
“Tidak, kau tahu sendiri kan aku tidak menyukai keramaian seperti itu!” Jawab Rayna.
“Oh iya Ray, besok kan hari Minggu ni bagaimana jika kita jalan-jalan atau ke perpustakaan gitu?” Tanya Gavin.
“Aku tidak suka menghabiskan waktu sia-sia!” Jawab Rayna masih fokus dengan bacaannya.
“Kalau ke toko buku, aku dengar Tere Liye rilis buku baru loh!” Jelas Gavin.
“Emmm..” Rayna berpikir sejenak. “Aku usahain!” Jawab Rayna bertanda iya.
“Yes, aku jemput ya!” Jawab Gavin kegirangan.
“Tidak usah!” jelas Rayna cepat disertai kaget.
“Kenapa? Kayak aku belum ke rumah kamu saja!” gerutu Gavin.
“Bukan gitu, soalnya aku ada urusan. Jadi setelah aku menyelesaikan urusan besok, aku tunjukkan saja dimana alamatku!” jawab Rayna dengan susah payah mencari alasan.
“Urusan apa?” tanya Gavin.
“Aish.. kau tak perlu tahu!” jawab Rayna kesal. “Ya sudah ayo kita ke perpustakaan saja!” pinta Rayna agar Abizar tidak berpikir panjang tentang alasan yang ia berikan itu.
“Benarkah? Ayo kita pergi!” jelas Abizar senang.
Abizar dan kedua temannya telah makan di kantin atau sejenis kafe di kampus itu, merata mahasiswa kampus itu adalah anak dengan status sosial tinggi jadi tidak heran jika fasilitas kampusnya sangat Elit.
Rayna dan Gavin melewati kantin, kebetulan kantin dan Perpustakaan berlawanan arah.
“Oh iya Ray, apa kau tauh aku hampir bisa menguasai bahasa Jepang!” jelas Gavin terlihat senang, tidak heran dia selalu saja tersenyum sepanjang jalan.
“Benarkah?” tanya Rayna seperti tidak peduli.
“Iya Ray, aku akan kalahkan dirimu yang mampu menguasai 20 bahasa!” tekat Gavin.
“Coba saja!” jelas Rayna seperti menantang tapi dengan nada bercanda.
“Iya, jika kita lulus nanti aku berharap kita bisa jadi duta negara yang sama!” jelas Gavin lagi.
“Kenapa harus sama?” Tanya Rayna acuh tak acuh.
“Karena aku ingin selalu bersamamu!” jawab Gavin dengan polosnya.
“Aku bosan melihat wajahmu!” jelas Rayna.
“Dan aku tidak!” jawab Gavin kembali memberikan senyuman.
Tak sengaja mata Abizar tertuju pada dua makhluk parasit baginya itu. Ya , tidak lain Rayna dan Gavin.
“Kenapa, kampus ini begitu sempit sih? Selalu saja bertemu parasit itu!” benak Abizar sehingga moodnya untuk makan hilang.
“Kenapa Bi?” tanya Adim.
“Tidak, kenapa aku tidak selera makan ya?” tanya Abizar balik.
“Ini ni otak kau semakin miring, mana aku tahu!” jelas Adim.
“Kenapa pria itu terus nempel sih pada Rayna?” gerutu Adim melihat arah Rayna.
__ADS_1
“Haduh-haduh... Punya teman pada gila semua!” jelas Adim “yang satu otaknya miring, yang satu dibodohi cinta!”.
Abizar juga melihat arah pandang Erico yang terlihat kesal melihat arah Rayna.
“Ingat janji kita nanti malam ya, ke club biasa aku tunggu jam 8!” jelas Adim.
“Aish... Apa kau dengan wanitamu?” tanya Erico.
“Jelas dong, zaman sekarang masih jomblo? Udah gak zaman!” jawab Adim.
“Tenang kawan, nanti aku kenalkan dengan wanita-wanita di bar!” Goda Abizar.
“Cih... Aku tidak mau, kalian sebagai teman terbaikku buatlah cara agar aku bisa dekat dengan Rayna bukan dengan mendorongku ke wanita tidak benar di bar!” jelas Erico membuat raut wajah Abizar kesal.
“aish... Pikiranmu selalu tentang wanita tidak normal itu, Apa kau tahu dia itu tidak mencintaimu. Kau tidak lihat dia pacaran sama lelaki bodoh disampingnya itu!” jelas Adim dengan kata banyak penekanan.
“Aku tidak percaya mereka pacaran, soalnya Rayna terlihat biasa saja!” jawab Erico.
“Hiya, bagaimana bisa kau menjawab perkataan Adim. Adim itu bicara sesungguhnya, nanti aku Carikan wanita sexy, cantik, dan lebih dari Rayna yang tak apa-apa itu!” jelas Abizar.
“apa kalian tauh?” tanya Erico mengecilkan suaranya agar Abizar dan Erico mendekat. “Rayna itu sangat cantik dan sexy bahkan mungkin kalian tidak percaya!” jelas Adim dengan terkagum-kagum lalu mengeluarkan handphonenya dari dalam saku.
Abizar dan Adim masih penasaran apa yang ingin Erico tunjukan.
“Lihat, dia sangat sexy bukan. Dua Minggu yang lalu aku tak sengaja melihat dia olahraga di sekitar rumahnya, apa kalian tahu? Setiap malam aku selalu membayangkan tidur bersamanya dan menikmati tubuhnya?” jelas Erico dengan penuturan sungguhan.
