Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Apa dia seorang wanita?


__ADS_3

Abizar tiba di rumah dengan kesal, hatinya terasa tidak rela dan menuntut bahwa Rayna adalah istrinya. "kenapa coba hanya makan malam dia memakai Dress seperti itu, apa dia sengaja untuk menarik perhatian?" Tanyanya pada diri sendiri duduk di atas tempat tidur gelisah.


"dia belum pulang,padahal dia pulang lebih dulu dariku, benar-benar tidak benar!" gerutunya lagi.


ia membuka handphonnya yang sempat ia lempar ke kursi belakang tadi. "Astaga, aku lupa Jassy sedang nelepon tadi!" jelas Abizar frustasi melihat pesan Jassy lebih dari 10 beruntun.


"Sayang kenapa kau tak bersuara?"


"Sayang aku merindukanmu, apa kau tak merindukan aku?"


"Apa kau baik-baik saja? kenapa diam?"


begitulah 3 dari 10 pesan yang jassy kirim.


ia membuka beranda pesan, lalu ada pesan Erico 2 menit yang lalu, ia membukanya dengan kesal. "awas tidak penting!" gerutunya.


__ADS_1


n


"Lihatlah calon masa depanku, aku diam-diam mengikutinya di Istagram selama beberapa tahun ini, tapi ini kali pertama dia mengunggah foto membuatku menyimpannya sebanyak mungkin, kapan mama mu pulang? aku ingin belajar bahasa jerman?"


pesan Erico terhadap Abizar membuat keadaan semakin panas.


"berani-beraninya dia berpose seperti ini?" gerutunya lagi.


Rayna tiba di Apartmen sekitar pukul 10.15 malam, tadi ia singgah membeli buku untuk bahan referensinya, ia begitu Ambisi menjadi seorang duta bahasa dan traslator terkenal dan berguna bagi negara, ya meskipun hidupnya tak punya tujuan untuk bercinta dan berumah tangga, bahkan berhubungan dengan pria tapi ia punya tujuan untuk diri sendiri.


Lampu masih menyala dengan sempurna, berarti belum tidur pikirnya. Kebetulan tadi ia pergi sang mertua dinner bersama teman sosialitanya.


"Apa dia kesini?" Tanya Rayna selidik.


"Tidak nona, tadi bibi ketemu waktu bibi mengantar sampah di depan!" jawab bibi.


"Apa dia seorang wanita?" Selidik Rayna.

__ADS_1


"iya nona, tapi bibi tidak mengenalinya!" jawab bibi seadanya.


Tanpa menghiraukan itu, Rayna mengambil surat itu. Entah mengapa perasaannya jadi tidak enak. Tanpa pamit ia pergi menuju kamar.


Rayna membuka pintu kamar dengan hati-hati, takut sang punya Apartmen terbangun karena biasanya di waktu ini dia sudah tidur. Namun dugaannya salah, pria itu duduk di sofa dengan tangan ia silangkan di dada menatap Rayna intens yang mana Rayna telah memakai Cardingan untuk menutupi tubuh seksinya.


Tanpa menghiraukan itu Rayna menuju lemari untuk meletakkan tasnya serta anting yang ia pakai.


"Berapa kau di bayar?" Tanya Abizar membuat Rayna tidak mengerti.


Rayna berhenti sejenak menatap pria yang menatapnya tajam semakin mendekat. "Apa yang kau maksud?" Tanyanya berpura-pura tidak canggung. Jujur saja sejak ia dan Abizar tidur di kamar yang sama, ia begitu menghindari pria ini karena kapan dan dimana saja bisa membuat ia melemahkan benteng prinsipnya.


"Hahaha Berhentilah berpura-pura polos wanita murahan, berapa kau dibayar om-om itu!" Teriak Abizar menggema di seluruh ruangan membuat ingatan masalalu Rayna kembali berputar, ia takut dengan bentakkan, ia takut, ia haus akan perhatian orang tuanya membuat ia menatap Abizar nanar.


"Apa kau mematai-mataiku?" Tanyanya dengan suara setengah bergetar.


"hahaha, kau pikir aku tidak punya pekerjaan ha!" Abizar kembali berteriak dan mencengkram tangan Rayna kasar. "Beraninya kau mempermainkan aku, apa kau kekurangan uang? apa kau maniak ****?" Rayna tanpa sadar menurunkan air matanya, ini adalah kali ketiga ia menurunkan airmata setelah keputusan perjodohan oleh sang papa. "ha.. jawab!" Teriak Abizar lagi.

__ADS_1


"Kau tidak pernah tauh bagaimana kisahku, jadi jangan ikut campur dengab urusanku!" Jawab Rayna dingin berusaha melepaskan cengkraman Abizar, namun tenaganya kalah jauh dengan pria berahang kasar itu.


Ten


__ADS_2