
“***Bisakah kau temani aku di sini seraya menunggu Abizar?” Tanyanya masih dengan senyuman.
“Maaf aku sibuk!” Jawab Rayna.
“Kakakmu kemana sih?” Tanya Jassy lagi.
“Mungkin dia sedang mandi!” Jawab Rayna dingin beranjak pergi.
“Tunggu!” Panggilnya lagi.
“Apa?” Tanya Rayna menoleh.
“Apa kau kekasih Erico?” Tanya Jassy.
“Tidak penting!” Jawab Rayna berlalu pergi.
“Aish..... Kenapa ia dingin sekali!” Jelas Jassy melihat punggung Rayna semakin menghilang.
Tak berapa lama tibalah Abizar,
“Sayang kamu dari mana saja? Aku udah hampir 30 menit menunggumu?” tanya Jassy manja.
“Maaf sayang tadi aku mandi!” jawab Abizar duduk di samping Jassy.
“Sayang, apa kau tauh aku bawa berita baik padamu!” jelas Jassy.
“Apa?” tanya Abizar memandang Jassy tersenyum.
“Aku dapat kontrak ke luar negeri, ke perusahaan A. Selama dua bulan!” jelas Jassy dengan bahagia.
“Dua bulan?” tanya Abizar.
“Iya sayang, kau senang bukan. Ini salah satu agar karier aku semakin naik sayang!” jelas Jassy.
“Ya terserah kamu saja sayang, emang kapan berangkatnya?” tanya Abizar.
“Sehari Setelah aku ulang tahun!, Aku sangat berharap aku ulang tahun nanti kau menemaniku agar aku tidak mudah merindukanmu disana!” jawab Jassy.
“Aku akan selalu ada untukmu!” jelas Abizar membuat hati Jassy berbunga.
“Aki sayang kamu, pokoknya setelah kau tamat kuliah dan aku sukses kita akan menikah mudah!” jelas Jassy memeluk Abizar.
Abizar terdiam sejenak “akan aku usahakan, tapi bagaimana dengan kepercayaan mu?”
“aku akan pindah agama ke agamamu, aku telah mengorbankan semuanya demi kamu!” jawab Jassy.
“Baiklah!” jelas Abizar.
“selama aku pergi, kamu jangan genit ya sayang! Jangan berubah!” jelas Jassy.
“Tidak akan sayang!” jawab Abizar
Lama sudah keduanya berbagi kasih sayang, hingga waktu semakin malam dan Jassy pulang diantar Abizar.
Keesokan harinya, Abizar dan Rayna pergi ke kampus seperti biasanya. Abizar dengan mobilnya sedangkan Rayna naik taxi sehingga ia tiba agak lambat.
Abizar terlihat lesu dari biasanya, karena separuh nafasnya akan pergi selama dua bulan meninggalkannya. Ya meskipun ia percaya bahwa Jassy akan selalu setia, tapi kerinduan itulah yang tak bisa ia tahan.
“Kau kenapa?” tanya Erico memandang Abizar dengan aneh.
Abizar memandang Erico lalu Adim.
Plak....... Abizar menokok kepala Erico. “Bodoh, hal kecil saja kau tak becus!” teriak Abizar ingat tentang Erico.
__ADS_1
“Maafkan aku Bi!” jawab Erico yang paham apa yang dimaksud Abizar.
“Kenapa kau yang mabuk, seharusnya dia yang mabuk!” jelas Abizar.
“Sudah aku katakan sebelumnya bi, Erico itu tidak bisa diandalkan karena dia mencintai Rayna!” jelas Adim.
“Sama saja, kau juga menyukainya!” jelas Abizar tak sengaja mengalihkan pandangan melihat arah jalan raya, ya siapa lagi kalau bukan Rayna.
“Rayna!” Panggil Gavin dan Diolay berlari menuju Rayna yang baru turun dari taxi.
“Pemandangan apa ini?” tanya Abizar kesal.
“Apa kau cemburu?” tanya Adim melotot.
“Jangan gila, kalau aku mencintainya tidak mungkin aku mengoperkan dia pada Erico!” jawab Abizar kesal.
“Rayna, apa kau tau aku menunggumu dari tadi?” tutur Gavin disebelah kiri Rayna.
“Oh iya Ray, aku belum paham masalah diplomasi yang dijelaskan dosen dua hari yang lalu, bisakah kau membantuku menjelaskannya?” Tanya dan pinta Diolay di sebelah kanan Rayna.
Ketiganya lewat depan Abizar dan kedua temannya, membuat hati Abizar panas melihatnya. “Kenapa aku tidak suka ya, melihat wanita parasit itu dengan dua rubah disampingnya!” benak Abizar.
“Aduh... Kepalaku pusing, kalian berdua itu selalu ribut!” jelas Rayna berhenti sejenak.
“Kau sih!” tunjuk Gavin pada Diolay.
“Kan kau yang dulu!” tunjuk Diolay balik.
“Teman-temanku yang baik, kita ini satu tim jangan ada pertengkaran!” jelas Rayna meninggalkan keduanya.
Adim melihat raut wajah Abizar seperti tak suka, melihat Rayna didekati ke dua temannya.
“Terus apalagi rencanamu?” tanya Adim seraya berjalan menuju kelas diikuti Abizar dan Erico.
“Aku juga bingung, bagaimana agar Erico dan Rayna dekat!” jelas Abizar memandang Erico yang asik dengan handphonenya.
“He... omong kosong, jika kalian sudah dekat mana mungkin kau tak berhasil, hal kecil seperti itu saja tidak bisa!” jelas Abizar.
