Dark Savior

Dark Savior
Chapter 30


__ADS_3

Sang biarawan terus memperhatikan Seiji dan Reiko, dia memperhatikan wajah Seiji dan Reiko dengan serius,


“Lalu ? katakan kenapa kalian bisa bertanya seperti itu ?” Tanya biarawan.


“Um...ossan, boleh lihat bukunya sekali lagi ? habis ini akan kami katakan..” Jawab Seiji.


Biarawan itu membuka lagi buku yang menampilkan profil para immortals, begitu melihatnya Seiji langsung tahu kalau ras immortals itu ada lima macam. Pertama adalah highlander, kedua demon, ketiga highelven, keempat wolfman dan kelima daywalker.


“Kok sama waktu kita mau evolusi ya nii-chan ?” Tanya Reiko polos.


“Evolusi ?” Tanya biarawan.


“Aaah kamu kenapa bicara sembarangan...” Ujar Seiji menoleh melihat Reiko.


“Ups...jadi gimana ? bunuh dan ambil bukunya ?” Tanya Reiko.


“Kenapa isi otakmu hanya bunuh, itu jalan terakhir, kita coba bicara dulu.” Jawab Seiji.


“Kalian berdua bicara apa ?” Tanya biarawan.


“Ossan, di sini ada orang lain selain ossan ?” Tanya Seiji.


“Tidak ada, aku sendirian di sini...” Jawab biarawan.


“Baiklah...sebentar ossan.” Balas Seiji.


Kemudian Seiji berdiri dan berjalan menuju pintu masuk biara, dia memasang palang di pintunya sehingga tidak bisa terbuka. Setelah itu dia kembali ke tempat semula,


“Daripada kita ceritakan, kita tunjukkan saja, setelah itu tinggal bagaimana ossan menanggapinya...dan menentukan keputusan kita antara membunuh ossan atau tidak.” Ujar Seiji.


Seiji membuka tapaknya dan menciptakan bulan di langit langit biara, tubuhnya mulai berubah menjadi manusia fenrir yang sangat besar, Reiko juga langsung mengeluarkan sayap kelelawar besarnya dan dua taring tajam keluar dari mulutnya. Keduanya langsung berdiri di depan biarawan tua itu.


“Ka..kalian...immortals ?” Tanya biarawan itu.


“Benar, jadi gimana ossan ?” Tanya Reiko.


“Grrrrrrrrr....” Seiji menggeram.


“Luar biasa....benar benar luar biasa...perkataan dewi kalau immortals akan kembali akhirnya terwujud....maafkan ketidak sopanan hamba...” Ujar biarawan itu sambil berlutut dan menyembah.


Seiji menoleh melihat Reiko sambil menggaruk kepalanya menggunakan kuku jari telunjuknya yang panjang, Reiko menaikkan bahu dan tangannya, keduanya penuh tanda tanya karena biarawan itu tidak takut malah menyembah mereka penuh haru. Akhirnya keduanya berubah lagi menjadi wujud semula dan menyuruh biarawan itu berdiri.


“Maafkan aku, namaku Joshua, aku sudah melayani biara sejak aku kecil...maafkan kelancangan ku yang bertanya, yang mulia.” Ujar Joshua.

__ADS_1


“Stop stop...namaku Solon dan ini adik ku Reena...jadi tolong jangan panggil yang mulia atau lainnya...umur ossan lebih tua dari kami...” Balas Seiji karena risih.


“Benar benar, merinding aku di panggil yang mulia...” Tambah Reiko.


“Maaf Solon-kun dan Reena-kun.....ijinkan aku memanggil seperti itu.” Ujar Joshua.


“Ga usah minta ijin ossan....” Ujar Seiji.


“Baiklah, mari ikut aku...kita ke dalam...” Ujar Joshua.


Kemudian Joshua mengajak keduanya masuk ke dalam, dia mempersilahkan keduanya duduk di meja makan dan meletakkan bukunya di meja, kemudian dia pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Seiji dan Reiko kembali membaca bukunya, ternyata memang di buku tidak di katakan secara spesifik siapa dewi yang di kurung dan siapa dewi yang mengurung diantara kedua dewi kembar yang menciptakan dunia, tidak seperti buku buku yang mereka baca di luar.


“Siapapun dewi yang mengirimku kesini, entah Resephone atau Raphaela, pasti aku akan menghabisinya...” Gumam Seiji di dalam harinya sambil mengepalkan tangannya.


“Nii-chan ? kenapa ?” Tanya Reiko bingung.


Seiji menoleh dan melihat Reiko sedang memandangi wajahnya dengan wajah yang penuh tanda tanya. Melihat Reiko yang bingung, Seiji menjadi sedikit lebih tenang,


“Tidak apa apa...tidak usah khawatir...” Ujar Seiji sambil memegang kepala Reiko.


Joshua kembali membawa sedikit makanan kecil dan minuman di atas nampan, setelah menghidangkan semuanya di meja, dia duduk di sebrang Seiji dan Reiko.


“Bagaimana menurut kalian mengenai legenda yang ada di biara ?” Tanya Joshua.


