Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Menjadi Wakil CEO


__ADS_3

Rasa penasaran Rayna telah usai, ketika melihat manusia-manusia menjijikan di ruang tamu. Melihat kenyataan, dia baru sadar tidak ada manusia yang benar-benar menyukai dan memperjuangkanmu semua akan pergi jika bertemu dengan orang yang lebih baik, seperti Abizar dia begitu mencintai Jassy kekasihnya, nyatanya sekarang dia dengan Wanita lain.


"Buatkan aku minuman!" teriak Abizar dengan sengaja.


"Sayangnya aku sibuk!" jawab Rayna dingin tanpa ekspresi.


"begitu menjijikan, apa kami terlihat serasi?" Tanyanya dengan sengaja merangkul Wanita di pangkuannya.


"sangat serasi, kalian itu sama. ya sama-sama menjijikan!" jelas Rayna.


"Hiya.... beraninya kau ya, apa kau tidak tahu siapa aku?" Teriak wanita itu.


"Aku rasa itu bukanlah hal yang penting!" jelas Rayna beranjak pergi.


"Sepertinya rencanaku gagal kali ini" Benak Abizar. "silahkan kalian pulang, aku ingin istirahat!".


"Apa kau mempermainkan kami Abizar!" teriak Adim tak terima.


"Aku lelah!" jawabnya berdiri menuju kamar.


"Baiklah, tujuanku juga tercapai!" Jawab Erico terlihat senang.


"hisss menjijikan!" jelas Abizar melihat ekspresi Erico.


Rayna berusaha menormalkan nafasnya yang memburu, entah ada rasa sesak di dadanya seperti ada hal yang lain, seperti suatu benda miliknya di ambil orang lain.


"Tidak Rayna, hidupmu terlalu menyedihkan untuk beranggapan seperti itu. Tidak ada manusia yang bisa menerimamu yang memiliki penyakit mental!" benaknya duduk di atas tempat tidur.


-

__ADS_1


Di kediaman keluarga Abizar, papa terlihat gusar mendengar kabar sahabat sekaligus saudaranya itu. Mengenai kejadian 20 tahun yang lalu kembali terkuak.


"Apa kau bodoh, kau bersembunyi karena takut dia bertemu dengan mu. Hey Nicholas, apa kau seorang pria?" Teriaknya dalam telepon.


"Apa kau tauh, jika kau bersikap seperti ini anak mu berpikir kau meninggalkannya karena harta. Kurang ajar kau, merepotkan!" Teriaknya lagi langsung menutup panggilan.


"Ada apa pa?" Tanya mama membawa sekotak buah mangga telah di kupas.


"Laurent masih hidup!" jawab nya terlihat kesal.


"Laurent? bukankah dia telah dibunuh daddy?" Tanya mama terlihat khawatir.


"Sepertinya dia sudah berada di sekitar kita, jangan mudah terkecoh!" pesan papa.


"Oh my god, bagaimana dengan anak-anak?" Tanya mama lagi.


sisi gelap keluarga papa Abizar adalah menikah harus sederajat dan menguntungkan. Jika tidak, maka hal yang sama terjadi kepada Nicholas.


"jujur aku kasihan pada Laurent, dia orang yang tulus. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu!" benak mama sayu.


--


Di pagi itu, tidak seperti biasanya. Abizar harus ke kantor papanya mengingat ia akan dijadikan wakil CEO, sekaligus sebagai magang dan mengenali lingkungan perusahaan. Gedung pencakar langit sebanyak 8 lantai itu, di kelola dengan susah payah dari nol, mengingat mereka adalah pendatang di Indonesia.


"Tunggu saja, aku akan membuang mu dengan kekuasaanku " benak Abizar turun dari mobil dan langsung di sambut beberapa karyawan.


"Selamat pagi dan selamat datang tuan muda!" salam mereka.


Dengan ekspresi dingin, Abizar hanya menundukkan kepala sedikit.

__ADS_1


"Anak CEO kita tampan ya, tidak heran papanya saja terlihat masih muda!" jelas seorang karyawan.


"tapi, dia tidak tamatan luar negeri loh, meskipun orang tuanya berkecukupan!"


"namanya itu rendah hati, tamatan luar negeri juga tak menjamin!"


"Tapi kenapa aku lihat dia agak Familiar ya?"


"Dia kan banyak uang, mungkin sering di media pengusaha negara!'


"mungkin ya!"


itulah pandangan mereka terhadap anak CEO itu, Abizar menuju lift tempat papanya berada. Menjadi CEO adalah salah satu cita-citanya sejak kecil, punya uang banyak dan berkuasa, karena ia sudah tanamkan pada dirinya sendiri, orang yang berjuang akan kalah sama orang yang beruang.


"selamat datang di dunia sesungguhnya Putraku!" Sambut papa dengan membentangkan kedua tangannya.


"Aku bukan anak kecil lagi pa dan aku tidak ingin diperlakukan seperti ini!" jelas Abizar memandang Sekretaris papanya sengit karena melihat tingkah papanya.


"Benarkah Putraku sudah dewasa!" Papa menendang kaki Abizar.


"Auuu, sakit pa, Apa papa ingin membunuhku?" Teriaknya kesal.


"Ternyata kau belum dewasa!" jelas papa.


"Ah sudahlah, apa yang perlu aku kerjakan sekarang?" Tanya Abizar.


"Ben!" Panggil papa pada sekretarisnya itu. "Berikan tugas pada Abizar dan beritahu dimana ruangannya".


"Baik tuan" Jawab Ben. "mari tuan muda!".

__ADS_1


__ADS_2