
Mereka langsung berjalan mendekat ke pesawat berbentuk balon zeppelin di depan mereka, kepala ke limanya terus mendongak karena kagum.
“Ini beneran kan ? pesawat kan ?” Tanya Hitoshi.
“Kalau penglihatanku tidak salah sih....iya ini pesawat.” Jawab Chizuru.
“Bisa tidak nih kita pakai buat ke akademi, kalau pakai ini bisa cepat kan ?” Tanya Iroha.
“Coba masuk aja yu...” Ajak Reiko.
“Hmmmm......” Gumam Seiji berpikir.
Ke limanya mengamati dan menyelidiki pesawat di depan mereka sekaligus mencari pintu masuk ke dalam.
“Giamana cara masuknya ?” Tanya Seiji.
“Sebentar.....”
Reiko mengeluarkan sayapnya dan terbang mengelilingi pesawat itu, akhirnya Reiko menemukan pintu di sisi bawah pesawat yang merupakan ruang anjungan. Reiko membukanya dan masuk ke dalam, dia melihat lihat bagian dalam anjungan. Di dalam hanya ada tiga buah kursi di depan, satu untuk mengontrol ketinggian, satu untuk navigasi dan satu roda pengemudi, di belakangnya ada dua buah kursi, bagian bawahnya ada sebuah kursi besar sepeti kursi kapten dan di belakangnya ada sebuah meja panjang melengkung penuh tombol dengan sebuah kursi di belakangnya. Reiko melihat ada sebuah tombol berwarna biru menyala, dia menekan nya.
“Greeek” Terdengar bunyi di belakang ruang anjungan, Reiko membuka pintunya dan melihat pintu menuju ruang penumpang di belakang terbuka, sebuah tangga turun ke bawah, Seiji, Iroha, Hitoshi dan Chizuru mulai naik ke atas. Mereka langsung ke ruang anjungan. Setelah melihat ruang anjungan,
“Aku rasa aku bisa mengemudikan pesawat ini...” Ujar Seiji.
“Benarkah ?” Tanya Hitoshi.
“Di salah satu kehidupan di mana aku merasakan mati di kursi listrik, aku seorang pilot pesawat tempur, di tambah pernah juga merasakan jadi pilot kapal ruang angkasa di kematian terakhir....samar samar aku ingat walau tidak mengalami nya dan hanya matinya yang aku rasakan.” Ujar Seiji.
“Hmm...begitu ya, coba saja....” Ujar Reiko.
“Sebaiknya panggil semuanya kesini dulu...” Ujar Chizuru.
“Ok, aku jemput Floren-nee dan Victoria-obasan...” Iroha langsung keluar dan turun.
“Aku temani dia deh...” Hitoshi juga pergi menemani Iroha.
Seiji, Reiko dan Chizuru terus mempelajari cara menerbangkan pesawat yang sudah siap terbang itu. Tak lama kemudian, Iroha dan Hitoshi sudah kembali bersama Victoria, Floren, Edward dan Albert. Mereka langsung naik dan di tempatkan di ruang penumpang. Seiji duduk di kursi pengemudi, dia memegang tuas dan menekan nekan pedal di bawah untuk mengingat ngingat cara menerbangkan pesawat. Sekitar 1 jam kemudian, akhirnya mereka siap berangkat, Reiko duduk di bagian navigasi, Hitoshi mengukur ketinggian, Iroha di kursi kapten dan panel di belakang di pegang oleh Chizuru.
__ADS_1
“Siap ya, aku buka pintu dan lepaskan talinya....” Ujar Chizuru.
“Ya...” Teriak yang lain.
Chizuru menekan tombol yang ada di panel, “Greeeeeeek.” Dinding gua terbuka, kemudian Chizuru menekan sebuah tombol lagi, “Snap.” Tali tali yang menahan pesawat terputus.
“Siap ya....kita berangkat...” Ujar Seiji.
“Siap kapten...” Iroha yang duduk di kursi kapten dan tidak berbuat apa apa bersorak.
Pesawat berbentuk balon zeppelin itu berputar, bagian depannya menghadap ke arah dinding gua yang terbuka.
“Aku maju....” Ujar Seiji.
Dia mendorong tuasnya untuk maju, tapi tiba tiba bagian bawah pesawat itu membentur lantai, “Waaaaaaa.” Semuanya teriak akibat guncangan yang kencang.
“Ketinggiannya....” Teriak Seiji.
“Oh...iya...coba lagi..” Balas Hitoshi.
