
Setelah berpikir, Seiji mengambil cangkirnya di meja dan meminumnya, kemudian dia melihat ke arah Renola,
“Baiklah, aku mengerti, tapi apa sebenarnya yang anda minta dari ku ? tidak mungkin anda menahan ku hanya dengan kondisi dan situasi saat ini.” Ujar Seiji.
“Hahaha langsung pada intinya, aku jadi senang padamu, Solon....baiklah, akan aku katakan...” Balas Renola.
Renola berdiri dan mengambil sebuah kertas dari meja kerjanya, kemudian dia membawanya dan menaruhnya di meja persis di depan Seiji. Tanpa menunda lagi, Seiji mengambil kertas itu, ternyata kertas itu berisi sebuah tugas dari Marquiss Krauss penguasa kota Durnce. Isi tugasnya adalah menyelidiki dungeon yang baru muncul di dekat kota Longberg daerah kekuasaan Baron Schulz. Setiap mereka mengirim orang kesana, tidak pernah ada yang kembali, sampai pasukan ksatria dari kota Longberg pergi menyelidiki kesana. Dari seluruh pasukan yang kembali hanyalah seorang ksatria wanita dalam keadaan terluka parah. Menurut laporannya, di dalam dungeon itu ada entitas yang tidak di ketahui dan kekuatannya sangat luar biasa. Entitas itu selalu berteriak, “Aku mati....aku mati....aku mati....” sambil memegang kepalanya.
“Jadi anda minta aku menyelidikinya...” Ujar Seiji.
“Benar, dungeon baru harus di selidiki, tapi penyelidikan tebentur oleh adanya entitas misterius di dalam. Detailnya masih belum jelas, karena ksatria yang lolos itu terlalu takut untuk mengatakan detailnya. Aku merasa Solon bisa mengatasinya.” Balas Renola.
“Tapi kenapa aku ?” Tanya Seiji.
“Karena kamu juga keluar dari dungeon yang baru di temukan bulan lalu dan mengalahkan bos terakhirnya...” Jawab Renola.
“Hmm...bukankah nama dungeon itu adalah dungeon of calamity ?” Tanya Seiji.
“Semua dungeon di dunia ini bernama dungeon of calamity, karena yang menciptakan dungeon adalah Goddess of Calamity, Resephone.” Jawab Renola.
“Resephone ?” Tanya Seiji.
“Hmm...Karra, coba jelaskan sama dia...” Ujar Renola kepada Karra.
Karra kemudian menjelaskan kalau di dunia ini di ciptakan oleh dua orang dewi kembar, bernama Resephone dan Raphaela, mereka mengisi dunia dengan makhluk yang di sebut manusia, elf, dwarf, beastmen dan vampire. Tapi kemudian Resephone melihat ke lima ras itu berperang dan tidak akur satu sama lain, akhirnya dia menciptakan satu ras yang jauh lebih superior dari seluruhnya yaitu immortals. Tapi ternyata immortals malah menindas seluruh ras dengan tangan besi dan bertindak sewenang wenang karena berkuasa, Resephone yang melihat seluruh ras di kuasai oleh immortals dan tidak berperang satu sama lain lagi menjadi lega dan senang, tapi Raphaela yang melihatnya menjadi marah melihat tingkah laku para immortals, akhirnya Raphaela meminta bantuan para dewa lain untuk menghancurkan para immortals dan memenjarakan Resephone di bawah tanah.
Resephone marah karena dia merasa menciptakan perdamaian bagi dunia dan tidak pantas di hukum, kemudian dia menciptakan jaringan dungeon di seluruh dunia yang kadang membawa malapetaka bagi dunia. Sekarang, Resephone di kenal sebagai goddess of calamity dan dungeon ciptaannya di sebut sebagai dungeon of calamity dan menurut legenda, dia tinggal di salah satu dungeon ciptaannya.
“Resephone ya.....diakah dewi keparat yang membuatku mati berkali kali dan membawa ku ke dunia ini ? Jadi aku adalah immortals ? kalau benar seluruh dungeon di dunia ini berhubungan, berarti wajar aku ada di sini walau aku di buang di Grandia.” Ujar Seiji dalam hati.
“Solon-san ?” Tegur Karra yang melihat Seiji termenung.
__ADS_1
“Maaf....aku hanya sedikit kaget mendengar ceritanya.” Balas Seiji.
