seperti ini dia sangat merasa menyesal.
Geo melihat wanita di hadapannya. Dia akui mereka cantik, tapi masih cantik Clara adiknya, bahkan Allia. Sesuai dengan permintaan Geo, dua wanita itu menceritakan tentang sekolahnya pada murid baru yang tampan itu. Mereka tidak berhenti bicara sampai sekarang sehingga Geo menyesali telah mengajukan pertanyaan itu. Geo harus mencari cara agar bisa segera ke luar dari kantin tanpa bersikap kasar kepada mereka berdua.
"Jam berapa sekarang?" tanya Geo.
Salah satu dari mereka melihat jam dinding yang menempel di tembok kantin. "Masih jam sebelas lebih tiga puluh, kenapa?"
Geo membulatkan matanya. Artinya sudah 4 jam dia mendengar mereka mengoceh.
"Aku harus kembali ke kelasku, tadi kalian bilang pulangnya jam satu, kan?"
Mereka mengangguk.
"Iya," jawab mereka serempak.
Geo tersenyum dan berusaha bicara dengan lembut kepada mereka, "Kalau begitu, boleh aku kembali? Kan, sebentar lagi pulang."
"Tapi, hari ini, kan, sekolah sedang free karena hari pertama makanya pulang lebih awal. Kalau hari-hari biasa pulangnya sore. Nanti saja pulangnya, kau temani kita berdua," ucapnya sambil menggibas-gibaskan kipas kecil yang selalu dibawa ke mana-mana olehnya.
Geo berdecak dan mencari ide lain. Dia memegangi perutnya dengan kedua tangannya.
"Geo, kau kenapa?"
"Perutku sakit, Shei," jawab Geo.
Yang dipanggil "Shei" langsung panik ke sana ke mari.
"Kau kenapa, Geo? Cepat katakan! Perutmu sakit kenapa? Ada luka? Habis operasi? Bagaimana ini! Mona cepat panggilkan PMR!" suruhnya panik sendiri.
Sheila, murid kelas dua belas yang paling cerewet dan lebay bersama temannya Mona. Mereka suka mengganggu orang lain, atau adik kelasnya sendiri. Mereka berdua juga suka membuli. Para murid pun takut jika berurusan dengan dua wanita itu. Sheila menyukai Alvino. Dia sering mendekati dan mengganggu Alvino. Wanita itu bahkan dengan terbuka menyatakan perasaannya pada Alvino di lapangan dan banyak murid yang melihatnya. Alvino dengan kejam menolaknya karena dia sama sekali tidak menyukai Sheila yang banyak tingkah dan suka membuli orang. Tapi Sheila tidak menyerah, dia tetap selalu mendekati Alvino sampai sekarang.
"PMR! PMR! Kalian di mana! Ada yang sakit, cepat ke sini!" teriak Mona ikut paniknya.
Para siswa lain yang berada di kantin menatap ke meja mereka bertiga.
"Hei, apa yang kalian lakukan? Berhenti, berhenti, aku tidak kenapa-kenapa!" ucap Geo kesal.
Ternyata idenya dengan berpura-pura sakit perut malah membuatnya malu.
Sheila dan Mona menatap Geo.
__ADS_1
"Bukannya perutmu sakit?" tanya Sheila polos.
"Habis operasi," tambah Mona dengan bodohnya.
"Bukan! Perutku sakit karena aku ingin ke toilet bukan karena habis operasi!" Kesabaran Geo habis karena meladeni mereka.
"Oh ...." Sheila dan Mona mengangguk-anggukkan kepalanya membuat Geo ingin memukul mereka saja jika tidak ingat mereka berdua itu perempuan dan kakak kelasnya sendiri.
"Sudahlah. Aku ingin melihat lapangan saja."
"Oh, ya! Aku lupa! Aku belum ke lapangan untuk melihat pacarku," seru Sheila.
"Pacar? Kau punya pacar?" tanya Geo.
"Tidak, dia tidak punya pacar. Maksudnya itu calon pacar," jelas Mona.
Geo tertawa mendengar ucapan Mona.
Sheila menatap tajam Mona. Temannya itu tidak dapat mengontrol ucapannya. Sedangkan Mona hanya cengengesan takut Sheila marah.
"Maaf Shei, aku tidak sengaja."
"Bodoh," umpat Sheila malu.
"Siapa pacarmu? Eh, maksudku calon pacarmu. Siapa dia?" Geo menahan tawanya.
