Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Apa kau kekasih Rayna?


__ADS_3

***Abizar menunggu Rayna makan, Rayna makan dengan cepat layaknya ada orang yang ingin merebutkan makanannya,


“Kenapa kau begitu bodoh sih?” Tanya Abizar kesal melihat Rayna makan.


Tanpa menjawab Rayna terus melanjutkan makannya.


“kau aneh sekali, wanita macam apa kau!” Jelas Abizar kesal melihat Rayna makan membuat ia merasa malu karena orang disekitarnya banyak mengalih pandang.


“kenapa makanan ini enak sekali!” Jelas Rayna menghentikan makannya.


“Ini tidak gratis ya!” jelas Abizar kesal.


“Aish..... Kau pelit sekali, calon mantan suamiku!” goda Rayna tersenyum menampakkan kedua baris behel giginya.


“Kenapa dia manis sekali sih!” benak Abizar.


“Au.... Kenapa perutku sakit sekali ya!” jelas Rayna memegang perutnya.


“Hiya.... Apa-apa kau ini? Apa kau mau memalukanku?!” tanya Abizar melotot.


“Ayo pulang, jangan memintaku naik taxi, perutku sakit!” jelas Rayna mencari alasan agar dia tak naik taxi karena hari menjelang tengah malam.


“merepotkan!” jelas Abizar berdiri dan diikuti Rayna.


Lama waktu berjalan tak terasa seminggu telah berlalu tapi hubungan keduanya masih saja hambar tak ada perubahan layaknya sih kucing dan tikus.


Pagi itu, seperti biasanya Abizar berangkat lebih awal dari Rayna. Itu adalah kebiasaannya sebelum masuk kelas ia bisa ngobrol terlebih dulu pada Adim dan Erico, meskipun isi obrolannya kadang tak bermanfaat.


“Bi, nanti malam kita ke bar ya. Aku tunggu!” jelas Adim.


“Aku tidak bisa, nanti malam aku harus pergi ke pesta ulang tahun Jassy!” jawab Abizar.


“Aish... Apa kau tak mengundang kami?” Tanya Erico.


“Kalian datang aja, di hotel C. Akulah yang mendekorasi dan menyiapkan pesta ulang tahun itu!” jawab Abizar santai.


“Baiklah, aku akan membawa kekasihku!” jelas Adim.


“Jangan lupa bawa Rayna ya!” pinta Erico.


“Aish..... Aku tidak mau pesta ulang tahun Jassy rusak karena wanita itu!” jawab Abizar kesal.


“Hiya, dia itu cantik dia takkan memalukan!” jelas Erico cepat.


“Merusak pandangan tau tidak!” jawab Abizar berlalu menuju kelas.


“Aku akan mendekati Rayna, aku akan memintanya mengajariku berbahasa Jerman. Aku sudah melihat biodatanya, dia itu kelahiran Berlin!” jelas Erico mengejar Abizar dan Adim.


‘oh my God aku sampai lupa, bagaimana ini? 5 hari lagi kita kedatangan pembisnis muda dari Berlin!” jelas Adim menepuk jidatnya.


“Aish.... Kenapa bisa lupa sih?” tanya Abizar terlihat Lela.


Sekitar pukul 11 siang.

__ADS_1


Dikelas, Rayna fokus dengan materi yang diberikan dosennya tadi, agar cepat selesai. Tepat jam 11. 30 tugas itu harus telah terkumpul dan dikirim ke via email dosen walaupun belum selesai.


“Aku harus bisa, 4 bulan lagi akan selesai kuliahku dan aku harus meraih nilai tertinggi agar aku bisa langsung bekerja!” benak Rayna mengisi soal-soal di layar komputer yang tersedia di mejanya.


Istirahat telah tiba, Rayna meletakkan kepalanya di atas meja karena merasa pusing, mengisi soal-soal dengan IQ tinggi.


“Kepalaku sungguh pusing!” jelas Rayna.


Gavin keluar kelas untuk membeli minuman di kantin kampusnya, ia yakin Rayna pasti haus. Hari ini Diolay kebetulan tidak masuk karena ada urusan keluarga membuat hati Gavin tenang, sungguh ia tak menyukai Diolay seolah-olah menjadi saingannya dalam memenangkan hati Rayna.


Tibanya Gavin dalam kantin atau sejenis kafe, langsung saja ia menuju kulkas minuman.


“Aish... Kenapa ada 3 rubah ini sih?” benak Gavin melihat ada Abizar dan kedua temannya didepan kulkas, kebetulan ketiganya membeli minuman juga.


“awas!” pinta Gavin tanpa memandang ketiga rubah baginya itu.


“he....” sinis Abizar memandang Gavin kesal. “Berani sekali rubah ini!” jelas Abizar.


“Aku tidak ingin bermasalah pada kalian, awaslah!” pinta Gavin namun dihadang tangan Adim dan Erico.


“Berani sekali kau. Kau menantang kami?” tanya Adim melirik Gavin dengan pandangan merendah.


“Apa kau kekasih Rayna?” tanya Erico membuat Adim dan Abizar melirik arah Erico.


“Kalau iya kenapa?” jawab Gavin menantang.


“berani sekali kau, mengambil sesuatu milikku!” tantang Erico menatap tajam Gavin.


“Milikmu.... Hahahahahhaha..... Rayna tak pantas untuk kau, apa lagi berteman dengan rubah seperti kalian bertiga ini!” jawab Gavin beranjak pergi, lagi-lagi Gavin ditahan tapi kali ini yang menahannya Abizar.


