
Drama panjang Vivian belum berakhir setelah seminggu berlalu. Ponsel Dewa penuh teror cerita klasik dari Vivian, mulai dari rintihan nestapa patah hati hingga ungkapan cinta seluas samudra. Bukan hanya cerita, foto-foto romantis mereka ketika touring ke Gunungkidul bersama anak bikers juga menjadi bagian dari senjata Vivian!
Foto-foto Vivian yang berpose cantik di setiap pantai. Foto Vivian yang bergelayut manja hingga memeluk Dewa sangat mesra, juga beberapa bergaya ala pasangan muda yang sedang melakukan pemotretan prewedding. Ya, seribu alasan menjadi cara Vivian agar tidak dilepaskan.
Mereka memang terlihat kompak dan serasi. Membuat iri anggota bikers yang lain karena Vivian agresif dan berani. Dewa pun mengakui, Vivian memang seksi, sangat menarik ketika foto bersamanya. Gaya santai hingga centilnya begitu hidup dan luwes di dalam kamera.
Berbeda dengan Mayra yang kaku dan malu-malu, yang harus diarahkan dan digerakkan ketika Dewa ingin mengambil sudut foto yang bagus. Namun demikian, hasilnya tetap tidak kalah dengan Vivian. Mayra tetap lebih cantik, natural, tanpa perlu banyak polesan.
Mengingat gadis ayu yang sebentar marah sebentar baik itu hati Dewa berdesir sarat rindu. Hm, sepertinya cinta memang sudah berlabuh pada tempatnya. Dewa tidak bisa menolak lagi pesona Mayra yang mengusik hatinya sangat dalam. Bahkan, Dewa menjadi pemuda yang tega tidak memberikan Vivian kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Soal taruhan, Dewa tetap menang karena memang hanya dia yang beruntung bisa menjadi pacar Vivian. Meski tidak sampai tiga bulan, tapi Erfan dan dua pemuda lain yang terlibat taruhan sepakat kalau Dewa berhak mendapatkan hadiahnya.
"Modifikasi total aku garap setelah kita touring dari Bali aja ya, Wa! Pokoknya sebelum jambore aku janji udah beres, biar kamu bisa mejeng keren. Siapa yang tau ada cewek bikers tetangga tertarik sama motor garapanku," kata Erfan. Dia sengaja menemui Dewa di gedung teknik sipil karena ada sesuatu yang harus dibicarakan.
"Tertarik sama motor?" tanya Dewa dengan sebelah alis naik tinggi. "Bukan sama orangnya?"
Erfan menyeringai, "Heh, kalau mereka tertarik sama motor modifan aku, besar kemungkinan aku ikut untung dari segi bisnis!"
Dewa menyahut, "Oh, kirain! Nanti malam jadi nongkrong di angkringan Si Boy?"
"Jadi, ada empat bikers Surabaya mau touring keliling Yogya. Kita sambut sepantasnya kayak biasa. Besok mereka baru keliling wisata, minta rekomendasi tempat. Kalau ada yang nggak sibuk boleh juga ikut jadi guide! Kamu mau?"
"Aku nggak sibuk sih, masalahnya Mayra masih ngambek jadi susah diajak kemana-mana," sahut Dewa dengan cengiran bodoh.
"Coba diajak ngamar, dielus-elus … disayang-sayang, dikasih kepuasan! Ntar juga jinak, masa yang kayak gitu mesti diajarin dulu?!" Erfan terkekeh geli melihat ekspresi Dewa yang ingin memaki tapi tidak jadi.
"Kamu kalau ngomong udah kayak ahlinya aja, Er! Tapi herannya selama aku gabung club bikers belum pernah ada satu cewek pun yang berhasil kamu pacarin, jangan-jangan teori doang kamu bisanya, praktek zonk!"
__ADS_1
Erfan spontan memasang raut merana, "Itu soal keberuntungan aja, Wa!"
Dewa menukas, "Artinya kamu perlu diruwat! Aku cabut dulu ya, udah nggak ada matkul. Malam nanti aku datang agak telat."
"Eh bentar, Wa! Kita ada undangan acara event brand buat launching produk baru. Mereka bilang butuh cewek cantik untuk dibonceng moge di acara test drive produk keliling kota. Kamu bisa usahain cewek itu Vivian nggak, Wa? Butuh empat sih, tapi kalau club kita nyumbang satu … kali aja kita dapat banyak job di acara event berikutnya."
