Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Masih subuh, nanti saja


__ADS_3

Rayna membuka buku itu dengan penasaran, itu bukan sebuah buku dengan kata-kata puitis sehingga pembaca tertarik dengan katanya, juga bukan kata-kata formal untuk di terapkan tetapi kata-kata rancuh penuh dengan dendam layaknya monster haus kasih sayang. "Laurentmt22" tulisan di lembar paling bawah setiap lembarnya.


"Apa itu?" Tanya Abizar duduk disamping Rayna ingin merebut buku itu.


"Jangan sentuh!" Teriak Rayna tetap fokus dengan bacaannya.


"Kenapa kau begitu marah?" Tanyanya dengan kening berkerut.


Rayna berdiri lalu menuju kamar, hatinya gelisah tak menentu semakin lama semua terasa aneh.


"aneh, ada apa dengannya?" Tanya Abizar pada dirinya sendiri.


Banyak hal yang tak bisa kita terka dengan kehidupan, kadang kalah kita menganggap sesuatu remeh namun itu berdampak besar dengan kehidupan dan masa depan.


_______


Pagi itu, matari tampak begitu tenang menyapa insan sehingga siapapun melihatnya akan jatuh cinta dengan pesona alam yang diciptakan tuhan.

__ADS_1


Rayna membuka matanya yang berat sekali untuk terbuka, tapi ia harus paksakan dirinya untuk bangun jika terus bermalas-malasan kapan ada progress dalam hidupnya, itulah salah satu prinsip yang ia terapkan sejak mamanya meninggal, ia harus mandiri dan bisa di andalkan setidaknya untuk diri sendiri.


Rayna melepaskan tangan yang stay semalaman di perutnya itu dengan hati-hati agar sang empuh tak bangun, jika bangun itu akan tambah ribet dan rumit serta penuh drama di pagi hari.


"Masih subuh, nanti aja!" jelasnya mengeratkan pelukkannya tanpa membuka mata.


"ini sudah siang, aku harus ke kampus!" Jawab Rayna tetap memandang pria itu dengan gelisah.


"Bukankah kau sudah berhasil ujian tesis?" Tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


"Aku ada urusan dengan temanku, dia sedang dalam masalah!" Jawab Rayna biasa saja.


"Bukankah kami hanya berdua?" jawab Rayna tanpa menyadari apa yang Abizar rasakan.


"Tidak, aku tidak mengizinkannya. Kau tahu Rubah itu menyukaimu, dia hanya mencari kesempatan dalam kesempitan!" jelas Abizar semakin mengeratkan pelukkannya sehingga Rayna terasa sesak.


"Haha kau pikir semua orang menyukaiku, ada wanita yang ia sukai dan itu bukan aku!" terang Rayna mencoba bernafas dengan tenang.

__ADS_1


"Tidak, dia menyukaimu, lihat saja di buku itu..." Perkataan Abizar ia hentikkan karena gengsi. "Jika kau tetap ingin pergi, cium aku!"


Mata Rayna terbelalak bukan main dengan keputusan bodoh itu, bisa-bisanya Abizar membicarakan tentang ciuman dengan santainya tanpa rasa malu sedikitpun.


"Oke jika tidak mau, aku tidak memaksa!" jelas Abizar kembali memejamkan matanya.


Dengan refleks Rayna berpikir keras. "Jika aku tidak menciumnya maka ia tidak akan melepaskan ku, bagaimana ini. jika aku menciumnya dimana letak harga diriku!" benak Rayna tak menentu.


"muachhh" Rayna mencium bibir Abizar singkat, lalu memejamkan matanya. "Jangan sampai dia melihat wajahku yang telah memerah!" benaknya.


Abizar membuka matanya, tersenyum geli melihat ekspresi istri dinginnya itu, wajah telah memerah serta nafas tak beraturan. "karena kau telah menggodaku, maka dengan senang hati aku akan mencium mu sayang!' jelas Abizar tersenyum lalu melonggarkan pelukkannya dan merubah posisi menjadi Rayna di bawah dan dia di atas.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Rayna terlihat kesal karena merasa tertipu.


"Kau telah membangunkan adik kecilku yang telah tertidur semalaman ini sayang!" jelasnya menatap Rayna intens.


"kan kau yang memintakku menciummu, kenapa kau seolah-olah menjadi korban?" Tanya Rayna.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Abizar mencium bibir manis itu dengan lembut tidak seperti biasanya, maka adegan seperti sebelumnya kembali terulang, membuat tulang punggung Rayna terasa remuk.


Ten


__ADS_2