
**Seharian di apartemen Abizar Rayna menghabiskan waktunya dengan membaca, jika ia telah bersama buku waktu makan saja ia lupakan. Rayna sangat menyukai di keheningan dan kesunyian jadi wajar saja ia senang berada di apartemen ini.
Malamnya, Abizar pergi menjemput Jassy untuk makan malam. Ia telah rapi menambah ke tampanannya dengan celana jeans warna cream serta baju berwarna hitam sehingga cocok dengan warna kulitnya.
Rayna tak peduli dengan itu, ia keluar kamar untuk mencari makan di kulkas Abizar, ia hanya menemukan air putih serta roti tawar.
“Apa hanya ini? Oh tuhan, apartemen sebesar ini hanya ada roti tawar. Kan sungguh konyol!” jelas Rayna memakan roti tawar.
Rayna lupa ia belum menelepon papanya, dengan cepat ia menghabiskan Roti tawar ditangannya lalu bergegas ke kamar kembali untuk menghubungi papanya.
“Kenapa aku sampai lupa sih? Tanya Rayna kesal pada dirinya sendiri.
Abizar dan Jassy pergi ke restoran seperti biasanya mereka makan, keduanya terlihat sangat bahagia dengan memadu kasih sayang. Siapa yang tidak bahagia jika saling mencintai? Itulah benak Abizar.
“Baby, aku sangat senang bisa bertemu denganmu malam ini!” jelas Jassy.
“Benarkah? Aku juga senang baby. Makanlah aku tidak ingin kau lapar!” jelas Abizar lembut dan tersenyum.
“Aku tidak mungkin kelaparan sayang!” jawab Jassy menyunggingkan gigi dua barisnya.
“Iya selagi aku ada bersammu, apa pun yang kau inginkan akan aku turuti!” jelas Abizar senang melihat senyum Jassy.
“Benarkah?? Aku tidak banyak minta apa-apa kok, setia saja sampai kau tamat kuliah lalu kerja dan kita akan menikah!” jelas jassy membuat Abizar tersentak. Sehingga raut wajah Abizar terlihat sedih.
“Kau kenapa baby?” tanya Jassy melihat raut wajah Abizar.
“Tidak, silakan makan!” pinta Abizar.
“Aku sudah kenyang!” jawab Jassy.
Setelah makan mereka jalan-jalan mengelilingi kota itu dengan bahagia, tidak lupa juga keduanya pergi ke ujung pantai untuk menikmati indahnya malam dengan bintang berkelap-kelip serta bulan purnama.
“sayang, bintang itu sangat indah!” jelas Jassy menunjuk arah bintang sehingga Abizar melihat arah langit.
*Muachh....” Jassy menciumi wajah Abizar lalu membisikan “aku mencintaimu!”.
Abizar terdiam dengan tingkah Jassy yang menggemaskan baginya, “aku juga sangat mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri!” jawab Abizar.
“Janji, jangan pernah berubah sayang. Karena mengenal orang baru itu tidak mudah!” pinta Jassy.
“aku akan selalu mencintaimu, meskipun ada orang yang datang lebih cantik darimu!” jelas Abizar memeluk Jassy.
“Aku beruntung bisa memilikimu sayang!” jelas Jassy menciumi bibir Abizar lalu berlari sehingga Abizar mengejarnya.
Sekitar pukul 11 malam, Abizar tiba di apartemen ia langsung ke dapur untuk minum air putih. Tak lupa ia melihat arah kamar Rayna, lampu kamar Rayna masih hidup itu bertanda Rayna belum tidur.
“Oh iya wanita itu tidak bisa tidur jika lampunya di matikan!” jelas Abizar lalu menuju kamarnya untuk istirahat.
Tak terasa pagi telah tiba, Sinar matahari menembus beningnya jendela apartemen kamar Rayna, membuat Rayna bangun dari tidurnya. Rayna langsung meraih handphone untuk melihat jam.