“Yang benar dong Hito-nii....” Ujar Iroha.
Akhirnya Hitoshi menahan tuasnya di tengah dan Seiji mendorong lagi tuas di depan nya, pesawat maju secara perlahan tanpa membentur apapun, setelah keluar sebagian, moncong balon menukik ke bawah dan mengarah ke jurang, “Waaaaaaa...” Mereka kembali berteriak, Hitoshi langsung mendorong tuasnya dan Seiji menarik tuasnya, pesawat mulai naik perlahan terbang ke atas, begitu sudah sampai di ketinggian yang cukup, pesawat mulai melaju terbang. Ke limanya melepas tegang mereka dan sedikit merasa rileks,
“Hei kapten, kamu kan ga ngapa ngapain, cek penumpang kita di belakang...” Ujar Chizuru.
“Siap....” Iroha melompat dan langsung keluar.
Tak lama kemudian, Iroha kembali dan duduk lagi di kursi besar yang ada di tengah,
“Penumpang aman....semua tidur...” Ujar Iroha.
“Hah...” Balas Seiji, Reiko, Hitoshi dan Chizuru.
Chizuru yang di atas, langsung lari ke belakang dan memeriksa kondisi penumpang di belakang, tak lama kemudian dia kembali lagi dan langsung menjitak Iroha.
“Tidur apanya...pingsan....payah kamu...” Ujar Chizuru.
__ADS_1
“Maaf...aduh sakit....” Balas Iroha sambil memegang kepalanya.
Pesawat terus melaju menuju ke kota emerald yang berada di benua selatan, mereka melewati jalur laut dari sebelah timur selatan sesuai dengan rute yang di tentukan oleh Reiko supaya tidak menciptakan kehebohan kalau terlihat orang orang. Perjalanan menggunakan pesawat jauh lebih cepat dari kereta dan Hitoshi yang menjadi raksasa. Hanya saja, Seiji dan Hitoshi tidak bisa melepaskan tuas mereka. Iroha dan Chizuru mengambilkan ketiganya minuman yang ternyata di sediakan di ruang penumpang. Dari kejauhan, mereka bisa melihat menara yang bentuknya seperti pohon raksasa menjulang ke langit tanpa ada ujungnya ketika mereka berada di tengah lautan setelah melewati pegunungan.
“Wow menara itu terlihat dari sini....benar benar tinggi...” Ujar Seiji.
“Menurut Joshua-ossan di atasnya ada alam dewa.” Tambah Reiko.
“Tujuan akhir kita....” Tambah Iroha.
“Kalau Joshua-ossan saja bisa terluka separah itu ketika melawan Ramegh, kita harus bisa bertambah kuat....” Ujar Hitoshi.
“Benar aniki, habis ini kita latihan sama baba...” Balas Seiji.
“Kok aneki tidak ada suaranya ?” Tanya Reiko sambil menoleh melihat Chizuru.
“Dia lagi bengong...” Jawab Iroha.
“Siapa bengong, aku kagum aja...aku baru pernah keluar kota lagi...selama ini aku di kota Nihelm kan...” Ujar Chizuru.
“Hmmm benar juga....” Balas Hitoshi.
“Pokoknya konsentrasi terbang dulu....sebentar lagi kita sampai...” Ujar Seiji.
“Siap kapten...” Teriak yang lain.
Pesawat terus terbang di atas awan melintasi lautan menyebrangi benua tanpa berhenti sama sekali. Kelimanya bertanya tanya pelatihan apa yang akan mereka jalani habis ini setelah mereka sampai di akademi dan bertemu kembali dengan Renola.
*****
Sementara itu di kursi penumpang, Floren mulai membuka matanya, dia merasakan turbulensi dalam penerbangan karena pesawat terbang di atas awan,
“A..apa ? sekarang kita di udara....ti..tinggi sekali...aduh.....ak...aku takut...” Ujar Floren dalam hati sambil memegang kursi nya erat erat.
Tiba tiba tangannya yang gemetar di pegang seseorang dan Floren mendengar nafas terengah engah di sebelahnya,
“Te..tenang...ojou...sama.....ki..kita pasti selamat....”
__ADS_1
Floren menoleh dan melihat wajah Albert yang tegang lurus kedepan sambil menahan tangis karena sangat ketakutan sehingga wajahnya terlihat jelek dan lucu. Floren menjadi tertawa dan melupakan ketakutan nya, dia merebahkan kepalanya di pundak Albert yang terlihat kaku dan tegang.