“Karena cerita di luar kebanyakan berasal dari kerajaan Grandia...mereka penganut dewi Raphaela, sedangkan cerita di kerajaan Alvania mengatakan sebaliknya, sebab mereka penganut Resephone. Kita yang berada di selatan menampung saja, sebab catatan asli di selatan milik kita adalah buku ini..” Ujar Joshua sambil meletakkan tangannya di atas buku yang tertutup di meja.


“Hmm tapi kenapa perpustakaan, cerita cerita bahkan buku buku di kota menceritakan versi kerajaan Grandia ?” Tanya Reiko.


“Itu wajar, karena yang pertama ke benua selatan adalah kerajaan Grandia dan tentunya sebagai penganut fanatik mereka menyebarkan ajarannya, tapi orang dari benua selatan tidak ada yang menentangnya dan  juga tidak ada yang menganutnya, kita di selatan netral.” Jawab Joshua.


“Jadi perang mereka dengan kerajaan Alvaris karena benua selatan ini ?” Tanya Reiko.


“Benar sekali, mereka memperebutkan benua selatan yang mereka anggap tanah suci hanya karena tanah tempat terjadinya legenda dan di perkirakan letak kerajaan Astoria jaman dahulu.” Jawab Joshua.


“Huh seperti penjajah berebut karena ingin menguasai lebih dulu....” Ujar Seiji.


“Benua selatan adalah benua yang damai, seluruh penduduk di selatan tidak ada yang suka perang..makanya kita membiarkan mereka masuk dulu dan inilah hasilnya.” Balas Joshua.


“Hmm aku jadi mengerti kenapa Lorien-sensei bertindak demikian.” Gumam Seiji.


“Ah Lorien, kepala akademi....banyak dari dua kerajaan yang berusaha mengganti dirinya, tapi dia tetap bertahan.” Ujar Joshua.


“Ossan kenal dengan Lorien-sensei ?” Tanya Reiko.

__ADS_1


“Tentu saja, dia berasal dari kota ini...” Jawab Joshua.


“Lalu pohon besar di belakang kota ini itu apa ?” Tanya Reiko.


“Legenda tentang pohon itu tidak tertulis di buku, tapi di katakan pohon itu adalah tempat salah satu dewi di kurung. Kita di selatan meyakini kalau pohon itu adalah bekas kerajaan Astoria, kalian bisa baca di buku ini, kalau kerajaan Astoria memiliki menara tinggi yang bisa melihat satu dunia dari atasnya.” Jawab Joshua.


“Hmm...berarti satu satunya cara mengetahui yang sebenarnya adalah mengunjungi pohon itu.” Ujar Seiji.


“Itu tidak mungkin, tidak ada yang bisa melewati pelindung di sekitar pohon itu. Banyak yang sudah mencoba kesana tapi tidak ada satu pun orang yang kembali.” Balas Joshua.


Seiji dan Reiko terdiam, kemudian Joshua mengambil jam saku dari kantungnya dan melihatnya,


“Maaf Solon-kun, Reena-kun, aku harus membunyikan bel, sebab sudah sore.” Ujar Joshua sambil berdiri.


“Oh kalau begitu, kami juga sekalian permisi ossan.” Ujar Seiji.


“Benar ossan, kami harus kembali ke asrama.” Tambah Reiko.


“Baiklah, silahkan berkunjung kesini kapan saja, aku selalu akan menerima kalian.” Balas Joshua sambil tersenyum.


“Um..ossan, mengenai kami....”


“Tenang saja, aku tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang kalian, aku akan menjaga rahasia kalian selamanya.” Joshua memotong ucapan Seiji karena dia sudah tahu apa yang akan Seiji katakan.


Setelah itu, keduanya mengucapkan terima kasih dan pemisi kepada Joshua, keduanya keluar dari biara dan berjalan menuju komplek akademi,


“Sekarang sudah jelas, kita berdua immortals....tapi masih kurang.” Ujar Reiko.


“Ya, kita belum tahu siapa dewi yang melempar kita ke dunia ini setelah melalui sepuluh kali kematian.” Ujar Seiji.


“Sepuluh kematian....sepuluh immortals....ada hubungannya ga ya ?” Tanya Reiko.


“Aku tidak mau memikirkan itu...” Jawab Seiji.


“Benar nii-chan....aku hanya bergumam, tidak usah di pikirkan.” Balas Reiko.


Selagi mereka berjalan menuju alun alun, mereka berpapasan dengan beberapa orang penduduk yang sedang berbincang sambil berjalan melewati mereka,


“Benarkah kabarnya kedua kerajaan itu melakukan pemanggilan pahlawan lagi ?” Tanya seorang penduduk.


“Menurut pedagang yang ke desa sebelah seperti itu, dengan tujuan membersihkan dungeon katanya.” Balas penduduk di sebelahnya.


“Huh...baru damai sebentar, sudah mau perang lagi...” Balas penduduk di paling ujung.

__ADS_1


Mendengar percakapan beberapa penduduk yang melewati mereka, Seiji dan Reiko menoleh melihat para penduduk yang melewatinya, wajah keduanya langsung berubah menjadi geram dan tangan mereka mengepal.


__ADS_2