Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Aku mencintaimu


__ADS_3

Sekitar pukul setengah 7 malam, Abizar dan Rayna tiba di rumah. Rayna sibuk memasuk kan belanjaan tadi ke dalam kulkas sedangkan Abizar ke dapur untuk minum.


“Kau bisa masak, jika kau ingin makan. Pembantu besok akan datang, malam ini aku makan di luar!” Jelas Abizar.


Tanpa menjawab apa yang Abizar katakan, Rayna tetap fokus dengan kerjaannya, tanpa Abizar katakan ia sudah paham.


“Satu lagi, jika bukan aku yang datang jangan kau bukakan pintu, paham!” Pinta Abizar.


“Ya!” Jawab Rayna selesai memasukkan bahan-bahan ke kulkas, lalu ia menuju kamar untuk membersihkan diri.


Abizar juga ke kamar untuk membersihkan diri dan bersenang-senang bersama kedua temannya di bar.


Jassy mendapatkan job Doble Minggu ini sehingga waktunya padat dengan pekerjaan, membuat ia lelah.


“Besok, kau masuk jam 1 jadi sebelum jam 1 kau bisa istirahat dahulu!” jelas Vino manajer Jassy.


“Ok, apa saja job besok?” tanya Jassy bersandar di jok mobil seraya memejamkan matanya.


“jadi model mobil perari pengeluaran baru di perusahaan A, lalu jadi modelling pakaian brended di aplikasi B, dan diundang di talkshow televisi sekitar pukul 5 dan selesai pukul 7” jelas Vino.


“Batalkan talkshow!” pinta Jassy.


“Tidak bisa Nona, aku telah menyetujuinya dan jika dibatalkan kita harus ganti rugi!” jawab Vino.


“Kenapa kau tidak tanya dulu padaku?” tanya Jassy sedikit kesal.


“Bukan seperti itu nona, bayarannya sangatlah besar bahkan dua kali lipat model di Perusahaan A” jawab Vino.


“Baiklah!” jawab Jassy “jika sudah sampai rumah kabari aku!” pinta Jassy.


“Baiklah!” jelas Vino fokus dengan menyetir.


Jassy berencana untuk ke apartemen Abizar besok, ia sengaja tidak memberi tahu Abizar karena ia ingin memberi kejutan. “Hari Minggu seharusnya anak mudah sepertiku jalan-jalan atau refreshing kepada kekasih, sedangkan aku tetap sibuk dengan pekerjaan!” benak Jassy terlihat sedih.


Sekitar pukul 9 lewat Abizar dan kedua temannya telah ada di bar, Adim dikelilingi dua gadis malam yang mencumbuinya begitu pula dengan Abizar, tapi lain dengan Erico yang hanya duduk dan meminum alkohol serta melihat teman-temannya dilanda asmara itu.


“Erico, cepat kesini!” pinta Abizar melambaikan tangannya pada Erico.


“Tidak!” jawab Erico melihat sekeliling bar yang di penuhi umat manusia serta dengan iringan musik DJ.


Abizar mengisyaratkan agar dua wanita di sampingnya untuk mendekati Erico.

__ADS_1


“Ok!” jawab seorang wanita dengan membentuk jari telunjuk dan induk tangan menjadi O.


“Hai!” sapa wanita itu duduk dan di samping Erico.


“Ada apa?” tanya Erico cuek.


“Ayo bermain, aku rasa kau sangat kuat!” pintanya dengan membelai paha Abizar.


“Pergi! aku tidak menyukai wanita sepertimu!” jelas Erico menepis tangan wanita itu.


“Ayolah sayang, apa kau tahu aku kuat hingga 10 ronde pun!” jelasnya menghardik mata.


“He... Menjijikkan!” jelas Erico berdiri menuju Abizar dan Adim.


Abizar dan Adim tampak telah mabuk, sehingga Erico mengajak mereka pulang.


“Ayo kita pulang!” pinta Erico.


“Ha...ha...ha..., Kau cantik sekali!” jelas Abizar tersenyum melihat Erico dan merasa gemas.


“aku sangat mencintaimu!” jelas Adim “tapi kau malah menolak ku mentah-mentah depan banyak orang dan sekarang Erico lah yang tergila-gila padamu!” teriak Adim sehingga Erico tahu bahwa Adim masih mencintai Rayna. Ia mengambil handphonenya dan merekam kejadian itu.


“Kenapa kau mencintai Rayna?” tanya Erico.


“Tapi kau masih mencintainya kan?* Tanya Erico.


“Aku mencintainya, hehehehehe tapi aku harus membencinya dia telah membuatku malu!” jawab Adim dalam keadaan mabuknya.


Erico memandang Adim dengan tatapan membunuh. Lalu ia memapa Abizar dan Adim ke mobilnya.


“Aish... Kalian selalu menyusahkan aku, setiap ke bar pasti begini!” jelas Erico menolak tubuh Abizar dan Adim di dalam mobil di jok belakang.


“Muachh.... Aku mencintaimu sayang!” jelas Abizar ingin mencium Erico.


