
Selagi berjalan menuju kembali ke akademi, ke empatnya terdiam, mereka berjalan berdampingan,
“Jadi, sekarang bagaimana kita saling memanggil, di luar kehidupan masa lalu kita.” Ujar Hitoshi.
“Aku panggil aniki (kakak) saja ya, karena aniki paling tua di antara kita semua.” Ujar Seiji.
“Ok...dari segi umur di kehidupan lalu dan sekarang memang rasanya aku paling tua.” Ujar Hitoshi.
“Aku juga panggil aniki...harus di biasakan...” Ujar Reiko.
“Jangan terbawa dengan masalah kita di kehidupan lalu ya Reiko-chan.” Ujar Hitoshi.
“Ya, aku mengerti.....walau aku masih bingung.” Ujar Reiko perlahan.
“Kamu bicara apa ?” Tanya Hitoshi dan Seiji melihat wajah Reiko karena tidak mendengar ucapan Reiko.
“Tidak apa apa...sudah tidak usah di bahas.” Reiko memalingkan wajahnya yang merah karena melihat wajah Seiji dan Hitoshi.
“Kalau aku ya seperti biasa saja...secara aku paling kecil hehe.” Ujar Iroha.
“Ya sudah ya, sepakat mulai sekarang kita satu keluarga...kita bersaudara.” Ujar Hitoshi.
“Ya...setuju.” Ujar Seiji, Reiko dan Iroha.
“Tapi ngomong ngomong aniki, kamu itu sekolah juga di akademi ?” Tanya Seiji.
“Tentu saja, aku kelas 3 sma dan wakil ketua student council...” Ujar Hitoshi.
“Hmm benarkah ?” Tanya Seiji.
“Meragukan ?” Tanya Hitoshi.
Hitoshi langsung mengeluarkan kacamata dari item boxnya dan memakainya, dia merapihkan rambut panjangnya yang terikat dan wajahnya langsung nampak seperti wajah murid teladan.
“Huh...” Ujar Seiji dan Reiko ketika melihat wajah Hitoshi.
“Kenal wajah ini ?” Tanya Hitoshi.
“Kalau tidak salah nama aniki, Harold-senpai...” Ujar Reiko.
“Benar, langkapnya Harold Archiel...kelas 3-E nomor urut 20...” Ujar Hitoshi.
“Apaaaa....” Teriak Seiji, Reiko dan Iroha.
“Kenapa kalian berteriak ?” Tanya Hitoshi sambil menutup telinganya.
“Babaaaaaaaaaaa......” Teriak Seiji, Reiko dan Iroha.
“Oh...maksudnya Renola-obasan ya ?” Tanya Hitoshi.
Ketiganya mengangguk, mereka langsung bertanya bagaimana Hitoshi mengenal Renola. Ternyata ketika Hitoshi masih berada di dalam dungeon yang membawanya keluar dari dungeon adalah Renola bersama para petualang lainnya.
“Pantas dia tidak kaget ketika pertama bertemu dengan ku...waktu itu aku seperti aniki, setting umur nya 18.” Ujar Seiji.
“Hah enak saja, aku sekarang umur 17....” Balas Hitoshi.
__ADS_1
“Sama saja kali....kalian mirip.” Ujar Reiko.
“Ah benar juga....” Ujar Seiji dan Hitoshi bersamaan.
(“Itu makanya aku jadi bingung....stress deh.” Pikir Reiko)
“Rei-neechan, kenapa ?” Tanya Iroha sambil melihat wajah Reiko yang kusut.
“Tidak apa apa...” Jawab Reiko.
“Kamu cerita apa saja ke baba, aniki ?” Tanya Seiji.
“Huh...tidak banyak, hanya yang perlu dia tahu saja...” Jawab Hitoshi.
“Sama, aku dan Rei-chan juga...” Balas Seiji.
Akhirnya sepanjang perjalanan menembus hutan, mereka membicarakan tentang Renola walau di balik semak semak para mosnter mengintai mereka dan tidak ada yang bergerak. Sementara itu, di ruang kerja guild master, guild petualang di kota Durnce,
“Hacih...snort....huh...bersin ? anak anak bandel itu pasti lagi membicarakan ku.” Ujar Renola sambil membersihkan hidungnya.
*****
Selagi ke empatnya berjalan, mereka bertemu dengan pasukan dari kerajaan Grandia yang langsung mengepung mereka, para petualang desa hillberry, prajurit dari kota Emerald dan para guru dari akademo.
“Heee...kita di kepung.” Ujar Seiji.
“Angkat tangan saja...” Balas Hitoshi.
Ke empatnya mengangkat tangan mereka tanda menyerah, tiba tiba dari belakang, Lorien dan Emily maju ke depan menemui ke empatnya,
“Kita melihat pelindung menghilang dari kantor kepala akademi dan terdengar bunyi berdentum seperti sedang ada pertarungan besar.” Tambah Emily.
“Ah...” Balas Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi.
Lorien meminta pasukan Grandia, para petualang dan lainnya untuk menurunkan senjata mereka. Kemudian mereka berjalan kembali menuju keluar hutan dan masuk kembali ke gerbang. Setelah masuk ke dalam gedung, mereka di ajak oleh Lorien dan Emily ke ruangan kerja Emily. Begitu di dalam, Emily meminta Frieren mengunci pintu dan menutup tirai jendela. Setelah itu semuanya duduk di sofa,
“Bisa tolong ceritakan ada apa sebenarnya Harold-kun ?” Tanya Lorien.
