
Pembantaian pun terjadi, Seiji mencabut cambuk nya dan menyabetkannya berkali kali, cambuk yang bersinar itu membuat tubuh para penjaga yang menghadangnya terbelah dua. Reiko juga mengamuk menggunakan sabit besar nya dan kadang dia menggunakan skill feast dan blood drain untuk meminum darah penjaga dari jarak jauh sampai kering menjadi mumi. Hitoshi memutar mutar kapaknya dan penjaga yang berada di radius putaran kapaknya langsung tepotong potong, terkadang dia menggunakan skill beserk kepada para penjaga supaya mengamuk dan menyerangnya sehingga masuk ke dalam radius putaran kapaknya. Iroha menggunakan skill teleportnya dan muncul di belakang penjaga, sekali ayunan tombak dari slimenya dia memenggal kepala penjaga, kemudian dia menghilang dan muncul lagi di barisan penjaga berikutnya dan melakukan hal yang sama.
Setelah penjaga habis, Seiji, Reiko dan Iroha masuk ke dalam mansion, di dalam para pelayan laki laki dan perempuan meringkuk ketakutan, hampir semua pelayan di dalam ruangan memakai kalung budak sama seperti Chizuru. Ke empatnya pergi keruang kerja di lantai dua dan menendang pintunya,
“Yo...” Sapa Seiji kepada siapa saja yang ada di dalam setelah menendang lepas pintunya.
Ketika masuk, Seiji, Reiko dan Iroha melihat pintu itu menancap di perut seorang penjaga, mereka juga melihat seorang pria paruh baya yang gemuk dan berkumis dengan wajah menyebalkan sedang bersama dengan pemuda gemuk yang ada di kereta bersama Floren dan Albert.
“Aaaaaah monster monster itu lagi....” Ujar pemuda gemuk itu sambil terduduk dengan wajah ketakutan.
“Siapa kalian...mau apa kalian kesini ?” Tanya pria paruh baya gemuk itu.
Para penjaga yang ada di ruangan langsung membuat barisan di depan kedua pria gemuk itu dan menodongkan tombaknya. Tiba tiba dari dua jendela di belakang kedua pria gemuk itu hancur, dua buah tangan besar dari batu masuk dan langsung menangkap dua pria gemuk itu.
“Aaaaaaah....” Teriak pemuda gemuk itu ketakutan.
“Bu..bunuh mereka.....” Teriak pria paruh baya itu memerintahkan penjaga.
“Sriiing...” Terdengar suara pedang di sabetkan, Iroha menjentikkan jarinya dan kepala para penjaga yang membuat barisan bergulir jatuh ke bawah. Para penjaga itu langsung roboh bertumpuk di depan kedua pria gemuk itu. Reiko mengangkat tangannya, darah dari mayat para penjaga yang menumpuk itu keluar dan masuk ke dalam tangannya, tumpukan mayat itu langsung menjadi tumpukan mayat kering seperti mumi.
“Aaaaah segar...” Ujar Reiko dengan suara mengerikan.
“Si..siapa kalian....mau apa kalian....kalian tidak tahu aku siapa, aku adalah count Agrias Heinell....aku bisa memberikan kalian uang yang banyak...lepaskan aku..” Teriak Agrias sang pria paruh baya gemuk itu.
“Be..benar...papaku banyak uang....” Ujar anaknya yang juga gemuk.
Seiji berjalan mendekati anak nya yang terbelenggu oleh tangan Hitoshi dari luar rumah.
“Aku dengar kamu menculik Floren dari desa ya....” Ujar Seiji.
“Hah...menculik ? dia tunangan ku....wajar kalau aku menjemputnya...” Ujar pemuda gemuk itu.
“Namamu siapa ? kita kan sudah bertemu di kereta tadi tapi belum berkenalan.” Ujar Seiji.
“Namaku Gisald Heinell....aku pewaris keluarga ini dan sudah di tunjuk oleh kerajaan menjadi penasihat.” Ujar Gisald.
“Hooo selamat....semoga sukses ke depannya, lalu mana mama kedua Floren ? bisa beritahu aku yang mana orangnya ?” Tanya Seiji.
