
Mayra bukan hanya kesal pada Vivian yang bertingkah seperti cewek gatal yang kurang garukan ketika menatap Elang, yang sedang merayap di wall climbing. Mayra juga tidak menyukai Vivian yang seolah menguasai Dewa di depannya. Cewek berbadan seksi itu dianggap terlalu serakah oleh Mayra.
Kekesalan mayra tidak berhenti sampai Vivian saja, Dewa adalah penyebab utamanya. Pemuda yang diharapkan akan menghubungi dan mengajaknya menonton lomba untuk menyemangati Elang bersama-sama malah terlihat asik berada di sebelah Vivian.
Sebelumnya, Mayra memang tidak ingin ditemui beberapa hari untuk berpikir, tapi bukan berlarut-larut didiamkan Dewa seperti ini. Apa sih susahnya mengambil hatinya yang sedang kesal? Toh dia tipe pemaaf dan mudah melupakan hal buruk yang membuatnya merasa marah … atau mungkin cemburu?
Wajar kalau Mayra semakin ngambek setelah lomba selesai, karena Dewa tidak peka dengan keadaannya yang ingin diperhatikan. Moodnya langsung berantakan menyadari kakak beradik yang biasa dekat dengannya memiliki kesibukan dengan pasangan masing-masing.
Mayra bisa memaklumi Elang karena statusnya dengan Nindya adalah suami istri. Tapi Dewa dan Vivian?
Sungguh membagongkan, berani menawarkan diri padanya tapi masih saja terlibat hubungan dengan Vivian. Dewa memang sudah menjelaskan kalau hubungannya dengan Vivian tidak serius, hanya berdasar saling memanfaatkan. Tapi memanfaatkan dalam hal apa?
Penjelasan Dewa yang ruwet seperti benang kusut sungguh membuat Mayra semakin tidak paham. Kalau pada akhirnya Mayra mengambil asumsi dan kesimpulan sendiri ya jangan disalahkan! Huh, entahlah … yang jelas Mayra butuh melepas marahnya pada seseorang.
Karena … bukan hanya hasrat yang butuh penyaluran, uring-uringan juga butuh pelampiasan, heh!
“Kamu kenapa sih sekarang nggak mau kalau aku ajak keluar?” tanya Tony setengah sewot.
“Ton … kamu udah tau alasannya, nggak perlu tanya terus! Capek aku jelasinnya,” jawab Mayra tak kalah sewot. Mayra menggerutu, mana hati sedang kesal, masih ditambah dengan pertanyaan tak bermutu lainnya.
Tony tidak terima dengan sikap Mayra yang semakin berubah, “Aku sudah minta maaf puluhan kali, May. Aku juga sudah jelaskan kalau aku nggak tau menahu soal minuman yang kamu tuduhkan ada obat perangsangnya itu. Kamu lihat sendiri aku nggak ada nyentuh gelas jus jeruk kamu selama di kafe!”
Mayra bertanya sarkas, “Mungkin nggak kalau yang ngasih obat itu temen kamu?”
__ADS_1
“Kok rasa curiga kamu jadi kemana-mana? Terlalu jauh itu, May!” Tony menghentikan langkah mereka tak jauh dari pelataran parkir.
Mayra membela diri, “Loh wajar dong aku curiga sama teman-teman kamu, aku baru kenal sama mereka di sana, siapa yang tau kalau salah satunya ada yang iseng mau ngerjain kita?”
“May … kalaupun ada yang iseng dan semua terjadi seperti yang diperkirakan, aku nggak bakal lari dari tanggung jawab. Kita udah gede, kuliah juga mungkin tinggal satu semester. Aku serius menjalin hubungan sama kamu, bukan untuk main-main lagi. Aku siap nikahin kamu, May! Kamu nggak perlu takut apalagi sampai menghindar begini kalau sampai kamu hamil sama aku!” tegas Tony gusar. Masih tak habis pikir dengan pemikiran Mayra yang kolot dan keras seperti manusia yang belum merdeka.
Mayra menarik nafas panjang sebelum menjelaskan kembali, “Aku bukan menghindar, Ton! Aku cuma membatasi diri agar kita tetap ada di zona aman dan nyaman. Kita pacaran baru seumur kecambah … nggak ada salahnya aku melakukan pembatasan pertemuan ataupun sentuhan denganmu!”
“Kamu nggak adil sama aku, Mayra sayang!” Tony mendengus kecewa. “Kalau kamu bicara aman dan nyaman, kenapa aku nggak boleh datang ke rumah kamu? Di sana aman, kan? Kamu nggak bakal aku terkam atau aku beri obat perang-sang!”