“tapi percayalah aku akan mendekatinya!” jelas Erico.
“He.... Kau pikir aku percaya?” tantang Abizar.
“Lihat saja nanti!” jawab Erico.
“Baiklah, aku beri kau kesempatan!” jelas Abizar.
Rayna dan kedua temannya menuju kelas, ya meskipun awalnya Gavin dan Diolay selalu menolak damai.
Kini posisi ketiganya di bangku masing-masing, kebetulan saling berdekatan. Rayna fokus dengan buku novel yang bel selesai ia baca semalam, sebelum dosen Diplomasi datang.
“Ray, kau ada waktu tidak nanti malam?” tanya Diolay membuka pembicaraan.
“kenapa?” tanya Rayna.
“Aku mau mengajakmu makan malam!” jawab Diolay.
Belum sempat Rayna jawab Gavin telah nyerocos “Aku ikut!”.
“Aku tidak mengajakmu!” jelas Diolay melotot Gavin dengan tatapan tajam.
“Pokoknya jika ada Rayna harus ada aku!” jawab Gavin. “Ingat Ray, kita udah 8 tahun temenan loh!”.
“Kalian itu aneh ya, selalu saja bertengkar. Aku pusing tau gak!” teriak Rayna membuat orang sekelilingnya mengalih pandangan.
__ADS_1
“Dia sih Ray selalu saja ikut campur!” tunjuk Diolay.
“Ok, nanti malam kita makan bersama, puas!” jelas Rayna memecah keributan.
“baiklah, aku jemput ya Ray!” pinta Diolay.
“Aku saja Ray, aku akan ke rumahmu!” Pinta Gavin.
“Tidak ada jemput-jemputan, aku tunggu kalian di cafe C, jam 7!” jelas Rayna.
“Baiklah!” jawab keduanya merasa kecewa.
Sekitar pukul 10 pagi, kelas Rayna masuk. Ya pelajaran yang paling Rayna tunggu-tunggu yaitu tentang diplomasi, ia sangat ingin menjadi diplomatik di negara orang lain, agar mengetahui perbedaan di setiap negara.
Sedangkan dikelas Abizar hening layaknya kuburan, karena pelajaran paling membingungkan bagi seisi kelasnya yaitu tentang keuangan.
Jam istirahat telah berlalu hingga pukul 4 sore waktu pulang, membuat mahasiswa-mahasiswa bisa bernafas dengan lega karena tak ada pelajaran lagi yang mesti dipelajari.
Sekitar pukul 5 Rayna tiba di apartemen dengan lesu,
“Aku lelah sekali!” jelas Rayna langsung ke dapur untuk minum.
“Sudah pulang non!” sapa bibi Ati.
“Iya Bi!” jawabnya langsung menuju kamar.
Abizar mengintip Rayna dari jendela kamarnya, ia tak mengerti dengan dirinya sendiri tidak suka melihat Rayna dekat dengan dua temannya “apa-apaan aku ini?” benak Abizar kesal.
Rayna menumpas dirinya ke tempat tidur dan memejamkan matanya. “Hari ini begitu melelahkan!”
“Papa bagaimana ya kabarnya?” tanya Rayna meraih handphonenya lalu menghubungi papa. “Kenapa nomor papa selalu tidak aktif?”. “Sudahlah mungkin papa sibuk!” jelasnya melempar handphone ke sembarang tempat.
Malamnya sekitar pukul 7 lewat, Rayna keluar kamar telah siap-siap untuk menepati janjinya, ia memakai baju kaos biasa dan celana yang pendek disertakan cardingan selutut.
Kebetulan Abizar sedang makan di dapur, melihat Rayna ia langsung mempercepat makannya.
“Mau kemana kau?” tanya Abizar melihat Rayna dengan tatapan tanda tanya.
“Kau makan di rumah saja, aku mau makan malam bersama temanku!” jawab Rayna seperti apa yang Abizar katakan sebelumnya.
“Tidak, aku tidak mengizinkanmu!” jelas Abizar cepat.
“Hei... Apa yang kau maksud, tidak.. tidak ada larangan untuk aku pergi kemanapun aku mau!” jelas Rayna kesal melotot Abizar dengan tajam.
“aku bilang tidak ya tidak!” jelas Abizar.
“Aku akan pergi!” Jawab Rayna beranjak pergi.
“jika aku bilang tidak ya tidak!” Jelas Abizar memencet remote disampingnya agar pintu terkunci.
“Abizar......” teriak Rayna kesal memutar badannya menatap Abizar.
Abizar tersenyum licik merasa senang “sudah aku katakan, jangan menantangku!.”
“Abizar..... Aku mohon kali ini saja, teman-teman aku telah menunggu. Ini saja aku sudah terlambat!” pinta Rayna.
“Tidak ya tidak, emang kau bisa apa?” jelas Abizar dengan senyum sinisnya.
“Kau mau apa dariku, cerai? Atau mengusirku? Akan aku lakukan!” tanya Rayna.
“He....” Abizar menghembuskan nafasnya kasar. “sepertinya temanmu lebih penting dari aku, jadi aku takkan membukanya”.
“Jelas.... Mereka selalu ada buat aku dan tak pernah menghinaku dan satu lagi mereka tidak pernah mengoperku ke pria lain!” jelas Rayna penuh penekanan.
__ADS_1
“Baiklah, aku semakin tidak ingin membukanya!” jawab Abizar beranjak menuju kamar.
Rayna mengejar Abizar dan menghadang Abizar “kau boleh ikut, jika kau mau. Tapi aku mohon izinkan aku pergi dan buka pintunya!” pinta Rayna***.