
Terima kasih tak terkira untuk, Kak : Ika, Wiwik, Winda, Gavin, Ananti, Irva, Khadina, Marcell, Riedha, Ibunya Irul, Andini, Anksu, Lia, Lilih, Abu, Ina, Novie, Mia dan semua pendukung DLY. I love you so much.
*
*
Dewa nyengir salah tingkah, “Terus?”
“Begitu kita jadian trus aku ikut kopdar club bikers, ketemu Gavin, Dimas dan Erfan untuk pertama kalinya … aku langsung paham kalau kemungkinan kalian sebelumnya terlibat taruhan! Dan kamu keluar sebagai pemenang tanpa disengaja.”
Mendengar pengakuan dan semua rangkaian cerita Vivian, Dewa mendadak cegukan. “Masa kamu sampai mikir kesitu, Vi?”
“Aku bukan sekali ini jadi bahan taruhan, Dewa! Bukannya sok cantik, tapi dari sejak kelas sembilan SMP aku ini udah menarik, banyak cowok dari yang sama-sama masih SMP sampai yang udah kuliah naksir aku.”
“Trus?” tanya Dewa semakin penasaran. Dia merasa ditelanjangi Vivian, Sial!
“Dari kecurigaan itu aku semakin yakin buat manfaatin kamu untuk deketin Elang. Kita terhubung karena saling memanfaatkan, bener nggak? Kamu dari awal nggak cinta sama aku, kamu deketin aku karena ada sesuatu, sebuah taruhan. Tapi dibalik alasan itu, aku tau kalau kamu sayang sama aku, kamu nggak jahat dan keterlaluan memanfaatkan aku sedalam-dalamnya. Padahal, kalau kamu mau aku juga mau loh hahaha …."
Vivian melanjutkan, "Aku juga di awal nggak suka sama kamu, tapi lama-lama aku gemes banget sama wajah innocent plus kepolosan kamu. Ya udah aku usaha jebak kamu agar kamu jatuh cinta duluan sama aku. Dan … kacau, nggak berhasil karena ada Mayra! Sial nggak tuh?”
Dewa menyeringai, masih tak percaya apa yang didengarnya dari mulut Vivian. “Tapi kamu sudah merusak momen manisku sama Mayra! Kamu denger sendiri dia minta putus.”
Dengan ekspresi penuh kemenangan, Vivian menjelaskan sambil tertawa-tawa, menunjukkan jalannya rekaman percakapan mereka di ponsel yang tergeletak di dekat tangan Dewa. “Aku kirim rekaman pembicaraan kita nanti, kamu kasihkan aja ke Mayra, kita nggak ngapa-ngapain di sini, Dewa! Jangankan posisi pake baju begini, kita udah telanjang bareng aja nggak ada yang terjadi. Kamu memang sialan sih! Bikin malu aku aja!”
“Thanks ya, Vi! Kamu udah jujur tentang semuanya. Gila ya kamu, kalau aku sampai salah ngomong bisa kamu jadiin alat buat jebak aku lagi itu rekaman!” kata Dewa bersungut-sungut.
__ADS_1
“Pokoknya aku nggak mau dinilai buruk sama kamu, Wa! Aku nggak peduli kalau orang lain yang ngomong jelek soal aku. Aku juga nggak peduli Elang punya pandangan miring karena kelakuanku. Mereka dan Elang nggak pernah kenal aku yang sebenarnya. Jadi buat apa aku pikirin penilaian mereka?”
“Sebenarnya Mas Elang nggak nilai kamu buruk, dia cuma memastikan kalau kamu nggak mengada-ada soal hasil USG itu.”
“Ya … tapi kakakmu itu nggak jauh beda sama yang lain, sama bajingannya. Aku nyesel pernah jatuh cinta banget sama dia, nyesel karena sempat terobsesi sama dia. Padahal aku kalau udah jatuh cinta itu setia dan sangat sayang sama pasangan, Wa! Kamu nggak tau aja apa yang udah aku lakukan untuk mendapatkan Elang,” ujar Vivian muram. Mengingat semua pengorbanannya untuk Elang berbayar kekecewaan.
Dewa berdecak, merasa bersalah dan juga tak enak hati. “Kenapa aku jadi kasihan sama kamu ya, Vi?”
“Ish … nggak perlu lagi, Wa! Erfan bakal jadi hiburan buat aku. Dia nawarin aku jadi model produk motor, aku rasa itu satu kebaikan dibalik niat terselubungnya. Aku udah terima jobnya, apa salahnya aku mulai berkarir lagi di dunia yang sempat aku tekuni waktu SMA?”
“Hm, jadi kamu mau memanfaatkan Erfan?”