Bughhhh..... Abizar meninju perut Abizar dengan tangannya.


“Beraninya kau?” teriak Gavin bangun dan ingin membalas Abizar.


Semua mahasiswa di kantin jadi kaget dan mendekat kejadian itu, tak ada yang berani melerainya karena mereka tau sendiri bagaimana Abizar. Kejadian itu terdengar ke telinga Rayna dari teman kelasnya, tanpa aba-aba lagi Rayna berlari menuju kantin.


Gavin telah dilantai. Hidungnya keluar darah sedangkan wajah telah lebam dan membiru sedangkan Abizar ada sedikit gores di wajahnya karena kena kuku Gavin tadi.


“Apa-apaan ini?” tanya Rayna langsung berjongkok menuju Gavin.


“Aku tidak apa-apa Ray, jangan khawatir!” jelas Gavin dengan nafas tersengal-sengal.


“Tidak apa-apa apanya lebam begini?” teriak Rayna berdiri menatap Abizar. “Pria tidak berperikemanusiaan kau, bisa-bisanya menindas orang lemah lantaran kedudukanmu disini!” tunjuk Rayna.


“Hehehheeh..... pahlawan kesiangan, wanita ******!” teriak Abizar kesal dengan sinis.


Parr........ Rayna menampar Abizar dengan kencang “kau tidak bedanya dengan iblis, kau pikir aku takut dengan kedudukanmu itu, tidak....!” jelas Rayna tajam “dan Kalian, hehehehehe bodoh!” jelas Rayna menatap Erico lalu Adim.


“Berani sekali kau mempermalukanku!” jelas Abizar memegang tangan kanan Rayna lalu menatapnya tajam.


“Apa? Mau meninjuku? Silakan aku tidak takut dengan manusia sepertimu!” jelas Rayna menatap Abizar tak kalah tajam.


“kenapa hatiku deg-degan gini sih?” benak Abizar kesal.

__ADS_1


Gavin berusaha berdiri ingin mengajak Rayna pergi dari sana, Abizar mendorong Rayna, tapi keduluan Gavin menarik Rayna kepelukkannya sehingga Rayna tak jadi jatuh, kejadian itu membuat hati Abizar panas layaknya air menggelegak.


“Apa kau tak apa-apa?” tanya Gavin menatap Rayna.


“Lepaskan!” pinta Rayna menjauh dari Gavin. “Ayo kita ke UKS, biarkan aku obati lukamu!” jelas Rayna berlalu meninggalkan kerumunan itu tanpa rasa bersalah.


Abizar masih menatap kepergian Rayna dengan tajam. “Berani sekali dia memalukan aku! Tunggu kau dirumah nanti!” benak Abizar.


“Kenapa kalian masih berkumpul disini, pergi!” teriak Abizar sehingga mahasiswa yang tadi berkumpul dan menonton kejadian pertengkarannya pada Gavin bubar.


“Kau tidak apa-apa Bi?* Tanya Adim.


“Aku ingin pulang!” jawabnya dingin berlalu begitu saja.


“dia kenapa?” tanya Erico.


“Entahlah!” jawab Adim mengangkat kedua bahunya lalu mengikuti jejak Abizar.


“Selalu saja aku yang ditinggalkan!” jelas Erico mengejar kedua temannya.


Di UKS.


Rayna mengobati lebam di wajah Gavin sedangkan Gavin setia menatap Rayna sesekali tersenyum lirih. Hati Rayna masih menggebu-gebu dengan kejadian tadi.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Rayna duduk di samping ranjang UKS.


Gavin menceritakan semuanya dari awal hingga terjadi perkelahian.


“Aish..... Kenapa kau mengatakan ia rubah? Ini salahmu!” jelas Rayna kesal.


“dia yang memulainya!” jawab Gavin dengan sungguh-sungguh.


“Seharusnya kau berpikir, kau Tahukan dari SMA dia selalu menindas kita. Jadi jangan Melawani iblis itu!” jelas Rayna memandang Gavin.


“iya!” jawab Gavin. “Oh iya Ray, nanti malam jadi kan?”


“Dalam keadaan seperti ini saja, kau masih memikirkan pesta itu!” jelas Rayna.


“Aku tidak bisa tidak menghadirinya Ray, aku mohon!” pinta Gavin.


“Tapi kau itu sakit Gavin!” jelas Rayna penuh dengan penekanan.


“Plis Ray, aku tidak apa-apa jangan khawatir!” jawab Gavin “aku jemput kau pukul 8!”


“Tidak usah, kau tunggu saja aku depan kampus. Aku akan datang!” jelas Rayna dengan cepat.


“Kau kenapa sih selalu menolak aku ingin menjemput dan mengantarmu?” Tanya Gavin.


“Mau aku datang apa gak?” tantang Rayna.


“Baiklah!” jawab Gavin cepat. “Ray, jawab aku jujur apa benar dia sepupumu?’


“I...iya dia sepupuku, kenapasih bahas itu lagi?” jawab Rayna gugub.

__ADS_1


“Kenapa dia seperti itu padamu jika kau sepupunya? Emang sepupu dari mana?” tanya Gavin kritis.


“Dari papaku, papa Abizar adek papaku dari Jerman!” jelas Rayna cepat. “Sudahlah! Aku mau kekelas!” jawab Rayna mengalih perkataanya***


__ADS_2