Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Rayna menjadi monster sepertimu


__ADS_3

siangnya seperti biasa, aktivitas Rayna baikpun Abizar yaitu mengenyam pendidikan untuk mencari ilmu bekal masa depan. Dunia Rayna penuh dengan buku dan Abizar penuh dengan senang-senang.


"Ke kantin Yuk!" Ajak Adim setelah mata kuliah berakhir. "liat cewek cantik" sambungnya senyum sumringah.


"Bukankah itu menyenangkan?" tanya Abizar seraya setuju dengan maksud Adim.


"Kali ini aku tidak bisa ikut dengan kalian, karena ada misi yang harus aku selesaikan!" jelas Erico.


"Apa tentang Wanita itu?" Tanya Adim terlihat kesal.


belum sempat Erico menjawab, Rayna beserta kedua temannya lewat dengan membawa beberapa buku menuju perpustakaan. Beberapa pasang mata menganggap Rayna adalah wanita beruntung bisa dekat dengan 2 pria tampan seperti Gavin dan Diolay, namun di balik itu ada juga yang beranggapan bahwa Rayna wanita sok polos melihat dari cara berpakaiannya.


"Bukankah kami terlihat berjodoh, baru saja kita membahasnya!" jelas Erico memandang Rayna lekat.


"kenapa dunia sesempit ini, kenapa selalu bertemu 3 rubah menyebalkan ini" Benak Abizar terlihat kesal.


selera makan Abizar menghilang seketika, Perasaan aneh selalu bersekolah di hatinya ketika berhadapan dengan Rayna, entah itu Perasaan terlalu benci atau Perasaan penasaran.


"Bukankah bagus, jika Erico dekat dengan Wanita itu. itu adalah salah satu jalan terbaik untuk berpisah " benaknya.


-


Berlin, Jerman.

__ADS_1


Dibawah lampu temaram gemerlap, Andreanata atau sering di sebut Nicholas bern. meminum segelas anggur dengan frustasi.


"Tidak, bagaimana dia bisa selamat dari kejadian itu!' jelasnya menuangkan segelas win dari botol. "Bukankah Daddy telah membunuhnya, dia monster, dia monster. Bahkan sifat Rayna menjadi monster sepertimu".


"Nicholas!" teriak seseorang langsung merebut gelas berisi win di tangan Nicholas.


"Apa yang kau lakukan Cris?" Tanyanya agak geram.


"berhenti minum, ayo pulang. ini bahaya, apa lagi kau mengemudi" jelas wanita bernama Crish itu.


"hahahah, Sekarang aku sudah tidak peduli lagi!" jawabnya tersenyum penuh arti.


"kau punya anak, dan masih banyak jalan yang mesti kau lakukan. pasti anakmu menunggu di Indonesia!" jelasnya.


hampir 30 menit Nicholas meracau tak karuan di depan Crish, sahabat ia dari Junior High school di Kota ini. Crish adalah wanita independent dalam segala hal, yang tak berniat untuk menikah. menurutnya, menikah bukanlah hal yang wajib dan setiap orang tidak mesti menikah untuk memiliki anak, mengingat kota Berlin liberal, jadi **** bebas adalah hal yang lumrah. Ia membawa Nicholas ke apartemennya, agar sahabatnya itu lebih tenang.


-


Indonesia


Menjelang sore, Mahasiswa Universitas Gunadarma telah ramai di gerbang karena waktu pulang telah tiba, Rayna berjalan bersama kedua temannya yang tak henti berdebat perihal seperti biasa, yaitu mengantar dirinya. jujur ia merasa di istimewakan sekali dari kedua temannya ini, Gavin yang lembut dan hampir sama dengan kepribadiannya, menyukai keheningan, dunia adalah buku, dan apa-apa harus membaca dan Diolay yang berbanding terbalik dia seorang ekstrovert dan pandai bergaul.


"Diolay, kau cari teman lain saja. aku dan Rayna sudah berteman sejak smp jadi jangan ganggu kami, apalagi berniat untuk memisahkan!" jelas Gavin dengan kesal.

__ADS_1


"aku juga berteman dengan Rayna waktu kami di New York, dan kami satu kelompok. bahkan Rayna memberiku Roti di asrama!" jelas Diolay tak kalah kesal.


"ayo Ray, kita pulang. aku antar!" Pinta Gavin ingi menarik tangan kanan Rayna.


"Tidak, Rayna pulang bersamaku!" Diolay menarik tangan kiri Rayna.


terjadilah perebutan layaknya barang, Rayna masih diam menahan amarahnya. Ia tahu dengan benar bahwa Gavin sangat takut Diolay memperdaya dirinya sehingga tak mampu berteman dengannya.


"kik..." Suara klikson menghentikan keduanya, sehingga ketiga orang itu mengalihkan pandangan ke sumber suara.


"Sepupuku ayo pulang!" jelas Abizar dengan senyum termanisnya.


"Apa dia kakak sepupu Ray?" tanya Diolay agak antusias.


"jangan panggil dia Ray, hanya orang yang akrab saja bisa memanggil dengan panggilan itu!' jelas Gavin melototi Diolay.


Rayna mencari ide sejenak "Kak, apa papa masuk rumah sakit?" tanya Rayna dengan memicingkan matanya.


lama Abizar menerkah apa yang Rayna maksud.


"oh my god, Gavin, Diolay, aku buru-buru" jelas Rayna masuk ke dalam mobil Abizar. "aku dulu ya, aku khawatir sekali!"


"yah... tu kan, semua gara-gara kamu!" jelas Gavin kesal.

__ADS_1


__ADS_2