Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Tunggu, Apa kau mencintaiku


__ADS_3

"Rayna kuliah dimana, jurusan apa?" Tanya Dion basa basi tak henti menatap wanita cantik itu.


"Aku universitas Gunadarma jurusan Hubungan Internasional!" jawab Rayna juga menatap Dion.


"Ayo kita makan, keburu dingin!" pinta mama menghangatkan suasana, ia sengaja mengakui Rayna anaknya bukan sebagai menantunya, karena ia ingin melihat bagaimana Keadaan Abizar, ia yakin Hubungan keduanya tidaklah baik-baik saja.


Rayna mengiris daging steak dengan sebaik mungkin, jujur saja dia salah satu orang yang menyukai serba instan jadi hal yang merepotkan seperti steak ini sangat mengganggunya. Menurutnya jika ada yang muda kenapa memilih hal sulit.


"Ini!" jelas Dion memberi steak yang telah ia iris kepada Rayna lalu mengambil Steak Rayna yang belum selesai.


"Ah, aku bisa kok!" Tahan Rayna merasa tak enak.


"Tidak apa, aku senang melakukannya!" jawab Dion membuat mamanya tersenyum.


"Dion memang begitu nak, dia penyayang!" jelas mamanya.


Abizar melihat drama di depannya itu dengan kesal, dia membenci suasana seperti ini, setiap ada Rayna pasti ada yang menyukainya. Terkadang ia merasa beruntung memiliki wanita secantik dan sepintar Rayna. "Ada apa denganku, aku membencinya ketika dia bersama orang lain!" benak Abizar.


"Apa boleh aku minta nomormu?" Tanya Dion merasa nyaman dan sefrekuensi.


Rayna salah satu orang yang tidak bergantung dengan handphone, baginya handphone hanya perlu ketika menghubungi sang papa, ia membuka tas. "Sayangnya aku tidak membawa handphone!" Jawab Rayna.

__ADS_1


"yaudah kau saja mencatat nomor ku!" Jelasnya berusaha mencari pena.


Abizar menatap Rayna tajam ketika Rayna melihatnya. "Aku ingin pulang!" jelas Abizar kesal.


Rayna sama sekali tak memperhatikan Abizar ia sibuk bercengkrama dengan Dion, Dion seorang yang hangat dan mudah beradaptasi bahkan ia tak segan membicarakan pengalaman buruknya ketika kuliah. Rena akui kita akan bahagia ketika kita memulai membuka diri dan dicintai dengan begitu kita bisa di hargai, namun ia tetap memilih bahwa ia akan selalu sendiri hidup dengan tenang tanpa ada yang mengganggu.


Abizar sangat kesal dan jengkel melihat senyum itu, senyum yang sulit sekali jika di depannya, bahkan ia merasa sesuatu yang ia miliki di rebut orang lain. "Pulang!" Teriaknya sehingga semua menatap kearahnya termasuk mama.


"Sayang, kenapa kau berteriak?" Tanya mama yang tahu apa penyebab semua ini karena ini salah satu rencananya.


Rayna memandang Abizar dingin, pria itu seakan menjadi duri baginya. Kadang kalah mata itu begitu teduh membuat ia lupa diri bahwa dia hanyalah wanita yang tak mungkin diterima orang lain dan kadangkalah mata itu begitu tajam layaknya elang membuat ia yakin, pria itu membencinya bahkan rela merusaknya.


Abizar berdiri menuju Rayna dengan sigap menarik tangan wanita itu. "Ayo pulang!" pintahnya mengambil tas Rayna di atas meja.


Abizar mendorong Rayna kedalam mobil dengan kasar, membuat tubuh Rayna seakan retak, apa lagi punggungnya masih terasa pegal karena pergulatan tadi pagi. "Ada apa denganmu?" Ringis Rayna menahan rasa sakitnya.


Abizar hanya diam lalu masuk mobil dan menguncinya.


"kenapa kau tidak sopan sekali, teman mama pasti beranggapan yang buruk terhadapmu!" jelas Rayna menatap Abizar kesal.


"Kau senangkan di perhatikan pria itu sehingga kau ingin berlama-lama?" Tanyanya menatap Rayna tajam.

__ADS_1


"Ada apa denganmu?" Tanya Rayna menyelidiki.


"pakai pakaian seperti ini lagi, apa kau ingin memperlihatkan tubuhmu dengan pria itu ha? menjijikan, Sekalian saja tidur dengannya!" teriaknya lagi.


"Apa bajuku terlalu tertutup?" Tanya Rayna memancing emosi pria itu.


"Jangan sekali-kali aku melihatmu dengan pria lain, apa lagi tersenyum padanya!" jelas Abizar.


"Bukannya kau ingin mengoperku dengan Erico?" Tanya Rayna menatap Abizar intens.


Abizar terdiam tak mengerti, serasa makan perkataannya sendiri. Banyak hal dalam dirinya yang tak bisa ia mengerti setelah bersama dengan Wanita yang awalnya ia benci, ia benci ketika wanita itu dengan orang lain bahkan ia tak rela jika wanita itu tersenyum dengan pria kecuali dirinya.


"hiss menyebalkan, mulai hari ini aku tidak mau melihat kau memakai pakaian pendek dan berteman dengan pria, awas saja jika aku melihatnya aku akan membuatmu tak bisa berjalan dan menguncimu di kamar!" jelasnya penuh tekanan.


Rayna menatap Abizar dengan kening berkerut. "Ini sudah menjadi kebiasaanku, aku senang menggunakan pakaian yang terbuka dan untuk berteman dengan pria, itu privasiku!".


"Tidak, aku tidak mengizinkannya" Teriaknya.


"Tunggu, apa kau mencintaiku?" Tanya Rayna. "kenapa kau begini.".


tanpa menjawab Rayna, Abizar langsung menancap gas dengan kencang menuju pulang

__ADS_1


Ten


maaf baru Up, soalnya kemarin lagi sibuk ngurus rumah🤭


__ADS_2