
Setelah sampai di gerbang kota dan melewati pemeriksaan, ke empatnya yang membawa Floren dan Albert masuk ke dalam kota, mereka terdiam melihat kondisi di dalam kota, selain kota yang besar, mereka banyak sekali melihat budak dari segala ras berkeliaran di kota, banyak sekali bangunan yang menawarkan hiburan malam, seperti distrik merah di kota modern, di tambah banyak tempat seperti bar, restoran remang remang dan penginapan kecil bertebaran. Selain itu, mereka juga melihat ada guild petualang, pedagang senjata dan armor, toko pakaian dan toko obat, tapi yang membuat mereka sesak adalah melihat sebuah toko dengan kerangkeng di depannya, yaitu pedagang budak.
“Kota yang menjijikkan...” Ujar Iroha kesal.
“Setuju....dan kita harus mencari yang katanya saudara kita disini...” Balas Reiko.
“Tidak tidak pertama cari penginapan yang layak dulu....sudah gelap, kita harus menyembunyikan mereka.” Ujar Seiji sambil melirik ke punggungnya yang sedang menggendong Floren.
“Dimana ? benar benar seperti distrik merah di tokyo....” Ujar Hitoshi.
“Heee aniki sering kesana ya hmmm ?” Tanya Reiko menggoda.
“Tidak pernah, tanya saja dia...” Jawab Hitoshi sambil menunjuk Seiji.
“Hah kenapa tanya aku aniki...” Balas Seiji.
“Sudah dong...ayo jalan, aku malas nih...” Balas Iroha.
Mereka terus masuk ke dalam, karena penampilan mereka masih muda dan seperti anak anak, tidak ada yang memanggil mereka ketika lewat. Banyak sekali petualang petualang dan prajurit prajurit yang keluar masuk rumah bordil dan bar sepanjang jalan. Akhirnya mereka menemukan penginapan kecil yang bersih dan sederhana di ujung jalan, ke empatnya masuk membawa Floren dan Albert. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka.
“Wah maaf, kamar kami sekarang penuh...hanya tersisa satu kamar...mau ?” Tanya wanita itu.
“Tapi di sini bukan penginapan yang macam macam kan obasan ?” Tanya Hitoshi.
“Tenang saja, di sini tidak seperti yang lain, tapi hanya sisa satu kamar, apakah tidak apa apa ?” Tanya wanita itu.
“Tidak apa apa, kami ambil....” Jawab Seiji.
Wanita itu mengantar mereka naik ke lantai dua dan menunjukkan kamar mereka yang terletak di paling ujung. Setelah masuk ke dalam kamar, Seiji dan Hitoshi membaringkan Floren dan Albert di tempat tidur. Ke empatnya kemudian duduk di lantai,
“Kita bagi tugas saja....” Ujar Seiji.
“Maksud mu sebagian cari saudara kita dan sebagian menolong Floren ?” Tanya Hitoshi.
“Ya....kira kira begitu...” Ujar Seiji.
“Tapi carinya dimana ? banyak budak dan pedagang budak...lagipula banyak juga penduduk di kota ini dan banyak pendatang....sulit kalau tidak ada petunjuk.” Ujar Reiko.
“Neechan benar tuh niichan...” Tambah Iroha.
“Hmm petunjuknya elf coklat kayak baba kan ?” Tanya Seiji.
“Ya itu dia, carinya dimana....” Jawab Reiko.
“Kita keliling kota saja...sekalian lihat lihat...” Balas Hitoshi.
“Huh...Hito-nii mesum...ngapain liat liat di kota kayak gini coba...” Balas Iroha.
“Loh maksudku bukan itu, kita cari sambil liat liat...siapa tahu nemu.” Balas Hitoshi.
“Ah benar juga....”
Seiji mengambil buku bersampul kristal hitam dari dalam item box nya, kemudian dia memperlihatkan pada Reiko, Iroha dan Hitoshi.
“Waktu aku menemukan Iroha-chan, dia muncul di buku ini....lihat.” Seiji membuka bukunya.
Di dalam buku, terlihat peta bagan kota dan titik kuning yang menandakan dimana mereka harus mencari saudara mereka, tapi ketika mereka mengamatinya, mereka menyadari sesuatu,
__ADS_1
“Sebentar, bangunan ini....penginapan ini bukan ?” Tanya Hitoshi sambil menunjuk bangunan dimana ada titik kuningnya.
“Iya juga..dia disini ?” Tanya Reiko.
“Eh benarkah, kebetulan dong...” Jawab Iroha.
“Hmm...buku ini tidak rusak kan ?” Tanya Seiji sambil mengamati bukunya.
Tiba tiba pintu kamar mereka di ketuk dan sebelum mereka menjawab, pintu sudah di buka, Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi langsung berdiri. Seorang gadis berkulit gelap seperti berumur 16 tahun, dengan kalung berantai di lehernya masuk ke dalam, dia membawa baskom berisi air dan handuk,
“Permisi....” Ujarnya.
Melihat gadis itu, wajah Seiji, Reiko, Iroha dan Hitoshi langsung berubah, buku yang di pegang Seiji langsung terjatuh ke lantai, ke empatnya kaget dan tanpa sadar mengucapkan sesuatu,
“Chi-senpai.” Ucap Seiji dan Reiko bersamaan, kemudian mereka saling melihat.
