Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
wanita jalang


__ADS_3

**Sekitar pukul 4 sore, Rayna dan mama pulang dengan membawa baju-baju yang dibelinya tadi. Rayna membawa 6 kantong baju serta dua kantong sepatu dan high’heels. Sedangkan mama Abizar hanya berbelanja 4 buah baju dan sepatu olahraga.


“Akhirnya telah tiba!” Jelas mama Abizar merasa lelah langsung duduk di sofa yang mana telah diduduki Abizar yang sedang menonton.


“Iya ma, ya sudah ma. Rayna ke kamar mau istirahat!” Pinta Rayna melihat-lihat dimana arah kamar yang ingin ia istirahati.


“Ya sudah sayang, kau pasti lelah kan!” Jelas mama.


“Ah tidak juga ma, aku terbiasa olahraga!” jawab Rayna tersenyum dengan menampakkan dua pagar giginya, membuat Abizar tidak berkedip.


“Ya sudah, mama ke kamar dulu ya!” pinta mama berlalu menuju kamar.


“Di mana kamarku?” Tanya Rayna memasang wajah dinginnya.


“Apa kau menyuruhku kena marah mama abis-abisan?” Tanya Abizar mengecilkan suaranya agar mamanya tak mendengar.


“Katakan dimana kamarmu?” tanya Abizar yang tau apa maksud dari perkataan Abizar.


Abizar berdiri menuju kamarnya dan diikuti Rayna. Ya, kamar Abizar dilantai atas paling ujung.


Abizar menarik Rayna kedalam kamarnya dengan kasar, lalu menghempaskan tubuh Rayna ketempat tidur.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Rayna dengan nada berteriak.


“ini pasti sudah kau rencanakan? Kau sengajakan mengajakku kesini agar kau bisa tidur denganku?” teriak Abizar menatap Rayna kesal.


“Kau pikir aku serendah itu!” jawab Rayna menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Halah sudahlah, dari papamu saja menikahkan kau demi harta dan demi status sosial. Apa lagi kau? Kau itu tak bedahnya dengan wanita malam yang menggoda di bar!” teriak Abizar.


“Kau pikir aku tergoda dengan penampilanmu seperti ini? Tidak... Dasar, wanita *****!” jelas Abizar lagi.


Hati Rayna semakin memanas mendengar apa yang Abizar katakan, ia berdiri lalu menuju Abizar sedang berkecak pinggang.


“Apa? Mau melawan? Ini faktanya ya! Aku tidak suka melihat kau mendekati mamaku, aku tahu kau melakukan ini hanya dengan tujuan bisa belanja sepuasnya dan semata-mata karena uang” Teriak Abizar memandang hina Rayna.


Parrrrrkk..... Rayna menampar Abizar dan air matanya tak terbendung lagi, karena ucapan yang begitu pedas itu. “jangan salahkan aku, jika kau mencintaiku suatu saat nanti!” jelas Rayna dingin lalu mengambil tasnya beranjak pergi.


“He.... Berani sekali dia menamparku? Hei..... Mau kemana kau?” Teriak Abizar.


Rayna berlari dengan tergesa-gesa dan menahan air matanya, ia takut mertuanya melihat apa yang telah terjadi.


“Apa yang terjadi pada nona muda?” tanya Bi Ira sebagai ketua pelayan di rumah Abizar, yang melihat Rayna berlari menuju keluar rumah.


“Entahla padahal ia baru pulang dari shoping bersama nyonya besar!” jawab bi Iyam sebagai koki di rumah Abizar.

__ADS_1


“Sudahlah, cepat siapkan makan malam. Nanti keburu malam!” pinta ni Ira.


“Baik mbak Ira!” jawab bi Iyam.


Rayna pergi tak menentu tanpa tujuan layaknya hidup tanpa arah, ia sudah mengira beginilah akhir dari hidupnya karena kecerobohan orang tua yang menjodohkan anak mereka tanpa cinta.


“hiks... Hiks.. mama, kenapa semuanya seperti ini? Kenapa kau membuat amanah seberat ini!” jelas Rayna terus berlari. “Dan papa, kenapa kau tak mengerti perasaanku?”


Rayna terus berlari menuju pusara mamanya kebetulan tidak jauh dari arah rumah Abizar, setibanya di pusara mamanya ia langsung menumpaskan dirinya dan menangis.


“Mama,.... Aku benci dengan kenyataan, kenapa aku harus terikat di status yang takku inginkan?” teriak Rayna masih menangis.


“Mama.... Kenapa tidak aku saja yang pergi, kenapa kau yang pergi. Aku masih butuh kau mama!”


“Aki menderita mama, papa tidak pernah menyayangiku, bahkan setelah aku menikah saja dia tak menghubungi atau menanyakan kabar tentang aku!”.


“Apa yang harus aku lakukan mama?”


“Aku lelah!”.


Abizar merasa bersalah dengan apa yang dikatakannya sehingga Rayna begitu tersinggung, lama sudah ia mondar-mandir memikirkan apa yang harus ia katakan jika mama dan papanya bertanya tentang Rayna.