“Aku sudah menjelaskan soal itu beberapa kali, mamaku sedang krisis rasa percaya sama kamu. Kalau kamu tetep ngotot datang, aku nggak yakin kalau situasi akan semakin baik. Solusinya juga sudah aku katakan, tunggu marah mamaku mereda baru kamu bisa berkunjung seperti dulu.”
“Soal itu aku bisa menjelaskan sendiri situasinya sama mama kamu, May! Kapan sih kamu mau percaya sama aku?”
Mayra mulai kehilangan kesabaran, “Oh ya, gimana caranya? Mama aku sudah terlanjur menganggap kamu pemuda yang tidak bertanggung jawab, membawa pergi anak gadis orang tapi tidak mengantarnya pulang tepat waktu. Lebih lucu lagi aku berangkat sama kamu, pulang sama Dewa. Bukannya kelihatan banget ya kalau kamu sengaja nggak mau nganter aku pulang sampai mamaku nyuruh Dewa jemput?”
“Ponselku ketinggalan di kamar dalam posisi silent, wajar kalau mama menghubungi Dewa karena mama belum punya nomor kamu!”
Tony terbakar cemburu, “Sebenarnya hubungan kamu dengan Dewa apa sih? Wajar juga dong kalau aku curiga. Kamu mendadak menghindari aku karena dia? Ngomong apa aja dia sama kamu?”
Mayra menggeleng, kesal karena mengajak bicara dan menjelaskan sesuatu pada Tony jauh lebih sulit daripada melakukan presentasi penelitian di depan dosen penguji. Ini lebih melelahkan dan menguras emosi!
“Terserah kamu, mau curiga mau cemburu … yang penting aku sudah menjelaskan semua. Kalau udah nggak ada yang mau dibahas lagi, aku pulang!” kata Mayra mengakhiri perdebatan.
__ADS_1
“Jangan-jangan Dewa yang memuaskan kamu setelah pulang dari kafe itu! Kamu bilang terkena obat perangsang, wajar nggak kalau aku juga berpikir curang? Kamu ngapain aja sama Dewa? Nginep dimana?”
Mayra spontan mengangkat tangannya untuk menampar Tony. Tapi Tony lebih cekatan, menangkap tangan Mayra dan menggenggamnya erat. “Kenapa marah? Karena aku ngomong bener? Jawab aja jujur kalau kamu udah melakukan kesalahan, yang berarti kamu memang mengkhianati aku!”
Dengan sekuat tenaga Mayra menarik tangannya agar lepas. “Aku capek ngomong sama kamu, nggak pernah ada titik temu. Tolong lepasin tanganku, aku mau pulang!”
“Aku lepasin asal kamu pulang sama aku! Aku yang antar,” balas Tony dengan seringai kemenangan.
“Sorry, aku dijemput sopir. Aku nggak bisa ajak kamu ke rumah sekarang, apalagi jam segini papa udah pulang!” kata Mayra masih berusaha menarik tangannya yang mulai terasa panas.
“Lepasin tangan Mayra, Brengsek!” Dewa bicara tegas di belakang Tony.
Sejoli yang sedang bertengkar itu pun menoleh bersama ke arah datangnya suara. Mayra menghembus nafas lega, sementara Tony langsung kalap, menerjang ke arah Dewa.
Mayra menjerit minta tolong ketika melihat dua pemuda di depannya mulai berkelahi, saling pukul, saling tendang dan melukai. Hidung Tony keluar darah seperti orang mimisan, beberapa luka memar di wajahnya mulai kelihatan membengkak. Kemeja kehilangan beberapa kancing dan penampilannya yang selalu rapi menjadi sangat berantakan.
Sementara Dewa bibirnya pecah, rahang dan pelipisnya juga nyeri karena tonjokan Tony. Kalau saja dua security kampus yang sedang berjaga tidak memisahkan mereka, mungkin adu jotos masih berlangsung hingga salah satu tumbang kehilangan kesadaran.
Ditelisik dari kondisi keduanya, Tony lebih babak belur daripada Dewa. Hal tersebut membuat Mayra mengucap syukur.
“Bang***!” Tony mengumpat kasar pada Dewa dengan pandangan berapi-api. Gerakannya ditahan oleh satu security muda berbadan besar.
Security yang lebih tua menengahi, “Sudah, Mas! Saya laporkan ke atasan kalau masih saja dilanjutkan! Ini kampus, bukan pasar, bukan sarang preman! Bubar sekarang!”
__ADS_1
“Ayo pulang!” Dewa melepaskan diri dari cekalan security tua dan menarik tangan Mayra menuju parkiran, tanpa balas mengumpati Tony.
***