Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
murahan


__ADS_3

Dunia perkuliahan di semester tua sungguh memusingkan, ingin berhenti telah berjalan jauh dan tetap lanjut tapi menyakitkan. Tapi tidak untuk Jurusan Hubungan Internasional tanpa skripsi, Abizar pria jenius nan menjengkelkan salah satu mahasiswa Comluade dengan nilai memuaskan dan tidak berbeda jauh dari kedua temannya. Tapi sistem kampus Universitas Gunadarma, meskipun telah selesai mengerjakan Skripsi ada masa percobaan untuk masuk di dunia pekerjaan yanh di geluti.


Malam itu sesuai janjinya dengan Vera untuk makan malam yang telah Vera atur dengan mulus di sebuah cafe nan elit, Vera berbalut Dress Denim dan rambut lurusnya sedikit ia ikalkan di ujung. Jarinya yang lentik Mempersilahkan Abizar untuk duduk.


"Aku pikir kakak tidak datang!" jelasnya membuka pembicaraan.


"ini adalah janji mana mungkin aku mengingkarinya!' jawab Abizar.


"kepribadian yang bagus, ayo dimakan!"pinta Vera berusaha sanggun mungkin.


Abizar memandang makanan di depannya, ia mengambil steak daging dan mayones. ia mengiris daging dengan hati-hati.


"oh iya kak, apa kau tau Wanita itu juga disini bersama pria malamnya!" jelas Vera membuat Abizar menunda sendok untuk masuk ke dalam mulutnya.


Mata Abizar mencari-cari di sekelilingnya, hingga ia temukan sesosok wanita cantik dengan balutan Dress berwarna hitam dan rambut terurai panjang bersama seorang pria yang membelakanginya sehingga ia tak mengenali pria itu.


"Bukankah dia terlihat begitu murah, di kampus dengan kak Gavin di luar bersama dengan pria lain!" jelas Vera merasa baik di bandingkan Rayna.


Mata Abizar menatap tajam melihat Rayna sesekali tersenyum yang jarang sekali ia lihat ketika bersamanya. "Begitulah wanita murahan!" jawabnya terlihat kesal membuat selera makannya hilang.


"Bukan hanya itu kak, aku juga dapat informasi bahwa Rayna punya penyakit mental yang parah. Apa karena menyadari umurnya pendek ia berlaku seperti itu!" jelas Vera.

__ADS_1


Abizar tersentak mendengar itu, ia ingat ketika Rayna down ia seperti tidak mengenali wanita itu . "Kenapa aku jadi semakin penasaran terhadapnya!" benaknya kesal.


"btw kakak kenapa membencinya?" Tanya Vera.


"ah, sebenarnya dia sudah menikah dan suaminya itu orang terdekatku!" Jawab Abizar menggertakkan giginya ketika melihat Rayna tersenyum lebar berbicara dengan pria itu.


"What?" Teriak Vera pelan. "seriosly? kak ini berita besar, lalu dia masih bermain pria?!".


"Ia dia orang yang buruk!" jawab Abizar memasang jaketnya beranjak pergi.


"kak, kakak belum mulai makannya!" Tahan Vera.


Di dalam mobil, ia menepuk stirnya dengan kesal. Ia tidak habis pikir kenapa ia semarah ini melihat wanita yang ia benci makan dengan pria lain sedangkan kekasihnya saja ia bebaskan pergi dengan siapapun. "Ah aku seperti orang gila!" jelasnya gusar.


Kegusarannya terhenti ketika handphonenya berdiring dan Jassy yang menelpon.


"Hallo baby!" Teriak wanita dari seberang sana. "kenapa kau tak menghubungiku ha, apa kau telah bosan hidup?" Tanyanya lembut.


"Ah aku sedikit sibuk sayang, bagaimana keadaanmu?" Tanya Abizar terlihat gugup karena Jassy meneleponnya mendadak.


"Aku baik dan baru saja pulang kerja, bagaimana dengan mu? Apa kuliahnya lancar, 2 minggu lagi aku kembali!" tanya dan jelasnya secara beruntun.

__ADS_1


"baik-baik saja, apa dua minggu lagi?" Teriak Abizar.


"iya, apa kau tak senang aku kembali?" Tanya jassy lagi.


"bukan seperti itu, aku terlalu merindukanmu membuatku lupa!" jawab Abizar gugup.


"benarkah kau merindukanku?" Tanya Jassy.


Abizar tak menjawab Jassy ketika melihat 2 insan keluar dari Cafe dengan berbincang hangat, pria itu terlihat 2 kali lipat umur Rayna sekitar umur 45 tahun namun awet mudanya terlihat dari cara berpakaian, tanpa Abizar sadar ia langsung melempar handphonenya ke kursi belakang.


"Aku tidak menyangkah kau sudah menikah, padahal kau sendiri yang mengatakan tidak mau berhubungan dengan pria manapun!" jelas Pria itu tersenyum.


"Entahlah Sir, semua telah terencana. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa!" Jawab Rayna menuju mobilnya. ",Terimakasih nasehatnya hari ini, entah jika tidak ada dirimu mungkin aku sudah tak ada di dunia ini!".


"iya, tetap semangat!" jelasnya memotivasi Rayna dengan tangan melambung ke udara.


"oh iya mungkin setelah ini kita akan susah berjumpa, aku berencana pergi ke luar negeri untuk memulai kehidupan baru!" jawab Rayna.


"Apa ke Bern?" Tanyanya.


"rahasia!" jawab Rayna sudah siap mengemudi.

__ADS_1


__ADS_2