“Chi-chan..” Ucap Hitoshi.
“Chi-sensei...” Ucap Iroha.
“Eh...” “Prang.” Baskom dan handuk yang di bawa gadis itu terjatuh, kedua tangannya langsung menutup mulutnya dan rambutnya yang hanya sampai sebahu tersibak, terlihatlah telinga nya yang panjang. Seiji, Reiko, Hitoshi dan Iroha saling menoleh melihat satu sama lain.
“Kalian kenal dia ?” Tanya ke empatnya serempak kepada satu sama lain dalam bahasa jepang.
“Nihonjin (orang jepang), kalian kan ? kok kalian ada disini ?” Tanya gadis itu dalam bahasa jepang.
Tanpa banyak bicara, ke empatnya langsung menggunakan skill analyze nya kepada gadis di depan mereka.
******************************************************************
Race : Young Ancient Druid (Immortal race) (Highelven next evolve)
Job : None.
Level : 250/500 (exp : 0/7.500.000)
Power : 50.000.000 (1st evo + 1.000.000) (2nd evo + 7.000.000)
Skill : - Pole (tongkat) mastery (death by pole).
- Bow mastery (death by arrow).
- Claw mastery (death by claw).
- Healing cross (death by crucifixion).
- Entagled roots (death by treant).
- Elemental blast (death by magic experiment).
- Curse (death sacrificed by satanic cult ritual).
- Floating (death fall from tall building).
- Garuda transform (death eaten by garuda).
- Abbys call (death thrown to abbys).
__ADS_1
Add skill : Item box, Analyze, magic arrow, magic homing missile, holy ray, blessing, sealing, air walk, beast call.
Trait : Steel skin, immune all debuff, charming, nimble, super hearing, high jump, forest blend, multi cast, eagle eyes, telepath, customize body.
Title : *Children of Resephone.*
******************************************************************
“Kenapa kamu di sini Chi-chan ?” Tanya Hitoshi.
“Hitoshi-kun.....ceritanya panjang.” Jawab Chizuru.
“Chi-senpai, masih ingat aku ?” Tanya Seiji.
“Tentu saja...kouhai (junior) semasa sma...dan Reiko-chan...kouhai semasa smp.” Jawab Chizuru.
“Apa kabar Chi-senpai...” Ujar Reiko.
“Kalau aku, ingat tidak ?” Tanya Iroha.
“Tentu saja, murid les ku yang paling bandel, Iroha-chan....tunggu, kalau kalian ada di sini, berarti kalian disana sudah...”
“Ya benar....kamu sendiri kenapa di sini ? Kamu Natsu-chan apa Chi-chan sih ?” Tanya Hitoshi tidak yakin.
“Natsu-chan ?” Tanya Reiko.
“Ah benar, kalian tentu tidak tahu, dia ini kembarannya Natsumi, teman kantor kita, Seiji...” Ujar Hitoshi.
“Hah....yang benar...” Ujar Seiji.
“Sayangnya Hitoshi-kun benar, Natsumi memang kakak kembarku...tapi kita di pisah sejak papa dan mama ku bercerai. Aku ketemu Hitoshi-kun duluan sebenarnya, tapi dia mengira Natsumi adalah aku...jadi ya begitulah.” Ujar Chizuru.
“Haaa begitu...” Ujar Reiko sambil melirik Hitoshi.
“Lalu kamu belum jawab pertanyaanku, bagaimana kamu bisa di sini Chi-chan ?” Tanya Hitoshi dengan wajah cemas.
“Sudah kubilang panjang ceritanya...” Ujar Chizuru mulai kesal sebab dia tampak tidak mau mengingat cerita lama.
“Celes...sudah selesai belum...cepat, ada tamu.” Teriak seorang wanita.
Chizuru langsung menoleh ke pintu dan kembali menoleh ke empatnya, dia langsung berbalik.
“Chi-chan, tunggu...maksudnya apa layani tamu ?” Tanya Hitoshi sambil menarik lengan Chizuru.
“Lepas Hitoshi-kun.....ya maksudnya kamu pasti mengerti lah...sudah ya, aku sudah di panggil.” Ujar Chizuru yang menarik lengannya lepas dari tangan Hitoshi.
Tapi ketika Chizuru mau membuka pintu, Hitoshi langsung memeluknya dari belakang,
“Jangan pergi....jangan bekerja begini lagi...” Ujar Hitoshi cemas.
“Hah...maksud kamu apa ? layani tamu itu maksudnya ada yang mau makan di restoran dan aku harus mengantar pesanan nya, kamu pikir apa ? jangan mentang mentang aku budak, kamu samakan dengan budak di sebrang sebrang....pemilik penginapan ini sudah menganggap aku anaknya tau...” Balas Chizuru.
“Oh....begitu...” Wajah Hitoshi langsung menjadi merah dan melepaskan Chizuru.
“Tunggu di sini, aku akan kembali...sabar...” Chizuru membuka pintu dan membantingnya.
Hitoshi menoleh dan melihat Seiji, Reiko, Iroha sedang berpelukan menahan tawa mereka.
__ADS_1