
Keesokan harinya, ke empatnya berjalan pergi melalui gerbang belakang kota, sebelum pergi mereka membeli beberapa ikan segar dan bumbu bumbu untuk di simpan di item box sebagai ransum mereka selama perjalanan. Setelah keluar dari gerbang, Seiji kembali membuka petanya dan melihat arah desa yang akan mereka tuju. Mereka berjalan menuju ke arah yang di tunjukkan oleh Seiji. Setelah cukup lama berjalan,
“Sei-niichan...ada yang mengikuti kita...” Ujar Reiko.
“Iya aku tahu....sudah sejak kemarin...” Ujar Seiji.
“Tenang saja, mereka tidak berbahaya...aku tidak merasakan ada niat apapun dari mereka.” Ujar Hitoshi.
“Mau aku bereskan ?” Tanya Iroha.
“Tidak usah...nanti saja....” Jawab Seiji.
Ke empatnya berjalan seperti biasa saja, dua orang berkerudung mengikuti mereka dari kejauhan di belakang mereka. Setelah hari sudah sore menjelang malam, ke empatnya sampai di sebuah desa yang sangat sepi, hanya ada beberapa penduduk yang sudah tua tinggal di dalam. Ke empatnya masuk untuk mencari tempat bermalam, mereka bertemu dengan seorang kakek yang sedang duduk di depan rumahnya,
“Permisi jiisan (kakek), apa di desa ini ada penginapan ?” Tanya Seiji.
“Dulu ada, tapi pemiliknya sudah mengungsi ke Vestal, di sini banyak rumah kosong, pakai saja salah satu, kalian petualang kan...sudah lama tidak ada petualang mampir kesini...” Ujar kakek.
“Oh kita sebenarnya mau ke dungeon...” Ujar Seiji.
“Begitu ya, kalian pakai saja salah satu rumah kosong di sini kalau tidak lama, tapi maaf, kita warga desa tidak bisa menjamu kalian...dan setelah malam jangan keluar rumah ya...” Ujar kakek itu.
“Memang kenapa jiisan ?” Tanya Hitoshi.
“Ketika desa ini di tutupi kabut, banyak orang mati yang berjalan jalan, kalau kalian tertangkap, kalian akan jadi salah satu dari mereka...” Jawab kakek.
“Hmm...aku kok malah jadi penasaran ya...” Balas Iroha.
“Kamu bicara apa...” Balas Reiko mulai takut.
“Kalian mau makan dulu, masuk saja dulu...” Ujar kakek.
“Tidak usah kek, kami jalan dulu....kami pakai salah satu rumah kosong.” Balas Seiji.
Setelah pamit ke empatnya berjalan masuk ke dalam desa, benar seperti yang di katakan kakek, penghuni desa hanya ada beberapa saja, terlihat dari rumah rumah yang kosong dan terbengkalai di setiap sudut desa, hanya ada beberapa rumah saja yang terlihat ada cahaya di dalam dan ada penghuni nya. Ke empatnya masuk ke dalam sebuah bangunan rumah yang bertuliskan penginapan di depannya, begitu masuk, di dalamnya sudah berantakan dan benar benar terlantar, ruangan yang sebelumnya sepertinya restoran, sekarang hanya tumpukan meja dan kursi yang hancur. Ke empatnya masuk ke dalam dan menggunakan tumpukan meja itu sebagai sarana membuat api unggun.
Api unggun sudah menyala, mereka langsung memanggang ikan yang mereka beli dari kota Vestal dan membumbuinya. Hari sudah gelap, Seiji melihat keluar, seperti yang di katakan kakek, kabut mulai turun dan menyelimuti desa, suasana menjadi sedikit mencekam seperti di film horror. Seiji kembali duduk di sebelah Reiko yang langsung mendekap tangannya. Setelah ikan matang, ke empatnya makan dengan lahap, tiba tiba, “Kyaaaaaaaaa.” Terdengar suara teriakan seorang gadis di luar. Ke empatnya menaruh ikan mereka dan berdiri, kemudian mereka berlari keluar. Di luar ada dua orang yang sedang di kerubungi oleh mayat hidup yang sudah separuh tengkorak dan berdarah darah, di tambah tengkorak hidupnya. Seorang pria berkerudung yang sedang di kerubungi terlihat berusaha melindungi seorang gadis berkerudung di belakangnya dengan pedang tipis dan panjang seperti anggar nya.
“Zo..zombie ?” Tanya Reiko.
“Yup...seperti di film...” Jawab Seiji santai.
“Hmmm visual efek nya bagus ya, sampai tercium baunya wuiih...” Ujar Hitoshi sambil menutup hidungnya.
“Ini keren....aku penggemar horror.” Ujar Iroha.
