
Reiko di bawa oleh Disela dan Olivia ke atas podium, sementara George, Cyriel dan Luther menjaga kubus besar yang berada di tengah ruangan. Selagi tidak sadarkan diri, Reiko merasakan dirinya berada di kegelapan, kejadian sewaktu dia di pukuli di kamar brothel terulang di kepalanya, ingatan tentang ke sepuluh kematiannya dengan berbagai macam cara juga kembali mengisi kepalanya, dia memegang kepala dengan kedua tangannya, dia merasa dirinya jatuh terpuruk ke dalam kegelapan dan semakin dalam, tapi tiba tiba seseorang datang dan menjulurkan tangan kepadanya yang semakin tenggelam di dalam kegelapan, dengan susah payah Reiko menjulurkan tangannya dan orang itu meraihnya, kemudian orang itu menarik tangannya dan langsung memeluk dirinya, dia melihat wajah orang itu yang ternyata Seiji.
Ingatan tentang pertemuan nya dengan Seiji dan tinggal selama satu tahun bersamanya sewaktu berumur 15 tahun terulang di benaknya, dia merasakan dirinya beruntung bisa mengenal Seiji. Lalu ingatannya beralih ketika bertemu Seiji di dungeon sampai dia masuk sekolah bersama Seiji, dia juga merasakan penderitaan Seiji dari Seiji hidup di jepang sampai mengalami kematian sepuluh kali. “Sei-niichan...aku akan selalu bersamamu....” Ujarnya. Dia melihat Seiji mengangguk, kemudian membawanya keluar dari kegelapan,
“Ugh....” Reiko membuka matanya.
“Kamu tidak apa apa Reena-chan ?” Tanya Olivia yang berada persis di depan wajah Reiko yang terbaring di pahanya.
“Aku...aku....oh...onii-chan....mana onii-chan....” Reiko mendadak duduk dengan keringat deras bercucuran.
Dia menoleh ke kanan dan kiri mencari Seiji, kemudian dia melihat kubus besar di tengah, Reiko langsung mengambil sabit yang ada di sebelahnya dan berdiri.
“Reena-chan....kamu sudah tidak apa apa ?” Tanya Disela.
“Aku tidak apa apa....nii-chan di dalam ?” Tanya Reiko.
“Iya, dia mengurung pria tadi bersama dirinya di dalam....semoga Solon-kun baik baik saja.” Ujar Olivia.
Reiko menoleh ke arah kubus, dia langsung berbalik dan melompat tinggi, Olivia dan Disela yang melihatnya kaget dan berteriak,
“Reena-chan...” Teriak keduanya.
George, Cyriel dan Luther yang mendengar teriakan Olivia dan Disela menoleh, mereka melihat Reiko sudah di atas mereka dan masuk ke dalam kubus dari bagian atas kubus, Reiko hilang tertelan kubus.
“He..hei....Reena...” Ujar George.
“Kalian kenapa tidak jaga dia ?” Teriak Cyriel panik sambil menoleh kepada Olivia dan Disela yang berlari mendekati mereka.
“Aku dan Disela juga kaget tau, jangan marah pada kami...” Teriak Olivia.
“Iya benar, tau tau dia bangun menanyakan Solon-kun dan begitu melihat benda hitam ini wajahnya berubah dan lompat.” Tambah Disela berteriak.
“Tapi kalian harusnya bisa pegangi dia kan....paling tidak mencegah dia...” Ujar George.
“Mana sempat, aku dan Olivia juga kaget...” Teriak Disela.
“Sudah sudah...kita jangan berkelahi sendiri...percaya saja sama mereka...yang pasti laki laki tadi kuat...” Ujar Luther.
Cyriel, Olivia, Disela dan George langsung diam mereka berdiri di sebelah kubus hitam raksasa yang berada di tengah ruangan sambil berdoa penuh harap.
*****
Sementara di dalam kubus, Kyusei berjalan perhalan mendekati Seiji yang berdiri di depannya,
“Hoo kamu mengurung ku di sini supaya puas bertarung dengan ku ya ?” Tanya Kyusei sambil maju perlahan dan menyeret pedang besarnya di tanah.
“Salah, aku pasti mengalahkan mu dengan mudah, hanya saja kalau di luar terlalu beresiko, kamu licik dan akan menyandera teman teman ku kalau kalah....” Ujar Seiji tersenyum.
__ADS_1
“Hah...kamu sudah merasa kuat ya, kamu tidak tahu gelar apa yang di berikan putri Leticia padaku ?” Tanya Kyusei.