Dewa menggerutu, hubungannya dengan Vivian sedang tidak baik. Kalau dia meminta Vivian ikut acara event besar seperti itu, bukan mustahil gadis itu memanfaatkan kesempatan dengan memaksa minta jadi pacarnya lagi.
"Kamu kayak kekurangan stok cewek cantik aja pakai milih Vivian!"
Erfan menanggapi serius meski diakhiri dengan cengiran nakal. "Yang cantik banyak, tapi yang kayak Vivian itu sulit dicari, Wa! Cocok aja cewek kayak Vivian jadi model segala sesuatu yang mengandung unsur laki-laki."
"Ya ntar aku usahain. Ada duitnya nggak? Masa jadi model nggak dibayar!" Dewa membenarkan dalam hati, daya tarik Vivian tidak bisa disepelekan. Gelar Aphrodite memang layak disandang karena postur tubuhnya yang memenuhi fantasi banyak pria.
"Kalau soal bayaran nanti aku yang atur, yang penting kita pasti dapat jatah bawa satu motor baru buat dipamerkan, aku yang bawa nanti motornya, kehormatan buat ketua club kata brand hahaha," jawab Erfan gembira.
"Sialan! Bilang dari tadi kalau kamu yang gatel pengen dipeluk Vivian di atas motor!" Dewa mengumpat keki lalu melangkah meninggalkan Erfan.
Dewa hanya melambaikan tangan tanda setuju. Sore ini Dewa akan ke rumah Mayra. Gadisnya masih saja memasang wajah kesal padanya. Padahal sudah seminggu dari terakhir mereka bertemu Vivian dan terjadi ribut kecil yang tidak disengaja.
Di kampus, Dewa tidak melihat Tony selama seminggu terakhir. Biasanya, Dewa sesekali masih terlihat batang hidung playboy kampus itu berseliweran di depan matanya.
Mungkinkah hasil adu jotos seminggu lalu menimbulkan luka fisik yang cukup parah bagi Tony?
Memikirkan hal itu, Dewa semakin ingin cepat bertemu Mayra. Sedikit banyak mayra pasti tahu perkembangan kondisi mantan pacarnya. Sebenarnya belum benar-benar menjadi mantan, karena Mayra belum memutuskan secara resmi hubungannya dengan Tony. Mayra bilang, dia juga belum bertemu Tony selama seminggu ini.
“Mau kemana kamu, Wa? Baru dateng udah mau pergi lagi!” tegur Elang yang kebetulan sedang ada di rumah, menonton televisi di ruang keluarga bersama Nindya.
__ADS_1
“Tempat Mayra,” jawab Dewa singkat.
“Kamu udah putus sama Vivian?”
“Udah,” Dewa mengacak rambutnya yang masih basah, lalu membentuknya hingga sedikit rapi.
“Vivian nggak mau kamu putusin ya?”
Dewa menatap Elang penuh raut tanya. “Hm … kok tau, Mas?”
“Dia minta ketemu aku, mau ngobrol serius katanya. Ada yang mau dijelasin, sesuatu yang penting!” jawab Elang datar.
Dewa bisa menebak, Vivian pasti ingin bicara mengenai kegiatan mereka di hotel. “Mas Elang udah bikin janji sama dia?”
“Aku bilang besok aja di kampus! Tadinya dia mau kesini, tapi nggak aku bolehin … takut khilaf lagi kalau berdua di ruang tertutup!” kata Elang sembari melirik Nindya.
Nindya seketika menoleh, “Ampun nggak?”
Detik berikutnya, Elang justru mengaduh kesakitan karena tangan Nindya bersarang di perutnya lebih cepat untuk memberi cubitan keras. “Iya ampun, Sayang! Jangan galak-galak kenapa sih? Ntar anak kita wajahnya jutek loh, orang hamil itu harus banyak senyum, Manis!”
Nindya mencibir, "Mau dicubit lagi?"
“Kiss aja yang banyak!” jawab Elang, dua alisnya naik turun menggoda Nindya.
“Ya udah kalau nggak keberatan besok aku ikut pertemuan Mas Elang sama Vivian ya?” Dewa tidak bisa berbicara blak-blakan saat itu juga karena ada Nindya.
“Ngapain kamu ikut?”
__ADS_1
“Nyatpam biar kalian nggak kebablasan!” jawab Dewa, terkekeh sembari turun tangga.
***