Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Aku minta maaf


__ADS_3

***Rayna kembali ke ruangan keluarga, dimana tempat Abizar duduk.


“Pulanglah, aku tidak ingin melihatmu disini!”pinta Rayna tanpa memandang Abizar.


“Tidak.” Jawabnya terfokus ke tv.


“Dimana papaku?” Tanya Rayna menatap Abizar penuh dengan tanda tanya.


“Papa pergi, ada urusan bisnis!” Jawab Abizar membuat hati Rayna mulai lega.


“Apa ini rencanamu?” Tanya Rayna lagi.


Abizar berhenti menonton televisi dan memandang lekat wajah Rayna yang sayu.


“Istirahatlah disini, aku tidak ingin selalu berdebat!” Jawab Abizar lalu beranjak ke kamar Rayna.


“He....” Rayna menghembuskan nafasnya kasar seraya memegang dahinya bertanda frustasi.


Dan tak berapa lama tibalah bibi dengan tergesa-gesa.


“selamat malam non!” Sapa bibi.


“bi, dimana papa?” tanya Rayna tanpa menjawab pertanyaan bibi.


“Tuan ke luar negeri nona, ada urusan bisnis!” jawab bibi asal-asalan, feeling bibi begitu karena sebelum Papa Rayna pergi. Ia membuat paspor baru.


“oh iya Bi!” jawab Rayna berlalu menuju kamarnya.


Rayna masuk kamar, ia lihat Abizar telah menguasai kasurnya, Layaknya semua isi kamar ini milik dia.


“Bagaimana dengan mama?” Tanya Rayna melepaskan Tasnya.


“Sudah aku atur!” jawab Abizar terfokus ke handphonenya.


Rayna masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, air matanya selalu menetes jika ingat perkataan Abizar tadi. Jujur dia adalah wanita yang pedendam dan sulit memaafkan serta ia selalu ingat dengan sesuatu yang tak ia sukai apa lagi sampai-sampai melukai hatinya.


Selesai mandi dan ganti baju, ia langsung duduk di sofa tidak jauh dari tempat tidurnya sedangkan Abizar masih fokus dengan handphonenya.


“Aku minta maaf atas apa yang aku ucapkan tadi!” jelas Abizar masih fokus ke handphonenya membuat Rayna terperanjat tak percaya, dari SMA Abizar selalu membuat ia menderita tapi baru kali ini, ia mendengar kata maaf dari mulut berbisanya itu.


“Sudahlah!” jawab Rayna beranjak jendela melihat pemandangan arah jalan raya.


Abizar pun bangun dan berdiri di samping Rayna dengan pandangan kosong.


“Kamar mu sangat strategis!” jelas Abizar.


“hem!” jawab Rayna dingin memandang luar jendela.


“tidurlah, sudah malam. Kau pasti lelah!” jelas Abizar lembut, Rayna merasa ada sesuatu yang terjadi.


“Kenapa dia jadi seperti ini? Apa ada maunya?” benak Rayna. “Tapi, tak apa-apa, aku sangatlah lelah!”


Tanpa menjawab Abizar, Rayna langsung ketempat tidur untuk istirahat.


Keesokan harinya, Rayna pergi ke kampus bersama Abizar. Tapi Abizar menurunkan Rayna sebelum tiba di gerbang kampus, keduanya takut hubungan pernikahan konyol itu terpublikasi.


Rayna langsung menuju kelasnya begitu pula dengan Abizar, karena waktu telah menunjukkan pukul 9.


Abizar tersenyum sinis, karena tahap awal rencananya dimulai.


“Akan ku buatkan kau tunduk padaku wanita parasit!” benak Abizar licik.

__ADS_1


Benar yang Rayna duga, Gavin telah menunggunya. Tapi dikelas itu, tampak aneh menurutnya entah itu apa? Kelas HI biasanya paling hening dari kelas lain tapi hari ini banyak mahasiswa antusias, apa lagi mahasiswa wanita.


“Ada apa? Kenapa antusias?” tanya Rayna langsung duduk di bangkunya tanpa seutas senyum.


“Akhirnya kau tiba, kau dari mana saja sih. Aku telepon gak diangkat!” jelas Gavin kesal.


“Aku kesiangan!” jawab Rayna mengeluarkan isi tasnya.


“Dikelas kita ada mahasiswa baru, pindahan dari Amerika!” jelas Gavin.


“Oh, pantasan Antusias!” jawab Rayna tanpa memandang Gavin.


“jadikan nanti Ray?” tanya Gavin.


“iya!” .


Lalu tibalah seorang pria menghampiri Rayna, membuat mahasiswa dikelasnya antusias dan dan juga merasa iri.


“Hai Ray!” sapanya lalu duduk di depan bangku Rayna membuat mata Gavin melotot tak suka terhadap pria itu.


“Iya!” jawab Rayna tanpa memandang wajah sang pemilik suara.


“Akhirnya kita bertemu disini. Maaf kemarin aku tak sempat meminta nomor handphonemu!” jelasnya lagi sehingga Rayna memandang sumber suara.


Ia terkejut ketika Diolay ada didepannya, namun rasa terkejutnya ia tutupi dengan raut wajah dingin yang tak ada orang yang mampu mengartikan itu.


“Diolay..” jelas Rayna.


“Iya ini aku, senang bertemu denganmu!” jelasnya.


“Ayo Ray, kita keluar!” pinta Gavin tak suka melihat kedekatan pria itu dan Rayna.


