
“*Ray, papa mohon kali ini saja! Kau mau ikut kehendak papa!” teriak papa mengeluh pada Rayna.
“Aku tidak bisa pa, ini sama saja papa mengorbankan masa depanku!” teriak Rayna dengan berlinang air mata.
“Ray, apa kau tahu? perusahaan papa sudah di black list apa lagi semenjak mama kau meninggal perusahaan kita jadi merosot!” jelas papa duduk seperti putus asa dengan bertopang dagu.
“Semuanya pasti ada jalan pa, tidak mesti menjodohkan aku. Layaknya papa menjadikan tumbal!” jelas Rayna menangis.
“apa kau tauh? Perjodohan ini hadir sebelum mama mu meninggal!” jelas papa frustasi. “Jadi papa mohon, kali ini saja nak!”.
“aku tidak habis pikir dengan pemikiran papa!” jelas Rayna menuju kamar.
“Jika kau tidak mau, papa tidak memaksa. Tapi papa tidak tauh mesti melakukan apa terhadap amanah mama mu ini!!” sambung papa membuat langkah Rayna berhenti.
*Maksud papa?” Tanya Rayna.
“Rayna, kejadian kecelakaan mama mu bukan hanya menewaskan mama mu saja tapi kedua orang tua teman papa!” jelas papa membuat Rayna tak mengerti. “Kau tahukan Om Pramana teman papa? Apa kau tauh jika tidak amanah ini dijalankan Papa akan masuk penjara seumur hidup!” teriak papa.
Apa yang papa maksud? Sumpah ini konyol!” teriak Rayna tak percaya.
“Sudahlah... Jika kau menolak perjodohan ini, kau juga harus kehilangan semuanya. Termasuk masa depan apa lagi papa harus masuk penjara!” jelas papa terlihat sedih ingin menuju kamarnya.
Rayna terdiam sejenak “Pa!” panggil Rayna membuat papanya berhenti. “Aku menerima perjodohan ini, asalkan papa tidak masuk penjara dan masa depan ku tidak hancur.” Jelas Rayna menuju kamarnya.
“Baiklah. Besok kita ke rumah teman papa, bersiap-siaplah!” pinta papa terlihat senang dan juga sedih. Senangnya ketika perusahaan bisa kembali normal karena bantuan Pramana grub, sedihnya ketika ia harus merelakan anak gadis yang sangat ia cintai harus menanggung semuanya.
Rayna duduk di tempat tidurnya, merenungi apa yang telah terjadi. Ia sungguh tak habis pikir hidupnya berakhir seperti ini, sungguh ia jijik mendengar pernikahan apa lagi menikah dengan orang yang tak ia kenali.
“Aku benci dengan semuanya!” benak Rayna menangis menggenggam tempat tidur dengan kasar.
Di kediaman Pramana,
Keluarga bahagia itu duduk di ruangan keluarga seraya bercanda seperti biasanya.
“Oh iya Bi, papa mau bicara penting pada mu!” jelas Pramana.
“Apa pa. Kayaknya penting-penting amat?” tanya Abizar putra tunggal Pramana itu.
“Papa ingin menjodohkan kamu sama anak teman papa dan juga mama!” jelas Pramana.
__ADS_1
“What?” teriak Abizar yang sedang minum langsung tersedat. “Papa jangan bercanda deh?”.
“Papa mu benar nak, ini semua demi kebaikan kita bersama!” jelas mama membenarkan.
“Tidak.. tidak... Atas dasar apa papa dan mama menjodohkan aku, ini bukan zaman Siti Nurbaya pa, ma. Lagian aku sudah punya pacar!” jawab Abizar menolak mentah-mentah.
“Abizar, ini amanah nenek dan kakek mu. Apa kau tauh? Istri teman papa meninggal karena kecelakaan itu!” jelas papa naik pitam mendengar penolakan Abizar.
“Tapi pa, ini tidak ada sangkut pautnya sama aku!” jelas Abizar santai.
“Jelas, kau ada sangkut pautnya. Pokoknya besok teman papa dan anaknya kesini, dan kau harus menerima semua ini!” pinta papa beranjak pergi.
“Pa, papa!” teriak Abizar tak percaya. “Ma, bantulah aku ma. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tak ku cintai!” pinta Abizar.
“Maaf sayang, mama tidak bisa apa-apa. Ini telah tertulis di buku wasiat papa mu, mama mohon kau terima ya!” pinta mama kembali.
“Oh my God, hidupku benar-benar hancur karena kalian!” jelas Abizar pergi menuju kamarnya dengan kesal.
