Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Baiklah aku percaya padamu


__ADS_3

**Abizar menghempaskan tubuh Rayna ke tempat tidur lalu ia menindihnya dengan penuh nafsu.


“Hei... Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!” Teriak Rayna berusaha melepaskan tangan Abizar yang mengunci tubuhnya sehingga ia tak bisa bergerak.


“Ini hukuman untukmu yang telah menantangku!” Jelas Abizar mencium bibir Rayna dan m********a karena tak ada balasan dari Rayna Abizar menyelusuri leher mulus Rayna dan meninggalkan tanda kepemilikan disana serta tangannya telah merabah kemana-mana.


“Lepaskan aku!” Teriak Rayna berusaha mendorong tubuh Abizar.


“Ini hanya tindakan kecil, jika kau berani menantangku lagi. Maka aku akan melakukan tindakan lebih dari ini!” jelas Abizar tersenyum lirih.


“He...” Rayna menarik nafasnya kasar lalu mau pergi.


“Apa kau masih berani? Tanya Abizar menarik tangan Rayna.


“Lepaskan aku, aku ingin pulang!” pinta Rayna dengan kesal.


“Apa kau mau di jamah pria hidung belang di luar sana?” tanya Abizar dengan tersenyum licik.


“Apa yang kau maksud?” teriak Rayna, ingin rasanya ia menangis mendengar kata yang baru saja Abizar ucap. Ia sangat takut itu terjadi.


“Ya sudah, silakan keluar jika mau!” jelas Abizar.


Rayna mengeluarkan ponselnya meminta Gavin agar menjemputnya di sini “baiklah, aku akan meminta Gavin menjemputku!” jelas Rayna mengotak Atik handphonenya.


Dengan cepat Abizar mengambil handphone Rayna dan memandang wanita itu dengan lekat membuat Rayna semakin murka.


“Kembalikan!” teriak Rayna.


“Ayo pulang!” ajaknya menarik tangan Rayna keluar.


“Apa-apaan rubah ini? Sungguh tak bisa ditebak!” benak Rayna.


Keesokan harinya, Rayna dan Abizar kedatangan pembantu yang Abizar maksud waktu itu. Pembantu itu adalah bagian dari pembantu rumah mama Abizar, kebetulan ketika Rayna dan Abizar menikah ia pulang kampung karena Masalah keluarga.


“ini Bi Ati, pembantu disini!” jelas Abizar pada Rayna yang fokus ke bacaannya tidak jauh dari tempat Abizar duduk. ”dan bi Ati, ini Rayna istri aku!”.


“Baik tuan!” jawab bi Ati.


Rayna hanya memandang bibi tanpa menyapa, ya itu adalah kebiasaannya sangat sulit beradaptasi pada orang lain kecuali orang lain yang menyapa terlebih dahulu atau orang lain yang hangat.


“selamat pagi nyonya muda!” sapanya dengan menunduk kepala.


“Pagi!” jawab Rayna mencoba tersenyum membuat Bi Ati terkagum-kagum betapa manisnya istri tuan mudanya itu. “Jangan panggil aku nyonya, aku masih muda!”.


“Kenapa dia begitu hangat pada orang lain?” Benak Abizar melihat Rayna tersenyum.


“ah tidak sopan nyonya, bibi terbiasa!” jawab bibi.


“Hargailah orang dari umur dan caranya bukan dari kekayaan dan kedudukannya!” jelas Rayna.

__ADS_1


“Bi, silakan masak!” jelas Abizar memotong pembicaraan keduanya, lalu memandang Rayna dengan tatapan tajam.


“Kenapa kau memandangku?” tanya Abizar kesal.


“itulah fungsi mata!” jawab Rayna lalu fokus ke bukunya.


“Aish.... Kenapa ruangan ini begitu panas ketika aku melihatmu?” tanya Abizar kesal mengalihkan siaran tv.


“Anggap saja aku tidak mendengarnya!” jawab Rayna tanpa memandang Abizar.


“He....” tersenyum dengan ide gilanya, ia mengambil handphonenya lalu menghubungi seseorang.


Dengan cepat Rayna menuju kamar mencari handphonenya Karena berdering, dengan cepat Abizar mengambil buku yang Rayna baca tadi dan membawanya ke tempat duduknya semula.


“Abizar.......... Kenapa kau mengerjaiku?” teriak Rayna dari dalam kamar.


“Anggap saja aku tidak mendengarnya!” jawab Abizar dingin, tapi dibalik raut wajah dinginnya tersirat senyum.


Rayna keluar menuju tempat duduknya tadi dan melanjutkan membaca. “Dimana bukuku?” tanya Rayna mencari di bawah meja, takutnya jatuh, tapi tak ia temukan, seketika ia memandang Abizar yang fokus ke televisi.


“Abizar apa kau melihat novelku disini?” tanya Rayna dengan tatapan tajam.


“apaansih? Untuk apa aku novel gak penting!” jawab Abizar masih fokus ke televisi.


“Lalu ke mana novelku? Tidak mungkinkan dia bisa berjalan?” teriak Rayna.


“Mana aku tahu? Gak jelas!” jawab Abizar.


“Baiklah aku percaya padamu!” jelas Rayna menuju Abizar.


“Mau ngapain kau menujuku? Jangan macam-macam!” teriak Abizar.


“Aku hanya ingin duduk berdua bersamamu!” jawab Rayna mengeluarkan jurus PHPnya itu.