“Hahaha.....itu hanyalah legenda dan mitos tentang penciptaan dunia ini, kebenarannya tidak ada yang tahu...baiklah, kapan kamu mau berangkat ?” Tanya Renola.
“Aku berangkat sekarang....” Ujar Seiji.
“Um...boleh tidak berangkatnya besok saja Solon-san ? aku mau mengajakmu kerumah dulu bertemu ibu.” Karra menarik tangan Seiji.
“Ya, tidak usah buru buru Solon, dungeon nya tidak akan kemana mana...lagipula kamu baru tiba di kota kan, istirahatlah dulu...” Tambah Renola.
“Baiklah, terima kasih Relona-san, ayo kita kerumah mu Karra-san...” Balas Seiji.
“Oh ya, sebelum pergi, ambil dulu kartumu di counter resepsionis ya.” Balas Renola.
“Baik, saya permisi...” Balas Seiji.
Kemudian keduanya keluar dari ruang guild master dan kembali turun ke bawah, ketika berjalan turun, Seiji baru sadar kalau banyak sekali petualang yang tidak ada pekerjaan dan berdiam di dalam guild, dia menoleh melihat papan tugas dan memang tidak banyak tugas yang tertempel di sana.
Mereka langsung ke counter untuk mengambil kartu guild milik Seiji, Chelsea langsung memberikan kartunya dan seperti yang di katakan oleh Relona, dia memberi Seiji rank C. Setelah berpamitan dengan Chelsea, keduanya keluar dari gedung guild petualang. Mereka berjalan menuju ke rumah Karra yang terletak di dekat distrik perdagangan.
“Karra-san, kenapa kamu ingin aku ikut ke rumahmu ?” Tanya Seiji.
“Um...aku mau minta tolong, kalau kalau mama marah hehehe.....” Jawab Karra.
“Hmm ok, aku akan bantu kamu menjelaskan.” Balas Seiji.
“Terima kasih Solon-san....” Balas Karra senang.
Setelah melewati distrik perdagangan, mereka tiba di sebuah biara tua yang masih terawat, Karra mengajak Seiji masuk ke dalam, dia langsung membuka pintu biara itu,
“Aku pulang....” Teriak Karra.
__ADS_1
Di dalam banyak sekali anak anak kecil dan beberapa remaja dari bermacam macam ras, bahkan ada beberapa dari ras vampir yang menghindari cahaya matahari, semua menoleh dan melihat Karra yang membuka pintu,
“Karra-neechan.....” Teriak anak anak itu sambil berlarian menyambut Karra.
“Hehe apa kabar, aku sudah pulang...semua sehat ?” Tanya Karra.
“Nee-chan kemana saja, kok baru pulang ?” Tanya seorang remaja putri yang usianya mungkin sekitar 15 tahun.
“Panjang ceritanya...tapi pokoknya aku sudah pulang....mama mana ?” Tanya Karra.
“Ada di dalam, masuk saja nee-chan...” Balas remaja putri itu.
“Yuk, Solon-san, kita masuk ke dalam...” Ajak Karra kepada Seiji.
“Nee-chan, dia siapa ? pacar nee-chan ya ?” Tanya seorang anak kecil.
“Hah...bu..bukan....jangan tanya macam macam.” Jawab Karra dengan wajah merah.
Karena mendengar keributan di dalam biara, seorang biarawati keluar dari dalam, ketika dia melihat Karra, dia langsung berlari menghampiri Karra,
“Karra....” Teriak biarawati itu.
“Mama.....” Balas Karra yang melihatnya.
Keduanya langsung berpelukan, biarawati itu memeluk Karra dengan erat dan menangis tersedu sedu,
“Syukurlah, terima kasih dewi...terima kasih....aku benar benar bingung mendengar berita kalau kamu sudah mati di dungeon....aku tidak percaya dan ternyata dewi melindungi mu...syukurlah Karra....syukurlah...” Teriak biarawati itu sambil memeluk Karra.
“Iya, aku sudah pulang mama...” Balas Karra.
Seiji yang melihatnya diam saja dengan wajah datar, dia sudah tidak bisa merasakan hal hal seperti yang di lihatnya karena sudah hilang dari ingatannya. Para anak kecil dan remaja yang melihat Karra berpelukan dengan biarawati itu sambil menangis, mengerubungi keduanya dan ikut menangis.
__ADS_1
“Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa apa...” Pikir Seiji di dalam hati.