“Hiya..... Apa yang kau lakukan, menjijikkan!” teriak Erico menutup pintu mobil dengan kasar.


Erico bingung harus bagaimana dengan kedua temannya itu? Jika ia bawah ke rumahnya orang tuanya pasti marah pergi ke bar begitu pula dengan rumah Adim maupun Abizar.


“Oh iya, apartemen Abizar kan ada!” jelas Erico melaju mobilnya menuju apartemen Abizar.


Rayna tidur agak cepat malam ini, sehingga Erico membawa Abizar dan Adim ke apartemen ia tak sadar. Ia merasakan sangat lelah apa lagi hari ini tak ada waktunya istirahat, besok ia harus pergi ke toko buku bersama Gavin, ia tak sabar membeli buku dari penulis terkenal Tere Liye yang sangat ia sukai.

__ADS_1


Abizar, Adim dan Erico tidur seperti biasanya satu ranjang bertiga di tempat tidur Abizar. Jujur Erico tak bisa tidur karena kegelisahan ke dua teman gilanya itu.


Keesokan harinya, mentari pagi menyambut pagi Rayna sehingga ia sadar dari tidurnya yang begitu lelap. Waktu menunjukkan setengah 6 lewat, Rayna langsung membersihkan diri lalu menggantikan pakaiannya untuk olahraga. Ya, seperti biasa ia memakai baju kaos ketat dengan perut kelihatan dan celana pendek sepaha serta sepatu dan tak lupa handuk kecil.


“Semangat pagi!” jelas Rayna keluar apartemen untuk olahraga.


Orang di jalan raya tampak ramai sama seperti Rayna olahraga pagi dengan berlari ada juga lompat-lompat, setiap lelaki pasti melirik arah Rayna yang begitu seksi bagi mereka, tapi bagi Rayna itu biasa saja karena semua pakaian Rayna relatif terbuka kecuali pakaian ia ke kampus dan di rumah. Ia terbiasa dengan budaya Jerman, pada dasarnya ia adalah keturunan Jerman Indonesia. Ketika masuk SMP ia pindah ke Indonesia karena Grandmanya meninggal dan papanya tak ingin melihat Rayna sendiri di sana apa lagi tanpa pengasuh, takutnya Rayna terlalu bebas dan menjadi wanita kebanyakan di luar sana.


Abizar bangun dari tidurnya dengan malas, ia terkejut ketika melihat Kiri kanan ketika Adim dan Erico memeluk tubuhnya.


“Aaaaaa......” teriak Abizar sehingga Adim dan Erico bangun.


“Apa yang terjadi? Kebakarankah? Banjir?” teriak Adim langsung berdiri dari tidurnya.


“Kenapa kalian bisa disini?” teriak Abizar.


“kenapa aku bisa di sini?” tanya Adim balik melihat sekelilingnya.


“Kalian ini ya, tidak tauh terima kasih sudah baik aku bawakan kesini kalau aku biarkan kalian di bar mau tahu rasa!” jelas Erico duduk di tepi tempat tidur Erico.


“Siapa yang membuka pintu semalam?” tanya Abizar tiba-tiba ingat Rayna.


“Sudah... Jangan gila, siapa lagi yang buka pintu kecuali aku? Kau pikir ada orang lain di apartemen ini?” teriak Erico.


“Aman..” benak Abizar lega “cepat kalian pulang, cepatlah!” pinta Abizar mengambil pakaian Erico dan Adim di atas kursi tidak jauh dari sofanya.


“Heiii.... Apa tidak ada makanan di apartemenmu? Aku lapar!” tanya Adim.


“Cepat pulang, aku ada janji pada mamaku. Bentar lagi dia kesini, pulanglah!!” pinta Abizar mendorong Adim dan Erico agar keluar kamarnya.


“Hiya, pakaianku belum selesai!” teriak Erico masih berusaha memakai bajunya.


“Cepatlah! Nanti aku kena marah!” dorong Abizar agar keduanya benar-benar keluar apartemen sesekali ia melihat arah kamar Rayna. “Sepertinya dia belum bangun, syukurlah!” benak Abizar lega.


“Abizar benar-benar aneh!” jelas Erico masih memakaikan pakaiannya didalam lift.


“Dia tega sekali sih!” jelas Adim kesal.


Abizar menuju dapur untuk meminum air putih, lalu ia membuka kerudung nasi, di mana masih kosong sedangkan perutnya sudah keroncong kelaparan.


“Cklek....” pintu apartemen dibuka membuat Abizar mengalih pandang.

__ADS_1


“Sayang.....” teriak Jassy membawa dua kantong makanan. Ya, Jassy dan teman-teman Abizar memang tauh kode apartemen sehingga mereka bebas masuk dan keluar tak terkecuali Rayna yang sekarang menjadi istri Abizar.


“Ja.... Jassy!” panggil Abizar gugup “aduh harus apa aku? Kenapa masalahnya semakin rumit sih?” benak Abizar.


__ADS_2