
“Ingat, jangan pernah memalukan keluarga!” Jelas Pramana memandang Abizar.
“Aku tidak habis pikir dengan semua ini!” Jawab Abizar bersandar di sofa yang di duduknya.
Ting. Tong.... Suara bel rumah Pramana bunyi.
“Ayo sapa calon mertuamu!” Pinta papa Abizar seraya berdiri menuju pintu dan diikuti mama. Dengan malas Abizar juga menyusul untuk membuka pintu.
Papa Rayna keluar sendiri, karena Rayna mengangkat telepon terlebih dulu.
“Selamat datang Andreanata!” Sapa Pramana dengan memeluk papa Rayna bertanda salam sahabat.
“Terima kasih telah menyambutku, ini suatu penghormatan bagiku!” balas Andreanata atau papa Rayna.
Abizar tersenyum lega ketika teman papanya itu sendiri, ia beranggapan anaknya menolak perjodohan ini.
“Ayo masuk!” pinta Pramana mengajak Andreanata masuk.
“Anak saya masih di mobil, karena ada panggilan mendesak jadi dia nanti masuk!” jelas Andreanata membuat hati Abizar serasa di tembak petir, wajah yang tadi tersenyum lega kembali kusam layaknya tak sesuai dengan keinginan. Tapi memang benar sih!.
Mereka masuk rumah termasuk Abizar, Pramana dan Andreanata berbicara masalah bisnis layaknya tak terjadi apa pun. Lain dengan Abizar gelisah duduk di sofa menunggu siapakah anak teman papanya itu.
“Semoga saja dia menolak perjodohan ini!” benak Abizar deg-degan.
Selang 5 menit masuklah Rayna dengan wajah datarnya.
“Selamat pagi om, Tante!” sapa Rayna memberi penghormatan membuat “Selamat pagi, oh ini anakmu Rean. Silakan duduk!” pinta Pramana meminta Rayna duduk di samping Abizar.
“Kamu?” teriak Abizar tak percaya melihat Rayna di sampingnya. “Ngapain kau ke rumahku?” tanya Abizar kesal.
Rayna tak bergeming dengan apa yang Abizar katakan, ia hanya memandang mama dan papa Abizar yang aneh melihat tingkah Abizar.
“kalian sudah saling kenal?” tanya Pramana.
“Ini maksudnya apa pa?” tanya Abizar semakin kesal.
“Ini anak om Abizar, yang akan menjadi istrimu!” jawab Andreanata atau papa Rayna.
“Ini tidak mungkin!” jawab Abizar lesu. “Mana mungkin aku menikah dengan wanita dingin ini?” benak Abizar kesal.
“Abizar..” panggil Pramana bertanda kode agar bicara sopan.
“Siapa namamu nak?” tanya mama Abizar memandang Rayna.
“Rayna Nicholas Tante!” jawab Rayna tanpa seutas senyum.
“Kamu cantik sekali, kau dan Abizar sudah saling kenal ya?” tanya mama Abizar lagi.
“Bukan lagi ma, dia satu kampus pada ku!” jelas Abizar kesal. Padahal mamanya bertanya pada Rayna.
*Bagus dong, jadi kalian tinggal mengakrab kan diri!” jelas Pramana
Abizar menarik nafasnya kasar bertanda menolak semua kenyataan ini, ia memandang Rayna sinis dan semakin tak percaya.
“Apa-apaan ini? Kenapa harus pria ini anak teman papa!” benak Rayna kesal, tapi tak ia tampakkan dengan wajah datarnya.
__ADS_1
“Oh iya Abizar, om minta kau bisa memaklumi sikap Rayna. Dia sangat dingin dan acuh tak acuh, jujur om sangat sedih melihat semua ini!” jelas papa membuat hati Rayna sedih.
“Kenapa papa berkata seperti itu? Apa aku seperti minta dikasihani sehingga papa sedih!” benak Rayna.
Abizar memandang Rayna lalu melihat Andreanata “ah.... Mana mungkin aku harus menikah dengan orang yang tak sama sekali aku cintai!” benak Abizar semakin kesal.
“Sudahlah Rean, Abizar pasti terima. Mereka belum dekat saja, kalau sudah dekat semuanya terasa hangat dan indah!” jelas Pramana.
“Hahahaha... Kau benar Pramana, aku percaya padamu!” jelas papa Rayna bahagia.
“Abizar, Rayna... Kalian tahu kan kenapa kalian di pertemukan?” tanya Pramana memandang Abizar lalu Rayna.
“Tahu om!” jawab Rayna memandang papa Abizar.
“apa kau bersedia menikah dengan putra om, Abizar?” tanya Pramana lagi.
“Iya” jawab Rayna tanpa berpikir panjang membuat Abizar semakin kesal.
“Dan kau pasti setuju kan Abizar?” tanya Pramana.
“Iya, tapi aku minta agar aku dan Rayna tinggal di apartemen!” jawab Abizar.
“Abizar, jika kau tidak di rumah. Siapa teman mama?” tanya mama Abizar kaget.
“Iya papa setuju, dihitung-hitung untuk mengakrabkan diri!” jelas papa.
“Tapi pa!” bantah mama Abizar.
“tidak apa-apa ma, demi kebaikan mereka!” jelas papa Abizar.
“Aku ikut saja Pramana, asalkan mereka baik-baik saja!” jawab Andreanata.