“What? Aku terlambat!” teriak Rayna melihat waktu telah pukul 8. Ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu mengganti baju dan keluar kamar tergesa-gesa.
Abizar telah berangkat lebih awal, karena ia ingin mengantar Jassy terlebih dahulu ke tempat kerjanya.
Adim dan Erico telah menunggu Abizar tidak jauh dari parkiran, seperti biasa keduanya lakukan.
“Abizar mana sih kok lama?” tanya Adim yang suka bicara serta playboy itu. Ya, lain dengan Erico pendiam tapi punya makna.
“Kayak gak tau Abizar saja!” jawab Erico.
__ADS_1
“apa kita terlalu cepat berangkat ya? Perasaan kita berangkat seperti biasanya!” tanya Adim.
“Entahlah!” jawab Erico seadanya.
Plak... Adim menokok palak Adim dengan buku ditangannya “kau ini ya, orang nanya baik-baik!” jelas Adim kesal.
“Salah aku apa coba?” tanya Adim balik.
Kadatangan mobil Abizar membuat keduanya menghentikan debat konyol itu,
“Itu dia Abizar!” tunjuk Erico.
“waktu yang tepat!” jelas Adim memandang arah Abizar.
Abizar langsung menuju kedua temannya itu, tampak menunggu ia.
“Dari mana aja kau dua hari ini tidak masuk kampus?” tanya Adim kesal.
“Apa kalian merindukanku?” tanya Abizar.
“Aish... Apa kau tauh? Kampus ini terasa sepih tanpa kau?” tanya Adim.
“jadi benar kalian merindukanku!” jelas Abizar percaya diri dengan senyum di bibirnya.
Sedangkan Erico tidak menghiraukan Abizar dan Adim ia melihat bidadarinya datang, yang sangat cantik baginya rambut panjang sepunggung, behel yang indah serta memakai dress selutut. Tidak lain adalah Rayna
“Hei, apa yang kau lihat?” tanya Abizar kesal melihat arah mata Erico.
“Biasa, si bucin!” jawab Adim tidak heran lagi melihat Erico seperti itu, karena ia sudah tahu bahwa Erico menyukai Rayna, bahkan sejak SMA.
“Apa kelebihannya coba? Tu cewek!” gerutu Abizar kesal memandang Erico.
“Hai Rayna, selamat pagi!” sapa Erico.
Rayna hanya diam tanpa memandang Erico bicara.
“Apa kau ingin ke kelasmu? Ayo aku antar!” tawar Erico.
“Jangan halangi jalanku!” pinta Rayna ingin pergi dari sana, tapi Adim juga ikut-ikutan menjahili Rayna perihal ia juga tak menyukai Rayna Karena baginya Rayna terlalu menyebalkan.
Rayna menarik nafasnya kasar memandang arah Adim. “Apa kau punya otak?” tanya Rayna dingin.
“Pasti punyalah, lihat aku yang begitu sempurna ini!” jawab Adim.
“Jangan jadi pajangan saja, dipakai!” jelas Rayna ingin pergi kembali, namun lagi-lagi ia gagal pergi karena tangan Abizar menahan tangannya.
“Kau songong banget sih jadi cewek!” jelas Adim.
“lepaskan tanganku!” pinta Rayna tanpa memandang Abizar.
“Gak usah sok cantik, Erico menghampirimu bukan berarti suka. Gak usah sok ngartis deh!* Jelas Abizar.
“kau pikir aku peduli?” tanya Rayna dingin membuat Abizar semakin kesal.
“Kau itu bukanlah tipe kami bertiga, jadi jangan sok-sok depan kami!” jelas Abizar lagi.
Tak sempat Rayna menjawab Gavin datang melambaikan tangan dari arah kelas Rayna.
“Rayna!” panggil Gavin menuju Rayna, ia melirik Abizar dan kedua temannya dengan tatapan melotot.
__ADS_1
“Ngapain kau pegang-pegang tangan Rayna?” tanya Gavin melepaskan tangan Abizar dari tadi memegang tangan Rayna.