Plak..... Abizar menokok kepala Erico dengan tangannya. “nanti malam aku tunggu kau di bar, disana banyak orang lebih dari wanita parasit ini!”
“Hiya, aku hanya mencintai dia saja!” jawab Erico lagi.
“Ok aku akan kesana, tapi jangan jodohkan aku dengan wanita malam!” jelas Erico.
“Yas sudah Ayok, ke kelas!” pinta Adim.
“Bisa-bisanya wanita itu olahraga dengan pakaian seperti itu!” benak Abizar mengikuti kedua temannya.
Banyak mahasiswa terkagum-kagum akan ketampanan Abizar, sehingga setiap Abizar lewat depan mahasiswi wanita banyak yang membicarakan tentangnya.
“Aku tidak habis pikir, jika punya pacar setampan dan sekaya kak Abizar, mungkin dunia ini serasa milik aku sendiri!”
“Iya, aku juga berpikir seperti itu. Tapi dia udah punya pacar, pacar cantik banget seorang model lagi”.
“Pantasan si, aku sangat iri pada wanita itu!”
Itulah yang sempat Abizar dengarkan ketika ia lewat depan mahasiswi wanita di ujung lobi itu.
Sekitar pukul 5 sore, waktunya seisi kampus pulang. Membuat kampus itu ribut bahkan sempat antrean di parkiran, Abizar mengeluarkan mobilnya paling awal dan menunggu di ujung gerbang, entah apa yang ia tunggu.
Rayna dan Gavin keluar paling akhir, sehingga saat mereka tiba di parkiran semua telah sepih.
“Mobil kau mana Ray?” tanya Gavin.
“eh... Tadi aku naik tadi!” jawab Rayna gugub.
“Kenapa? Ya sudah aku antar ya!” pinta Gavin.
“Ti..tidak usah, aku bisa naik tadi saja.. dah aku pergi ya!” jelas Rayna bergegas pergi dari hadapan Gavin.
__ADS_1
“Ray...!” panggil Gavin yang melihat Rayna semakin menjauh. “Kenapa aku rasa Rayna aneh ya hari ini? Apa perasaan aku saja!” benak Gavin menuju mobilnya.
Rayna berjalan keluar dari gerbang menunggu di halte taksi, tak berapa lama muncullah mobil sport warna sliver di depannya.
“Masuk!” jelas pemilik mobil itu yang tak lain Abizar.
“tidak. Aku ada urusan lain!” jawab Rayna tanpa memandang Abizar karena ia tauh siapa pemilik suara itu.
“Aku katakan sekali lagi, kalau tidak! Aku bunuh kau!” ancam Abizar dengan tatapan tajam.
“Bunuh saja!” jawab Rayna yang lagi-lagi membuat Abizar kesal.
“Hiya, kenapa kau susah sekali diatur?” teriak Abizar turun mobil.
“bukan urusanmu!” jawab Rayna dingin.
“Kau ini ya!” bentak Abizar geram lalu menarik tangan Rayna agar masuk mobil.
*Kenapa aku selalu memaksa?” tanya Rayna dingin “aku bisa pulang sendiri!”.
“Aku adalah bos dan kau hanyalah bawahan, anggap saja seperti itu! Jangan ke gr-an dulu, aku bukan mengajakmu pulang bersama tapi memintamu untuk belanja karena stok makanan di rumah habis, ok. Jangan berpikiran yang lebih!” jelas Abizar dengan tatapan benci.
“he..” Rayna menarik nafasnya kasar.
“Apa? Tidak terima? Emang benar faktanya, kau hanyalah parasit bagiku!” jelas Abizar dingin.
“oh!” jawab Rayna menatap arah pepohonan di sekitar jalan.
“jadi sekarang kau harus tahu diri!” sambung Abizar lagi membuat hati Rayna semakin luka.
“Papa, kenapa kau mendorongku di neraka dunia ini!” benak Rayna terlihat sedih.
Tibanya di mini market, Rayna turun untuk berbelanja sedangkan Abizar masih dalam mobil seraya memakai masker mulutnya agar tidak banyak debu, padahal di mini market terjamin higenis tapi kebiasaan seperti itu.
“Kau tak perlu ikut, kau boleh pulang. Biar aku naik taxi saja!” jelas Rayna.
“Ingat kau adalah bawahan, jadi aku yang mengatur bukan kau!” jawab Abizar turun dari mobil dan mengikuti Rayna.
“oh!” jawab Rayna dingin.
“hiya, kau jangan mempermalukan aku disini!” teriak Abizar kecil.
“Apalagi sih? Ribet!” jelas Rayna berlalu masuk mini market.
Rayna berlalu ke arah tempat sayuran serta makanan telah jadi, sedangkan Abizar hanya mengekor saja dibelakang Rayna.
Rayna memasukan telur, mi instan, daging segar, sayur salada segar, sawi, serta sayur kangkung kesukaannya ke troli belanja.
“hiya, kenapa aku membeli sayur yang tak berbobot ini? Kau tau ini tidak bergizi!” tanya Abizar mengembalikan sayur kangkung ketempat jualnya.
“Aku menyukainya, jangan banyak protes!” jawab Rayna memasukan kembali kangkung ke troli belanjanya lalu berlalu Pergi.
“Hiya, aku tidak meminta kau membeli apa yang kau sukai!” Jelas Abizar mengejar Rayna.
“Ini salahmu, karena mengajakku kesini, it's okay!” jawab Rayna dari jauh seraya melirik makanan di sekitarnya.
“aish... Kenapa aku selalu kalah berargumen dengannya?” tanya Abizar dengan kesal pada diri sendiri.
__ADS_1