“A..aku tidak tahu...” Ujar Gisald pura pura.
“Kalau kamu tahu ossan ?” Tanya Seiji.
“Huh...berarti kalian utusan si tua Delanora....kurang ajar....berani sekali dia memperlakukan penolongnya seperti ini...kalian akan terima ganjarannya, kerajaan Grandia tidak akan tinggal diam.”
Mendengar Agrias yang marah marah dan mengatakan kalau dia masih punya kekuasaan, Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi yang di luar, tertawa terbahak bahak.
“Sudah lah, jangan basa basi lagi, katakan bagaimana cara melepaskan kalung budak..” Teriak Reiko.
__ADS_1
“Ya...cepat katakan kalau tidak kalian akan merasakan kengerian yang luar biasa.” Tambah Iroha.
“Hahaha...jadi kalian berniat membebaskan budak ? percuma, budak di kota ini semuanya adalah milikku, walau kalian merobek surat kontrak nya, mereka akan tetap menjadi milik ku, karena aku mengikat kontrak darah dengan mereka...jadi kalian tidak akan bisa melepaskan kontraknya.” Ujar Agrias.
“Hoo..kalau kamu mati ?” Tanya Seiji.
“Kepala mereka akan meledak, mereka akan selamanya melayani ku sampai mati hahahaha....” Jawab Agrias yang merasa menang.
“Hmm...begitu ya, kalau begitu aku tanya, mama dari Floren di pakaikan kalung ga ?” Tanya Seiji.
“Hah...mana mungkin aku memakaikan kalung pada bangsawa, lagipula dia menurut karena aku akan mengancam akan mencari dan membunuh anaknya jika melawan, tidak perlu kalung budak untuk mengendalikannya...” Ujar Agrias.
“Ok ok...bagus. Kalau gitu bunuh dia...” Ujar Seiji.
“Hehehe bagus bagus...siap.” Reiko melangkah maju.
“He..hei...kalau kalian bunuh aku, seluruh budak mati...kalian mau itu ?” Tanya Agrias ketakutan.
“Oh selama mama dari Floren tidak pakai kalung tidak masalah, sejujur nya kami bertanya soal kalung karena ingin memastikan di tambah kami juga akan menolong teman kami, tapi kalau memang seperti itu ya sudah, toh kami yakin teman kami tidak akan mati karena ledakan kecil itu.” Jawab Seiji.
“A..apa ? kalau kalian membunuhku, kalian akan bermusuhan dengan kerajaan Grandia...” Ujar Agrias.
“Yo ossan, asal tahu saja ya, kita berempat berniat memusnahkan dua kerajaan yang ada sekarang jadi sekarang atau nanti sama saja...” Ujar Seiji.
“A..apa....” Balas Agrias ketakutan.
“Tu..tunggu...jangan bunuh papaku, aku akan katakan bagaimana cara melepaskannya...tolong....” Teriak Gisald.
Seiji menoleh lagi kepada Hitoshi dan dia merenggangkan pegangannya, kemudian Seiji berpindah ke depan Gisald.
“Cepat katakan....” Ujar Seiji.
“Papa ku....bohong, tidak ada yang namanya kontrak darah...dia bilang begitu supaya kalian melepaskan kami....surat kontraknya ada di dalam laci, di dalam kontrak itu ada semua nama budak di kota ini...” Ujar Gisald.
“Bagus...sebentar.”
Seiji melirik kepada Iroha, langsung saja Iroha membongkar meja dan menemukan sebuah gulungan kertas berwarna emas yang besar, ketika di buka ternyata memang yang di katakan Gisald benar. Iroha dan Reiko yang ikut melihat mengkonfirmasi kepada Seiji,
“Ok...lalu, harus diapakan kontrak itu ?” Tanya Seiji.
“Bakar atau robek, apa saja asal hancurkan kontrak itu, kertas kontrak itu di selimuti sihir dan sulit di hancurkan..api biasa tidak bisa membakarnya.” Ujar Gisald.
“Hmmm baiklah...” Balas Seiji.
