Dalam Perjodohan

Dalam Perjodohan
Akan aku ikuti permainanmu


__ADS_3

***Rayna merasa lega dengan tuturan Abizar, tapi ia tidak percaya begitu saja, karena dia tauh bagaimana Abizar akan melakukan segala cara agar sesuatu yang ia inginkan tercapai.


“Lalu, apa tujuanmu melakukan ini?” Tanya Rayna.


“Anak pintar! Pertanyaan yang benar?” Jawab Abizar tersenyum sinis.


“Katakan apa?” Teriak Rayna.


“Aku ingin kau dan Erico jadian!” Jawab Abizar membuat emosi Rayna semakin memuncak.


“He..... Otakmu telahku baca, apa dengan ini kau mau mengenalku?” Tanya Rayna dingin memandang Abizar dengan tatapan menantang.


“Kenapa dia bisa tauh!” benak Abizar kesal.


“Kalau iya kenapa? Apa mau aku sebar sekarang.. ok baiklah!” jelas Abizar membuka handphonenya.


Rayna diam penuh dengan kebingungan. “apa mau mu?” tanya Rayna lagi.


“aku tidak ingin bertele-tele, tadi telah aku katakan!” jawab Abizar melipat tangannya di dada.


Rayna menghembuskan nafasnya kasar “ok, akan aku ikuti permainanmu, tapi jangan salahkan aku jika aku akan menang dari mu!” jelas Rayna sinis.


“Hahahaha.... Besar sekali nyalimu, ok... Karena kau menantangku!” jawab Abizar. “Aku tunggu di rumah!” jelas Abizar berlalu begitu saja.


“Oh tuhan, harus bagaimana aku? Tidak ada kamusnya seorang suami mengoperkan istrinya ke pria lain. Tapi lain dengan diriku, layaknya dicampak dan tak diharapkan karena pernikahan konyol ini!” benak Rayna.


Sekitar pukul 4 seisi kampus bersorak senang karena waktu pulang telah tiba, termasuk Abizar dan kedua temannya.


“Aku tunggu kalian di bar nanti malam. Aku akan bawa Wanita parasit itu!” pinta Abizar.


“Ok, aku akan bersama pacarku!” jawab Adim dingin.


“Aku juga mengajak Jassy, jadi jangan khawatir!” jelas Abizar. “Dan kau, kau harus sebisa mungkin membawa Rayna ke kamar bar, aku percaya padamu!” jelas Abizar menunjuk arah Erico.


“Tapi ini terlalu cepat, nanti ia bisa curiga!” bantah Erico.


“Makanya ajak dia minum yang banyak, agar dia tidak sadarkan diri!” jelas Abizar dengan penekanan.


“Baiklah, aku akan ikuti cara mainmu!” jawab Erico dengan gugup.


Diantara mereka bertiga hanya Ericolah yang paling belo’on dan sangat susah menangkap dan memahami perkataan orang lain.


Rayna dan Gavin telah bersiap-siap untuk ke toko buku terlebih dahulu sesuai dengan janji Rayna kemarin, untung saja Diolay ada urusan kalau tidak dia juga ingin ikut ke toko buku, membuat kepala Rayna pusing melihat mereka bertengkar.


“Ray, aku sangat senang bisa ke toko buku lagi!” jelas Gavin, ya benar saja dalam bulan ini saja keduanya hampir 4 kali ke tokoh buku.


“Aku penasaran dengan karya Tere Liye terbaru!” jawab Rayna masuk ke mobil Gavin.


Keduanya pergi ke toko buku agak jauh dari kampus, ya itu kesempatan Gavin berbincang-bincang dengan Rayna lebih lama.

__ADS_1


Abizar pergi ke apartemen Jassy, ia merindukan separuh nafasnya itu. Meskipun kemarin keduanya bertemu, tapi belum meredakan kerinduannya. Bagi Abizar senyum Jassy adalah segalanya begitu juga sebaliknya.


Cklek... Abizar membuka pintu apartemen Jassy dengan hati berbunga-bunga serta bunga mawar ditangannya.


“sayang!” panggil Jassy tak percaya melihat kedatangan Abizar lalu ia berlari memeluknya. “Aku merindukanmu!”.


“Aku juga sangat merindukanmu sayang!” jelas Abizar membalas pelukan Jassy.


*Ayo masuk, aku sudah masak!” pinta Jassy masih dipelukan Abizar.


“Bagaimana aku bisa masuk?, Jika kau selalu memelikku” tanya Abizar manja.


“Aku merindukan kamu sayang!” rengek Jassy lalu mencium wajah Abizar.


“Ayo sayang aku lapar!” pinta Abizar.


“Baiklah!” jawab Jassy turun dari pelukan Abizar.


Karena toko buku hari ini agak ramai, jadi Gavin dan Rayna antri di kasir pembayaran buku, Rayna membeli dua buah buku dengan genre berbeda, satunya novel karya Tere Liye terbaru dengan judul “Kepergian” dan satunya lagi buku fiksi dengan cover “Kesuksesan ada di tanganmu sendiri”.