“Enggak juga, dia ngasih aku batu pijakan pertama setelah lama vakum. Ya … intinya dia orang yang bisa diajak bicara dan berpengetahuan luas. Biar kata nggak seberapa ganteng tapi nilai plusnya banyak, duitnya juga banyak hahaha ….”
“Wah beneran siap dibonceng moge kemana-mana nih ceritanya!”
Dewa mengingatkan, “Ketua klubnya Erfan, Vi!”
“Iya bagus juga sih, kalau kamu yang jadi ketua malah bahaya … bisa lengket lagi nanti akunya!”
Dewa tersenyum tipis, ada sesal dan rasa bersalah yang ingin disampaikannya. Vivian … meski terobsesi dengan Elang, tapi tidak pernah menyakiti hatinya. Gadis taruhannya itu tidak pernah berkencan dengan pemuda lain seperti yang pernah Dewa pikirkan.
Penyelidikan Dewa tentang Vivian memang menunjukkan kalau gadis itu memiliki banyak teman urakan. Vivian juga suka keluar malam untuk dugem bersama teman cewek circle-nya, tapi tidak pernah terlibat hubungan dengan pria manapun selain dengannya.
Cinta Vivian pada Elang menutup semua akses pemuda yang akan mendekatinya. Tiga temannya yang ditolak mentah-mentah adalah bukti kesetiaan Vivian pada Elang, pada obsesi yang membuatnya gila. Dewa adalah pengecualian karena masih memiliki hubungan dekat dengan Elang.
__ADS_1
Ah … seharusnya Elang bangga dicintai Vivian dengan begitu besarnya! Tapi takdir jodoh ternyata tidak berpihak pada Vivian yang malang.
Mungkin karena Dewa tidak terlalu mengenal Vivian sehingga rasa sayang tidak tumbuh menjadi cinta. Berbeda dengan Mayra yang dikenalnya dari lima tahun lalu. Dewa hampir yakin, jika masa sulit di awal pacaran dengan Vivian teratasi dan mereka bisa saling beradaptasi, bukan mustahil Dewa juga akan jatuh hati pada Sang Aphrodite.
Dewa sudah salah menilai Vivian, begitu juga sebaliknya. Dan nasi sudah menjadi bubur, alangkah baiknya bubur itu digoreng agar bisa dipakai sarapan. Mumpung bubur goreng sedang viral heh!
“Aku minta maaf soal taruhan, Vi! Baik aku atau Mas Elang ….”
Vivian tersenyum manis, melambaikan tangan untuk memotong kalimat Dewa. “Udah lewat, Wa! Tapi kalau kamu mau mutusin Mayra demi aku nggak apa-apa juga sih. Bolehkan aku berharap sama kamu? Janur kuning belum melengkung loh ini.”
“Nop! Aku nggak mau di poliandri, apalagi bareng Erfan!” sahut Dewa lega. Terbahak-bahak sampai perutnya terasa nyeri.
Vivian mematikan rekaman ponselnya, lebih mendekat, lalu memeluk hangat. Dia sengaja mengecup bibir Dewa sebentar. “Aku jatuh cinta sama kamu, Wa! Aku baru sadar kalau aku sangat kehilangan kamu. Padahal aku maunya kamu yang jatuh cinta sama aku, bukan sebaliknya begini. Tapi udahlah … terima kasih untuk kebersamaan yang indah dan romantis selama dua bulan ini. Aku akan melanjutkan kisah unik ini sama Erfan.”
“Terima kasih sudah jujur dan merelakan aku untuk Mayra, aku doakan kamu bahagia sama Erfan!”
“Pasti dong, aku gampang move on kok! Cuma Elang aja yang bikin susah! Kamu jangan! Aku titip salam goodbye deh buat Elang! ” Vivian tertawa lega seraya menatap Dewa dengan ekspresi manja. Dia belum beranjak dari depan bibir Dewa, enggan menjauh … tepatnya masih ingin mendapatkan momen romantis sebelum semua benar-benar berakhir.
Dewa mengangguk, kikuk karena Vivian tak melepaskan pelukan. “Vi … ntar nggak enak sama Erfan kalau dia tiba-tiba datang!”
Vivian menoleh arah pintu sebentar lalu fokus ke Dewa lagi, “Ciuman ini yang terakhir, Wa! Bakal jadi rahasia kita berdua … jangan sampai Mayra dan Erfan tau ya!”
Dewa tak bisa menolak ketika Vivian kembali menyatukan bibirnya. Mata Vivian terpejam untuk meresapi perpisahan. Gerakan bibirnya ringan dan tak dalam, tapi penuh ungkapan kasih sayang.
Dewa menikmati kedekatan singkat yang manis itu sambil men-de-sah pelan. Bulu mata lentik Vivian yang menyentuh wajahnya dan tekanan dada gadis itu di atas lengan atasnya, membuat bagian bawahnya menggeliat tak nyaman.
__ADS_1
***