“Lalu, kita tolong mereka ga ? mereka kan yang mengikuti kita.” Ujar Hitoshi.
“Tolong deh, kasihan juga....” Balas Seiji.
Ke empatnya berjalan maju, seluruh mayat hidup dan tengkorak yang mengerubungi dua orang itu langsung menyingkir dan pergi. Ke empat nya berdiri di depan dua orang berkerudung yang terlihat bingung.
“Sudah aman, kenapa kalian mengikuti kami ?” Tanya Seiji.
“Oh...ketahuan ya...” Jawab si gadis berkerudung.
“Ya, sebenarnya kami sudah tahu sejak di penginapan semalam...” Tambah Reiko.
“Jadi kalian mau apa...tidak mungkin kan mengikuti tanpa ada mau nya.” Tambah Hitoshi.
“Atau mau jadi seperti mereka ?” Tanya Iroha sambil menunjuk para mayat hidup yang sedang berjalan pergi.
__ADS_1
“Tolong jangan bunuh kami, kami tidak ada maksud jahat...” Pria itu membuka kerudungnya.
Ke empatnya mengenali pria itu, sebab pria itu adalah Albert yang berada di belakang Floren yang membuka tirai kereta mereka waktu di jembatan.
“Hooo...kamu rupanya, lalu yang di belakang itu, putri yang bilang kita berbuat macam macam pada monster laut di jembatan ya...” Ujar Seiji.
“Benar, namaku Florencia, tolong jangan di lupakan....” Floren berjalan ke depan dan membuka kerudungnya.
“Bukankah kalian mau ke benua selatan ? kenapa mengikuti kami ?” Tanya Seiji.
“Karena kalian menarik, lihat saja, para monster itu langsung menyingkir, berarti ular naga di jembatan itu juga pergi karena melihat kalian kan...” Jawab Floren.
“Lalu....ada perlu apa ?” Tanya Hitoshi.
“Aku butuh bantuan kalian....” Jawab Floren.
“Tidak tertarik...ayo Sei-niichan...” Reiko menarik lengan Seiji berjalan menuju penginapan.
“Iya, malas...ayo Hito-nii....” Iroha menarik lengan Hitoshi dan membawanya pergi.
“Tunggu...hei...tunggu kataku..” Teriak Floren.
Akhirnya mereka semua kembali masuk ke dalam penginapan yang sudah terbengkalai. Ke empatnya kembali duduk memutari api unggun, sementara Floren dan Albert berdiri di pintu.
“Hei, kita diamkan saja mereka ?” Tanya Hitoshi berbisik.
“Diamkan saja, mereka salah sendiri, siapa yang suruh mengikuti kita.” Jawab Reiko berbisik ketus.
“Hmm paling tidak kita dengarkan dulu mereka mau apa...” Ujar Seiji.
“Ih...Seiji-niichan lembek banget.” Ujar Iroha.
Akhirnya Seiji berdiri menghampiri Floren dan Albert yang berdiri di pintu masuk ruangan.
“Hei yang sopan ya sama ojousama...” Tegur Albert.
“Hee...kamu mengharapkan seorang petualang punya kesopanan...baiklah, terserah kalian.” Ujar Seiji berbalik.
“Tunggu, maafkan Albert, ayo kita bersama kesana...” Ujar Floren.
“Ojousama...” Teriak Albert.
“Tidak apa apa Albert, mereka sudah menolong kita, lagipula kita juga yang salah mengikuti mereka.” Ujar Floren.
“Wah ojousama mengerti rupanya, tuh dengar Albert...” Balas Seiji meledek.
Wajah Albert menjadi geram tapi dia tidak berani bersuara, akhirnya keduanya bergabung dengan Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi mengelilingi api unggun. Hitoshi memberikan dua ekor ikan pada Floren dan Albert supaya memanggangnya sendiri. Albert mengambilnya dan dia langsung memanggangnya di sebelah api unggun,
“Jadi, minta tolong apa ?” Tanya Seiji.
“Oh kalian mau mendengarkan ?” Tanya Floren.
“Tergantung, kita juga sedang punya urusan soalnya.” Ujar Hitoshi.
“Paling tidak dengarkan dulu, benar tidak Seiji-niichan...” Balas Iroha.
“Huh...” Gumam Reiko.
“Baiklah, akan aku katakan.”
Floren mulai bercerita, kalau dia sedang mencari adik nya, dia dengar kabar dari seorang murid akademi kalau adiknya sedang besekolah di akademi kota emerald di benua selatan. Setelah mendengar kabar itu, Floren minta kepada ayahnya supaya dia di pindahkan ke akademi kota emerald dan dia sedang dalam perjalanan kesana ketika bertemu dengan Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi di jembatan. Tujuan Floren adalah membujuk adiknya pulang, tapi kalau adiknya berkeras tidak mau, dia berniat tinggal bersama adiknya walau harus melepaskan gelar kebangsawanan nya.
