
Lalu Abizar membalik kertas itu dan terpampanglah foto keduanya sejak smp hingga kuliah, keduanya banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, tokoh buku, danau bertema gelap, serta pantai bernuasa senja.
Abizar tersenyum tidak mengerti bisa-bisanya Gavin bersam Rayna10 tahun tanpa ada hubungan, "benar-benar menyedihkan!'.
hatinya semakin menggemah tak menentu keluar dari kamar Rayna, hatinya marah tubuhnya tak terima kenapa banyak sekali orang menyukai wanita yang berstatus istrinya itu.
Keesokan harinya, Rayna mengurungkan diri untuk kuliah. Ia pergi ke pantai dimana jika dulu ia bertengkar dengan sang mama tercinta dan disana jagalah ia pergi ketika banyak masalah dan pikiran.
Pantai itu ia beri nama "Lekas" yang mana bermakna semua akan lekas, ia berdiri di bawah pohon lindung di pantai seraya melihat derasnya ombak melawan arus. Tenteram, ah kenyataan itu sudah tak lagi ia temui. Kebahagiaan, itu hanya angan-angan yang jauh di awan yang tak kunjung menyapanya.
kenangan masalalunya kembali berputar dikepala, selama ini ia berusaha berdamai dengan masalalu dengan menjauhkan apa yang membuat ia kecewa, tapi semenjak ia menikah ia serasa kembali seperti dulu tiada hari tanpa kesedihan.
Hari ini waktunya Abizar ke kampus, ia tiba dengan di temani kedua sahabat yang selalu tunduk kepadanya ya siapa lagi kalau bukan Adim dan Erico.
"Rencana mu berhasil!" Jelas Adim melihat Abizar.
Abizar melihat Erico terlihat kesal karena faktanya sesuai dengan dugaan semua ini telah terencana dari Abizar.
"Apa kau?" Teriak Abizar menatap Erico tajam.
__ADS_1
ketiganya masuk ke arena kampus, banyak gadis bersorak senang melihat 3 pangeran kampus yang terlihat cool dan yang pasti kaya dengan kekuasaan serta wajah yang mendukung.
"Kak Abizar!" Panggil seseorang membuat sekelilingnya terlihat Iri.
Abizar melihat ke tiga gadis dengan gaya elit di pandangnya, ia adalah adik tingkat semester 4 program studi Manajement keuangan.
"Semua sesuai dengan rencana, bukankah kau harus mentraktirku seperti janjimu?" Tanya nya dengan senyum semanis mungkin.
"ah, masalah itu. Aku baru mengingatnya ternyata aku punya janji!" Jawab Abizar glagapan, dia telah membuat langkah yang salah akibat ambisinya terhadap Rayna.
"Aku tunggu di cafe Rosaria!" jelasnya memberi secarik kertas kepada Abizar lalu beranjak pergi.
Abizar tersenyum geli, bisa-bisanya ia bermain pada gadis kecil layaknya kejar-kejaran.
seketika ia ingat Jassy hampir dua minggu ini tanpa kabar "Hanya mainan!" jelasnya geli.
"Apa dadanya besar?" Tanya Adim vulgar.
"kau memang maniak ****!" jelas Erico terlihat acuh.
"kau hanya belum mencoba adik kecil, coba saja kau mencobanya sekali saja kau akan candu!" jelas Adim merangkul Erico layaknya berbicara pada anak kecil.
__ADS_1
"Baiklah aku akan melakukan itu hanya pada Rayna, aku berharap secepatnya kami menikah!" jelas erico tanpa rasa bersalahnya membuat mata Abizar tajam.
"Berarti kau dapat janda dong, btw apa kau belum menidurinya?" Sentil Erico ke bahu Abizar.
"Apa aku terlihat pria menjijikan?" Tanya Abizar terlihat kesal.
"Aku senang sekali berarti akulah yang pertama!" Jawab Erico tersenyum bahagia.
Mata Abizar semakin tajam mendengar itu, bisa-bisanya sahabatnya begitu ambisi terhadap sang istri. "Ada apa dengan diriku?" benaknya.
____
waktu telah berlalu hingga mentari menjadi senja, hidup terkadang terlalu becanda jika dipikirkan dan terlalu serius jika di bawah becanda. Hidup dewasa bukan lagi bagaimana menjadi cantik, bagaimana agar orang-orang banyak menyukaimu melainkan bagaimana planning kedepannya, masa depan yang baik dan bukan lagi tentang rumah yang mewah tempat untuk pulang melainkan rumah yang nyaman diajak bercerita.
Abizar tiba di rumah dengan tatapan menuntut apakah wanita yang selalu berputar di pikirannya itu baik-baik saja, ia menyadari wanita itu tidak masuk kuliah hari ini, ada rasa bergejolak didada, ia tak mencintai wanita itu tapi ketika orang lain menyukainya ia sangat marah dan rasa ingin membunuh orang itu, termasuk sang sahabat.
"Bi, dimana Rayna?" Tanya Abizar pada bibi sedang memasak.
"Nona sejak pagi belum kembali tuan!" jawabnya nunduk hormat.
apakah wanita itu sedih karena masalah foto itu? Ia rasa itu bukanlah masalah yang besar untuk wanita acuh tak acuh seperti Rayna, sepengetahaun Abizar prinsip Rayna adalah "Selagi itu tidak merugikan aku, itu bukanlah hal yang penting".
__ADS_1
TEN