Dark Savior

Dark Savior
Chapter 50


__ADS_3

Kota Vestal, kota perikanan dan resort bagi para bangsawan, kota yang besar terletak persis di tepi pantai, banyak perahu nelayan yang terlihat sedang melaut menangkap ikan, sepanjang jalan banyak restoran yang menghidangkan menu ikan sebagai menu utamanya. Kota itu sangat ramai dan hidup, kereta yang di tumpangi oleh Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi akhirnya sampai di sebuah firma pedagang.


“Baiklah, tugas kalian selesai sampai disini, terima kasih sekali atas bantuannya selama perjalanan...” Ujar pedagang sambil menunduk di hadapan ke empatnya.


“Sama sama ossan, kami akan melapor ke guild petualang di sebrang pasar dulu, terima kasih sudah membawa kami sampai ke sini.” Ujar Seiji.


Kemudian ke empatnya berjalan menelusuri pasar untuk pergi ke jalan di sebrang. Mereka melihat banyak sekali produk laut yang di jajakan oleh para pedagang asongan, selain itu, mereka juga menjajakan berbagai macam sayuran dan bumbu bumbu untuk masakan. Selain produk makanan, mereka juga melihat pedagang yang menjual kerang kerang yang di buat menjadi hiasan, kerajinan tangan seperti pot dari anyaman bambu dan senjata senjata hasil karya para pandai besi. Ramai orang berlalu lalang, tapi hampir tidak ada ras lain selain manusia. Selain itu, mereka juga melihat beberapa pedagang kaya yang memperkerjakan budak budak milik mereka, ada yang keras terhadap budaknya, tapi juga ada yang mengurus budaknya dengan baik.


“Seperti di bumi....” Ujar Seiji.


“Benar, ada juga black company di sini...” Balas Hitoshi yang melihat firma dagang  yang membuat budaknya kerja mati matian.


“Ternyata di sini dan bumi sama saja ya....dasar manusia.” Ujar Reiko.


“Paling tidak di sini ga ada yakuza...” Balas Iroha.


“Kamu salah...itu...” Tunjuk Seiji ke sebuah bangunan.


Reiko, Iroha, Hitoshi menoleh bangunan yang di tunjuk Seiji, tulisan di atas gedung itu adalah “Peminjaman uang.” Pintu masuk gedung di jaga oleh para pria besar bertato yang tidak mengijinkan sembarang orang masuk dengan penampilan seperti debt collector. Tiba tiba mereka melihat seorang pria di seret menggunakan rantai masuk ke dalam dari gedung sebelah.


“Haaaa.....” Gumam Reiko, Iroha dan Hitoshi.


“Mungkin bukan yakuza, tapi rasanya mirip...” Ujar Seiji.


“Bodo amatlah, selama kita tidak ada urusan dengan mereka...” Balas Reiko.


“Tapi di sebelah peminjaman uang itu.....casino ?” Tanya Hitoshi.


“Hmm sepertinya pria tadi kalah dan tidak punya uang, lalu di seret...” Tambah Iroha.


“Kyaaaaa....” Tedengar teriakan wanita di depan mereka, ke empatnya menoleh ke arah teriakan, mereka melihat sekelompok orang sedang berjalan, wajah mereka terlihat bengis dan membawa senjata. Mereka juga melihat wanita yang terjatuh karena menghalangi jalan mereka.


“Gangster ?” Tanya Seiji.


“Haaah serasa di rumah...” Jawab Hitoshi.


“Memang sama saja...” Balas Reiko.


“Udah yu...keburu sore nih...” Ajak Iroha.


Akhirnya ke empatnya berjalan lagi menuju guild petualang yang berada persis di ujung jalan. Ketika ke empatnya berdiri di pintu, “Braak.” Seseorang terlempar keluar, mereka menoleh dan melihat seorang pria mabuk di lempar ke jalan.


“Aku ralat, dunia ini lebih parah dari bumi...” Ujar Seiji.

__ADS_1


“Setuju...” Balas Reiko, Hitoshi dan Iroha.


Ke empatnya masuk ke dalam, seluruh orang di dalam langsung menoleh melihat ke empatnya, seorang pria bertubuh besar, berpakaian zirah lengkap dan berkepala botak berdiri di depan ke empatnya,


“Mau apa anak anak kecil kesini ?” Tanya pria itu dengan suara berat.


“Mau melapor, kita sudah menyelesaikan tugas, kita petualang...” Ujar Seiji.


“Hah...anak anak seperti kalian petualang ? jangan bercanda...hahahahaha...” Pria itu tertawa.


Langsung saja seluruh petualang yang ada di dalam ruangan tertawa terbahak bahak menyusul tawa pria itu. Ke empatnya tidak memperdulikan ejekan para petualang itu, mereka berjalan melewati pria besar yang tertawa itu dan berjalan menuju counter. Tapi tiba tiba pria besar itu berbalik dan memegang pundak Iroha.


“Tunggu, jangan kalian pikir......”


Belum selesai pria itu bicara, tubuhnya sudah melayang dan jatuh terlentang di lantai karena di banting Iroha, pria itu melihat langit langit kayu bangunan dengan wajah terkejut. Suasana langsung menjadi hening, ke empatnya berjalan kembali menuju counter.