__ADS_1
“Lalu kamu minta kami mencari adik mu ?” Tanya Seiji.
“Untuk itu, aku bisa lakukan sendiri, tapi aku butuh bantuan supaya dia mau pulang...” Jawab Floren.
Floren melanjutkan ceritanya, keluarganya memiliki masalah, walau ayahnya mempunyai gelar kebangsawanan cukup tinggi yaitu marquis, tapi karena sifatnya yang lembek, dia mudah sekali di perdaya oleh bangsawan lain. Akhinya seorang bangsawan berhasil menghasut papanya untuk melepaskan mama keduanya karena di anggap berselingkuh dan adiknya adalah hasil perselingkuhannya. Ayah dari Floren percaya mentah mentah dan murka terhadap mama keduanya, dia mengusir mama keduanya bersama dengan adiknya, tapi bangsawan yang menghasut nya menangkap mama kedua dan adiknya, kemudian menjadikan mamanya budak kebutuhannya dan berniat menjual adiknya kepada bangsawan lain. Tapi di saat genting, mama keduanya berhasil melepaskan adiknya dan menyuruhnya pergi ke keluarganya di benua selatan.
“Geh masalah keluarga...” Ujar Reiko.
“Itulah aku minta tolong kalian untuk membebaskan mama keduaku dan membawanya bertemu dengan adik ku lagi....bangsawan yang menipu papa ku berada di kota Nihelm, alasan dia melakukan ini semua karena dia tertarik dengan mama keduaku...awalnya aku mau menjemput adik ku dulu dan kemudan bersama sama membebaskan mama dengan mendatangi bangsawan itu.” Ujar Floren.
“Hmm pas sih....tapi gimana ya, ini urusan keluarga juga...” Ujar Hitoshi.
“Repot...” Balas Iroha.
“Kamu bilang adikmu ada di akademi kan, siapa namanya ?” Tanya Seiji.
“Eh...kalian kenal murid akademi ?” Tanya Floren.
Seiji menjawab dengan mengeluarkan kartu akademinya dan memberikannya pada Floren. Ketika Floren membacanya,
“Dia berumur 15 tahun, sama dengan Solon-san, dia masih kelas 1 sma, namanya Cyriel Bennet...” Ujar Floren.
“Pruuuuut....” Reiko langsung menyemburkan minumannya ketika mendengar nama Cyriel disebut.
“Oh ternyata Cyriel adik mu...” Ujar Seiji.
“Kalian kenal ?” Tanya Floren.
“Dia teman sekelas ku dan Reena...” Jawab Seiji sambil merangkul Reiko.
“Aku juga kenal Cyriel-niichan..” Ujar Iroha.
“Hah niichan ? Cyriel kan perempuan, kok niichan ?” Tanya Floren.
“Prang.” Gelas yang di pegang oleh Seiji, Reiko dan Iroha terjatuh, wajah mereka menjadi sangat kaget dan ternganga. Hitoshi tertegun melihat ketiganya,
“Haaah...” Teriak ketiganya.
“Kenapa ? atau memang ada lagi mungkin yang bernama Cyriel Bennet.” Ujar Floren.
“Kamu bilang Cyriel perempuan ? pantas saja dia imut untuk ukuran laki laki.” Ujar Reiko.
“Iya aku juga pikir Cyriel-niichan...eh neechan imut...” Ujar Iroha.
“Berarti....selama ini aku sekamar dengan.....” Ujar Seiji shock.
“Oi Solon...sadar...” Teriak Hitoshi.
“Berarti kalian benar kenal dengan adik ku ya...” Ujar Floren.
“Ah ya...mereka lebih kenal, kalau aku hanya tahu karena dia mendapat hasil tertinggi ketika ujian masuk dan berpidato di depan waktu pembukaan tahun ajaran baru. Dan kebetulan...dia ini teman sekamarnya.” Ujar Hitoshi sambil memegang pundak Seiji di depannya.
“Oh...kalian sudah berhubungan sejauh itu rupanya...” Ujar Floren.
“Tidak...aku tahunya dia laki laki dan kamar kita di asrama laki laki...tapi memang dia terlalu kecil untuk ukuran laki laki dan wajahnya manis.” Ujar Seiji.
“Heeeee.....” Ledek Reiko dan Iroha sambil tersenyum lebar.
“Benar kok...aku tidak bohong...” Ujar Seiji.
“Haha ya sudah, setelah mendengar ceritanya dan adik mu ternyata teman dekat mereka, kami akan bantu...tapi pakai cara kami.” Ujar Hitoshi.
__ADS_1
“Terima kasih semuanya...” Floren menunduk di susul Albert di belakangnya.