“Jadi semuanya sudah sepakat, lusa akad pernikahan akan dilakukan di rumah Rayna!” jelas Pramana.
Membuat Abizar dan Rayna terkejut “apa tidak terlalu cepat pa?” tanya Abizar.
“Lebih cepat lebih baik!” jelas Pramana.
“He.....” Abizar menarik nafasnya kasar. “Sungguh menyakitkan!” benak Abizar.
“kalian jangan takut masalah gaun pengantin, di toko mama banyak desain baju pengantin terbaru!” sambung mama Abizar senang.
Sekitar pukul 2 siang, Rayna dan papanya telah tiba di rumah dan istirahat. Rayna masih tak percaya dengan semua ini, ia tak pernah hidup dengan bahagia semuanya selalu dipilihkan papanya bahkan tak sekali pun papanya memberi ia kesempatan untuk memilih apa yang ia inginkan.
Pernikahan, yang selalu orang idam-idamkan, hidup bahagia dengan orang yang ia cintai. Tapi, lain dengan Rayna pernikahan adalah beban baginya, tak terasa air matanya menetes membasahi wajah bila mengingat kenyataan yang mesti ia terima.
“Kenapa harus pria itu? Kenapa tidak orang lain saja? Sungguh aku membenci dia!” tanya Rayna tak bisa menerima Abizar jadi calon suaminya. Rayna membenci Abizar, karena pria itu sering menghina dan menghujatnya.
“Hiks..hiks...hiks...” Rayna menangis memeluk dirinya sendiri. “kapan aku bahagia mama?” Tanya Rayna.
Apa yang Rayna rasakan sama halnya dengan apa yang dirasakan Abizar, apa lagi Abizar sedikit pun tidak mencintai Rayna, ia hanya mencintai Jassy dan hanya Jassy.
“Cih..... Semua serasa mimpi, kenapa harus wanita itu sih!” teriak Abizar kesal ketika mengingat Rayna.
Bagi Abizar melihat Rayna sama halnya dengan neraka, apa lagi dengan sikapnya acuh tak acuh terhadap orang lain.
__ADS_1
Keesokan harinya,
Rayna bangun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu ke kampus, pikirannya telah dimana-mana jika mengingat hari kemarin tentang Perjodohannya pada Abizar.
“Sungguh konyol!” jelas Rayna memandang cermin dengan tak semangat.
Abizar telah dipaksa papanya agar menjemput Rayna dan pergi ke kampus bersama, awalnya dengan sekuat tenaga Abizar menolak akan itu. Tapi apalah daya, Abizar selalu kalah berargumen pada papanya sehingga ia harus mengikuti apa yang diperintahkan papanya.
“Tok.. tok..” Abizar mengetok pintu rumah Rayna dengan wajah masam dengan arti seribu penolakan.
Tak berapa lama Bi Ina membuka pintu. “Maaf cari siapa ya tuan?” tanya Bi Ina.
“Rayna nya ada?” tanya Abizar balik.
“oh temannya nona Rayna, nona mungkin lagi siap-siap. Silakan masuk tuan!”
“Tidak. Aku menunggu di sini saja!” jawab Abizar dingin.
“Bi, papa mana!” tanya Rayna dingin menuju meja makan.
Ia tidak melihat bibi di sekeliling dapur, membuat Rayna mengeraskan suaranya. “Bi, papa mana?”
“Oh itu suara nona telah ada tuan, tunggu sebentar lagi!” jelas bibi masuk menuju dapur kembali.
Abizar menghembuskan nafasnya dengan kasar, karena hampir 10 menit ia menunggu Rayna, ia paling benci dengan menunggu.
“nona, sudah ada tuan tampan di luar menunggu nona!” jelas bibi tersenyum pada Rayna.
“Apa Gavin?” Tanya Rayna Tanpa membalas senyum bibi.
“Bukan nona, bibi lupa nanyain namanya!” jawab bibi.
Karena penasaran tanpa sarapan Rayna langsung keluar. Abizar berdiri depan pintu menghadap jalan raya sehingga Rayna tak bisa mengenali pria itu, namun Rayna sangat hafal dengan punggung pria itu, membuat hati Rayna semakin kesal.
“Untuk apa kau kesini?” tanya Rayna dingin lalu Abizar menoleh.
“Oh my God kau baru keluar, apa kau tauh aku sudah berjamur di sini menunggumu?” tanya Abizar balik dengan kesal.
“aku tidak memintanya!” jawab Rayna santai ingin menuju mobilnya.
“Kalau bukan karena papa, aku juga tidak ingin kesini. Buang-buang waktu saja!” teriak Abizar.
“ya sudah, silakan pergi!” pinta Rayna tanpa memandang Abizar.
“menjengkelkan harus berurusan denganmu!” jelas Abizar menarik tangan Rayna agar masuk ke mobilnya.
“Hei.... Apa yang kau lakukan?” teriak Rayna berusaha melepaskan tangannya yang ditarik Abizar.
“Masuk” dorong Abizar sehingga tubuh Rayna terjatuh dalam mobil Abizar. “Tidak usah banyak tanya? Dan jangan beranggapan aku melakukan ini, aku mencintaimu! Jangan mimpi!” jelas Abizar duduk untuk menyetir.
Rayna berdecak kesal “apa kau pikir aku mencintaimu? He..... Omong kosong!” tanya dan jawab Rayna dingin tanpa memandang Abizar.
salam Manis dari Author ❤️
Rena Andesta
__ADS_1