“Ada yang bisa di bantu ?” Tanya petugas counter.


“Ini neesan (mba), kita sudah menyelesaikannya...” Ujar Seiji sambil membawa surat tugas yang di berikan Renola di guild petualang kota Durnce.


Petugas mengambil surat tugas dan misi nya, kemudian membacanya, setelah itu,


“Boleh lihat kartu petualang kalian ?” Tanya petugas.


“Baiklah, Solon-san, Reena-san, Inggrid-san dan Harold-san...tunggu sebentar ya...” Ujar petugas yang membawa surat tugas dan kartu ke empatnya ke dalam.


Ketika melihat petugas membawa kartu ke empatnya yang berwarna emas, para petualang yang berada di dalam guild terkejut dan saling berbisik,


“Wah..mereka rupanya rank A...” Ujar seorang petualang.


“Anak anak seperti mereka ? bagaimana bisa, pasti nyogok nih...” Balas petualang di sebelahnya.


Tentu saja bisik bisik yang keras itu terdengar di telinga ke empatnya, tapi ke empatnya tidak menggubris bisikan bisikan itu. Wajah mereka datar saja tidak terpengaruh sama sekali, karena mereka tidak mau menjadi sorotan. Tak lama kemudian, petugas keluar membawa nampan berisi sekantung uang dan kartu petualang mereka berempat,


“Nah ini uang misinya sebesar 100 gold di tambah 10 gold dari pedagang sebagai bonus, silahkan...” Ujar petugas.


Seiji mengambil kantung uangnya dan menaruhnya di dalam item box, bisik bisik kembali terdengar karena melihat item box yang merupakan sihir langka di kerajaan Grandia. Setelah itu, Seiji bertanya kepada petugas,


“Permisi neesan, apa ada misi mengantar atau apa saja di dekat kota Nihelm ?” Tanya Seiji.


“Um...sebentar, sebenarnya ada beberapa....ini silahkan dilihat.” Petugas mengeluarkan beberapa lembar tugas dan menggelarnya di meja.


Tugas pertama mengantar pedagang budak yang membawa budak kriminal ke kota Nihelm, kedua menyelidiki dungeon di sebuah desa yang berada di antara kota Vestal dan kota Nihelm, ketiga membasmi bandit yang ada di pegunungan dekat kota Nihelm dan keempat adalah membawakan daging boar untuk restoran di kota Nihelm.

__ADS_1


“Mau yang mana ?” Tanya Hitoshi.


“Dungeon dong...” Jawab Reiko.


“Yup setuju....” Tambah Iroha.


“Ok neesan...kita ambil tugas ini...” Seiji memberikan kertas tugas menyelidiki dungeon kepada petugas.


“Eh kalian mau yang ini ? tapi tugas ini tidak ada yang mau loh...alasannya karena dungeon itu terletak persis di pemakaman sebelah desa, sekarang kondisi desa juga sudah sepi, banyak penduduk mengungsi ke sini atau ke kota Nihelm.” Ujar petugas.


“Trus kenapa ? kita mau...” Balas Seiji.


“Hmm...baiklah, kalian petualang rank A, aku rasa tidak masalah...tapi kalau tidak sanggup segera kembali ya, kalian masih muda...sayang sekali.” Ujar petugas sambil memberikan capnya di kertas tugas dan memberikannya pada Seiji.


“Terima kasih neesan, kita akan kembali nanti kalau sudah selesai...” Ujar Seiji sambil mengambil kertasnya.


Ke empatnya bepamitan dengan petugas dan berjalan keluar dari guild, para petualang yang melihat mereka mengambil tugas itu mulai bergosip,


“Banyak hantu kan disana ?” Ujar seorang petualang.


“Iya, monster di sana kebanyakan jenis undead dan hantu...” Balas seorang petualang di sebelahnya.


“Huuuh...waktu itu saja aku beruntung bisa lolos, kelompok ku mati semua di dalam...” Tambah seorang petualang wanita.


Mendengar pembicaraan para petualang dan gosip gosip tentang dungeon itu, wajah Reiko mulai berubah,


“Hantu ya....” Ujar Reiko.


“Hah...kamu takut ?” Tanya Seiji.


“Aku lemah dengan hal seperti itu...” Jawab Reiko.


“Oi...kamu kan vampire, aku yakin hantunya lebih takut sama kamu di banding kamu takut dengan mereka.” Balas Seiji.


“Huh....bukannya berusaha membujuk ku atau menenangkan ku...malah meledek...bodoh...” Balas Reiko membuang wajahnya.


“Enak saja bilang bodoh...” Balas Seiji.


“Kalian akrab ya...” Celetuk Hitoshi.


“Hehehe bener Hito-nii...” Tambah Iroha.


“Huh....” Ujar Seiji dan Reiko bersamaan sambil saling membuang wajah.

__ADS_1


Ke empatnya keluar dari guild petualang dan berjalan mencari penginapan untuk bermalam tanpa menyadari mereka di ikuti oleh dua orang sejak mereka masuk ke dalam kota.


__ADS_2