Dewa Love You

Dewa Love You
Bibit Kebencian


__ADS_3

Vivian tidak pernah kenal dengan Mayra sebelumnya, tapi sekarang… dia penasaran dengan latar belakang seniornya di teknik kimia itu. Seperti cinta yang katanya buta, bibit kebencian Vivian terhadap Mayra juga tidak perlu dilogika alasannya.


Setelah selesai kuliah pertama, Vivian pergi ke laboratorium analis untuk melihat aktivitas Mayra dan mungkin juga Elang. Langkahnya terlalu tergesa hingga tersandung dan jatuh di undakan pertama tangga ke lantai dua.


Jari kakinya terasa sakit dan pergelangan kaki ngilu karena ada otot yang mungkin tertarik. Tapi tetap saja itu bukan sesuatu yang bisa menghentikan rasa ingin tahu Vivian mengenai hubungan spesial antara Mayra, Elang dan juga Dewa.


Sambil terpincang menahan nyeri, Vivian naik tangga satu persatu menuju ruangan tempat Elang melakukan penelitian. Nafasnya ngos-ngosan dengan keringat membasahi dahi ketika sampai di depan pintu yang ditunggu oleh petugas penjaga laboratorium.


"Pak, kak Elang ada di dalam?" tanya Vivian pada penjaga laboratorium.


"Sedang penelitian!"


"Saya masuk sebentar boleh?" Vivian memasang wajah imut dan juga memelas. "Saya ada perlu penting sama dia!"


"Jas lab silahkan dipakai dulu kalau mau masuk," ujar petugas laboratorium sambil menunjuk peraturan berbingkai kayu yang tergantung di dinding ruangan dalam.


Vivian menghentak kakinya yang sakit. Dia tidak ada jadwal praktek hari ini, jelas tidak membawa jas khusus laboratorium yang menjadi syarat masuk ruang penuh bahan kimia tersebut. "Kalau panggilin kak Elang kesini bisa, Pak? Saya nggak bawa jas lab."


"Kayaknya Elang lagi sibuk, saya nggak mau ganggu mahasiswa yang sedang penelitian, nanti dosen pembimbingnya marah!"


Merasa tak berhasil merayu petugas laboratorium dengan kecantikannya, Vivian merengut kesal. "Ish bapak pelit banget sih!"


"Saya cuma menjalankan peraturan, Mbak!"


Dari luar, Vivian hanya bisa melihat Elang dan Mayra yang sibuk berdiskusi dan membuat catatan. Hatinya panas melihat Mayra begitu dekat dengan Elang. Apalagi Vivian bisa menangkap cara Mayra menatap dan berbicara dengan Elang seperti wanita yang sedang jatuh cinta.


"Ya udah nggak jadi, Pak!"

__ADS_1


Vivian turun tangga perlahan-lahan, lalu pergi ke gedung teknik sipil masih dengan kaki sedikit terpincang. Dia harus bertemu Dewa untuk memuaskan rasa penasarannya. Bertanya secara langsung pada adik Elang pasti lebih baik dan akurat daripada hanya menduga-duga.


Dewa juga sudah selesai dengan kuliahnya, sedang nongkrong di depan kelas bersama teman-temannya. Suara suitan berkali-kali terdengar, sengaja menggoda Vivian yang berjalan lambat ke arah Dewa.


"Hai cewek … cari siapa?" tanya salah satu teman Dewa usil.


"Cari Dewa ya?" tanya yang lain tak kalah usil. "Kok nggak cari aku aja sih, Dewa udah punya punya pacar!"


Melihat vivian mendekat dan tersenyum padanya, Dewa berdiri dan mendekat untuk menyambut. “Hai, ada perlu sama aku?”


“Iya, anterin pulang yuk!” kata Vivian langsung pada tujuan.


Dewa sedikit terkejut, “Loh katanya padat kuliah hari ini?”


“Jam kedua kosong, ada lagi nanti jam satu. Kakiku sakit, Wa! Barusan jatuh pas mau jalan kesini!” bohong Vivian.


“Di dalam sepatu, Dewa!” jawab Vivian menahan tawa. "Sama pergelangan kaki juga, moga-moga nggak terkilir."


"Kenapa nggak telepon aja?"


"Aku kira kamu belum keluar kelas, lagian aku nggak pernah ke gedung teknik sipil, sekalian lihat-lihat!"


“Ya udah ayo aku anter pulang sekarang kalau gitu. Perlu digendong nggak nih?” tanya Dewa dengan wajah tengil.


Vivian cekikikan sambil memegang lengan Dewa, "Gini aja deh!"


"Ya udah pelan-pelan aja!" Dewa menjajari langkah lambat Vivian diiringi ledekan dan duitan teman-temannya.

__ADS_1


“Kayaknya mas Elang masih di laboratorium ya, Wa?” pancing Vivian.


“Kurang tau, Vi. Jarang ketemu kalau di kampus!”


“Kalau yang sama kamu tadi pagi itu apanya mas Elang, Wa? kayaknya mereka akrab!”


Dewa menjawab ringan, “Gimana nggak akrab? Mbak Mayra udah temenan dari sejak kelas satu SMA sama mas Elang.”


“Oh pantesan!” Vivian sengaja bersikap lebih mesra ketika melewati gedung laboratorium. Matanya yang awas melihat Mayra turun dari lantai dua dan hendak pergi ke arah gedung rektorat.


Dengan percaya diri Vivian sengaja memotong jalan Mayra dan menyapa dengan keramahan yang dibuat-buat. “Mbak Mayra, kan? Mas Elang masih di lab?”


Mayra tersenyum tipis melihat Vivian yang over acting di depannya. “Iya, lagi uji sampling sama dosen pembimbingnya!”


Vivian menyeringai malas, dosen pembimbing Elang adalah salah satu wanita yang dibencinya. Dan Mayra sepertinya menduduki peringkat kedua. Dan basa-basi barusan sebenarnya hanya ingin menunjukkan diri kalau dia juga kenal baik dengan Elang dan juga Dewa.


"Mbak mau kemana?" tanya Dewa dengan senyum manis. Sedikit tak enak hati karena Mayra menatapnya dengan ekspresi dingin.


Mungkin karena Vivian memegang lengannya posesif dan Mayra cemburu? Entahlah! Hanya gadis itu yang tahu.


"Aku mau ketemu dosen!" jawab Mayra datar sambil melangkah pergi. Sedetik berikutnya dia berhenti dan berbalik menghadap ke arah Vivian dan Dewa, "Ohya Wa, Elang udah bilang ke kamu belum soal nanti?"


"Soal apa, Mbak? Aku belum cek pesan mas Elang di hape!" Dewa bertanya antusias.


"Katanya kamu yang nganterin aku pulang nanti siang! Soalnya dia nggak bisa! Habis penelitian dan bimbingan, Elang mau langsung latihan," jawab Mayra kalem.


Seketika itu juga, wajah cantik Vivian serasa disiram dengan air comberan.

__ADS_1


***


__ADS_2