Dark Savior

Dark Savior
Chapter 57


__ADS_3

Edward mengajak mereka ke ruang tengah di lantai satu, setelah di dalam dia berjalan ke perapian, kemudian menjulurkan tangannya ke bagian atas dalam perapian, dia seperti meraba raba sesuatu, “Cklik.” Terdengar sesuatu di tekan, Edward menarik tangannya dan perapian itu bergeser, di belakang perapian itu ada sebuah tangga turun,


“Ayo masuk....” Ajak Edward.


Ke empatnya langsung masuk membawa Victoria, ketika sampai bawah, mereka melihat lorong berdinding batu bata dengan obor di kanan dan kirinya, Edward menarik ke bawah obor yang berada di dekat tangga, “Grek..grek.” Perapian di atas mereka bergeser ke tempat semula,


“Ayo lekas....” Ajak Edward lagi.


Mereka berlari menelusuri lorong yang lurus dan terlihat sangat panjang, mereka berlari dan terus berlari, lorong itu masih belum terlihat ujungnya,


“Hey, kemana lorong ini ?” Tanya Reiko.


“Ke kaki gunung, di sana ada tambang yang sudah tidak terpakai dan di segel dari luar. Tidak akan ada yang menyangka kita ada di sana...” Jawab Edward sambil berlari.


“Kita ?” Tanya Hitoshi.


“Ah..nanti kalian bisa lihat sendiri.” Jawab Edward.


Setelah berlari cukup lama, akhirnya mereka bisa melihat sebuah tangga naik di ujung lorong. Ketika sudah di depan tangga, mereka melihat di atas tangga tertutup oleh pintu dari kayu, Edward naik ke atas dan mengetuk pintu kayu itu tiga kali. Tiba tiba pintu di buka, seseorang membukanya dari atas, Edward mengajak ke empatnya yang membawa Victoria naik ke atas. Begitu sampai di atas, ke empatnya kaget, ternyata mereka berada di sebuah tambang bekas di dalam gunung yang sangat luas. Di sana banyak sekali rumah rumah buatan yang tertempel ke dinding gua, ternyata banyak sekali budak budak yang tinggal di sana, bahkan juga ada yang sudah berkeluarga dan banyak anak anak kecil berlarian.


“Wow...ini dimana ?” Tanya Seiji.


“Selamat datang di penampungan...semua ini adalah ide dari Victoria-sama demi menyelamatkan budak budak yang di siksa oleh Agrias, Gisald dan para tamunya.” Jawab Edward.


“Hmm...begitu ya, berarti sekarang semua sudah bebas kan ?” Tanya Reiko.


“Belum semua....di atas gunung ini ada seorang bangsawan lagi, dia sudah meninggal, tapi surat kontrak nya belum di temukan, sehingga masih ada banyak budak yang belum bebas, tapi tidak usah khawatir, dengan enyahnya Agrias dan Gisald, kita bisa mencari sendiri surat itu dan membakarnya...” Jawab Edward.


“Baguslah kalau begitu, lalu, bagaimana kita keluar dari sini ? kita harus kembali ke penginapan...” Balas Hitoshi.


“Baik, akan aku antar, tapi sementara biarkan Victoria-sama di sini sampai beliau sadar.” Ujar Edward.


“Aku mengerti, tapi ijinkan kami membawa anaknya kesini kalau dia sudah sadar nanti...karena ada hal penting yang harus di sampaikan.” Balas Seiji.

__ADS_1


“Baik, aku mengerti...”


Kemudian Edward minta tolong kepada ke empatnya untuk membawa Victoria ke sebuah rumah yang paling besar di dalam tambang. Setelah sampai, Edward membuka kuncinya dan membukakan kamar tidur nya. Di dalam sudah ada tempat tidur yang besar, Hitoshi meletakkan Victoria di tempat tidurnya, kemudian mereka keluar kembali dari rumah, ketika keluar seorang anak kecil perempuan menghampiri ke empatnya, di leher anak itu masih terlihat merah karena selama ini memakai kalung.


“Anoo....apa oniichantachi dan oneechantachi yang membebaskan kami ?” Tanya nya.


Edward jongkok di depan anak kecil perempuan yang lusuh itu, dia memegang kepalanya,


“Benar, mereka penyelamat kita...” Ujar Edward.