“Setelah ini kita makan ya Ray!” tawar Gavin.


“Tidak usah, kita langsung pulang aja ya!” pinta Rayna.


“Tapi Ray, aku lapar!” bantah Gavin seperti minta dikasihani.


“Ayolah Ray, aku juga ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!” pinta Gavin memohon layaknya anak kecil minta dibelikan mainan kepada ibunya.


“Baiklah!” jawab Rayna terpaksa.


“Yes...” jelas Gavin kesenangan.


“Kau kenapa sih kaya aku penting saja?” tanya Rayna tak menghiraukan raut wajah Gavin.


“Emang penting!” jawab Gavin kecoplosan “maksudku, aku rindu saja dengan kebersamaan kita seperti dulu!” jelas Gavin dengan cepat agar Rayna tak curiga dengan rasa yang ia miliki.


Setelah mereka ke toko buku langsung saja ke kafe terdekat.


“Katanya kau ingin bicara, bicara apa?” tanya Rayna dengan menyeruput minumannya.


“Gini Ray, dua Minggu lagi model papaku ada yang ulang tahun!” jelas Gavin terpotong.


“Lalu?” tanya Rayna.


“Aku mau minta tolong padamu!” jawab Gavin.


“Apa yang bisa aku lakukan?” Tanya Rayna lagi.


“Ray, aku mau ngajak kau ke acara itu dan pura-pura jadi pacarku depan papa ku!” jelas Gavin.

__ADS_1


Byurrr..... Rayna menghamburkan minumannya ke muka Gavin karena terkejut. “Apa-apaan kau Gavin?” tanya Rayna berteriak sehingga orang dikelilingnya mengalih pandang pada Rayna.


“Aku mohon Ray, kau tahu papaku mau menjodohkan aku pada anak temannya karena aku tak pernah membawa cewe ataupun pacaran!” jelas Gavin.


“Lalu kenapa kau melibatkan aku?” tanya Rayna mengecilkan suara tapi raut wajahnya terlihat kesal.


“Ray, kaulah temanku satu-satunya, aku mohon Ray! Aku tidak mau dijodohkan!” pinta Gavin memohon.


“Tapi aku tidak mau, jadi pacar pura-puramu!” jelas Rayna.


“apa kau ingin jadikan aku pacar aslimu?” tanya Gavin kegirangan.


“Bukan begitu, aku mau kita teman saja. Kalau pergi ke acara kau tau sendirikan aku tidak suka kayak gituan!” jelas Rayna.


“Oh!” jawab Gavin terlihat kecewa. “Ray, kau harus bantu aku untuk pergi ke acara itu, aku mohon Ray! Aku juga sepertimu, aku juga tak suka dengan acara kayak gituan, tapi bagaimana lagi papaku memaksa!” jelas Gavin.


“Nasib kita sama!” benak Rayna. “Ok, aku akan membantumu!”


“Yes... terima kasih Ray!” jelas Gavin merasa senang, ingin rasanya dia melompat-lompat senang tapi malu dilihat.


“Tidak usah lebai, menjijikkan!” jelas Rayna kembali ke wajah dinginnya.


Sekitar pukul 6 sore Rayna tiba di apartemen Abizar, dengan dua buku ditangannya, ia lihat Abizar ada di depan tv, seraya menonton film aksi.


“Dari mana saja kau?” tanya Abizar tanpa memandang Rayna.


“Bukan urusanmu!” jawab Rayna berlalu menuju kamarnya.


“Ingat, kau ada perjanjian padaku. Bersiap-siaplah nanti malam, aku akan mengajakmu bertemu Erico!” jelas Abizar.


Rayna menghembuskan nafasnya kasar “aku harus bertindak lebih cerdas darinya” benak Rayna.


“Ok!” jawab Rayna santai.


“Baguslah!” jelas Abizar melihat langkah kaki Rayna menuju kamarnya.


“berdandanlah dengan cantik, agar Erico menyukaimu. Tapi bagiku berdandan bagaimanapun kau masih saja buruk!” jelas Abizar dari jauh.


“Terserah kau saja!” jawab Rayna dari kamarnya.


Rayna menumpaskan tubuhnya ke tempat tidur, ia sangat lelah hampir 2 jam berjalan menyusuri tokoh buku karena sudah mencari buku yang ia sukai.


“Kenapa takdirku seburuk ini tuhan?” tanya Rayna menatap langit-langit kamar. “He... Akan aku ikuti permainanmu, tapi jangan salahkan aku, jika kau mencintaiku nanti Abizar!” benak Rayna dapat ide akan tindakan Abizar.


Rayna bangun dari tempat tidur lalu duduk membuka buku yang ia beli tadi, ia tersenyum membaca halaman pertama buku karya Tere Liye yang ia beli tadi.


“Dia benar penulis yang keren, aku menyukainya!” jelas Rayna.


“Jika suatu saat aku bisa bertemu penulis ini, maka aku akan sangat bahagia. Semoga saja!” benak Rayna mencium buku yang baru ia beli***.

__ADS_1


__ADS_2