
Seiji dan Karra langsung muncul di sebuah ruangan yang terang benderang dan luas, di sana banyak sekali orang sedang beristirahat dan berkumpul. Tiba tiba layar status Seiji terbuka, dia naik level menjadi 132 dengan power 26.400.000.
“Hmm....naiknya hanya sedikit ya...coba kalau Karra-san...”
Seiji melihat status Karra, sekarang Karra menjadi level 50 dengan power 1.720.000. Setelah melihat status Karra, Seiji tersenyum dan mengangguk. Ketika keduanya sudah sampai di pintu keluar,
“Yo Karra...rupanya kamu masih hidup...” Tegur seorang pria di belakang keduanya.
Seiji dan Karra menoleh, mereka melihat seorang pria manusia bertubuh besar dan kekar yang membawa senjata pedang yang sangat besar, seorang elf yang memakai jubah penyihir membawa tongkat berpermata di mata tongkatnya, seorang gadis manusia yang bersenjatakan busur dan terakhir seorang pria dwarf pendek yang membawa kapak besar. Mereka melihat Karra dengan geram dan tidak percaya kalau Karra masih hidup,
“Kenalan mu ?” Tanya Seiji.
“Mereka yang meninggalkan ku di dalam dan di umpankan ke musuh..mereka grup petualang rank A.” Jawab Karra geram.
“Oi oi jangan begitu Karra, kami memberi kesempatan padamu yang tidak berguna untuk berlatih, toh buktinya kamu masih hidup....tapi sekarang kamu harus ikut kami ke tengah hutan.” Ujar pria besar dan kekar itu.
“Mau apa di tengah hutan Brody ?” Tanya Karra.
“Ah...tentu saja menyelesaikan tugas yang belum di selesaikan...” Balas Brody dengan tangan ingin mengambil telinga Karra.
Tangan Brody langsung di tangkap oleh Seiji dan meremasnya, kemudian Seiji menarik Brody dan mendekatkan wajahnya pada Brody,
“Ok, kita ikut kalian ke hutan, pimpin jalannya...” Ujar Seiji sambil tersenyum dan melepaskan tangan Brody.
“Huh...sepertinya kamu mau ikut campur ya...bawa dia sekalian..” Ujar Brody sambil memegang tangannya yang di remas oleh Seiji.
Brody dan kelompoknya langsung membawa Seiji dan Karra keluar dari dungeon kemudian menuju ke dalam hutan, di jalan Seiji menggunakan skill analyzenya untuk melihat status Brody dan kelompoknya, ternyata yang memiliki level paling tinggi adalah Brody yaitu level 40 dengan power 1.240.000. Dari segi power, jelas Karra lebih unggul dari Brody. Seiji yang melihatnya menjadi sedikit tenang dan dia tidak perlu turun tangan. Mereka akhirnya sampai di tepi sungai dengan ujung air terjun yang cukup tinggi.
“Naaaah...sekarang, kita akan membunuh mu Karra....supaya kamu tidak menceritakan yang sebenarnya pada guild...” Ujar Brody.
“Keterlaluan....aku yang akan membalas kalian....aku dan Solon-san tidak akan kalah...” Balas Karra.
“Um...maaf nih Karra-san, tapi aku tidak ikut campur ya, kalian selesaikan sendiri, aku tunggu di batu itu...” Jawab Seiji.
“A..apa ? kamu tidak mau membantu Solon-san ?” Tanya Karra sedih.
__ADS_1
Mendengar perkataan Seiji, tentu saja Brody dan kelompoknya tertawa terbahak bahak sambil mengejek Karra, tapi kemudian Seiji tersenyum dan melihat ke arah Brody,
“Oh kalian jangan salah sangka ya, alasan aku tidak membantu karena kalian tidak akan menang melawan Karra-san....” Ujar Seiji sambil melirik kepada Karra dan berkedip.
Karra yang mendengar perkataan Seiji langsung tersenyum dan mengangguk, sementara di kubu Brody menjadi geram karena Seiji di anggap mengejek mereka sampai harga diri mereka tersinggung. Dengan santai, Seiji berjalan menuju ke batu dan duduk di atasnya sambil menonton, Karra langsung menaruh tasnya dan mengambil tombaknya dari dalam tasnya. Tanpa basa basi lagi, Brody dan kelompoknya langsung menyerang Karra bersamaan, tapi Karra dengan lincah menghindari serangan senjata dan tembakan sihir dengan lincah, dia melumpuhkan ke empat orang itu satu persatu dengan tarian tombaknya tanpa membunuh mereka.
“Ti..tidak mungkin....” Teriak Brody yang sudah terlungkup tidak berdaya.
“Mungkin saja....kalian meremehkan Karra-san kan, gimana rasanya di kalahkan oleh orang yang kalian remehkan selama ini hmm ?” Tanya Seiji.
