Dark Savior

Dark Savior
Chapter 48


__ADS_3

Keesokan harinya, di sebuah kereta milik pedagang, Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi duduk di belakang mengenakan jubah yang menutupi tubuhnya dan kerudung yang menutupi kepala. Mereka sedang menjalankan misi yang di berikan Renola, yaitu mengantar pedagang menyebrang ke wilayah kerajaan Grandia di timur kemudian menuju ke sebuah kota bernama Vestal di dekat perbatasan. Seiji membuka gulungan peta dunianya,


“Hmm...kota Vestal persis setelah perbatasan, lalu ada sebuah desa tidak bernama, baru kita bisa sampai tujuan kita, kota Nihelm...” Ujar Seiji.


“Kira kira butuh berapa hari kesana Sei-niichan ?” Tanya Reiko.


“Mungkin seminggu, atau lebih....” Jawab Seiji.


“Hmm...lama juga ya...” Gumam Hitoshi.


“Kenapa tidak naik Hito-nii saja sih...” Balas Iroha.


“Kata baba kan kita tidak boleh mencolok.” Ujar Seiji.


Kemudian ke empatnya mengulang perkataan Renola sewaktu mereka belum berangkat dan berada di ruangannya,


“Ingat ya, saat ini kalian masih bisa di kalahkan, jadi sebisa mungkin kalian jangan menarik perhatian dan jangan mencolok untuk saat ini, kota Nihelm yang akan kalian tuju adalah kota tempat perdagangan budak, banyak pedagang kotor dan licik, jangan sampai tertipu...soal akademi, aku sudah bilang Lorien kalau kalian berempat cuti sebentar karena menjalankan tugas dari ku, jadi jangan ngelayap kemana mana dan cepat kembali setelah selesai.” Renola memberikan nasihatnya sebelum ke empatnya berangkat.


Kembali ke saat sekarang, ke empatnya menggelengkan kepala karena mengingat nasihat Renola. Akhirnya ke empatnya pasrah dan duduk diam di kereta menikmati perjalanan mereka. Seiji memperhatikan pakaian Hitoshi,


“Aniki, kamu pakai seperti itu saja nih ?” Tanya Seiji.


Dia melihat, di balik jubahnya, Hitoshi hanya memakai sebuah rompi dari kulit tanpa mengenakan apa apa lagi sehingga tubuhnya yang kekar dan lengannya yang besar terlihat jelas, Hitoshi juga memakai gelang besi berduri yang melindungi pergelangan tangan dan pertengahan lengannya. Celananya adalah celana kulit dengan bentuk seperti jeans berwarna hitam dan memakai sepatu boots.


“Aku belum menemukan pakaian yang lain...lagipula, rompi ini nyaman kalau harus berubah menjadi raksasa, aku menemukan semua pakaian ini dan kapak ini di dungeon.” Ujar Hitoshi.


“Begitu rupanya....nanti kita cari di dungeon lagi saja aniki...” Ujar Seiji.


“Ya, di wilayah kerajaan Grandia.” Ujar Hitoshi.


“Aku penasaran.....” Gumam Reiko.


“Penasaran apa ?” Tanya Seiji.


“Baba kok bisa berubah seenaknya ya, tanpa harus menunggu enam bulan cooldown skill....” Jawab Reiko.


“Benar juga....aku baru kepikiran Rei-neechan....” Tambah Iroha.


“Kalau di pikir pikir Kiros atau Joshua-ossan juga ya...” Tambah Hitoshi.


“Awalnya Joshua-ossan terlihat sangat lemah, seperti biarawan biasa yang tidak bisa bertarung, tapi setelah berubah...wow...tampak seperti pahlawan jaman dulu.” Ujar Reiko.

__ADS_1


“Apa jangan jangan kalau berubah seperti mereka kita bisa tambah kuat ?” Gumam Hitoshi berpikir.


“Jangan mikir yang tidak tidak, fokus pada misi dan selamatkan saudara kalian...” Teriak Renola di kepala ke empatnya.


“Hah...iya baba...”


Karena kaget ke empatnya berdiri di atas kereta dan membuat kereta oleng, pengemudi kereta dan pedagang yang duduk di depan langsung menoleh ke belakang karena kaget. Melihat pedagang menoleh, ke empatnya minta maaf dan duduk kembali.


*****


Setelah dua minggu perjalanan, mereka akhirnya bisa melihat perbatasan yang merupakan jembatan penghubung antar benua di sebelah timur kota Longberg.


“Akhirnya....” Gumam Iroha.


“Lama juga ya perjalanan nya, sejak berangkat sudah hampir 18 hari....” Ujar Hitoshi.


“Aku sudah tidak hitung....” Balas Reiko.


