
Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi berlari keluar dari gedung menuju kembali ke hutan,
“Bagaimana cara kita cepat menuju ke kota Durnce ?” Tanya Reiko.
“Ke kota kuno itu dulu...cepat...aku ada ide.” Ajak Hitoshi.
Ke empatnya langsung berlari dengan secepat kilat menuju ke reruntuhan kota kuno, setelah sampai,
“Di sini cukup, kalian berubah semua, jangan sampai identitas kalian ketahuan...siap ya.”
Hitoshi menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya, dia melakukannya sebanyak tiga kali,
“Giant form....Iron body.”
Tubuh Hitoshi membesar sampai sebesar 20 meter sehingga dia lebih tinggi dari pepohonan di hutan dan berubah menjadi besi mengkilap. Seiji yang menjadi werefenrir langsung memanjat tubuh Hitoshi dan berdiri di pundaknya,
“Transform shadow.”
Tubuh Iroha menjadi hitam seperti bayangan sehingga tidak bisa di kenali, Reiko yang mengeluarkan sayap lebar nya dan memakai topeng, mengambil tangan Iroha dan membawanya ke pundak sebelah kiri Hitoshi.
“Siap ya....” Teriak Hitoshi dengan suara menggelegar.
“Ya...” Teriak ketiga nya.
Hitoshi mulai berlari ke arah selatan menembus hutan. Sementara itu, di kota emerald, “Bum...bum...bum...” Tanah bergetar seperti terjadi gempa, para penduduk panik, karena terjadi gempa dadakan. Tapi tiba tiba kota ditutupi bayangan,
“Li..lihat itu...” Teriak seorang penduduk.
Mereka menoleh ke atas samping dan melihat seorang raksasa besi membawa kapak raksasa di punggungnya berlari melewati kota mereka menutupi matahari dengan seekor werefenrir berdiri di pundak kanan, gadis bayangan berdiri di pundak di kiri dan seekor kelelawar raksasa terbang di atas kepalanya. Para penduduk tertegun melihatnya, setelah mereka melewati kota, gempa langsung berhenti dan hanya bunyi langkahnya saja yang terdengar, para penduduk berkumpul di alun alun dan melihat raksasa besi berlari menjauh.
“Apa itu ?” Tanya seorang penduduk.
“Mungkinkah mereka keluar karena pelindung terbuka...immortals ?” Gumam seorang pedagang.
“Mereka bukan hanya sekedar legenda ? kita selamat ?” Tanya seorang wanita.
“Kita selamat....” Teriak seorang penduduk.
Seluruh penduduk langsung bersorak sorak, sementara itu di asrama, dari kejauhan Cyriel, Olivia, Disela, George dan Luther melihat raksasa itu semakin menjauh sambil saling berpegangan tangan penuh pengharapan.
*****
Sementara itu, hanya dalam beberapa jam saja kota Durnce sudah terlihat, tapi Seiji menoleh ke selatan,
“Aniki...lihat...gunungnya.” Ujar Seiji.
__ADS_1
Hitoshi berhenti dan menoleh, mereka melihat sebuah gunung berapi yang mulai mengeluarkan asap hitam membumbung ke atas.
“Ya, mengerikan.” Ujar Hitoshi.
“Kalau sampai meletus, kota itu pasti kena duluan...dan kalau monster itu menyerang, kota juga pasti kena duluan...” Tujuk Iroha ke arah kota Durnce.
“Kita ke kota dulu..sepertinya belum tentu langsung meletus.” Ajak Hitoshi.
“Setuju...ketemu baba dulu...” Tambah Reiko.
Hitoshi melanjutkan berlarinya, ketika sudah sangat dekat dengan kota Durnce, Hitoshi masuk ke dalam hutan dan berubah kembali menjadi wujud semula, Seiji, Reiko dan Iroha juga kembali menjadi wujud semua. Mereka langsung berlari keluar hutan menuju ke kota. Setelah masuk ke dalam gerbang, mereka melihat para penduduk yang panik dan bersiap mengungsi. Seiji menoleh dan melihat sebuah kereta bersiap keluar dari gerbang, di dalam kereta terlihat Karra sedang memeluk beberapa anak yatim piatu. Ke empatnya langsung bergegas menuju ke guild petualang untuk menemui Renola. Setelah membuka pintu dan masuk ke dalam, kondisi di dalam gedung sepi, tidak ada petualang dan resepsionis di dalam. Ke empatnya berlari naik ke lantai dua dan menuju ke ruang kerja Renola.
“Wow cepat juga, hebat...” Ujar Renola.
“Gimana baba ? kapan naganya keluar ?” Tanya Seiji.
“Bisa kapan saja, tapi karena kalian sudah di sini, aku sudah senang...apa kabar Hitoshi ?” Tanya Renola sambil menoleh pada Hitoshi.
“Baik obasan (tante)...” Jawab Hitoshi.
Renola melihat Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi yang sedang melihat keluar jendela mengamati gunung berapi yang terlihat sangat jauh. “Hmm...kurang satu ya.” Ujar Renola.
“Ngomong apa baba ?” Tanya Reiko yang kebetulan dekat dengan Renola.
“Petualang yang lain kemana ?” Tanya Seiji.
“Mereka membuat barikade di gerbang kota sebelah kanan bersama dengan ksatria kota, dengan fenomena ini, kawanan mosnter pasti menyerbu, apalagi kalau sampai naga itu keluar.” Jawab Renola.
