
Rayna memandang pria itu tidak mengerti, seketika ia bersikap baik, seketika ia bersifat menjengkelkan dan kejam, layaknya bom waktu bisa kapan saja meledak. Ia tidak mengira pria di depannya ini menjadi suaminya, pria yang ia hindari sejak SMP bahkan ketika SMA selalu mengganggunya.
lama ia menatap jendela tidak jauh dari lemari buku hingga kantuknya tiba, hari ini begitu melelahkan menghadap kenyataan yang tak bisa ia percayai ini nyata, berdamai dengan masalalu kembali mustahil rasanya.
Abizar membuka matanya ketika Rayna telah lelap di dekapannya. ia menatap intens hingga ia mengusap rambut Rayna dengan tangan. "Kenapa dia begitu menggemaskan layaknya bayi, ah dia bukan bayi lucu melainkan bayi rubah yang ganas!" jelasnya melonggarkan sedikit pelukannya. "Ada apa dengan aku ini, kenapa aku membelai rambutnya?" Tanyanya dengan diri sendiri. "ah tadi khilaf!".
Abizar turun dari ranjang menuju dapur untuk minum. Ia melihat Bi Ina sedang berbincang ramah kepada sang mama di depan televisi, ya ia memahami mamanya memang sangat hangat dan mudah akrab dengan orang baru.
"Sayang istrimu mana?" Tanya mama girang.
"Dia sudah tidur ma, soalnya aktivitas hari ini cukup melelahkan!" jawab Abizar langsung ke dapur.
"Apa kau tau Bi menantu ku sangat cantik bukan?" Tanya mama seraya membanggakan.
__ADS_1
"Iya dia cantik nyonya, bibi yakin di luar sana banyak yang mengagguminya dilihat dari finansial, otak, bahkan kepribadian!" jawab bibi seadanya.
"ah benarkah? betapa beruntungnya anakku, oh ya bibi pasti dekat padanya bukan, lihat kau begitu mengenalnya!" sentil mama pada Bi ina malu-malu.
"iya nyonya!" Jawab Bi ina.
"Abizar jangan kau sakiti menantuku, jika kau menyakitinya mama akan mengusirmu!" ancam mama ketika Abizar lewat menuju kamar.
"kekanakkan!" jawab Abizar berlalu.
ia menutup pintu kamar dengan pelan takut sang empuh terjaga, rasanya begitu nyaman melihat wanita itu tidur tenang layaknya seorang bayi menggemaskan, ah ralat bayi rubah yang ganas.
ting... Notifikasi handphone Rayna bertanda ada pesan masuk, Abizar melihat handphone model lama itu di antara lemari buku dan lampu tidur, ia tidak peduli dengan itu namun hatinya tetap saja ingin tahu bagaimana kehidupan wanita ini sebenarnya.
__ADS_1
ia mencoba mengulurkan tangan untuk mengambil handphone itu layaknya orang mencuri takut ketahuan dengan hati-hati ia membawa handphone itu di sofa seraya duduk. ia membukanya kebetulan tidak terkunci. "Kuno sekali, negara miskin saja tidak memperjual belikan handphone sejelek ini!" gerutunya kesal.
Di dalam handphone itu terdapat lima Aplikasi yaitu Istagram, Watshapp, Google, Telepon dan Pesan. Abizar tidak abis pikir betapa sepinya hp wanita itu, layaknya handphone orang tak punya tujuan.
Ia membuka aplikasi satu persatu, membuka Watshapp dengan penasaran.
"cihhh!" jengkel Abizar melihat kontak hanya 3 orang yaitu papa, bibi dan Gavin .
dengan perasaan kesal ia menyimpan nomernya dengan nama "lelakiku" Ada lovenya di ujung, lalu ia menelepon ke handphonnya hinggatersambung. Rasa penasarannya tidak sebatas itu ia melihat ratusan pesan yang tak dibalas meskipun hanya bertanya sapa, betapa angkuhnya wanita itu pikirnya. "kenapa pria rubah ini bodoh sekali!" jelas Abizar memberi sumpah serapah terhadap Gavin. "Cih...".
ia kembali ke tempat tidur merebahkan tubuh di samping wanita yang baru saja membuat ia kesal sekaligus jengkel. "Kenapa ada yang aneh terhadapku, tidak mungkin.." benaknya.
ia memejamkan mata, hari yang melelahkan hampir usai.
__ADS_1
maaf telat up
banyak kegiatan kuliah, lagi uas