Seluruh penduduk yang tinggal di tambang langsung berkumpul di depan rumah besar itu, Edward menceritakan kejadiannya, tapi dia tidak menceritakan kekuatan aneh milik ke empatnya. Para penduduk langsung bersorak sorak menerikkan kata “Penyelamat (Savior)” kepada ke empatnya. Tapi ke empatnya menarik Edward dan langsung menyingkir, karena mereka tidak mau menarik perhatian sesuai janji mereka pada Renola. Akhirnya pada penduduk menyingkir dan membiarkan mereka lewat sambil bertepuk tangan dan bersorak. Setelah melewati kerumunan, mereka berlari menuju sebuah terowongan tambang, ketika sudah sampai tengah mereka melihat gua bercabang dua,


“Silahkan ambil jalan di sebelah kiri, kalian akan tiba di pegunungan yang terletak di belakang kota, pintu gerbang belakang kota dekat dengan gua tempat masuk . Segel yang membatasi gua, jangan di hancurkan, kami membuatnya bisa di dorong walau dengan bentuk segel aslinya...aku ucapkan terima kasih karena telang menolong kami.” Edward menunduk.


“Sama sama, baiklah, kami pergi...” Ujar Seiji.


Ke empatnya mulai berlari menelusuri lorong gua di sebelah kiri yang mengarah ke pintu keluar. Ketika sampai mulut gua, mereka melihat jalan keluar di segel oleh papan yang melintang menutupi mulut gua, Seiji mendorong papannya dan ternyata segel itu bisa terbuka seperti sebuah pintu. Mereka keluar dan berlari menuju gerbang di belakang kota. Suasana di dalam kota semakin ramai karena banyak budak yang merayakan kebebasannya. Ke empatnya berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri, melihat wajah wajah ceria dari budak yang sudah terbebas, membuat mereka sedikit lega. Setelah melewati alun alun dan daerah red distrik, akhirnya mereka sampai di penginapan tempat mereka menginap, ke empatnya berlari masuk ke dalam dan masuk ke kamar mereka. Tiba tiba saja, mereka melihat Chizuru melompat dan memeluk ke empatnya bersamaan, kalung rantai yang ada di lehernya sudah terlepas.


“Terima kasih ya, sekarang aku bisa pergi bersama kalian....” Ujar Chizuru.


“Hei, jangan panggil sensei, disini kamu bukan murid les ku, panggil nee-chan hehe.” Balas Chizuru.


“Ok Chi-nee....” Ujar Iroha.


“Jadi aku dan Reiko panggil aneki ya....” Tambah Seiji.


“Ok setuju, daripada senpai...” Balas Chizuru.


“Kalau aku ?” Tanya Hitoshi.


“Chi-chan...seperti biasa....” Jawab Chizuru.


Ke lima nya masuk kembali ke dalam kamar, kemudian mereka duduk sambil menunggu Floren dan Albert sadar.

__ADS_1


“Wah...besok aku harus belanja perlengkapan dan senjata nih...punya ku sudah tidak ada...” Ujar Chizuru.


“Nah kebetulan...”


Ke empatnya langsung membuka item box dan mengeluarkan barang barang yang mereka dapat dari dungeon. Busur, sarung tangan cakar, tongkat, pakaian pelindung dari kulit yang lentur berwarna hitam dan sepasang boots bersayap langsung berada di depan Chizuru.


“Eh...boleh ini semua buat aku ?” Tanya Chizuru.


“Tentu saja...” Jawab Hitoshi.


“Aku tidak bisa pakai juga...” Tambah Reiko.


“Yap...ambil saja Chi-nee...” Tambah Iroha.


“Kan apa ku bilang, pasti kepake...” Tambah Seiji.


“Terima kasih ya...aku coba dulu...”


Chizuru memakai pakaian pelindung khusus wanita yang lengkap dengan roknya, dia memakai sarung tangannya dan mencoba mengeluarkan cakarnya, setelah itu dia memasukkan lagi cakarnya. Dia memegang busur dan tongkatnya, setelah mencobanya, dia menaruh nya di item box.


“Keren nih...kalian dapat di mana ?” Tanya Chizuru.


“Kuburan....” Jawab ke empatnya.


“Hah...” Balas Chizuru.


Chizuru mulai meragukan ke empatnya yang sedang duduk tersenyum puas di depan nya, tapi dia tetap menerima barang barangnya.


“Nah sekarang aturannya, kita berlima bersaudara, jadi kehidupan masa lalu jangan di bahas lagi...kalau tidak kusut.” Ujar Seiji.


“Kamu yang bikin kusut...” Balas Hitoshi, Reiko dan Chizuru kompak.


“Sudah dong....” Ujar Seiji.

__ADS_1


“Hehehehe....” Iroha tertawa.


__ADS_2