
“***Tidak, aku tidak tertarik!” Jawab Abizar dingin.
“Lalu kenapa kau melarangku? Ingat ya, kita sudah berjanji agar tidak saling ikut campur urusan pribadi!” Jelas Rayna tetap menghadang Abizar.
“Awas aku mau istirahat!” Jelas Abizar menangkis tangan Rayna menahannya.
“Abizar, ayo kita makan malam bersama. Aku traktir kau!” Pinta Rayna membujuk Abizar.
“Tidak, aku sudah makan. Tidurlah!” Pinta Abizar menuju kamarnya.
“Abizar.....!” Panggil Rayna mengejar Abizar. “Lihat mataku!” Pinta Rayna mengeluarkan jurus PHP nya.
“Kau pikir aku sebodoh Erico termakan dengan perkataanmu!” jelas Abizar.
“Abizar, ayolah. Apa kau tau Gavin dan Diolay pasti telah menungguku. Aku tidak tega melihatnya dan aku tidak mau mereka kecewa!” jelas Rayna memohon. “Aku terpaksa mengorbankan harga diri, kenapa sih pria ini melarangku?” benak Rayna.
“Tidak, aku bilang tidak ya tidak!” jawab Abizar menutup pintu kamarnya tersenyum licik.
“harus apa aku?’ benak Rayna seraya berpikir.
“Abizar ganteng!” panggil Rayna dengan lembut dari luar kamarnya.
“pergilah ke kamarmu, aku ingin istirahat!” teriak Abizar.
“Aish.... Menyebalkan!” jelas Rayna mengutuk lalu masuk kamar Abizar.
“Apa-apaan kau? Masuk kamar orang tanpa izin!” teriak Abizar memandang Rayna.
Rayna menatap Abizar tajam lalu mendekati pria itu, sehingga Abizar menjauh.
“Ada apa denganmu? Hiya!!” teriak Abizar kesal.
“Ayolah Abizar, jika tidak aku akan menerkammu!” tantang Rayna berjalan layaknya zombi.
“Hahaahahhah...... Emang kau tidak takut padaku?” tanya Abizar tergelak membuat Rayna berhenti menjalankan aksinya.
“Baiklah jika kau tidak mau, aku akan mengirimkan fotomu bermesraan dengan Jassy pada mama!” jelas Rayna mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.
“Hiya... Menantangku?” teriak Abizar.
“Iya, kenapa?” Teriak Rayna.
Abizar menarik nafas dengan kesal. “Baiklah aku mengizinkanmu pergi, dengan syarat aku ikut denganmu!” jawab Abizar.
“Baiklah, ayo. Tapi didepan temanku bagaimana?” tanya Ryana.
“Aish..... Katakan aku ini sepupumu seperti pada Jassy!” jelas Abizar kesal.
“Tidak, aku akan katakan bahwa aku menemuimu dijalan dan kau tersesat!” jelas Rayna beranjak keluar kamar Abizar “aku tunggu didepan!”
“Menyebalkan!” gerutu Abizar mengganti pakaiannya.
Keduanya pergi ke kafe yang telah dijanjikan ia pada kedua temannya tadi siang, sesekali Abizar melihat arah Rayna dengan kesal.
“Kenapa aku ikut sih? Ini sama saja menjatuhkan harga diriku!” benak Abizar ikut masuk kafe.
“Ah itu mereka!” tunjuk Rayna menuju kursi kedua temannya.
“Aish.... Kenapa aku bertemu dua rubah ini sih?” benak Abizar melirik Gavin dan Diolay dengan tak suka.
“Apa kalian sudah lama?” tanya Rayna.
“Kau tau aku hampir satu jam menunggu!” jawab Gavin merasa kecewa.
__ADS_1
“Jangan percaya Ray, dia baru tiba. Akulah yang setia menunggumu disini!” jawab Diolay.
Belum sempat Rayna menjawab perkataan kedua temannya itu, Abizar langsung duduk disamping Rayna dengan Hoodie sehingga kepalanya tertutup membuat Gavin tidak mengenali Abizar.
“Hei... Siapa kau? Beraninya kau duduk disebelah Rayna?” tanya Gavin penasaran ingin tahu siapa disamping Rayna.
“Kenapa?” tanya Abizar membuka Hoodienya membuat Gavin terkejut bukan main.
“Hei rubah, kenapa kau kesini? Cepat pergi!” teriak Gavin.
“Gavin... Sudahlah dia sepupuku!” jelas Rayna melerai.
“Sepupu?” ulang Gavin tak percaya.
“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Diolay memandang Abizar.
“Sudahlah.... Kita datang kesini untuk makan malam, kalau kalian ribut terus aku pulang!” jelas Rayna.
“Jangan Ray!” tahan keduanya.
“Aish....” benak Abizar kesal “kenapa aku kesini sih?”.
Tak berapa lama tibalah pelayan dengan membawa daftar makanan. Rayna mengambil daftar itu.
“Sebentar ya mbak!” pinta Rayna pada pelayan itu.
“Siap!” jawabnya.
“Gavin kau makan apa?” tanya Rayna ingin menulis daftar makanan.
“Terserah kau saja, pasti aku makan!” jawab Gavin.
“Hiya, yang mau makan kau! Kenapa aku?” tanya Rayna kesal.