“Hero kan ? aku sudah lihat job mu....” Jawab Seiji santai dan tersenyum.
“Bagus....terima ini.” Teriak Kyusei.
Dia langsung mengayunkan pedang besarnya, membelah dari samping, Seiji menangkisnya dengan belati, kemudian dia berlari meniti pedangnya dan langsung menendang perut Kyusei. Tentu saja Kyusei langsung terpental jauh ke belakang, Seiji melompat dan berdiri di depan Kyusei,
“Oh satu lagi, aku membawa mu ke ruang ini supaya aku bebas melakukan apa saja padamu...” Ujar Seiji.
Seiji menaruh sebelah pisaunya dan mencabut cambuknya, dia langsung mengikat leher Kyusei yang sedang berusaha berdiri dan kesakitan. Dia mengayunkan cambuknya dan membanting Kyusei ke tanah, lalu dia mengayunkan nya lagi dan membanting Kyusei ke tanah di belakangnya. Dia lakukan itu terus sampai Kyusei menjadi lemas, kemudian dia melepaskan ikatan leher Kyusei.
“Ku..kurang ajar......” Ujar Kyusei sambil berusaha bangun.
Dia langsung menerjang Seiji dan berusaha menangkapnya, dia berhasil menangkap Seiji dan mendekapnya dengan kencang.
“Power press.” Ujar Kyusei menggunakan jurusnya.
Otot lengannya mengembang, mengeluarkan sinar kuning, dia mendekap tubuh Seiji yang di peluknya dengan kekuatan luar biasa. Seiji diam saja tidak bereaksi, tiba tiba terlihat dua kilatan tebasan pisau dari bawah ke atas, Seiji terlepas bersama dengan dua buah lengan Kyusei.
“Aaaaaaaah.....ke..kenapa ? kok bisa ?” Teriak Kyusei yang melihat dua lengannya di bawah kaki Seiji.
Seiji mengambil satu lenganna dan mengamati nya, kemudian dia menusuk lengan itu dengan pisaunya,
“Hoo lengan ini ya yang memukuli adik ku sampai mati...explosion....tangkap.”
“Uaaaah...kurang ajar...awas kamu...” Teriak Kyusei.
“Tenang, lengan yang memukuli adik ku sampai tewas masih ada satu lagi...nih.”
Seiji melemparkan lengan sebelahnya lagi, kali ini lengan mendarat di kaki sebelah kanan Kyusei yang sedang jatuh. Lengan itu meledak bersama dengan kaki kanan Kyusei dan menghancurkannya berkeping keping,
“Aaaaarghh......su..sudah...cukup...ja..jangan bunuh aku....aku..ingin pulang.” Teriak Kyusei.
“Heee begitu, rasanya waktu itu adik ku juga pasti berteriak sama seperti mu kan, tapi kamu berhenti tidak memukuli nya ? tentu tidak kan...” Ujar Seiji sambil berjalan perlahan mendekati Kyusei.
Tapi tiba tiba sebuah bayangan jatuh di depan Seiji, ternyata Reiko turun dari atas di depan Seiji dan langsung memeluk Seiji,
“Maafkan aku nii-chan...” Ujar Reiko.
“Iya...iya...kamu kenapa ke sini ?” Tanya Seiji.
“Maaf nii-chan...aku khawatir....” Jawab Reiko.
Kemudian Reiko menoleh ke belakang dan melihat Kyusei masih hidup walau tanpa lengan dan sebelah kakinya meledak. Kemudian Reiko menoleh kepada Seiji,
“Nii-chan, biar aku yang menghabisinya...” Ujar Reiko.
__ADS_1
“Tapi kamu tidak apa apa ?” Tanya Seiji.
“Aku tidak apa apa...tidak perlu khawatir.” Jawab Reiko sambil memegang pipi Seiji dengan tangannya dan tersenyum.
Kemudian dia berbalik dan memutar sabitnya, dia berjalan dengan perlahan ke arah Kyusei,
“He..hei...Reitan.....ja..jangan dendam padaku ya...berkatku...kamu jadi bertemu dengan kakak mu kan.....ayolah, kita di dunia baru...lupakan kejadian dulu....kita bisa membina hubungan baru di dunia ini...” Ujar Kyusei yang tidak berdaya dan membujuk Reiko.
