Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Pernikahan


__ADS_3

“***Halah... Palingan perjodohan ini akal-akalan mu mau jadi menantu keluarga kaya, sehingga kau bisa bersenang-senang!” Jelas Abizar kesal akan jawaban Rayna.


“Terserah, selagi ucapan kau tak merugikanku aku tidak peduli!” Jawab Rayna mengeluarkan bukunya dari dalam tas untuk membaca.


“Aku tidak habis pikir, jika tidak kenapa kau menerima perjodohan ini? Seharusnya kau tolak!” Jelas Abizar lagi.


Tanpa bergeming Rayna tetap fokus ke bacaannya.


Sebelum gerbang kampus, Abizar menurunkan Rayna agar tak diketahui banyak orang. Abizar dan Rayna telah sepakat tidak ingin diketahui orang bahwa mereka ada hubungan lain, apa lagi jika teman-teman Abizar tahu tentang semua ini, bisa-bisa Abizar di Skak matt Adim. Karena dulu, Abizar sempat bersumpah tidak akan mau berurusan dengan Rayna karena perkara Abizar sempat meminta bantuan pada Rayna, tapi Rayna menolaknya mentah-mentah.


Abizar mempunyai dua teman akrab dia adalah Adim dan Erico.


Lama waktu terus berjalan, tak terasa hari yang paling Rayna tak inginkan tiba. Ya, hari itu hari pernikahannya pada Abizar, rumah telah dipenuhi dekorasi dengan bunga-bunga yang sangat menjijikkan bagi Rayna.


Rayna di rias dengan maksimal mungkin, dengan rambut disanggul membuat Rayna risi karena sebelumnya ia tak pernah berdandan kecuali ke pesta, itu saja sangat jarang bahkan bisa dibilang tak pernah.


“Nona sangat cantik!” jelas tata Rias melihat Rayna yang melamun memandang cermin. “Tapi apakah nona bisa melepas behel nona?” tanya tata rias membuat Rayna sadar dari lamunannya.


“tidak, aku menyukai apa yang telah aku pilihkan!” jawab Rayna santai.


“Oh, baiklah nona. Tunggu di sini sebentar, tinggal nunggu panggilan dari orang tua nona!” jelas tata rias.


“Ya!” jawab Rayna masih dalam lamunannya.


Pernikahan Rayna dan Abizar memang tidak mewah karena yang diundang adalah keluarga terdekat saja sebagai saksi, itu adalah permintaan kedua mempelainya. Awalnya papa Abizar ingin mempublikasikan ke stasiun tv, tapi karena alasan Abizar sangat meyakinkan sehingga ia ikuti saja apa kemauan putranya.


“Saya nikahkan Rayna Nicholas binti Andreanata dengan maskawin seperangkat alat sholat dan Mas 20 gram dibayar tunai” ucap Abizar membuat hati Rayna semakin hancur, sekarang statusnya bukan lagi lajang tapi menikah, tak terasa air matanya jatuh membasahi wajah cantiknya itu.


“Bagaimana semuanya sah?” tanya penghulu.


“Sah!” jawab seisi ruangan itu senang kecuali Abizar dan Rayna yang masih tenggelam dengan pikiran masing-masing.


Abizar memasang cincin ketangan Rayna begitu pula dengan memasang cincin pada Abizar layaknya pernikahan orang yang saling mencintai.


“Alhamdulillah, amanah mama dan papa sudah terlaksanakan” benak papa Abizar senang.


Semua tamu undangan makan makanan yang telah disiapkan keluarga Rayna, sehingga kini tinggallah Abizar dan Rayna duduk di sebuah meja yang sama. Tatapan keduanya sama-sama tajam, seakan-akan ingin membunuh.


“Jangan harap aku bisa mencintaimu! Bukankah kau tahu sendiri? Aku sudah punya kekasih yang lebih darimu!” jelas Abizar tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“aku tidak peduli!” jawab Rayna dingin memandang Abizar.

__ADS_1


“Baguslah, setelah menikah kita akan ke apartemenku dan kembali bebas seperti semula. Ingat, jangan harap aku bisa mencintaimu!” jelas Abizar lagi.


“ok!” jawab Rayna singkat beranjak pergi dari depan Abizar.


“Hei, mau kemana kau? Apa kau tak lihat tamu undangan tak henti memandang kita?” tanya Abizar mengecilkan suaranya.


“bukan urusanku!” jelas Rayna berlalu pergi.


“Cih.... Menyebalkan!” jelas Abizar kesal.


Setelah semuanya telah pulang, Rayna sibuk membersihkan rumah bekas dekorasi dari pernikahannya tadi dengan dibantu beberapa pembantu serta tenaga kerja suruhan papanya. Sedangkan, Abizar telah istirahat dikamar Rayna untuk malam ini saja, karena ingin ke apartemen malam ini takutnya, papa Rayna curiga mereka tak menghargai pernikahan.


“kenapa kau melakukan ini nak? Ayo pergi istirahat!” pinta papa melihat Rayna membersihkan lantai.


Rayna tak bergeming masih menyapu.