“Ku..kurang ajar....aku pasti akan membalas kalian....pasti...” Teriak Brody.
“Oh itu tidak mungkin, karena kalian habis ini tidak akan berpetualang lagi...lihat kaki kalian.” Ujar Seiji santai.
Brody menoleh ke belakang, dia melihat kedua kakinya berwarna ungu dan tidak bisa bergerak, wajahnya langsung berubah menjadi ketakutan. Selain Brody, ternyata semua kelompoknya juga mengalami nasib yang sama.
“A..apa yang kau lakukan pada kami ?” Tanya Brody.
“Hmm...aku hanya memberikan pelajaran pada kalian....sekarang minta maaflah pada Karra-san.” Ujar Seiji sambil merangkul Karra.
“Baiklah kalau begitu, begitu warna ungu di kaki kalian sampai ke jantung kalian, kalian akan mati....ayo Karra-san, kita pergi.” Ujar Seiji.
“Ba..baik...Solon-san...” Balas Karra.
Keduanya berbalik, warna ungu di kaki Brody sudah naik sampai ke daerah betis. Brody dan kelompoknya menjadi ketakutan, mereka merangkak mengejar Seiji dan Karra.
“Tu..tunggu....kami tidak mau mati...” Teriak Brody.
Langkah Seiji berhenti, dia mengajak Karra kembali menghampiri Brody dan kelompoknya yang terus memohon.
“Sudah ku bilang kan, minta maaf pada Karra-san dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi...” Balas Seiji.
“Baik...baik...Karra, kami minta maaf, tolong bujuk dia untuk menyelamatkan kami, kami janji kami tidak akan berhubungan lagi dengan mu dan tidak akan mengganggu mu lagi...tolong Karra.” Ujar Brody.
“Iya Karra, kami benar benar bertobat, kami janji, aku pribadi minta maaf, tolong serahkan penawar racunnya pada kami...” Ujar si elf.
__ADS_1
“Tolong Karra, kita berdua sama sama perempuan di kelompok ini kan, aku minta maaf karena sering meledek mu dan meremehkan mu, tolong aku Karra.” Tambah si gadis pemanah.
“Karra, kamu sudah aku anggap saudara, tolong maafkan aku, aku janji habis ini kita tidak akan bertemu lagi.” Tambah si dwarf.
“Gimana Karra-san ?” Tanya Seiji menoleh kepada Karra.
“Baiklah, Solon-san, aku memaafkan mereka....tapi kalian tolong janji, habis ini aku tidak akan mau melihat kalian lagi...” Balas Karra.
“Kami janji...” Ujar ke empat orang itu.
Kemudian Seiji mengambil sebuah botol berisi cairan bening seperti air dan melemparkanya kepada ke empatnya, tentu saja ke empatnya langsung berebut memperebutkan botol itu, Seiji dan Karra berbalik meninggalkan mereka.
“Ah sebentar, Karra-san, kamu tunggu di sini sebentar aku harus menjelaskan cara pakai penawarnya...” Ujar Seiji.
“Oh ok Solon-san, aku tunggu di sini...” Balas Karra.
Seiji langsung berlari menghampiri Brody dan kelompoknya yang terlihat masih berebut botol penawar, dia langsung jongkok di depan ke empatnya,
“Yo, aku lupa sampaikan, isi botol itu hanyalah air sungai yang ku ambil barusan, racun ku tidak ada obatnya, jadi kalau kalian mau selamat ya potong kaki kalian...” Ujar Seiji di depan Brody dan kelompoknya sambil tersenyum.
“A..apa ?” Tanya Brody.
“Yah, percaya atau tidak itu terserah kalian, seperti yang ku bilang tadi, kalian tidak akan berpetualang lagi, jadi sudah saatnya pensiun, pilihannya mati atau cacat, aku kasih pilihan karena Karra-san memaafkan kalian...baiklah, aku sudah menyampaikan, oh sebaiknya cepat ambil keputusan, racunnya sudah mulai sampai ke tengah paha..jangan sampai kalian memotong pinggang kalian kan.” Balas Seiji sambil berdiri.
Kemudian dia berjalan menuju ke tempat Karra menunggu, meninggalkan Brody dan kelompoknya yang pucat pasi. Setelah sampai ke tempat Karra menunggu,
“Gyaaaaaah....” Terdengar suara teriakan beberapa orang dari tepi sungai.
“Eh apa itu Solon-san ?” Tanya Karra yang mendengarnya.
“Oh bukan apa apa...yuk jalan.” Jawab Seiji.
“Iya ayo....” Balas Karra yang sebenarnya masih penasaran dan menoleh ke belakang.
Keduanya melangkah keluar hutan dan melihat sebuah kota yang lumayan besar berada di tengah padang rumput yang luas. Seiji melihat kota itu dan mengepalkan tangannya.
__ADS_1