Abizar adalah pria tampan serta kaya raya, perusahaan papa nya ada dimana-mana, belum lagi kampus serta hotel di kota ini. Sehingga banyak gadis-gadis mengincarnya dan tergila-gila pada nya, namun ia hanya mencintai Jassy seorang modeling Nasional yang cantik dan kaya di kota ini. Abizar masih kuliah satu kampus dengan Rayna tapi mereka sama-sama tidak mengetahui tentang perjodohan ini, dan mereka juga satu SMA dulu, Abizar dengan jurusan Agre Bisnis yang ingin mengikuti jejak papanya sedangkan Rayna dengan jurusan Hubungan internasional.
Keesokan harinya,
“Tok....tok...tok” Papa mengetok pintu kamar Rayna. “Ray, sudah siang nak. Ayo keluar untuk makan!” pinta papa membuat Rayna sadar dari lamunannya.
“Iya!” jawab Rayna beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Papa tunggu di luar ya!” pinta papa lagi.
“Iya!” jawab Rayna singkat, ya itulah kebiasaannya bersikap dingin kepada siapa pun termasuk keluarganya. Entah faktor apa?.
Rayna melihat matanya yang sembab karena menangis semalam di cermin, ia benar-benar benci dengan kenyataan. Perlahan air matanya kembali turun, membuat hati dan batin ia hancur.
“Mama, andai kau tak pergi mungkin aku tidak seperti ini, terutama berlarut dalam kesedihan akan kepergian mu!” jelas Rayna dengan tatapan kosong pada cermin.
Setelah membersihkan diri, Rayna turun menuju meja makan untuk sarapan bersama papanya.
“Selamat pagi nona!” sapa Bi Ina, asisten pembantu Rayna sejak Rayna masih bayi.
Tanpa menjawab Rayna langsung duduk depan papanya.
__ADS_1
Rayna dan papa menikmati makanan yang dibuatkan bibi, yaitu nasi goreng dengan udang cincang.
“Ingat Ray, depan calon mertuamu nanti, kau tidak boleh bersikap seperti ini!” pinta papa.
Rayna hanya diam melanjutkan makanannya.
“Setelah ini bersiap-siaplah. Kita akan pergi jam 8, sekarang masih pukul 7:25 masih ada waktu setengah jam lagi untuk kau dandan!” pinta papa lagi.
“Aku tidak mau dandan, biarkan seperti ini!” jawab Rayna.
“Terserah kau saja, asal kau tidak mempermalukan papa!” jawab papa membuat hati Rayna serasa disambar petir, betapa hinanya dia Dimata Papanya.
Setelah makan, Rayna Pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian, ia hanya memakai dress selutut berwarna dusty pink, serta rambut ia biarkan terurai hingga ke pinggang sama halnya dengan penampilan ia sering ke kampus, tanpa olesan bedak maupun lipstik sedikit pun, ia langsung turun kamar karena papanya telah menunggu di mobil.
Papa hanya melihat penampilan Rayna, tanpa berkomentar sedikit pun. Ia merasa bersyukur Rayna mau menerima perjodohan ini.
“Ingat pesan papa, bersikaplah sopan pada calon mertua mu dan juga calon suamimu!” pinta papa dengan fokus menyetir.
“sebodoh itukah aku? Yang tak bisa menjaga sopan santun?” tanya Rayna tanpa memandang papa
“ya, bisa saja! Apa lagi dengan sikap dingin mu ini!” jawab papa.
“Hemm..” jawab Rayna tak ingin memperpanjang debatnya.
Di kediaman Pramana, para pembantu telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk lamaran Abizar dan Rayna, tanpa sepengetahuan Keduanya mereka langsung lamaran, yang membuat Abizar tambah terpuruk adalah resepsi pernikahannya dilakukan lusa siang.
“Sungguh ini konyol!” Jelas Abizar tak kuasa melihat kenyataannya.
“Papa melakukan ini demi kebaikan semuanya Bi, lebih cepat lebih baik!” jelas papa meminum kopi.
“Kebaikan apanya? Sungguh tidak masuk akal” teriak Abizar.
“lebih baik untuk papa dan mama, yaitu amanah nenek dan kakekmu telah kami lakukan, dan lebih baik untukmu adalah kau bisa tanggung jawab dalam usia muda. Barangkali kau bisa berubah dan tidak menghamburkan uang saja!” jawab papa santai.
“Pa... Oh my God! ini tidak adil pa” jelas Abizar Frustasi.
jangan lupa like, vote, komentar ya teman-teman baik ku🙏❤️
salam kenal dari Author yah, Rena Andesta ❤️
__ADS_1
Bengkulu, 2 September 2020**