“Cepat istirahat, ingat kamu sudah punya suami. Jangan merasa seperti belum menikah!” pinta papa seraya mengambil air minum.


Tak ingin mendengar terlalu banyak ocehan papanya, Rayna pergi menuju kamar untuk istirahat.


Saat masuk kamar, Rayna di kejutkan Abizar sedang berbaring di tempat tidurnya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rayna kesal melihat Abizar semena-mena di kamarnya.


“Cepat turun! Aku ingin istirahat, kau bisa tidur di sofa” pinta Rayna kesal tak ingin melihat Abizar di sana.


“Tidak. Tidak ada kamusnya Abizar Pramana tidur di Sofa!” jawab Abizar semakin menguasai tempat tidur Rayna yang agak kecil.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat benci dengan keadaan seperti ini? Aku tidak bisa tenang jika rubah ini di kamar ku. Oh tuhan, cobaan apa lagi ini?” benak Rayna masih berdiri memandang Abizar yang menyebalkan.


“Baiklah, aku akan tidur di sofa. Ingat, jangan ada suara saat tidur!” jawab Rayna mengalah dan tak ingin berdebat.


“Anak pintar!” jawab Abizar merasa menang menaklukkan wanita yang terkenal acuh tak acuh ini.


Rayna meraih bukunya di atas meja rias, karena seharian ia tak sempat membaca novel yang baru ia beli dengan judul “Benci dan cinta” baru ia buka satu halaman, Abizar mematikan saklar lampu tidur sehingga ruangan itu gelap.


“kenapa kau mematikan lampunya?” tanya Rayna kesal melihat ke arah Abizar.


*Sudah tahu aku ingin tidur, masih saja bertanya. Tidak lihat apa?” jawab Abizar tambah kesal.


“Hidup kan lampunya, aku tidak bisa tidur di kegelapan!” jelas Rayna menghidupkan senter handphone-nya.

__ADS_1


“Itu derita kau, pokoknya aku ingin tidur dengan lampu di matikan. Jangan ganggu aku!” jelas Abizar memejamkan matanya.


“Minggir” Rayna menarik kaki Abizar hingga Abizar turun dari ranjang.


“Hei.. apa yang kau lakukan, apa kau tak lihat aku sangat lelah!” teriak Abizar.


“ingat ini kamarku, jangan kau semena-mena!” jelas Rayna menumpas tubuhnya ke ranjang lalu menghidupkan saklar lampu.


“Kamar sempit ajah pelit, aku juga tidak mau tidur di sini kalau tidak terpaksa!” jawab Abizar kesal.


“Tidur di sofa sana, aku tidak ingin melihatmu mataku sakit!” pinta Rayna dingin tapi penuh arti.


“Tidak. Kau tahu tidak kan?” jawab Abizar ingin naik ke atas ranjang.


“Apa yang kau lakukan? Jangan berani-berani mendekati ku!” teriak Rayna melotot Abizar.


“Terserah, aku mau tidur di sini! Jika kau tidak suka ya sudah, kau boleh tidur di sofa!” jelas Abizar merebahkan tubuhnya disamping Rayna.


“Yas sudah, ambil saja ranjangku” jelas Rayna Tanpa memandang Abizar turun dari ranjang.


“Terima kasih Rayna pacarnya Gavin!” jelas Abizar tersenyum kemenangan. ‘kau itu sangat baik!”


Rayna mencoba memejamkan matanya tanpa peduli dengan apa yang Abizar katakan.


Keesokan harinya, bunyi kicauan burung yang merdu membangun Rayna dari alam mimpinya. Ia bangun langsung saja menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu ia keluar rumah seperti biasanya untuk olahraga pagi.


Tubuhnya merasa sangat berat karena sudah 3 hari ini ia tak olahraga, lebih tepatnya ketika ia mendengar berita tentang Perjodohannya pada Abizar.


Rayna berlari di sekitar rumahnya, serta dengan pakaian olahraga lengkap. Dengan celana sepaha, baju hanya menutupi daerah sensitifnya sehingga perut langsingnya kelihatan indah, juga dilengkapi sepatu serta handuk kecil.


“kenapa tubuhku merasa sangat lelah? Apa karena sudah 3 hari ini aku tidak olahraga?” benak Rayna berlari seperti biasanya.


Sekitar pukul 7:30 Abizar bangun dari tidurnya, langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka lalu turun dari kamar Rayna untuk makan.


Ia lihat rumah terlihat sangat sepih, tidak seperti rumahnya yang heboh jika pagi hari.


“Rayna di mana Bi?” tanya Abizar minum air putih.


“nona Rayna, olahraga seperti biasanya tuan!” Jawab bibi masih sibuk mencuci piring.


“Papa mana?” tanya Abizar lagi, sungguh berat baginya untuk mengucapkan papa pada Papa Rayna.

__ADS_1


“Tuan besar sudah berangkat tuan, katanya ada urusan mendadak!” jawab bibi.


“Oh iya Bi!” jawab Abizar duduk dimeja makan***.


__ADS_2