“Kemana? Kita kan baru masuk?” tanya Rayna bingung dengan sikap Gavin.


“Ya udah, istirahat nanti aja ya!” jawab Rayna dingin dan tak mengerti.


“semoga kita menjadi teman baik ya!” jelas Diolay yang tau maksud dari Gavin.


“dia temanku, jadi kau cari teman yang lain saja!” jawab Gavin dengan cepat tanpa memberi Rayna kesempatan untuk menjawab.


“Oh kalian temanan!” jelas Diolay merasa lega “aku pikir mereka pacaran. Tapi, siapa pria kemarin yang menarik Rayna!” benak Diolay.


“Iya, jangan ganggu kami!” jelas Gavin lagi.


“tidak ada larangan untuk berteman!” jelas Diolay membuat Gavin melotot tajam.


“Sudah-sudah, bentar lagi masuk. Pergilah ketempat duduk masing-masing!” pinta Rayna melerai pertengkaran keduanya.


Gavin dan Diolay saling melotot tajam penuh dengan pengartian.


Jam istirahat tiba, Abizar dan kedua temannya makan di kantin seperti biasanya.


“Apa kalian tidak mau dengan tawaran aku kemarin?” tanya Abizar.


“Aish.. janganlah kau omong kosong!” jelas Erico dengan cepat menyeruput minumannya.


“Aku tidak berbohong!” jawab Abizar meyakinkan.


“Apa buktinya?” tanya Adim.


Abizar mengeluarkan buku nikahnya dan Rayna sengaja ia bawa, ia sudah tauh begini akhirnya kedua teman bodohnya ini takkan percaya tanpa ada bukti.

__ADS_1


“Kemana kau bawa buku nikah orang tuamu?” tanya Erico acuh tak acuh.


“Buka!” pinta Abizar sehingga Adim dan Erico membuka buku nikah itu.


“Haaaaaaa........ Apa-apaan ini?” teriak Erico tak percaya.


“Kau, katakan ini palsu. Ini palsukan!!” teriak Adim juga.


“Kalian bodoh sekali sih. Jangan berani-berani buka rahasia ini, kalau tidak mau hidup kalian akan aku hancurkan!” jelas Abizar.


“Abizar...... Apa ini? Kenapa kau sudah menikah pada Rayna?” tanya Erico terlihat sedih.


“Kami dijodohkan dan kami tidak saling mencintai. Aku memberi tahu kalian karena aku ingin kalian membantuku, mencari alasan agar bisa bercerai pada Rayna!” jelas Abizar mengecilkan suaranya.


“Apa kau sudah menodainya?” tanya Erico polos.


Plak... Abizar menokok kepala Erico “sudah aku katakan kami tidak saling mencintai, mana mungkin melakukan seperti itu!”.


“rencana awalnya bagaimana?’ tanya Adim yang tau apa maksud dari perkataan Abizar.


“Aki berencana mendekatkan Rayna pada Erico!” jawab Abizar.


“Kenapa Erico?” tanya Adim sentak tak rela.


“Jika aku dekatkan padamu, rencana ini takkan berjalan dengan lancar. Kau pernah ditolaknya kan dan kau tak punya kesabaran!” jelas Abizar seperti mengajar Anak SD.


“lalu?” tanya Erico.


“jika kalian sudah dekat nanti, kau ajak dia ke Bar dan aku akan memotret foto mesra kalian!” jelas Abizar.


“Tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Erico.


“ikuti saja apa yang aku inginkan!” jelas Abizar tak sengaja mengalih pandang pada Rayna dan dua pria di sampingnya kanan dan kiri.


“Sudah cukup, kenapa kalian selalu bertengkar sih?” tanya Rayna pusing melihat Gavin dan Diolay.


“Seharusnya dia tidak ikut Ray, tidak ada yang bisa mengganggu persahabatan kita!” jelas Gavin.


“Tidak... Tidak..... Tidak ada larangan untuk berteman!” jelas Diolay.


Ting.. notifikasi handphone Rayna berdering.


Aku tunggu kau di Lobi, sekarang ~ Abizar.


Siapa? ~Rayna.


Suami kesayanganmu ~Abizar.


Tanpa membalas pesan dari Abizar ia beranjak pergi dari Gavin dan Diolay tanpa keduanya sadari.


“Aku ke toilet sebentar!” pamit Abizar kedua temannya beranjak pergi.


Di ujung lobi.


“Untuk apa kau meminta ku kesini?” tanya Rayna tanpa memandang Abizar.


“Selamat pagi Rayna!” jelas Abizar dengan tersenyum manis membuat pikiran Rayna kemana-kemana.


“aku tidak mau menghabiskan waktu sia-sia karena suatu yang tak penting, katakan apa tujuanmu meminta ku kesini?” tanya Rayna dingin.


Abizar mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan pada Rayna “apa mau aku sebar? Agar satu kampus ini tauh!” tanya Abizar memperlihatkan Rayna sedang berada di pelukannya yang telanjang dada, wajah Rayna tampak jelas tapi wajah Abizar tertutup karena kepala Abizar berada di dada Rayna lebih tepatnya di atas P******a Rayna.

__ADS_1


“Kenapa kau lakukan ini padaku? Salah aku apa?” teriak Rayna mulai memanas melihat foto itu.


“Haahahh... Santai sayang, mumpung aku orang baik. Aku tidak akan menyebarkannya!” jelas Abizar tersenyum licik***.


__ADS_2