Ke empatnya bercerita kalau mereka tidak tahu apa apa, mereka sedang berpatroli di hutan sambil berburu monster dan tiba tiba terdengar bunyi kencang dari dalam. Setelah itu pelindung menghilang setelah bunyi kencang berakhir. Lorien dan Emily sedikit meragukan cerita ke empatnya, tapi Hitoshi meyakinkan mereka sampai akhirnya mereka percaya.
“Baiklah, kalau Harold-kun yang bicara berarti benar....maaf meragukan kalian...tapi bagaimana kalian bisa bertemu ?” Tanya Lorien.
“Aku bertemu aniki kebetulan, ternyata dia juga anak angkat Renola-baba, jadi kita berbincang bincang...” Jawab Seiji.
“Benar sensei...aku sendiri kaget ketika mereka bilang nama belakang mereka Archiel.” Tambah Hitoshi.
“Hahaha benar juga, Renola-sensei tidak memberitahu kalian ya....seperti biasa, selalu misteri.” Ujar Lorien.
“Tapi ternyata jadi heboh ya, sampai pasukan Grandia juga ikut serta...” Balas Reiko.
“Oh tidak...mereka sedang mencari putra earl Kranzel yang bernama Francis dan kebetulan mereka sedang minta ijin mencari di sekitar hutan.” Ujar Emily.
“Memang kenapa dengan putra earl Kranzel ?” Tanya Seiji.
Lorien dan Emily bercerita kalau sejak semalam putra earl Kranzel menghilang, mereka sendiri baru mengetahuinya ketika dia mendapat laporan kalau hari ini dia tidak masuk sekolah dan teman temannya mengatakan di asrama juga tidak ada sejak semalam.
__ADS_1
“Hmm...begitu ya..” Ujar Hitoshi.
“Tapi biarkan saja, nanti juga ketemu...” Ujar Emily.
“Sudah sering ya ?” Tanya Seiji.
“Lumayan dan setiap kali selalu membuat heboh seisi akademi. Maklum saja sebab dia tunangan putri Leticia dari kerajaan Grandia.” Jawab Emily.
“Hooooo.....” Gumam Seiji.
Selagi berbincang bincang, tiba tiba terdengar suara dari dalam laci meja kerja Emily, Frieren langsung menghampiri meja dan membuka lacinya, dia mengambil cermin sihir dan memberikannya pada Emily. Dengan usapan tangannya, Emily langsung bisa melihat siapa yang menghubungi nya,
“Emily-chan, di sana ada anak anak angkat ku ga ?” Tanya Renola.
“Ada, kenapa Renola-san ?” Tanya Emily.
“Aku mau bicara sama mereka.” Jawab Renola.
Kemudian Frieren menaruh tempat cermin di meja sehingga cermin bisa berdiri tanpa di pegang, kemudian dia megarahkan cerminnya kepada Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi.
“Hei, kalian, kembali ke kota Durnce secepatnya ya...” Ujar Renola.
“Loh ada apa baba ?” Tanya Reiko.
“Grrr..sudah ku bilang jangan panggil baba.....sudah kembali saja, berempat...jangan banyak tanya.”
Hubungan langsung di putus dan cermin kembali menjadi gelap. Tiba tiba seorang staff akademi masuk ke dalam ruangan kerja dan langsung menghampiri Lorien, dia membisiki Lorien, wajah Lorien langsung berubah seketika,
“Cepat segera peringati penduduk kota, siaga satu untuk semuanya...jangan lengah.” Teriak Lorien.
“Baik, Lorien-sama.” Balas staff akademi yang kemudian langsung lari keluar ruangan.
Melihat wajah Lorien yang sedikit panik, ke empatnya menjadi tertegun, Emily menoleh kepada Lorien,
“Ada apa Lorien-sama ?” Tanya Emily.
“Gunung berapi terbesar di selatan mengeluarkan asap....sepertinya segel terlepas dan makhluk kejahatan yang terkurung membebaskan diri...” Jawab Lorien.
“Makhluk kejahatan ?” Tanya ke empatnya.
“Evil dragon king,Valogon....” Jawab Lorien.
Mendengar nama itu di sebut oleh Lorien, wajah Emily dan Frieren langsung pucat karena Valogon adalah nama seekor naga yang menghanguskan separuh dunia dan di kurung oleh immortals di gunung Bolantis yang berlokasi di paling selatan benua selatan.
“Valogon ?” Tanya ke empatnya.
“Sekarang aku mengerti kenapa kalian di minta kembali ke kota Durnce, karena sasaran pertama dari Valogon pasti kota Durnce yang terletak di selatan. Alasan Valogon terbangun kemungkinan karena kubah pelindung menara sudah menghilang.” Jawab Lorien.
Ke empatnya menelan ludah, penyebab bencana yang akan menimpa dunia di sebabkan oleh mereka yang masuk ke dalam pelindung dan membunuh Joshua sehingga pelindung menghilang. Ke empatnya berdiri,
“Baiklah, kita pergi....” Ujar Seiji.
Ke empatnya langsung berlari keluar dari ruangan. Emily dan Frieren juga keluar dari ruangan untuk mempersiapkan perjalanan mereka ke kota Longberg. Lorien yang duduk di sofa mengatupkan kedua tangannya dan menempelkan ke keningnya,
“Berjuanglah para immortals...” Gumam nya dengan wajah cemas.
__ADS_1