“jangan menggodaku, karena aku tidak akan tergoda dengan wanita sepertimu!” jelas Abizar terlihat kesal.


“Benarkah sayang?” tanya Rayna mendekati Abizar dan duduk di sampingnya sehingga Abizar berdiri membuat novel yang ada di pangkuannya jatuh.


“Sudah aku duga, kau memang pandai berbohong!” jelas Rayna ingin mengambil novel yang jatuh dilantai, namun didahului Abizar.


“ternyata kau juga pandai merayu sayang!” jelas Abizar dengan nada menggoda.


“Kembalikan novelku!” teriak Rayna kesal.


“Ayo sayang, kita ke kamar tidak enak di lihat bibi!” pinta Abizar tersenyum menggoda.


“Aish... Menyebalkan!” jelas Rayna ingin mengambil novelnya, namun tetap saja gagal sehingga ia mengejar Abizar hingga kekamarnya.


“Kembalikan novelku!” teriak Rayna melingkari kedua tangannya pada tubuh Abizar, karena Abizar meletakan tangannya dibelakang.

__ADS_1


“Hiya,, cepat kembalikan!” pinta Rayna berusaha merebutnya. “Apa kau tak bosan dirumah, apa kau tau? Hari ini kan hari libur, jadi nikmatilah hari ini dengan pergi jalan-jalan bersama kekasihmu!” jelas Rayna memandang Abizar dan tangannya masih melingkar ditubuh Abizar.


“Aku hanya ingin bersamamu!” Jelas Abizar. “Karena kau telah memelukku, aku akan mengikuti kehendakmu!” Goda Abizar menjatuhkan Rayna ketempat tidurnya dan menindihnya kembali seperti semalam.


“kau sangat cantik sayang!” goda Abizar memandang Rayna.


“Lepaskan aku, apa-apaan kau ini?” teriak Rayna berusaha mendorong tubuh Abizar.


Abizar memandang leher Rayna, yang masih ada tanda kepemilikannya karena semalam, dengan cepat Abizar mencium bibir Rayna tanpa jeda.


“Hei..... Lepaskan aku!” teriak Rayna mendorong Abizar sehingga keduanya saling menjauh “akan aku laporkan kau ke tempat berwajib!” tantang Rayna beranjak pergi.


“Lapor saja, jika kau ingin ditertawakan!” jelas Abizar tersenyum licik.


“Apa-apaan aku ini, sudah dua kali aku kehilangan kendali terhadapnya!” benak Abizar menyesali apa yang telah terjadi. “Pada Jassy saja aku tidak berani melakukan ini!”.


Rayna menuju kamarnya dengan kesal “berani-beraninya dia menodai bibirku!”. Gerutu Rayna kesal, tibanya ia dikamar ia langsung bercermin untuk merapikan rambutnya yang acak-acakan karena Abizar tadi. Ia menguncir rambutnya agak tinggi, ada benda aneh di lehernya membuat Rayna semakin kesal.


“apa-apaan ini?” tanya Rayna memegang bekas tanda kepemilikan dari Abizar. “Apa ini? Apa aku digigit nyamuk? Tapi mana mungkin sebesar ini?” Rayna bingung dengan lehernya tampak aneh, ya karena ia benar-benar tidak tauh masalah itu.


Malamnya, sekitar pukul 8 malam tibalah Jassy di apartemen Abizar, membuat bibi Ati semakin tidak mengerti dengan dua majikannya itu, tadi siang sungguh kepalanya sakit karena keduanya selalu ribut, dan sekarang pacar Abizar datang ke rumah. Tanpa mengetok pintu Jassy langsung masuk, ya itu kebiasaannya apa lagi sebagai kekasih sang pemilik apartemen jadi ia merasa leluasa tanpa memandang sopan santun.


“Bi, Abizar mana?” tanya Jassy melenggang menuju sofa tempat biasanya Abizar duduk menonton televisi.


“Tu..Tuan ada di kamar nona!” jawab bi Ati gugup karena merasa tak percaya saja.


“Sayang!” teriak Jassy sehingga bi Ati terkejut.


Rayna keluar kamar untuk minum dan tak sengaja ia berpapasan pada Jassy kekasih pria rubah itu.


“Hai calon sepupu dimana kekasihku?” tanya Jassy tersenyum manis.


“Mungkin kakak dikamar!” jawab Rayna berlalu begitu saja, menuju dapur.


Rayna melihat bibi dengan tatapan penuh dengan pengartian melihat Jassy dan ia biasa saja.


“Bibi jangan bilang pada mama dan papa ya masalah ini, takutnya Abizar kena marah abis-abisan nanti. Kami hanya perjodohan dan kami tidak saling mencintai!” jelas Rayna lalu menyeruput air putih ditangannya.


“baik nona!” jawab bibi menunduk.


“Sudah aku katakan Bi, jangan terlalu formal padaku!” jelas Rayna.


“Tapi non, bibi disini harus hormat!” bantah bibi.


“Anggap saja aku orang biasa!” jawab Rayna berlalu begitu saja.


“Abizar kemana sih?” tanya Jassy mengotak-atik handphonenya.


Tanpa menyapa Rayna berlalu begitu saja depan Jassy, jujur sebenarnya ia tak tega telah membohongi Jassy, tapi bagaimana lagi demi kebaikan bersama.

__ADS_1


“Calon sepupu!” panggil Jassy.


Rayna menoleh menatap Jassy dingin***.


__ADS_2