Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Hati terasa sesak


__ADS_3

Selekas Kuliah Rayna langsung saja menuju rumah lamanya yang telah lama ia tempati dari kecil hingga umur 23 tahun saat ini, banyak kenangan tersimpan disana bersama mama tersayang dan papa yang kaku. Meskipun papanya tak pernah sekalipun memanjakannya seperti papa di luar sana, tapi ia tahu bahwa papanya menyayanginya.


Satu hal sifat yang sangat ia benci yaitu ingkar janji, baginya Janji adalah suatu sakral jika lagi mendesak ia memaklumi.


"Bi, dimana papa?" Tanya Rayna langsung ke meja makan, karena sang bibi sedang membereskan meja makan.


"Tuan sedang di kamar nona, bersama temannya membahas tentang bisnis!" jelas bibi.


"teman?" Tanya Rayna sedikit terkejut karena selama mamanya meninggal papanya tak sekalipun membawah teman ke rumah dengan alasan merepotkan.


"Iya, Nyonya Crish dari Berlin!" jawab bibi.


"srtttt!" Rasanya hati Rayna terasa sesak. "Apa papa benar-benar menjualku, bahkan ia tak memberitahuku untuk membawa wanita kerumah!" benaknya.


"Ahhhh, Rayna apa kau Putra Nichola!" Tegur seorang wanita berperawakan tinggi, bermata biru dan berambut kuning khas wanita Jerman.

__ADS_1


Rayna diam terpaku, lalu ia melihat papanya di belakang wanita itu keluar dari kamar yang sama, kamar yang selalu papanya kunci dan penuh rahasia.


"Ah, jangan salah paham Rayna, Saya Crish sahabat Nicholas kau bisa memanggil saya bibi!" jelasnya mengeluarkan tangan untuk bersalaman.


Rayna tak bergeming ia tak percaya, sungguh ia tak percaya dengan dunia kenapa membuat ia sehancur ini. Ia pikir selama ini, papanya benar-benar melakukan perjodohan demi kebaikannya dan perusahaan, namun melihat ini ia benar percaya bahwa ia di jual.


ia melihat papanya dengan tajam, namun mata itu selalu menghindar agar tak bertatapan dengannya. Sekarang ia paham, bahwa dia tak diinginkan.


melihat tangannya tak kunjung di sambut, Crush langsung menarik tangannya "Aku serasa melihat Laurent kecil!" benaknya.


"benarkah? hahaha,,, sekarang aku paham kau tidaklah mencintaiku, kau menjualku karena harta!" Jelas Rayna tanpa rasa sopan memandang papanya dingin. "Apa belum kurang merusak hidupku, apa aku perlu mati agar kau tak terganggu?"


Nicholas menghindari mata Rayna, bahkan ia melihat arah Crish yang tampak risau. "Pulanglah!" jelasnya kembali ke kamar.


Rayna pergi dengan hati yang terasa sesak, tak ada harapan, tak ada tujuan dan tak ada tempat pulang untuk berlabu.

__ADS_1


"Nicholas, Apa kau tauh sikapmu itu membuat Rayna berpikir kau tak mencintainya?" Teriak Crush terlihat kesal. "Bagaimana kalau dia benar-benar mati?"


"Sudahlah, aku ingin istirahat. Ini semua aku lakukan demi kebaikannya, aku tidak ingin ia berada di sekitarku karena itu bahaya!" jawabnya.


"ini adalah salah satu kekuranganmu yang paling aku benci, Komunikasi yang buruk. Apa kau tauh dia masih labil maka pikirannya telah kemana-mana. Apa salahnya jika kau berkata jujur bahwa dia..."


perkataan Crush langsung Nicholas potong "Sahabatku yang paling cerewet berhentilah mengomelku, aku ingin istirahat!" jelasnya langsung menutup selimut di seluruh badan.


"kau kekanakkan!" jelas Crush.


Rayna pulang naik taksi, sepanjang perjalanan pikirannya kosong ia benar-benar tak punya rumah untuk pulang, hanya sekedar untuk bercerita, berkeluh kesah, ia terlalu takut, ia takut percaya, ia takut terluka, ia takut penolakan, semua menjadi satu membuat ia menutup diri serapat mungkin.


selang 40 menit ia tiba di apartmen Abizar, ia langsung masuk dengan tatapan hidup tak ada artinya, semua terasa menyedihkan. Tanpa ia menyadari ada sosok pria duduk di depan televisi dengan kaki bersila memandangnya sejak tadi.


"Apa kau semakin yakin ingin melawanku?" Tanyanya tersenyum kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2