
Napas Rayna memburu ketika tiba dalam mobil sport milik Abizar, matanya menjurus ke depan agar tidak terlalu canggung.
"Apa kau senang, ketika 2 rubah itu merebutkanmu?" tanya Abizar santai.
Rayna diam tak mengubris Apa yang dikatakan Abizar, ia sangat tahu endingnya pasti Abizar menganggap ia adalah wanita murahan.
"Datang saja ke Club, pasti banyak pria tampan kalau keduanya bukan tipemu " jelasnya basa basi.
ia membuka tasnya dan mengambil buku untuk ia baca, dari pada mendengar Abizar yang tak bermanfaat untuk pikirkan.
"Apa kau tipe wanita mencari harta seperti papamu?" Tanya Abizar membuat Rayna berhenti membaca.
"Aku rasa itu bukan urusanmu" jawab Rayna sekilas memandang Abizar.
"hahaha, aku sungguh tidak sabar menunggu kehancaran mu di depan keluargaku dan hidup bebas bersama orang yang aku cintai!" jelas Abizar terlihat kesal.
"benarkah? Aku harap ketika waktu itu tiba, kau tidak mencintaiku" jawabnya dengan santai masih fokus dengan buku bacaannya.
"Kau pikir aku tertipu seperti 2 rubah temanmu itu, kau pikir semua orang menyukaimu?" Teriak Abizar.
__ADS_1
"Baiklah, Aku tunggu waktunya tiba!" jawabnya santai.
selang 19 menit tibalah Rayna dan Abizar di rumah Abizar, dengan malas keduanya keluar menuju kamar.
Rayna langsung mengganti baju rumahnya dan Abizar ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rayna berdiri di balkon kamar menatap jalan raya yang mana senja mulai menyambut manusia bertanda siang telah usai.
"Papa apa benar kau menjualku? kenapa kau menghilang tanpa pamit?. apa aku tidak penting bagimu?" Benak Rayna tersenyum nenar memandang senja.
"Mama, Papa telah berubah, Papa bukan Papa yang dulu yang hangat sejak mama pergi!" Benaknya lagi. "hatiku tawar, tak tau apakah aku sedih ataukah bahagia, apa qku kecewa atau senang ketika sendiri!". lalu Rayna beranjak ke kamar mengambil sesuatu di tas dalam lemari, lalu memakannya dengan segelas air putih.
"Apa kau sakit?' Tanya Abizar keluar kamar ganti dengan telanjang dada.
Abizar terlihat semakin kesal dengan sikap dingin Rayna semakin menjadi-jadi. kadang ia berpikir Apa dia kurang tampan? apa dia kurang kaya? sehingga wanita menyebalkan yang statusnya sebagai istrinya menolak kehadirannya mentah-mentah.
Tidak membutuhkan waktu lama, Rayna sudah terlelap dalam mimpinya berkat obat yang ia minum tadi. Dunianya hancur begitu saja, tanpa satupun orang tahu, maka dari itu ia menutup diri pada siapapun, bahkan Gavin yang hampir 9 tahun bersamanya tak pernah tahu bagaimana sisi gelap kehidupannya.
Abizar memandang wajah Rayna Lekat berjongkok didepan sofa, ia memandang hidung mancung Rayna lalu turun ke bibir pink yang selalu menggodanya. "Sial, Kenapa aku selalu hilang kendali!" Jelasnya Frustasi. "Tidak, aku tidak boleh goyah, Jassy lebih cantik, lebih mempesona, lebih sexy!" mata Abizar turun melihat dada Rayna yang menurutnya pas ditangan.
"Aishh....." Abizar langsung naik ke ranjang takut hilang kendali.
__ADS_1
-
Dikediaman Gavin, ia duduk di meja belajar seraya membuka kotak yang selalu ia jaga sejak smp, sesekali ia tersenyum, sesekali ia terlihat sedih. Ia begitu ingat, bagaimana saat itu perjuangannya agar bisa berteman dengan Wanita yang telah lama mengisi hatinya itu. Sejak pertemuan pertama, menurutnya Rayna adalah wanita yang terlahir untuknya, memiliki kepribadian dan hobi yang sama.
Dalam kotak itu, terdapat foto-foto kebersamaan keduanya.
"Gavin!" Panggil papanya dari luar kamar membuat Gavin tersadar lalu membuka pintu.
"iya!" jawabnya.
"bersiaplah, Papa ada pertemuan dengan teman Papa yang Papa jelaskan tempo hari!" jelas papa menuntut.
"pa, sudah aku jelaskan. aku tidak akan menerima perjodohan itu, lagi pula aku sudah punya perempuan yang aku cintai!" jelas Gavin menutup pintu dengan kasar.
"berhenti membangkang Gavin, ini semua demi kebaikanmu!" jelas papa tak kalah sengit.
Gavin mengunci pintu, lalu menggunakan handseet mendengar musik dengan volume kencang. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran papanya yang selalu memikirkan tentang keuntungan.
"Rayna, Secepatnya kita akan bersama!" benaknya.
__ADS_1