“Yah paling tidak selama perjalanan aman, tidak ada monster yang menyerang.”


Tiba tiba dari balik batu dan dari dalam tanah muncul segerombolan orang berwajah seram dan tertawa bengis, mereka membawa senjata dan mengepung kereta, seorang pria berkepala botak dengan tubuh kekar dan membawa golok maju ke depan, dia mengancam pengemudi dan pedagang yang duduk di depan menggunakan golok.


“Ba..baik....kami turun, tolong jangan bunuh kami...” Ujar pedagang.


Dengan terpaksa pedagang dan pengemudi kereta turun, kemudian beberapa orang membuka tirai kereta di belakang dan melihat Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi duduk dengan santai.


“Hei..ada gadis di sini...malam ini kita bisa bersenang senang hehehehe...” Teriak seorang pria kurus memakai bandana.


“Turun kalian...” Teriak seorang pria bertelinga panjang.


Ke empatnya turun tanpa bicara apa apa, mereka mengangkat tangan dan di bawa bergabung dengan pedagang dan pengemudi di depan. Tapi wajah ke empatnya terlihat santai saja tanpa ada rasa takut sama sekali.


“Hehehe lumayan....dua wanita....” Ujar seorang pria yang mengancam pedagang dengan golok nya.


Ketika tangannya ingin menyentuh Reiko, tiba tiba terlihat sebuah kilatan, “Pluk.” Sebuah lengan kekar terjatuh ke tanah, pria itu melihat tangan yang jatuh di bawah kakinya, dengan wajah kaget, pria itu menoleh melihat pangkal lengannya dan ternyata lengannya sudah tidak ada, rasa sakit langsung menjalar keseluruh tubuhnya dan membuatnya jatuh berlutut sambil berteriak.


“Aaaaaaaaaaaaaa.....tangan....tanganku.....” Teriak nya sambil memegang pangkal lengannya.


Melihat pria itu kehilangan tangannya, para bandit tertegun dan tidak ada satu orang pun yang berani maju. Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi maju ke depan melewati pria yang mengeluarkan air mata menahan sakit sambil memegang pangkal lengannya.


“Sekarang, siapa lagi ?” Tanya Seiji sambil mengambil cambuk nya.

__ADS_1


“Langsung saja nii-chan, tidak usah tanya...” Tambah Reiko sambil memutar sabit besarnya.


“Hehehe.....habis tangan apa lagi ya ?” Tambah Iroha sambil menjilati darah di katana slime hitam nya.


“Haaah...mosnter ga ada, malah bandit yang muncul.” Tambah Hitoshi sambil mendirikan mata kapaknya di tanah.


“Se..serang mereka....” Teriak seorang bandit.


“Uooooh.....”


Gerombolan bandit yang berjumlah puluhan itu langsung maju menyerang ke empatnya dengan membabi buta menggunakan senjata yang mereka bawa. Ke empatnya tersenyum, tiba tiba terlihat empat sinar maju dan kembali mundur, seluruh gerombolan bandit yang menyerang terjatuh dalam sekejap, pedagang dan pengemudi kereta tertegun karena tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dengan santai, ke empatnya berjalan kembali naik ke dalam kereta. Pedagang dan pengemudi juga naik ke kereta namun keduanya masih tertegun,


“Ossan, kita jalan tidak ?” Tanya Seiji.


“Oh..iya iya...baik...” Jawab pengemudi.


Kemudian keduanya naik kembali ke kereta dan melanjutkan perjalanan melewati para bandit yang terkapar di tengah jalan. Sepanjang jalan, pedagang mengamati ke empatnya yang sedang diam di belakang dengan wajah bingung dan sedikit ketakutan,


“Mereka....orang orang baik kan ?” Pikir pedagang dalam hati.


Pengemudi kereta memegang pundak pedagang dengan tangan yang gemetar, dia memberi kode supaya pedagang jangan melihat mereka dan membuat mereka marah.


“Oi Sei-niichan, kenapa pedagang itu melihat kita di balik tirai ?” Tanya Reiko.


“Sudah biarkan saja...” Jawab Seiji.


“Risih Seiji-niichan....perlu di peringati ?” Tanya Iroha.


“Hei...dia klien kita kan....nanti baba marah lagi repot...” Jawab Hitoshi.


“Benar juga....maaf Hito-nii...” Balas Iroha.


“Sabar saja, lagian sebentar lagi kita sampai...” Ujar Seiji.


“Ok ok...aku tidur dulu...” Balas Reiko.


“Haah....perjalanan yang panjang, iya tidak Seiji...” Ujar Hitoshi.


“Benar aniki...benar sekali.” Balas Seiji.


Kereta meneruskan perjalanan menuju gerbang perbatasan yang sudah terlihat dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2