"Dia sangat tampan, pintar, dan dia adalah kapten basket sekolah ini. Alvino!" Sheila berujar sambil tersenyum membayangkan wajah tampan Alvino.
Sheila mengangguk. "Kau mengenalnya?" tanyanya melihat respon Geo yang terkejut.
Geo segera menggeleng. Dia tidak boleh memberitahu siapapun apa lagi kepada mereka jika dia mengenal Alvino dan Allia. Lebih baik dia berpura-pura tidak tahu siapa mereka untuk mengetahui siapa couple Al di sekolah. Sepertinya topik pembicaraan yang cukup menarik dari pada sebelumnya.
"Tidak," jawabnya.
"Alvino itu kapten basket sekolah ini. Pandai sekali dia memainkan bola basketnya, dia juga tampan. Tipeku sekali, aku sangat menyukainya!" ujar Sheila semangat.
Pantas saja semalam dia bilang tidak menyukai sepak bola, ternyata dia pemain basket. Batin Geo.
"Dia punya adik, dan adiknya sekolah di sini juga. Namanya Allia, kan, Shei?" tanya Mona.
"Iya, Allia sekolah di sini. Dia cantik seperti diriku. Tapi masih cantikan aku."
Geo yang serius mendengarkan dari tadi merasa muak mendengar ucapan terakhir dari Sheila yang dengan percaya dirinya mengaku dirinya lebih cantik dari Allia.
"Apa lagi yang kau tahu tentang mereka?" pancing Geo ingin tahu.
Sheila menggumam lama sambil berpikir. "Aku hanya mengetahui itu saja. Ah, aku ingat! Seharusnya Allia kelas sepuluh, tapi entah kenapa mereka bisa satu kelas."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Geo baru tahu kalau Allia lebih muda darinya.
"Iya," jawab Sheila.
"Kau tahu dari mana, Shei?" tanya Mona.
Sheila memukul kepala Mona menggunakan kipas yang ada di tangannya. "Aku tahu darimu!"
"Ashh," desis Mona kesakitan.
"Kapan aku memberitahumu?" lanjutnya bertanya sambil mengusap kepalanya.
"Waktu itu aku menyuruhmu untuk mencari tahu informasi tentang mereka. Dan kau mengatakan padaku jika Allia mengikuti kelas akselerasi."
Mona mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh, iya-iya kau benar, Shei. Aku yang memberitahumu."
"Dasar bodoh," umpat Sheila kesal karena Mona yang lambat berpikir.
"Sudah, hentikan!" ucap Geo yang malas melihat pertengkaran adu mulut Sheila dan Mona.
"Sekarang aku akan pergi ke lapangan," lanjutnya dan bangkit dari tempat duduknya.
Dia merenggangkan otot tubuhnya yang pegal karena terlalu lama duduk. Itu semua disebabkan oleh dua wanita di depannya.
"Geo, tunggu! Kita ikut, ya?" pinta Sheila.
"Terserah," jawab Geo tidak peduli lagi.
Sheila dan Mona segera berdiri menyusul Geo yang sudah berjalan mendahului mereka. Mereka mensejajarkan di samping kanan dan kiri Geo. Mereka bertiga ke luar dari kantin menuju lapangan.
...*****...
Mereka bertiga sudah sampai di lapangan. Latihannya hampir selesai. Mereka melihat Alvino yang sedang memainkan bola basket dengan lihainya.
"Semangat Alvino sayang!" teriak Sheila tidak tahu malu.
Banyak orang yang menengok ke arah mereka karena teriakan Sheila.
Geo menutup telinganya karena suara teriakan Sheila.
Alvino menghiraukan teriakan yang sudah biasa dia dengar setiap latihan. Pasti wanita itu. Tanpa menengok pun Alvino sudah tahu siapa yang berteriak memanggil namanya. Dia tetap fokus pada bolanya.
Geo melihat di pinggir lapangan ada Clara yang sedang bersama Allia. Mereka juga sama sedang melihat latihan basket di lapangan. Tatapan Allia tidak sengaja bertubrukan dengan tatapan Geo. Dengan cepat Allia langsung memalingkan wajahnya. Melihat itu Geo terkekeh kecil mengingat kejadian di kantin tadi.
Ternyata air itu untuk Kakaknya.
Mereka melanjutkan menonton latihan basketnya sampai selesai dan kemudian pulang ke rumahnya masing-masing.
__ADS_1
...•••...
...Jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk support author✨...