“Baiklah, kita ke garis depan...” Ujar Seiji.
“Tunggu dulu, aku berikan pengarahan dulu pada kalian.” Balas Renola.
Ke empatnya duduk di sofa dan Renola langsung memberikan pengarahan pada mereka ber empat. Setelah itu, ke empatnya langsung keluar dari ruangan untuk menuju ke garis depan. Renola merenggangkan tangannya.
“Uuuuah...capeknya...tapi...sudah lama juga ya....baiklah, berangkat.” Ujar nya.
*****
Sementara itu, di garis depan, Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi berkumpul bersama para petualang dan para prajurit. Tentu saja, melihat tubuh mereka yang terlihat kecil di banding petualang veteran dan prajurit senior, para petualang dan prajurit itu mencibir mereka.
“Dek, sebaiknya pulang saja, di sini bukan tempat main main...” Ujar seorang petualang bertubuh besar.
“Iya benar, jangan jadi beban buat kami...” Tambah seorang petualang yang membawa tongkat ala penyihir.
Tentu saja, bagi ke empatnya yang sudah merasakan rasanya di hina sampai di injak sampai rata dengan tanah, cibiran seperti itu tidak ada artinya. “Gruduk...druk..druk.” Terdengar suara langkah kaki yang ramai, tanah sedikit bergetar, pohon pohon yang berada di dalam hutan berjatuhan, gerombolan monster mendekat maju berlarian ke arah kota,
__ADS_1
“Siap siap semua.....mereka datang.” Teriak komandan prajurit.
Para monster beraneka ragam, mulai dari slime, horned rabbit, goblin, orc, ogre, boar, saber tiger, hell bear dan lainnya, dari kecil ke besar keluar dari hutan. Para petualang dan prajurit langsung mengangkat senjata mereka, wajah mereka cemas karena mereka belum tentu pulang hidup hidup dari sana. Para monster mulai berlarian di padang rumput sambil berteriak dan menggeram. Tapi ketika sudah berada di depan barikade, seluruh gerombolan monster, dari depan sampai belakang langsung mengerem mendadak dan berhenti. Para petualang dan prajurit yang sudah pasrah, merasa sedikit lega bersamaan dengan tanda tanya yang memenuhi benak mereka.
Gerombolan yang berjumlah ratusan monster itu, diam di tempat, mengurung barikade, jika di lihat dari udara, mereka membentuk setengah lingkaran seakan akan ada pelindung yang membuat mereka tidak bisa masuk. Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi, yang berdiri paling depan, bersiul siul saja berpura pura tidak tahu, mereka hanya mendengarkan celoteh para petualang dan prajurit yang kebingungan, walau mereka melihat monster berhenti dan tidak menyerang, tidak ada satu orang pun yang berani maju. Tiba tiba, “Blar...blar...blar.” Terdengar suara letusan gunung dari kejauhan.
“Maju....” Teriak Seiji.
“Ya....” Balas Reiko, Iroha dan Hitoshi.
Ke empatnya berjalan ke arah monster yang mengurung mereka, para petualang mencoba memperingati mereka,
“Hei...anak anak...kalian cari mati...cepat mundur...” Teriak seorang petualang di susul teriakan lainnya.
Tapi kemudian para petualang dan prajurit terbelalak dengan mulut ternganga, karena para monster yang akan di lewati ke empatnya menyingkir membuka jalan, seperti prajurit yang menjaga supaya rajanya bisa lewat dan sambil menoleh melihat ke empatnya berlari menuju hutan. Melihat fenomena unik itu, para petualang dan prajurit mulai bertanya tanya,
“Siapa mereka ?” Tanya seorang prajurit kepada petualang di sebelahnya.
“Tidak tahu....aku baru melihat mereka.” Jawab nya.
“Haaaah dasar anak anak bandel...malah maju.” Ujar seorang wanita.
Para petualang dan prajurit menoleh, mereka melihat Renola melewati mereka berjalan ke kerumunan monster dan semua monster menyingkir memberi Renola jalan.
“Guild master....”
“Itu guild master....ayo ikuti...”
“Uoooooh.....”
Para petualang dan prajurit maju, tapi para mosnter itu langsung melawan mereka dan menutup jalan, walau begitu tetap saja tidak ada monster yang maju mendekati barikade apalagi menyerang, mereka seakan akan mengurung para petualang dan prajurit supaya tidak maju, seluruh monster berbalik melihat ke dalam hutan seiring langkah Renola. Sementara itu, Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi berlari dengan kencang menerobos hutan menuju gunung berapi yang terletak cukup jauh, suara letusan mulai terdengar, batu batu api berhamburan,
“Groaaaaaar.” Terdengar raungan seekor naga yang sangat besar dan menggema.
Ke empat nya melihat ke arah gunung berapi, mereka melihat naga hitam yang sangat besar, baru keluar separuh badan dari dalam kawah gunung berapi, sayapnya yang lebar dan besar membuka sehingga terlihat gunung itu seperti memiliki sayap.
“Besar sekali...” Ujar Reiko.
“Jangan gentar....” Balas Seiji.
“Ya...kita tidak boleh kalah sebelum mengucapkan sepatah dua patah kata pada dewi keparat itu...” Balas Iroha.
“Hahahaha setuju...” Tambah Hitoshi.
Ke empatnya semakin kencang berlari dan melompati pohon demi pohon supaya mereka cepat sampai ke kaki gunung berapi.
__ADS_1