“Ok. Dan kau Diolay makan apa?” tanya Rayna memandang Diolay.
“Samakan saja sepertimu!” jawab Diolay cepat.
“Baiklah, dan kau?” tanya Rayna melirik arah Abizar.
“Samakan saja!” jawab Abizar dingin.
“Baiklah!” jelas Rayna menulis makanan yang ia pesan lalu memberi daftar makanan itu kepada pelayan kafe.
“Setelah ini kita kemana Ray?” tanya Gavin.
“Pulang!” jawab Rayna dingin.
“Ray jarang loh kita keluar seperti ini, bagaimana kita ke suatu tempat kayak nonton bioskop gitu!” sambung Diolay.
“Hei... Rayna tidak menyukai tempat seperti itu, setelah ini kalian berdua silakan pulang aku dan Rayna akan ke tempat seperti biasanya kami kunjungi!” jelas Gavin.
Abizar hanya diam fokus ke handphonenya, meskipun ia tauh apa maksud dari kedua rubah didepannya itu.
“Tidak, Rayna akan bersamaku. Hei Gavin kau harus ingat, akulah yang mengajak makan malam!” bantah Diolay.
“Setelah ini, aku dan Rayna akan pergi ke danau tempat biasanya kami kunjungi, melihat bintang yang indah dan bernyanyi bersama!” jelas Gavin membuat kepala Rayna pusing melihat keduanya selalu ribut.
“Rayna tidakkan mau, aku yakin itu!” Jelas Diolay melotot arah Gavin.
“Kenapa dua rubah ini bodoh sekali sih. Aish.... Kenapa hatiku deg-degan gini sih!” benak Abizar.
“Kalian bisa diam tidak sih?” tanya Abizar kesal.
__ADS_1
“Diam!” tutur Gavin dan Diolay bersamaan.
“Gavin, Diolay, sudahlah aku pusing tahu gak! Setelah ini kita pulang, tidak ada jalan-jalan!” jelas Rayna.
“Aku yang antar!” jawab Gavin dan Diolay bersamaan.
“Tidak... Tidak usah, aku naik taksi saja!” jelas Rayna gugup.
“Ray, kita sudah lama berteman, jadi akulah yang akan mengantarmu, bukan dia maupun dia!” jelas Gavin menunjuk Diolay lalu Abizar.
“Hiya,, aku juga berhak!” teriak Diolay melotot Gavin.
“Ayo pulang!” pinta Abizar menatap Rayna dengan kesal.
‘tapikan, makanan sebentar lagi!” bantah Rayna.
“Aku tidak ingin mengulangi perkataanku!” jelas Abizar berdiri memandang Rayna lekat.
“Hei.... Apa hak mu atas Rayna, jangan mentang-mentang kau sepupu Rayna kau semena-mena ya, ingat aku tidak akan memaafkan mu rubah kecil!” jelas Gavin penuh dengan penekanan memandang Abizar.
“Ayo pulang!” Abizar menarik tangan Rayna.
“Rayna....” panggil Gavin.
“Kamu sih, buat gara-gara terus. Kau tau aku sangat menantikan ini?” jelas Diolay kesal.
“Heii... Jangan-jangan kau juga mencintai Rayna!” jelas Gavin kesal.
“Iya, kenapa?” tanya Diolay menantang.
“Tidak bisa, wanita masih banyak diluar sana. Hanya boleh aku mencintainya, paham!” jelas Gavin beranjak pergi.
“Aish...” jelas Diolay juga beranjak pergi.
Jujur Rayna sangat kesal dengan tindakan Abizar padahal ia sangat lapar.
“Ada apa dengan mu?” tanya Abizar melihat raut wajah Rayna terlihat pucat.
“Tidak!” Jawab Rayna gengsi mau mengatakan yang sebenarnya.
“Baiklah!” jawab Abizar acuh tak acuh. “Jangan ke gr-an aku pergi bersamamu hanya semata tak memintamu mengirimkan foto itu!” sambung Abizar.
“Apa aku boleh minta tolong!” pinta Rayna yang sudah tak bisa menahan laparnya.
Abizar menatap raut wajah Rayna yang lesu dan sayu “apa?” tanyanya keheranan.
“Aku lapar!” jelas Rayna meluruskan perkataannya meskipun sangat sulit ia katakan.
“Bodoh, kenapa kau tidak bilang sih?” teriak Abizar menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi mencari restoran terdekat.
“aku tidak ingin berdebat, aku mohon bantulah aku. Aku mengidap penyakit maag, aku takut nanti tambah parah!” jelas Rayna lesu.
Tampak panik di raut wajah Abizar hingga ia temukan restoran,
“Ayo turun!” pinta Abizar keluar dari mobilnya membuka pintu mobil arah Rayna.
Rayna turun dengan lesu dibantu Abizar masuk ke restoran.
“kau duduk disini, biar aku pesan makanan!” jelas Abizar berlari menuju tempat pemesanan.
“Buatkan makanan termahal dua porsi, cepat!” pinta Abizar seraya berteriak.
Dengan cepat pelayan makanan menyiapkan apa yang Abizar inginkan, restoran yang Abizar singgah itu adalah cabang restoran Papanya, sehingga banyak yang tauh siapa Abizar. Maka dari itu Abizar tidak pernah membawa Jassy kesana.
__ADS_1
Ig : RnaAndsta25***