
“***Terima kasih ya, aku senang kau hadir disini!” Jelas Jassy tersenyum hangat.
“Iya sama-sama!” Jawab Rayna.
“Oh iya, apa kau kekasih rubah ini?” Tanya Gavin melirik Abizar “ma... Maksud ku Abizar!”
“Iya kamu sudah lama pacaran, hampir 3 tahun!” Jawab Jassy dengan senangnya memperkenalkan Abizar.
“Aku izin ke toilet sebentar!” Pamit Rayna pada Gavin.
“Apa perlu aku temani?” Tanya Gavin membuat mata Rayna terperanjat.
“Tidak, aku bisa sendiri!” Jawab Rayna “oh iya kalau aku boleh tau toilet dimana ya?”
“Oh biar aku tunjukan sepupuku!” jelas Abizar tersenyum layaknya saudara.
“Tidak usah, biar aku sendiri!” jawab Rayna.
“Tidak apa-apa adik sepupuku yang manis, kakakmu ini takut kau tersesat!” jelas Abizar menarik Rayna ke pelukannya layaknya saudara “sayang, aku menunjukkan toilet pada sepupuku dulu!” pamit Abizar dengan tersenyum lalu beranjak pergi.
“Hei...” panggil Gavin ingin menyusul.
“Biarkan saja Vin tidak ada yang membahayakan, mereka itu sepupuan!” Tahan Jassy.
“Tapi aku takut Rayna terjadi apa-apa!” jelas Gavin.
“Percayalah!” jelas Jassy menenangkan Gavin.
Ketika sudah tak terlihat Jassy dan Gavin Abizar menarik Rayna dengan kasar menuju mobilnya.
“Hei apa-apaan ini? Lepaskan aku?” teriak Rayna berusaha melepaskan diri, namun tak ada respon dari Abizar.
“Masuk!” jelas Abizar mendorong Rayna dalam mobil di jok belakang dan Abizar juga masuk.
“Apa-apaan ini? Keluarkan aku dari sini?” teriak Rayna.
“kenapa kau selalu merusak hari bahagiaku?” tanya Abizar memandang Rayna pekat.
“keluarkan aku dari sini! Kau boleh bersenang-senang pada kekasihmu itu, kau boleh bersamanya sampai kapan pun tapi lepaskan aku saat ini!” pinta Rayna juga memandang Abizar.
“Here...” Abizar menghembuskan nafasnya kasar “moodku jadi buruk ketika melihatmu, kenapa kau selalu mengikutiku? Apa kau jatuh cinta padaku?” tanya Abizar mendekatkan wajahnya pada wajah Rayna.
“Menjauh!” teriak Rayna “keluarkan aku dari sini, aku tidak mencintaimu ingat itu!”.
“Kenapa hatiku deg-degan gini sih!” benak Abizar memandang mata biru Rayna.
“Bukankah kau yang telah jatuh cinta padaku?” tanya Rayna tajam.
“Cih..... Mungkin aku sudah gila, jika aku mencintaimu!” jelas Abizar dingin “ingat urusan kita belum selesa, aku minta kau pergi sekarang!”
“Tidak... Apa kau mau aku bongkar semuanya tentang kita didepan kekasihmu?” tantang Rayna.
Abizar memandang Rayna sejenak, tanpa aba-aba ia langsung menc*um bibir tipis Rayna dan melum*tnya “buka mulutmu!” pinta Abizar.
Ting.... Ting..... Dering handphone Abizar menghentikan c*uman itu, membuat keduanya saling menjauh.
“Papa? Papa ngapain nelpon?” benak Abizar lalu menjawabnya.
“Iya pa!” jawab Abizar.
“cepat bawa istrimu ke rumah sekarang!” pinta Pramana.
“Tapi hari kan sudah malam pa, besok ajah ya! Ini pasti permintaan mama!” jawab Abizar enteng.