“Ah, sangat menyusahkan!” jelas Abizar mengambil jaketnya dan kunci mobil lalu turun Kamar. “Tapi aku harus cari dia ke mana? Aku bajakan tidak tahu ke mana dia Pergi!”


“Bi, jika mama dan papa tanya? Katakan aku dan Rayna jalan-jalan laku pulang ke apartemen!” jelas Abizar pergi meninggalkan rumah.


“Sandiwara macam apa ini? Jelas-jelas nona muda tadi menangis! Kenapa tuan muda berbohong?” benak Bi Ira melihat kepergian Abizar.


Abizar membuka handphonenya ingin menghubungi Rayna, tapi ia baru ingat bahwa ia tak punya nomor handphonenya. Tujuan utamanya ke rumah papa Rayna, dengan kecepatan tinggi ia tancapkan gas agar cepat tiba.


Abizar bukan khawatir dengan keadaan Rayna, tapi ia takut papanya marah dan mengambil semua fasilitasnya dan pasti ia akan tinggal di rumahnya bukan di apartemen.


Tiba di rumah papa Rayna, Abizar langsung mengetok pintu rumah dengan tergesa-gesa, ia takut papa Rayna mengadu pada papanya, tak berapa lama pintu rumah dibuka oleh bibi Ina.


“Bi, apa Rayna ada disini?” tanya Abizar panik.


“nona muda tak pernah pulang, seusai menikah tuan! Apa ada yang bisa saya bantu?” jawab dan tanya bibi.


“Oh.... Tidak ada, apa papa ada didalam?” tanya Abizar.


‘tidak tuan muda, tuan besar dari kemarin tidak pulang. Tapi dia baik-baik saja!” jawab bibi.


“oh ya sudah bi, aku pergi!” jelas Abizar menuju pergi, tapi baru dua tapak ia pergi ia memutarkan badannya memandang bibi. “Oh iya Bi, apa kau bisa menelepon Rayna? Soalnya aku meneleponnya tidak diangkat!” pinta Abizar.


“Apa tuan dan nona ada masalah?” tanya Bibi.

__ADS_1


“Tidak bi, kami hanya ada kesalahpahaman saja. Tolong telepon Rayna bi, tapi jangan katakan bahwa aku yang menanya ya!” pinta Abizar.


“Baik tuan!” jawab bibi mengeluarkan handphone bututnya itu, lalu menghubungi Rayna.


Rayna berhenti menangis mendengar dering ponsel dalam tasnya, lalu melihat siapa yang meneleponnya.


“Ya ada apa bi?” tanya Rayna dengan nada suara parau karena terlalu lama menangis.


“Nona dimana nona?” tanya bibi.


“Ada apa bi? Apa papa baik-baik saja?” tanya Rayna merasa panik.


“nona pulang ke rumah dulu malam ini. Bibi mau membicarakan sesuatu tentang tuan besar!” jawab bibi.


“Baiklah bi, aku akan segera ke sana. Aku sedang di jalan!” jelas Rayna berdiri dari duduknya lalu berlari menuju rumahnya. Ia begitu Panik, takut terjadi apa-apa pada papanya, meskipun karena Papanya masa depannya menjadi suram. Tapi, papanya adalah orang yang paling ia sayangi di dunia ini.


“Apa katanya bi?” tanya Abizar.


“Tinggu sebentar lagi tuan, nona akan segera kesini. Dia bilang dia sedang dijalan!” jawab bibi.


“Oh iya Bi, aku mau masuk!” jelas Abizar langsung masuk rumah, tanpa meminta persetujuan bibi.


“Apa ke duanya sudah saling mencintai?” benak bibi memandang Abizar lalu juga masuk dalam rumah.


Rayna masih menangis dan takut terjadi apa-apa pada papanya, apa lagi sebelum ia menikah papanya nampak frustasi dengan perusahaan serta keuangan sudah menipis.


“Papa, tunggu aku.” Jelas Rayna mempercepat larinya.


Selang 15 menit tibalah ia depan rumahnya, ia berusaha menghapus air matanya dan tak ingin tampak sedih depan papa. Rayna langsung masuk rumah, tanpa mengetok pintu.


“Papa...” panggil Rayna melihat sekeliling ruangan Namun tak ia temukan papanya.


Rayna masuk keruangan keluarga, ia lihat Abizar menonton tv dengan santainya tanpa ada rasa salah sedikit pun.


“Sudah tiba?” tanyanya santai.


“Untuk apa kau kesini? Kau bicara apa pada papa ku?” tanya Rayna balik penuh dengan emosi.


“aku takut kau tersesat, jadi aku kesini!” jawab Abizar.


“Tidak tahu malu!” jelas Rayna pergi dari ruangan itu. “papa..” teriak Rayna menuju kamar papanya. “Papa kemana?” Rayna turun kembali menuju dapur, yang mana kamar bibi tidak jauh dari dapurnya.


“Bi, papa kemana?” tanya Rayna mengetok pintu bibi.


Namun tak ada jawaban bibi, membuat Rayna langsung membuka pintu kamar bibi.

__ADS_1


“Bi..” perkataan Rayna terhenti ketika ia melihat bibinya sedang solat***.


__ADS_2