“Haaaah.....Hijiri-san, jujur saja, kamu memang pelanggan ku yang nomor satu, kamu selalu memberi ku tips besar, tapi...setiap habis bersamamu, tubuh ku hancur, badan ku remuk dan pada akhirnya aku mati.....yah, memang karena mu aku bisa bertemu dengan kakak ku yang pernah kuceritakan pada mu, tapi aku melalui 10 kali kematian baru bisa bertemu dengan nya dan kamu masih sama seperti waktu di jepang...sekarang gimana kalau kamu merasakan 10 kali kematian sama seperti ku ?” Tanya Reiko sambil terus berjalan dan memutar sabitnya.
“Ma..maksudmu apa ?” Tanya Kyusei.
“Earth prison....” Reiko mengangkat tangannya.
Sebuah kotak dari tanah seperti peti mati keluar dari bawah Kyusei dan memasukkan Kyusei di dalamnya, dinding di depannya langsung membentuk jeruji dari tanah. Reiko menyimpan sabitnya di punggungnya dan mengepalkan kedua tangannya yang memakai sepasang sarung tangan dengan knuckle di punggung tangannya.
“Siap siap ya, pertama.....”
Reiko langsung meninju wajah Kyusei sampai Kyusei terpental membentur jeruji tanah di belakangnya dan tidak sadarkan diri.
“Nii-chan, bisa bantu kasih dia regeneration ?” Tanya Reiko menoleh.
“Oh ok...Regeneration.” Jawab Seiji.
Cahaya hijau menyelimuti tubuh Kyusei dan perlahan lahan luka pangkal lengan dan kaki yang terputus sembuh, rahang di wajahnya yang terlepas juga menyatu kembali, Kyusei kembali sadar.
“Baiklah sekarang kematian kedua....”
Reiko mencabut sabitnya dan memotong tubuh Kyusei menjadi dua, tapi sebelum tubuh bagian atas nya jatuh, Seiji menggunakan regeneration dan tubuhnya kembali menempel. Akhirnya Reiko mengeluarkan semua jurus nya sampai delapan kali, setelah itu, terakhir dia memanggil kuda peliharaannya.
“Nightmare, gunakan shadow clone...” Ujar Reiko.
Kuda itu membelah diri dan mejadi tiga ekor, kemudian Reiko mengikat leher Kyusei ke sebuah ekor kuda dan kedua kakinya ke dua ekor kuda. Kyusei sudah tidak bisa bicara, dia hanya melirik kepada Reiko dengan air mata bercucuran dan wajah gemetar sangat ketakutan. Reiko tersenyum melihatnya, kemudian menepuk pantat kudanya, langsung saja ketiga ekor kuda itu berjalan, mencabut kepala Kyusei dan kedua kakinya. Kyusei langsung mati seketika dengan wajah yang sangat ketakutan dan penuh dengan teror.
Reiko berjalan kembali menuju kepada Seiji, dia langsung memeluk Seiji dan menangis tersedu sedu.
“Sudah selesai Rei-chan...sudah selesai.” Ujar Seiji.
“Iya nii-chan....” Balas Reiko.
“Dewi keparat, dia sengaja mengutus manusia itu kesini demi meneror mu....aku benar benar marah.” Ujar Seiji.
“Aku juga marah nii-chan....sangat marah....lihat saja nanti, kalau sampai aku bertemu dewi itu, aku akan mencincangnya dengan sabit ku sampai tubuhnya menjadi dadu kecil...” Ujar Reiko.
Keduanya terus berpelukan dan terdiam, kemudian sebuah layar muncul dan keduanya melihat teman temannya yang cemas menunggu di luar. Seiji melepaskan pelukan Reiko dan membersihkan air mata di wajah Reiko.
“Kita harus keluar dari sini...kasihan mereka.” Ujar Seiji.
__ADS_1
Reiko menoleh dan melihat teman temannya di layar, dia langsung menghadap Seiji dan mengangguk. Keduanya berdiri dan Seiji menjentikkan jarinya. Di luar, Olivia, Cyriel, George, Disela dan Luther melihat kubus perlahan lahan mengecil, mereka langsung panik tapi tidak ada yang berani masuk ke dalam, kemudian dari dalam, Seiji dan Reiko melompat keluar sambil bergandengan tangan dan mendarat di depan mereka. Kubus besar itu pun menghilang, melihat Seiji dan Reiko berdiri di depan mereka, Olivia, Cyriel, Disela langsung menghampiri keduanya dan menabrak keduanya sampai jatuh, George dan Luther melihat dari belakang dengan perasaan lega dan senyum yang lebar.