“Papa minta sekarang!” jelas Pramana tegas.
“tapi pa!” bantah Abizar.
__ADS_1
“Sekarang!” Pramana mengucap dengan penuh penekanan.
“I.. iya pa akan segera kesana!” jelas Abizar terpaksa lalu menutup handphonenya.
“Ada apa?” tanya Rayna melirik Abizar.
“Papa meminta kita ke rumah sekarang!” jawab Abizar.
“What? Bagaimana dengan acara ini?” tanya Rayna.
“Aku juga bingung!” jawab Abizar kehilangan idenya.
“aku akan mengatakan pada Gavin bahwa aku sakit perut!” jelas Rayna panik menemukan idenya.
“Lalu aku bagaimana?” tanya Abizar.
“Otak mainkan!” jawab Rayna dingin.
“hiya..... Kenapa kau seperti ini? Aku bertanya baik-baik!” teriak Abizar kesal.
“Makanya berpikir!” jawab Rayna kesal.
“Aku bilang apa? Masa aku bilang aku sakit juga. Nanti bisa ketahuan!” jelas Abizar bertanya-tanya.
“Bodoh!” sinis Rayna kesal “kau saja yang pura-pura sakit, aku keluar sebentar!” jelas Rayna ingin membuka pintu mobil.
“hei... Mau kemana kau?” teriak Abizar menahan tangan Rayna.
“Sudahlah kau diam disini saja, biar aku menangani semuanya!” jelas Rayna melepa tangan Abizar.
“Aish... Aku tunggu 10 menit!” jelas Abizar kesal.
Tanpa menjawab Rayna langsung keluar mobil menuju acara kembali.
Rayna menuju Jassy dan Gavin yang masih asik mengobrol.
“Maaf menunggu lama Vin, tadi aku ngangkat telepon dari papaku!” jelas Rayna seperti panik.
“Abizar mana?” tanya Jassy melihat Rayna kembali sendirian.
“bukannya kak Bizar udah lama kembali?” tanya Rayna seolah-olah tidak tau.
“Bentar lagi kan acaranya mau dimulai!” jelas Jassy beranjak pergi.
“Kau tidak apa-apakan Ray? Apa rubah itu menyakitimu?” tanya Gavin.
“aku baik-baik saja, oh iya Vin aku tidak bisa menemanimu sampai acara selesai!” jawab Rayna layaknya sedih.
“Ada apa Ray? Apa kau ada masalah?” tanya Gavin tak kalah panik.
“Ayahku minta aku pulang Vin, ada Masalah sedikit aku harus pulang sekarang!” jelas Rayna.
“Ya sudah tidak apa-apa, aku antar ya!” pinta Gavin terlihat kecewa.
“Tidak usah Vin, supir papaku telah ada didepan!” jawab Rayna dengan cepat.
Ya sudah, aku antar kamu sampai mobil supir papa mu ya!” pinta Gavin lagi.
“Tidak usah Vin, aku harap kau mengerti! Aku pergi dulu!” jelas Rayna pergi dengan berlari kecil layaknya nyata.
“Ray..... Aku takut kau terjadi apa-apa?” tanya Gavin berteriak kecil.
Dengan setengah berlari Rayna keluar hotel itu “maafkan aku Vin, bukan maksud aku membohongimu!” benak Rayna menuju mobil Abizar.
“cepar jalan, nanti ada yang lihat!” pinta Rayna ngos-ngosan duduk didepan disamping Abizar.
Abizar mengeluarkan mobilnya dari parkiran hotel dengan tergesa-gesa “apa yang kau lakukan sehingga kau seperti ini?” tanya Abizar melirik Rayna masih ngos-ngosan menahan nafasnya.
__ADS_1
“Cepat jalan, jangan hiraukan aku!” jawab Rayna mengatur nafasnya.
“Aku belum menghubungi Jassy!” jelas Abizar.