Seiji menoleh kepada Hitoshi supaya Hitoshi melepaskan Agrias yang pingsan dengan wajah berdarah, setelah di lepaskan, Seiji membaringkan Agrias di atas meja kerja, kemudian dia menaruh gulungan kertas emas di atas tubuh Agrias. Dia melirik Reiko dan Iroha supaya menyingkir dari hadapannya.
“Dragon breath.”
__ADS_1
Seiji membuka mulutnya dan mengeluarkan nafas api yang sangat panas, membakar Agrias berserta suratnya dan seluruh ruangan di depannya.
“Aaaaah...kalian janji tidak membunuh papaku...kenapa...kenapa...papa..papa...” Teriak Gisald.
“Eh...memang dia janji tidak membunuhnya ?” Tanya Reiko.
“Tidak tuh, kan kamu sendiri yang bilang bagaimana cara melepasnya, dia cuma berhenti dan bertanya pada mu kok, tidak janji hehe.” Jawab Iroha.
“Ka..kalian biadab...aku....aku akan membalas kalian...aaaaaaa...” Teriak Gisald.
“Oh gitu, baiklah kami tunggu, tapi kamu juga sebentar lagi menyusul papamu...” Ujar Hitoshi di luar.
“Hehehe benar tuh, jadi tenang saja anak papa...” Tambah Reiko.
“Kalian akan bertemu kembali dan mengadakan reuni di neraka...” Tambah Iroha.
Merasa dirinya sudah tidak akan selamat lagi dan melihat Seiji masih membakar papanya dengan semburan api naga, Gisald menunduk pasrah. Akhirnya Seiji selesai membakar semua di depannya menjadi abu, termasuk Agrias dan gulungan kertasnya. Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan dan sorakan menggema di seluruh kota. Hitoshi melihat para pelayan yang sudah terlepas berlarian keluar dari mansion menuju ke kota.
“Sudah berhasil....” Ujar Hitoshi memberitahu yang di dalam.
“Sip....sekarang tinggal di pilih, mau mati sama siapa...” Ujar Seiji di depan wajah Gisald yang sudah pasrah.
Tiba tiba Hitoshi menggencangkan cengkramannya, Iroha langsung memotong kedua kakinya dan Reiko menggigit lehernya.
“Agh...agh...agh....” Teriak Gisald.
“Wah ternyata ga di kasih kesempatan jawab...bye.” Seiji langsung meremas wajahnya dengan tangan.
Dalam sekejap, Gisald langsung tewas tanpa bisa berkata apa apa lagi, ke empatnya kembali ke wujud semula kemudian berkeliling di dalam mansion yang sudah sepi untuk mencari mama kedua dari Floren. Mereka menuju ke kamar tidur utama dan menemukan wanita yang walau sudah paruh baya tapi masih terlihat cantik dalam kondisi telanjang terkulai lemas di tempat tidur yang sangat besar. Reiko dan Iroha langsung menyelimuti tubuhnya,
“Diakah mama dari Floren dan Cyriel ?” Tanya Reiko.
“Yah...wajahnya mirip Cyriel....uh...aku masih sulit membayangkan kalau Cyriel itu perempuan.” Ujar Seiji.
“Kita bawa dia ke penginapan, sekarang pertanyaannya bagaimana cara kita keluar dari sini tanpa ketahuan ?”Tanya Hitoshi.
“Nah...baru kepikir sekarang...” Jawab Iroha.
Tiba tiba di depan pintu kamar berdiri seorang pria paruh baya yang sudah berambut putih, di lehernya ada bekas kalung yang sudah terlepas. Iroha yang bereaksi paling cepat dari yang lain langsung menghilang dan muncul di belakang pria itu.
“Mau apa kamu ?” Tanya Iroha.
“Ma..maaf....aku sedikit mendengar pembicaraan kalian...ijinkan aku menolong kalian keluar dari sini...namaku Edward, aku pelayan setia Victoria-sama sejak dia masih di benua selatan.” Ujar Edward.
“Jadi nama mama kedua Floren adalah Victoria ?” Tanya Seiji.
“Benar...mari ikut aku, mohon bawa Victoria-sama berserta kalian...” Jawab Edward.
__ADS_1
Hitoshi langsung menggendong Victoria di punggungnya dan mereka mengikuti Edward untuk keluar melalui jalan rahasia.