“He, pahlawannya datang!” jelas Adim tersenyum sinis.
“Sudahlah Gavin, ayo kita ke kelas. Tidak usah menghabiskan waktu melayani sesuatu tidak penting!” ajak Rayna menarik tangan Gavin.
“Rayna...” panggil Erico tak terima melihat kepergian Rayna. “Aish... Ini gara-gara kalian tau tidak!”.
“Kau bodoh banget sih, udah tau itu cewek musuh bebuyutan kita dari SMA masih saja disukai!” jelas Adim “apa kau tak lihat, dari cara pandangnya saja, ia tak menyukaimu!”.
“Tapi aku mencintainya!” jawab Erico terlihat sedih.
“Bodoh!” jelas Abizar berlalu meninggalkan kedua temannya menuju kelas.
Sebenarnya, hati Rayna begitu luka dengan apa yang diungkapkan Abizar tadi, padahal dia salah apa coba sehingga Abizar berkata seperti itu. Rayna seseorang yang sulit mempercayai sesuatu, apalagi hanya dengan kata-kata.
“Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi kedepannya? Tapi aku berharap semoga semuanya baik-baik saja!” benak Rayna melamun di bangkunya.
Dikelas Abizar, Seisi kelas Agre bisnis sibuk dengan materi yang diberi dosennya barusan, sehingga kelas itu hening seperti tak berpenghuni.
“Oh iya, jangan lupa Minggu depan kita akan kedatangan pebisnis mudah dari Berlin, saya harap kalian bisa mengapal materi yang telah saya jelaskan Minggu kemarin dan belajar bahasa asing. Ingat di dunia bisnis, bahasa asing nomor satu karena lingkupnya bukan hanya dalam negeri tapi luar negeri!” jelas dosen.
“Baik pak!” jawab seisi kelas serentak kecuali Abizar yang meletakan kepalanya di atas meja karena pusing dengan apa yang dikatakan dosen didepan.
“Masalah bahasa, kalian bisa belajar dengan Kelas Hubungan internasional. Karena sebagian dari mereka sudah ada menguasai 10 bahasa asing dan ada yang lebih!” sambung dosen.
“Sungguh aku bisa mati!” jelas Abizar lesu.
“Santai kawan!” jelas Adim menenangkan Abizar dengan senyumnya.
“Santai apanya, kau mau jadi mahasiswa abadi ha?” tanya Abizar kesal.
“Ya, tidak sih. Kendala kita hanya satu yaitu bahasa Jerman!” jawab Adim.
“Coba saja bahasa Inggris, aku tidak akan pusing!” jelas Abizar.
“Bagaimana kita belajar dengan Rayna saja, dia kan anak Hubungan internasional!” usul Erico.
Plak... Kepala Erico di tokok Adim dengan penanya. “Otakmu ini Rayna, Rayna saja!”
“Jangan sebut nama itu, kita ini orang kaya kita bisa sewa guru bahasa Jerman!” jelas Abizar kesal.
“Yang dipojok, kenapa ribut ini bukan pasar!” tegur dosen menunjuk arah Abizar dan kedua temannya.
“Maaf pak!” jelas Erico kesal.
“Lanjutkan tugasnya, jam 12 nanti kumpul melalui via Email!” jelas dosen lalu beranjak Pergi.
“Baik pak!” jawab mahasiswa serentak.
Istirahat tiba,
Rayna masih duduk di bangkunya dengan memegang buku yang belum selesai ia baca kemarin, kadang raut wajahnya terlihat sedih, ada juga bahagia membuat Gavin yang tak lepas memandang arah Rayna jadi penasaran.
“Bacaan apa sih Ray?” tanya Gavin duduk di sebelah Rayna.
“Tidak!” jawab Rayna dingin masih fokus ke bukunya.
“Oh iya Ray, ayo kita ke kantin!” pinta Gavin***.
__ADS_1