“Hiya..... Apa yang kau lakukan selama aku masuk ha?” teriak Rayna kesal.
“aish.... Jika aku mengatakan sekarang, dia akan curiga!” jelas Abizar.
“tapi dia sedang menunggumu, jangan jadi pria pengecut deh!” jelas Rayna terlihat kesal.
“Aku tidak mau melihatnya sedih!” jelas Abizar.
“Bodoh. Bahkan ia tambah sedih ketika kau pergi tanpa pamit!” teriak Rayna “mana handphonemu?”
“Untuk apa?” tanya Abizar seraya menyetir dan mengambil handphonenya di saku jas yang ia pakai.
“Banyak tanya!” jelas Rayna merebut handphone itu, ia menelepon Jassy.
“Hiya.... Jangan macam-macam kau!” teriak Abizar.
“diam!” jelas Rayna kecil dan tak berapa lama Jassy mengangkat telepon dari Abizar.
“Halo sayang kamu dimana? Aku udah cari kamu kemana-mana loh!” rengek Jassy manja.
Rayna memberi kode pada Abizar agar pura-pura sakit perut.
“Maaf sayang, maaf banget aku tidak bisa menemanimu sampai acara selesai!” jelas Abizar seperti orang kesakitan.
“Sayang kamu bercanda kan, acara mau mulai loh. Aku mau kamu temani aku tiup lilinnya!” jelas Jassy.
“Aku beneran sayang, mamaku sakit aku harus pulang. Sekarang aku sedang dijalan!” jelas Abizar.
“Kamu jahat!” jelas Jassy kesal.
“Sayang, aku mohon kau mengerti!” pinta Abizar.
“Baiklah, aku paham. Mungkin aku yang tak penting!” jelas Jassy menurut telepon tanpa pamit pada Abizar.
“Hahahahahhaha....... Gitu juga ya orang lagi kasmaran!” tawa Rayna pada Abizar setelah mengetahui Jassy marah.
“Hiya.... kenapa kau menertawaiku, seperti kau tidak saja sama kekasih rubah mu itu!” teriak Abizar melirik Rayna.
“hahahhahaha..... Maaf ya, walaupun seperti ini hatiku tak pernah ternodai dengan namanya pacaran!” jelas Rayna kesal.
“Hahahahahha, jangan-jangan kau telah melakukan sesuatu pada rubah itu!” jelas Abizar lagi.
“Aish.... Terserah kau saja!” jelas Rayna tak ingin memperpanjang masalah.
Jassy terlihat sedih mendengar kabar dari Abizar, padahal ia sangat berharap Abizar ada disisinya apa lagi malam ini adalah malam terakhirnya di Indonesia dan juga bersama Abizar.
“Kenapa semuanya tak sesuai harapan?” tanya Jassy pada dirinya sendiri.
Gavin berdiri sendiri di kejauhan Jassy serta meminum minuman yang ia ambil tadi.
“Dimana wanita bersama mu tadi?” tanya papa Gavin berdiri disamping Gavin.
“oh dia ada urusan mendadak pa, jadi aku suruh di pulang saja!” jawab Gavin kaget melihat kedatangan Papanya.
“He..... Dia tidak pantas untukmu Gavin, papa yakin dia tidak mencintaimu!” jelasnya membuat Gavin terperanjat.
“apa yang papa maksud?” tanya Gavin sedikit berteriak. “Kami sudah berteman hampir 9 tahun pa, mana mungkin kami tidak saling mencintai!”
“berteman lama bukan berarti cinta, papa minta kau turuti apa yang papa pinta. Wanita yang papa maksud lebih dari temanmu itu, dia wanita karir, cantik dan pekerja keras!” jelasnya melirik Gavin.
“Aku tidak mau, titik!” jelas Gavin beranjak pergi.
“Mau kemana kau?” tanya papanya.
__ADS_1
“Aku mau pergi!” jawab gavin berhenti sejenak***.